Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 72 Rencana Wulan


__ADS_3

**Hari ini author dibikinin cover sama NT. Jujur kemarin author lagi males banget nulis. Makanya kemarin cuma up 1 bab aja. Tapi sore tadi dapet notif dari NT, bahwa author performanya bagus jadi dikasi hadiah cover. Cuma begitu, author jadi langsung semangat nulis lagi. Apalagi kalau dapet like+rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dari para reader sekalian. Apalagi dapet vote voucher, langsung crazry up kaliii 😂. Curhatnya singkat aja yaaa... Happy reading all 😘😘**


Ada apa lagi ini? Pikirku muram.


"Bapak-bapak ini dari mana, ya?" tanya Mas Adit.


"Saya dari Dinas Penanaman Modal dan Perizinan, dan Bapak itu dari Dinas Lingkungan Hidup" jawab Pak Subandi.


"Lalu ada keperluan apa, Pak?" tanyaku lelah.


"Kami mensinyalir adanya perizinan yang belum dipenuhi dalam pembangunan proyek ini. Silahkan Ibu penuhi kewajibannya terlebih dahulu sebelum melanjutkan" ucap Pak Subandi tegas.


"Saya rasa semua perizinan sudah dibereskan oleh tim legal kami jauh-jauh hari sebelum kami mengerjakan proyek ini!" ucapku gusar.


"Kami tak akan datang kesini jika semuanya beres" ucap Bapak yang diperkenalkan dari Dinas Lingkungan Hidup.


Aku memijit dahiku yang terasa pening karena rasa frustasi.


Aku menghela nafas berat.


"Baik, Pak. Masalah perizinan biar saya diskusikan dulu dengan tim legal perusahaan saya"


"Ada lagi, Pak?" ucapku dengan tak sabar.


"Tidak boleh ada kegiatan pembangunan selama proses perizinan belum beres" jawab Pak Subandi.


"Tenang aja, Pak. Lihat tuh, tukangnya pada leha-leha. Kemarin baru didemo. Kita ga boleh lanjutin proyek. Alasannya sama kaya bapak-bapak ini, mengadi-ngadi" ketusku. Hilang sudah rasa sopan santun. Aku sudah bisa menebak dalang dibalik datangnya bapak bertiga ini kemari.


"Ehem!" Mas Adit berdehem memperingatkan. Rasa pening dan kesal membuatku butuh pelampiasan.


"Baik, saya rasa sudah jelas ya, Pak. Urusan perizinan dengan tim legal PT. Textile Globalindo. Saat ini proyek memang kami hentikan sementara sampai semuanya jelas" Mas Adit mengambil alih, sementara aku mulai mengetuk-ngetukkan jariku pada meja pertanda bahwa aku mulai merasa tak sabar.


Akhirnya ketiga pria tersebut pamit pergi. Aku mulai mondar-mandir. Berpikir ini dan itu, mencari jalan keluar untuk masalah pelik ini.


Sementara Mas Adit pergi ke lapangan. Dia bilang ingin mendiskusikan sesuatu dengan Pak Adi dan para pekerja.


Sungguh, aku sebenarnya sangat tidak ingin menghubungi Pak Reza, Sang Dirut. Aku ingin memecahkan semua masalah yang terjadi disini karena aku telah dipercaya dan diberi mandat untuk mengatur jalannya proyek disini. Tapi jalan keluar yang saat ini kupikirkan membutuhkan persetujuan dari beliau.


Aku segera mendial nomor telepon Pak Reza. Pada dering keempat, panggilanku akhirnya diterima oleh Pak Reza.


"Selamat siang, Pak Reza. Mohon maaf menganggu waktu Anda"


"Ya, Lan, ada apa? Saya harap bisa cepat, 30 menit lagi saya akan meeting" suara Pak Reza terdengar tak sabar. Sepertinya beliau sedang sibuk.


