
Ryo Anggara? Bagaimana bisa dia ada disini? Untuk apa dia ada disini? Batinku bertanya-tanya.
"Saya turun sebentar Bune, ada teman saya. Titip Langit, ya?" pamitku dengan menunjuk pria yang sedang berbicara pada Pakne.
Aku membuka pintu mobil dan keluar. Ryo tampak terkejut melihatku keluar dari mobil.
"Wulan?" gumamnya.
"Hai, Yo. Pakne, dia teman Wulan" kataku memperkenalkan Ryo.
"Oalah, iya tadi dia nanya. Nyariin kamu, Nduk. Diajak masuk dulu, Pakne biar masukin mobil. Langit biar diemong sama Bune" tukas Pakne.
"Injih, Pakne"
"Yuk, Yo. Masuk dulu. Kita ngobrol di dalam" ajakku pada Ryo.
Ryo mengambil motornya di seberang jalan. Motor matic dengan cat merah-hitam andalan sejak masuk SMA. Lalu berjalan mengikutiku berjalan tertatih-tatih masuk ke dalam rumah.
"Duduk dulu, Yo. Mau minum apa?" tanyaku santai berbasa-basi.
"Kamu habis lahiran?" tanya Ryo yang ternyata memperhatikan jalanku yang tertatih-tatih.
"Tiga hari kemarin. Laki-laki. Aku beri nama Langit. Keren 'kan?" selorohku.
Ryo hanya diam dan tak menjawab selorohanku. Sepertinya bingung ingin menyampaikan apa.
"Aku bikin minum bentar, ya" ujarku hendak pamit.
"Ini Bune yang bikinin, Nduk" ujar Bune di ambang pintu antara ruang tamu dan ruangan dalam, dengan membawa nampan yang di atasnya terdapat teh botol dingin dan setoples camilan.
"Maaf, jadi ngerepotin Bune"
"Terima kasih, Bu"
"Iya, sama-sama. Silahkan ngobrol. Bune tinggal ke dalam dulu" pamit Bune.
Aku dan Ryo mengangguk bersamaan.
"Lan, aku...." Ryo bingung hendak menyampaikan apa.
"Kamu sehat?" tanyaku mencoba mencairkan suasana.
"Sehat, Lan"
"Kuliah lancar?"
"Lancar. Kamu?"
__ADS_1
"Lancar juga" jawabku singkat.
Kemudian hening selama beberapa saat.
"Aku tanya-tanya sama anak Petra beberapa hari lalu. Makanya aku bisa nemuin kost kamu. Kamu terkenal juga rupanya" seloroh Ryo.
"Ya iya terkenal. Satu-satunya mahasiswi yang kuliah dengan perut membuncit yang ada di Petra. Aku udah berhasil cetak rekor kayanya" ujarku dengan terkekeh.
"Kamu makin cantik, Lan" tukas Ryo.
"Kamu tahu ga kenapa cewek bisa terlihat jadi makin cantik?"
"Perawatan mungkin" jawab Ryo sambil mengangkat bahunya.
"No no no. Wrong answer. Yang bener, karena udah jadi mantan. Hahaha" selorohku.
Ryo hanya tersenyum kecut.
"Aku.... kangen" ujar Ryo singkat.
"Hhmmm. Lalu?" tanyaku santai. Melihat Ryo sekarang sudah tak ada debar lagi seperti yang saat dulu kurasa. Ryo sudah menjadi orang lain untukku. Hanya teman atau kenalan. Tak lebih dan tak kurang.
Ryo hanya diam.
Sejak mengenal Ryo, aku sudah sangat paham Ryo bahwa dia adalah tipe family man. Keluarganya berada di urutan teratas dalam prioritasnya. Terlihat dengan bagaimana cara dia menceritakan cita-citanya yang ingin bisa membantu orang tuanya menyekolahkan adiknya sampai jenjang sarjana.
"Aku minta maaf" gumamnya.
"Aku sudah memaafkan" ujarku dengan tersenyum.
Tapi tidak melupakan. Lanjutku dalam hati.
"Aku masih sayang kamu. Tapi..." Ryo tak melanjutkan kata-katanya.
"Aku tahu yang kamu pikirkan. Dengan adanya Langit kamu pasti berpikir, maaf, bahwa Langit akan menambah 'beban'mu 'kan?" ucapku mengangkat tangan dengan menggerakkan jari membentuk tanda kutip pada kata "beban".
"Tak bisakah kita...?" Sekali lagi Ryo menggantung kalimatnya.
