
Setelah berpamitan dan menitipkan mobilnya pada Pak Adi, Mas Adit segera mengajak kami berangkat. Saat Mas Adit sedang berbincang dengan Pak Adi, aku dan Bune berdebat tentang siapa yang harus duduk di depan sebelah bangku kemudi.
"Bune aja lah. Bune 'kan lebih tua" bisikku pada Bune.
"Ya kamu Nduk yang di depan. Nak Adit kan rekan kerjamu" Bune tak mau mengalah.
"Ayo berangkat" ajak Mas Adit pada kami yang sedang menunggunya.
Saat aku hendak membuka pintu di bagian bangku tengah, Bune mendorongku untuk maju. Aku bergeming dan medelik pada beliau.
"Langit mau nemenin Om Adit di depan?"
"Of course, Om" lalu Langit yang saat itu hendak masuk ke bangku tengah dengan semangat berlari lalu membuka pintu penumpang depan.
Aku dan Bune saling berpandangan. Aku tersenyum lega. Sementara ekspresi Bune tampak tak bisa aku artikan.
Begitu memasuki mobil Langit berceloteh semangat tentang berbagai hal. Mulai dari hobinya, sekolah barunya, teman-teman barunya. Aku sampai memperingatkan anakku itu agar tak terlalu menganggu konsentrasi Mas Adit dalam mengemudi.
Setelah satu jam perjalanan kami akhirnya keluar dari pintu tol Probolinggo timur
Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 12.00 siang.
"Kita makan siang dulu ya, Nduk?" tanya Bune padaku.
"Boleh" jawabku sambil masih menatap ponselku.
"Mas, cari rest area atau IndoMei Point ya?" pintaku pada Mas Adit.
"Siap, Bos!"
"Sekalian cari jajanan ya, Bu?" pinta Langit.
"Hmm" aku bergumam mengiayakan.
Mas Adit akhirnya membelokkan mobil di pelataran IndoMei Point.
Bune menemani Langit membeli snack dan minuman dingin, sementara aku menyiapkan gado-gado untuk kami makan siang.
"Siapa yang masak?" tanya Mas Adit mengamati aku yang sedang membuka tepak-tepak plastik yang didalamnya memuat racikan gado-gado, dan tinggal menuang bumbu.
"Masak bareng" jawabku jujur.
"Enak kayanya. Udah lama ga makan gado-gado" ujarnya.
"Dimana-mana bertebaran orang jual gado-gado. Kenapa ga beli aja?" jawabku mencibir.
"Lho seriusan. Aku 'kan baru balik Jawa 3 bulan lalu. Terus langsung dapat proyek ini" ujarnya sambil mencomot emping dan mencocolkan pada bumbu gado-gado.
"Emang sebelumnya dari mana?" tanyaku penasaran.
"Aku di Kalimantan dari 2011. Menangani proyek pembangunan jalan tol Samarinda-Balikpapan. Sama bendungan juga"
"Hmm bumbunya enak" ujarnya sambil mengunyah kerupuk yang juga dicocolkan pada bumbu.
Refleks aku tersenyum, karena akulah yang membuat bumbu gado-gado itu.
__ADS_1
Setelah aku selesai menyiapkan gado-gado, Bune dan Langit tampak keluar dari IndoMei.
"Mas Adit mau pakai sambal?" tanyaku menawarkan.
"Harus itu. Kalau ga pedes ga afdhol"
Setelah semuanya siap, kami semua menikmati gado-gado sambil bercengkrama.
"Nanti dari sini kita ke Desa Sukapura. Paling lama 2 jam perjalanan. Banyak penginapan, hotel "melati", guest house disana. Tinggal pilih nanti" ujar Mas Adit lalu menyuapkan sesendok penuh gado-gado ke dalam mulutnya.
"Kalau mau liat sunrise, Mas?" tanyaku. Jujur aku ingin menyaksikan moment sunrise yang terkenal keindahannya di Gunung Bromo.
"Kalau pengen lihat sunrise dari penginapan nanti berangkat jam satu atau jam dua dini hari. Jadi nanti sampai di Penanjakan 1 sekitar jam empat atau jam lima pagi. Nanti dari Desa Sukapura kita ga bisa bawa mobil sendiri, harus naik jeep atau ojek. Jalannya terlalu curam kalau harus pakai family car seperti Erempat. Takut ga kuat"
"Tapi hawanya dingin banget lho. Pada bawa jaket tebel sama sarung tangan 'kan?" tanya Mas Adit.
"Semuanya udah siap. Termasuk topi rajut jg udah bawa" jawabku.
"Aku yang belum. Perginya dadakan sih" ucapnya sambil menyeringai.
"Nanti mampir toko baju kalu ada lewat ya? Mau beli jaket sama baju ganti"
Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan. Mampir sebentar saat di Pasar Bantaran ada sebuah toko pakaian yang masih buka.