"Sekali lagi saya mohon maaf telah mengganggu. Disini sedang ada masalah" aku akhirnya menjelaskan duduk permasalahan yang ada disini sesingkat dan sejelas mungkin. Tak lupa aku juga memaparkan jalan keluar yang saat ini memenuhi kepalaku.


"Saya membutuhkan pertimbangan dan persetujuan dari Pak Reza untuk solusi tersebut" ucapku mengakhiri penjelasan.


"Bagus. Saya suka ide kamu. Solutif, edukatif dan memberikan manfaat yang besar untuk warga disekitar sana. Kamu kalkulasi saja berapa margin laba-rugi jika kita mengambil jalan itu. Untuk masalah perizinan serahkan pada tim legal. Hubungi Ronald. Tim Legal dibawah koordinasi manager HRD" selama mendengarkan penjelasanku Pak Reza sama sekali tak menyela.

__ADS_1


"Baik, Pak. Terima kasih untuk waktunya" jawabku menyanggupi arahan dari Pak Reza.


"Oke. Masih ada yang ingin disampaikan?" tanya Pak Reza.


"Belum untuk saat ini, Pak"


"Saya tunggu laporan dari kamu. Saya harap masalah ini tak akan lebih dari dua minggu. Kita bisa mundur jauh jika lebih dari itu. Investor tidak akan suka" tegas Pak Reza.


"Baik, Pak. Saya akan usahakan yang terbaik" jawabku mantap. Tak ingin mengecewakan kepercayaan beliau.


Setelah Pak Reza mengakhiri sambungan, aku segera mendial nomor telepon Mas Ronald.


"Ya, cantik, ada apa? Kangen?" seloroh Mas Ronald dari seberang panggilan.


"Kangen banget, Mas. Kangen pengen nampol" tepat saat aku mengatakan "kangen" Mas Adit masuk dalam ruangan. Aku yakin dia mendengarnya, karena aku merasakan tatapan matanya yang tajam. Entah mengapa aku merasa rikuh. Seolah seperti seorang wanita yang tertangkap basah selingkuh oleh pasangannya.


"Hahaha, kaya yang pernah nampol aja. Mana bisa kangen kalau ga pernah ngelakuinnya. Kangen yang lain mungkin?" ujar Mas Ronald dengan nada menggoda.


"Issshh, inget anak istri Mas" desisku kesal. Mas Ronald sudah menikah empat tahun yang lalu, dan sudah dikarunia seorang putri yang kini telah berusia 3 tahun.


"Istri 'kan dirumah" ujarnya lalu tergelak.


Aku mendelik kesal. Dasar pria!


"Just kidding. Istriku bukan wanita pencemburu. Dia juga sangat mengenalmu 'kan?" Ya, istri Mas Ronald adalah Diva. Masih ingat bukan siapa Diva? Sahabatku semasa kuliah. Akulah yang menjadi saksi kedetakan mereka berdua. Jodoh memang rahasia Sang Ilahi.


"Apa kabar, dan ada apa?" tanya Mas Ronald


"Kabar baik, Mas. Diva dan si cantik Renila apa kabar?" jawabku.


"Diva dan Renila sehat. Diva sedang kewalahan menghadapi Renila yang aktif bergerak kesana kemari, sementara morning sickness menderanya sepanjang hari" curhat Mas Ronald.


"Hah?! Diva hamil? Selamat, Mas. Renila mau punya adik" ujarku, ikut merasakan kebahagiaan itu.


"Langit kapan punya adik?"


"Hilalnya belum kelihatan, Mas" selorohku.


"Aduh, jadi lupa 'kan sama masalah inti. Keasyikan ngobrol sih! Disini lagi ada masalah, Mas. Aku butuh bantuan Mas Ronald" ujarku. Aku kembali menjelaskan masalah yang ada disini.


Aku meminta Mas Ronald membuatkan draft kesepakatan yang berkekuatan hukum untuk solusi yang aku paparkan. Tentunya dengan dibantu oleh tim kuasa hukum PT. Textile Globalindo.