"Ga bisa, Ryo. Kita sudah berbeda jalan. Kau dengan keluargamu. Dan aku dengan Langit. Aku dengan Pakne dan Buneku. Mereka orang tuaku saat ini"
"Maksudmu?" sepertinya tak paham bagaimana bisa orang lain menjadi orang tua bagiku.
"Beliau berdua terenyuh pada kisahku, serta mendukung keputusanku untuk melahirkan Langit. Mereka belum dikarunai keturunan meski telah bertahun-tahun menikah" jelasku.
Ryo hanya manggut-manggut mendengar penjelasanku.
"Bagaimana kalau aku bisa menerima Langit?" lanjutnya mencoba keukeuh, berusaha mencoba menjalin hubungan kembali denganku.
__ADS_1
"Bisakah? Satu-satunya yang bisa ikhlas menerima keberadaan Langit hanyalah aku, karena aku adalah ibunya. Ibu yang bertaruh nyawa melahirkannya"
"Mungkin kamu bisa bilang begitu saat ini. Tapi bagaimana jika benar kita bersama, lalu suatu saat kita berselisih paham. Bisakah kamu tidak mengungkit masa lalu tentang alasan kehadiran Langit?"
"Kurasa tidak. Aku tidak ingin kita melakukan sesuatu yang akhirnya akan kita sesali. Sesuatu yang pasti akan menyakiti kita. Atau bahkan menyakiti Langit. Sesuatu yang tidak akan bisa kutolerir"
Ryo hanya diam tak bisa membalas ucapanku.
"Maka dari itu aku sudah ikhlas atas semua yang terjadi. Kamu juga berusahalah ikhlas. Mungkin kita memang tidak berjodoh" lanjutku dengan senyum santai.
Hening sekali lagi.
"Bagaimana kabar ibumu? Terakhir info dari Bapak, rumahmu dikontrakkan?
"Ibu berangkat ke Taiwan untuk jadi TKW. Aku sendiri tak tahu kabar ibuku. Karena sejak Ibu berangkat, aku kehilangan kontak dengan beliau. Padahal beliau berjanji menghubungiku saat tiba di Taiwan. Aku tentu tak bisa mencari keberadaan ibuku di Taiwan. Aku hanya bisa berdoa dari sini semoga beliau baik-baik saja dimanapun berada" jelasku panjang lebar.
"Keluargamu sendiri apa kabar?" tanyaku balik.
"Mereka baik" jawab Ryo singkat.
"Diminum dulu. Camilannya juga" ujarku.
Ryo menyesap teh botolnya.
"Sesekali aku boleh main?" tanya Ryo.
"Ya bolehlah. Kenapa enggak? Kita masih bisa menjadi teman" jawabku santai.
"Selamat ya. Udah jadi ibu sekarang. Aku ga nyangka. Padahal aku selalu berangan-angan kamu akan menjadi ibu dari anak-anakku pada saatnya nanti" ungkapnya penuh sesal.
"Belum jodoh" jawabku singkat.
"Aku pamit dulu kalau begitu" ujar Ryo hendak berdiri.
"Minumnya dihabiskan dulu. Kamu 'kan paling ga suka mubazir makanan" kataku mengingatkan.
Ryo mengambil teh botolnya dan menyesap habis. Kemudian berdiri dan pamit.
Aku mengantar kepergian Ryo sampai menghilang dari pandangan. Sebelum berpisah kami saling mengucap semoga sukses dan tercapai segala yang kami cita-citakan.
Tak ada tangis. Aku benar-benar sudah ikhlas. Pun perasaanku pada Ryo seolah telah menguap tak berbekas.
Melupakan dan memaafkan adalah dua hal yang berbeda. Musykil seseorang bisa melupakan perbuatan buruk yang dilakukan orang lain terhadapnya.
Sekarang aku hanya ingin fokus pada mengasuh dan membesarkan Langit dengan baik. Fokus untuk berbakti kepada Pakne dan Bune. Dan fokus menggapai cita-cita. Yang meskipun saat ini, masa depan masih tampak samar-samar untukku. Aku masih tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya.
Yang saat ini bisa kulakukan hanyalah berjuang. Ikhtiar yang istiqamah. Tak lupa dibarengi dengan doa. Dan selanjutnya tinggal menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Pepatah bilang, tiada usaha yang mengkhianati hasil bukan?
__ADS_1
Masa depan apa yang telah menanti Wulan? Seterjal apa perjuangan yang harus dilalui Wulan untuk menggapai citanya?