Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 68 Mulai Ada Rasa


__ADS_3

**Thankiss buat para reader yang selalu ga lupa untuk pencet jempolnya. Thanks juga buat yang udah berkenan mampir. Ini hari Senin, yang punya remahan vote voucher author .au bangeeeett. Happy reading all.....**


"Mas Adit....baik" ucapku lalu bergegas masuk ke kamar mandi. Aku tak ingin menjelaskan lebih jauh maksud dari kata baik itu sendiri.


Aku sedikit berlama di kamar mandi. Masih segan untuk menghadapi Bune. Aku harap Bune tidak akan bertanya apa-apa lagi setelah ini.


Aku menemukan lulur dalam tas peralatan mandi bepergianku. Dalam tas itu memang selalu kuisi lengkap. Mulai dari sikat dan pasta gigi, sabun cair botol sedang, shampoo, sabun cuci muka, bahkan lulur.


Ah, penyelamatku! Pikirku senang. Selain karena aku bisa memanjakan diri, aku jadi punya alasan untuk berlama-lama mandi.


Benar saja keluar kamar mandi waktu sudah menunjukkan pukul 16.40.


"Lama betul mandi?" cibir Bune padaku.


Aku hanya menanggapi beliau dengan cengiran. Bune langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.


Aku berganti pakaian dengan rok plisket polos warna hijau daun kaos lengan panjang model turtle neck warna abu-abu. Sebuah anting model ear climber aku kenakan untuk mempermanis penampilanku. Rambut aku ikat half tied dengan sebuah jepit barrete slide.


Aku baru saja selesai mematut diri di depan cermin saat Bune keluar dari kamar mandi.


"Sempurna" seloroh Bune sambil mengacungkan dua jempolnya.


"Biasa aja, ah" jawabku datar, karena aku memang tak merasa ada yang istimewa pada penampilanku.


Waktu sudah hampir maghrib saat pintu kamar kami diketuk.


Aku membukanya, Langit dan Mas Adit berdiri di depan pintu.


"Mau ma..." kalimat Mas Adit menggantung. Sejenak Mas Adit tampak terpukau.


"Mau makan dimana?" lanjutnya setelah tiga detik sempat terdiam. Mas Adit mengatakan itu sambil berpura-pura mengacak rambut Langit.


"Idih, Om. Kok diacak sih?" tampak Langit cemberut akan aksi Mas Adit itu.


Mas Adit tergelak.


"Bu, Om Adit ngajakin makan sate kelinci tadi. Enak katanya. Badan bisa jadi hangat abis makan sate kelinci" kata Langit.


"Di depan ada orang jualan sate. Ada ayam, kambing dan kelinci juga. Ga mau cobain?" tawar Mas Adit.


"Sate kelinci? Aduh, enggak deh. Ga tega yang mau makan" ujarku sambil mengernyit.


"Bu Nimas mau coba?" tanya Mas Adit pada Bune.


"Saya juga kayanya ga tega makannya" jawab Bune.


"Ya sudah ayo, pilih sesuai selera masing-masing aja kalau gitu" ujarku.

__ADS_1


Akhirnya Mas Adit memesan 2 porsi sate kelinci dan 3 porsi sate ayam. Kami makan sambil bercengkrama tentang rencana kami esok hari.


Di depan penginapan banyak persewaan jeep. Setelah makan sate Mas Adit menghampiri salah satu jeep yang sedang parkir dan tampak berbincang dengan pemilik jeep.


Setelah beberapa lama, Mas Adit kembali dengan senyum sumringah.


"Urusan jeep beres. Lumayan dapat korting (potongan harga) cepek" ujarnya.


"Ya udah, yuk balik. Besok jam dua pagi udah harus berangkat biar bisa lihat sunrise" ajakku pada yang lain.


"Boleh main game sebentar, Bu?"


"Jam sembilan sudah harus bobo, ya" aku memberikan izin.


"Ayo, Om, mabar" ajak Langit bersemangat.


Akhirnya kami kembali ke kamar masing-masing. Bune langsung pamit tidur. Mungkin beliau lelah menempuh perjalanan jauh.


Aku yang masih belum bisa tidur memilih duduk-duduk di teras depan kamar sambil memakan camilan dan menonton drama korea yang sedang memiliki rating tinggi saat ini, Love ft. Marriage and Divorce.


Sementara di kamar Adit dan Langit, mereka mabar game populer dengan serunya. Langit benar-benar anak yang penurut. Setelah dua ronde permainan, waktu menunjukkan pukul 21.08. Dan Langit menyudahi acara mabar kami. Tak lama kemudian Langit sudah lelap.


Aku mengamati wajah Langit, benar-benar mirip ibunya. Jika Aluna masih hidup, Aluna akan seumuran dengan Langit. Jika Aluna masih hidup, apakah wajahnya juga akan mirip denganku? Begitu pertanyaan yang berkecamuk dalam benak Adit.