"Oke, Lan. Gampang masalah itu. Lusa aku kirim Bu Anjani dan Pak Haidar kesana. Atau bisa langsung ke Dinasnya. Urusan kecil kalau cuma masalah perizinan. Selama ini kita selalu menjunjung tinggi fair play. Tak akan ada celah untuk urusan perizinan" jelas Mas Ronald.


"Begitu laporanku disetujui oleh Pak Reza, kesepakatan pasti akan langsung disetujui oleh kedua belah pihak. Penawaranku sangat menggiurkan. Mereka tak mungkin menolak" ucapku mantap.


"Mantan?" tanya Mas Adit saat aku sudah mengakhiri panggilan dengan Mas Ronald.


Aku hanya mengedikkan bahu menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Sepertinya aku akan lembur, Mas"


"Aku temani" kata Mas Adit singkat.


"Tidak perlu repot" tolakku. Membayangkan berdua dengannya disini membuatku merasa risih.


"Lupa kalau aku juga sering lembur?" Adit beralasan. Sebenarnya Adit tak mau Wulan diganggu lagi oleh pria yang bernama Deni. Adit masih belum bisa meraba ada masa lalu apa antara Wulan dan pria itu. Tapi terlihat jelas bahwa Wulan benci sekaligus takut pada pria itu.


"Terserah" kataku datar.


Lalu aku mulai berkutat dengan angka dan forecast.


Tok tok. Mas Adit mengetuk kerjaku.


Aku tak menolehnya, masih sibuk dengan berbagai perhitungan.


"Makan siang dulu!" perintah Mas Adit.


"Hhmmm" aku hanya menanggapi dengan gumaman.


"Aku suapin, mau?" ancam Mas Adit.


Aku langsung mendelik padanya.


Akhirnya aku mengalah. Makan dengan cepat lalu berkutat lagi dengan angka-angka.


Aku adalah orang yang detail. Aku selalu memperhitungkan semua hal sampai hal terkecil. Seperti saat ini, aku menghitung kerugian perusahaan jika kami menjalankan rencana ini selama satu semester dan kapan akan mengalami BEP (Break Event Point) alias balik modal.


Aku sudah menghubungi Bune bahwa aku akan lembur malam ini. Bune berinisiatif membawakan dua porsi makan malam untukku dan Mas Adit dengan jasa ojol.


"Makan malam dulu, Mas" ajakku pada Mas Adit saat seorang ojol membawakan barang dari Bune.


"Wahh, penyetan iga" ucap Mas Adit antusias.


Kami makan sambil mendiskusikan rencana Mas Adit mengejar ketertinggalan pembangunan pabrik karena masalah yang saat ini tengah terjadi. Aku memperkirakan perhitunganku baru akan selesai dalam lima hari. Memperkirakan berbagai faktor secara mendetail bukanlah perkara mudah.


Selesai makan malam kami kembali berkutat dengan pekerjaan kami. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 22.35. Aku merasa penat sekali.


Untuk melepas penat aku merebahkan kepalaku di atas meja dan menggulir layar handphoneku untuk mengusir bosan.


Adit merasa heran. Tak ada suara ketikan laptop dari meja Wulan. Adit melirik pada Wulan. Ah, rupanya gadis itu tertidur.


Adit meraih jaketnya yang tersampir di kursinya.


Dia mendekati Wulan dan menyelimuti Wulan dengan jaketnya. Disibaknya rambut yang menutupi wajah gadis itu.


Adit terhenyak. Setitik air mata muncul di sudut mata Wulan. Pun dahi dan lengan yang tak tertutup oleh blousenya nampak bersimbah peluh. Padahal ruang kantor ini ber-AC.


Adit membatin. Mimpi burukkah dirimu? Jika aku bisa hadir dalam mimpimu, akan kuusir apapun atau siapapun yang menganggu mimpi dalam tidurmu, Lan.

__ADS_1


__ADS_2