Entah kenapa, Adit merasa bahwa dia menaruh perhatian pada Wulan. Melihat bagaimana cara Wulan berinteraksi dengan Langit, menunjukkan bahwa Wulan benar-benar menyayagi anaknya itu.


Akhirnya Wulan mengalah. Dia memajukan daging sate yang berada di paling akhir barisan ke ujung lancip tusuk sate.


Sederhana. Tapi terlihat bagaimana kasih sayang seorang Ibu yang tak ingin anaknya terluka karena tusuk sate. Jika Anin masih hidup, apakah Anin akan melakukan hal serupa pada Aluna?


Ah, aku belum benar-benar melupakan Anin. Pikir Adit sedih.


Itulah sebabnya sampai saat ini Adit belum menikah lagi. Adit masih menyalahkan diri atas kepergian Anin dan Aluna. Masih banyak seandainya-seandainya yang masih di sesali oleh Adit.


Selama ini Adit selalu cuek dan bersikap dingin saat ada wanita yang mencoba mendekatinya. Pun ketika sang Ibu mengenalkan Adit dengan putri teman Ibunya, Adit tetap bergeming. Tapi kali ini beda. Adit tak bisa mengalihkan perhatian dari Wulan.


Sejak bertemu kembali dengan gadis itu, Adit mulai mengamati Wulan. Sepertinya gadis itu tidak menyadari bahwa dia menunjukkan gerik menjaga jarak dan berhati-hati pada orang lain, khususnya pada laki-laki.


Adit tak tahu apa alasan di balik sikap Wulan tersebut. Perasaan tak tahu itu semakin memicu Adit untuk sering-sering mengamati Wulan. Adit merasa penasaran.


Karena tak jua dapat memejamkan mata, akhirnya Adit keluar kamar dan bermaksud duduk-duduk di teras depan kamar sambil menghisap satu atau dua batang rokok.


Kamar Adit dan Wulan bersebelahan. Saat Adit melihat Wulan juga duduk di teras, dimasukkannya kembali rokok yang telah terselip di antara bibirnya.


Adit mendekati Wulan.


"Bu Nimas sudah tidur?" tanya Adit berbasa-basi.

__ADS_1


"Sudah, Mas" jawab Wulan singkat.


"Langit sudah tidur? Aku boleh izin lihat Langit?"


Adit menganggukkan kepalanya.


Setelah beberapa menit Wulan kembali duduk kembali ke tempatnya.


"Nonton apa?" tanya Adit, sekali lagi-lagi berbasa-basi.


"Drama Korea" jawab Wulan singkat. Adit merasa gemas sekali dengan jawaban-jawaban singkat dari Wulan.


"Ayah Langit kerja?" Adit mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya. Sudah jelas-jelas gadis itu tak pernah menunjukkan bahwa dia mempunyai suami, tapi rasa penasaran mendorong Adit untuk tetap bertanya.


"Ga ada" jawab Wulan singkat.


"Oohhh ga ada" dalam benak Adit sang suami telah meninggal.


"Ga pernah nyoba cari ayah baru buat Langit, gitu?"


"Ayah baru?" Wulan tampak mengernyitkan kening.


"Langit memang tidak pernah punya ayah. Hanya ada aku, ibunya" jawab Wulan tegas.


Tersirat dari bagaimana Wulan berbicara, seolah mengatakan bahwa Langit tidak memerlukan sosok seorang ayah. Hanya Wulanlah, pemilik dan orang tua Langit satu-satunya.


"Sorry" lirik Adit.


Hening lama. Tak ada lagi yang berkata-kata.


"Besok rencanyanya gimana?" tanya Wulan pada Adit.


Ah, akhirnya! Mencair dikit nih cewek. Pikir Adit ceria.


"Besok dari lihat sunrise di Penanjakan 1 kita, lanjut bertualang ke Pasir Berbisik. Tahu 'kan, tempat Christien Hakim syuting film disitu? Abis itu kita naik ke kawah Bromo. Kalau sempat kita juga bisa ke bukit Teletubies" ujar Adit memaparkan rencananya.


"Bagus-bagus ya, Mas? Aku paling pengen liat sunrise sih" Wulan tampak bersemangat.


"Ajiiiibb" seloroh Adit.


"Ya udah, tidur sekarang yuk. Biar besok bisa bangun tepat waktu" Wulan mulai membereskan camilan dan laptopnya.


"Aku masuk kamar dulu, ya, Mas" pamit Wulan.


"Tunggu, Lan" kata Adit saat Wulan hendak berbalik.


"Ya, Mas?" tanya Wulan.

__ADS_1


Wulan menunggu apa yang hendak dikatakan Adit selanjutnya. Kira-kira apa yang hendak disampaikan Adit?


__ADS_2