Dari Pasar Bantaran jalanan mulai landai. Naik dan berkelok-kelok. Mas Adit menyarankan untuk mematikan AC mobil dan membuka jendel. Hal itu dimaksudkan agar kinerja mesin mobil fokus pada melajukan kendaraan. Kurasakan hawa dingin khas pegunungan yang menyergap kulitku.
Langit sudah tertidur. Perut kenyang dan hawa dingin membuatnya cepat terlelap. Aku mengalasi kepala Langit dengan bantal perjalanan agar tidak terantuk pintu mobil. Dari sudut mataku terlihat Mas Adit tersenyum syahdu menatap Langit yang lelap.
"Pak Jaka apa kabar, Bu? Maaf baru menanyakan beliau. Tadi sibuk mendengarkan dan mengomentari celotehan Langit" tanya Mas Adit.
"Pak Jaka sudah meninggal 2015 kemarin, Nak Adit" ucap Bune. Masih tersirat raut kesedihan di wajah beliau.
"Nak Adit selama ini kemana saja? Kok ga pernah kelihatan sama sekali?"
"Saya di Kalimantan hampir sepuluh tahun, Bu. Dari 2011"
"Wah, lama sekali. Anak istri di boyong kesana juga?"
"Anak dan istri saya sudah meninggal, Bu" jawab Mas Adit. Kali ini giliran Mas Adit yang tampak sedih.
Aku terhenyak mendengarkan penuturan Mas Adit. Pasti berat ditinggalkan oleh orang-orang yang dikasihi.
"Saya turut berduka cita, Nak Adit"
"Ikut berbela sungkawa, Mas"
Kataku dan Bune bersamaan. Mas Adit mengangguk dan tersenyum. Pandangan mata kami bertemu di sun visor mirror. Jantungku berdebar sesaat melihat mata tajam itu. Aku cepat-cepat mengalihkan pandanganku ke arah luar.
Hei, jantung. Tenanglah!
"Bu Nimas sama Wulan kalau ngantuk tidur aja. Perjalanan masih panjang"
Bune langsung merebahkan kepala ke kaca jendela mobil. Sementara aku menatap kembali jalanan yang kami lalui.
Lambat sang waktu berganti
__ADS_1
Endapkan laraku di sini
Coba 'tuk lupakan bayangan dirimu
Yang selalu saja memaksa 'tuk merindumu
Sekian lama aku mencoba
Menepikan diriku di redupnya hatiku
Letih menahan perih yang kurasakan
Walau kutahu kumasih mendambamu
Lihatlah aku di sini
Melawan getirnya takdirku sendiri
Tanpamu aku lemah dan tiada berarti
(Naff ~ Terendap Laraku)
Sebuah lagu lama mengalun dari stereo. Sorot getir terlihat dari mata Mas Adit saat sekali lagi aku mengamati dirinya dari sun visor mirror. Pasti lagu ini mengingatkannya akan mendiang sang istri.
Aku jadi terhanyut dalam sorot mata itu. Alunan lagu yang mendayu membuatku bisa merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Mas Adit. Tanpa terasa, setetes air mata jatuh membasahi pipiku.
Aku segera menyusutnya. Jangan sampai Mas Adit melihatku menangis. Aneh sekali aku ini.
Kenapa aku jadi melankolis begini? batinku.
Aku kembali mengalihkan perhatian ke jalanan. Aku bersyukur tidak membawa mobil sendiri kemari. Jalanannya benar-benar berbahaya untuk pemula. Menanjak dan berkelok. Beberapa kali bahkan ada tikungan tajam disertai tanjakan yang tajam pula. Jadi mobil menikung, sekaligus menanjak.
Kami sampai di Seruni Poin pukul empat kurang sedikit. Setelah mendapatkan penginapan yang cocok akhirnya kami memarkirkan mobil di parkiran penginapan.
"Langit bisa tidur sama aku. Bu Nimas sama kamu. Jadi sewa dua kamar" ujar Mas Adit sambil menyerahkan sebuah kunci padaku. Langit mengucek-ucek matanya dalam gandenganku.
"Aduh, jangan Mas. Langit biar sama aku saja" tukasku menolak idenya.
"Langit mau 'kan sekamar sama Om Adit?" tanya Mas Adit pada Langit. Tak mengindahkan sama sekali penolakanku.
"Ga masalah, Om" jawab Langit menyetujui usul itu.
"Langit main game? Nanti kita bisa mabar dikamar" tukas Mas Adit sambil mengulurkan tangan hendak menggandengnya.
Langit segera melepaskan genggaman tanganku, lalu meraih tangan Mas Adit.
Aku menghela nafas berat.
Haduh, ini anak! Kenapa jadi gampang lengket sama orang baru begini? pikirku frustasi.
Mas Adit memesan dua buah kamar dengan double bed. Saat aku hendak masuk ke kamar mandi, tiba-tiba Bune bersuara. Padahal semenjak memasuki penginapan Bune lebih banyak diam dan mengamati.
"Menurutmu, Nak Adit orangnya gimana?”
"Gimana apanya?" tanyaku tak paham maksud arah pembicaraan Bune.
__ADS_1
"Bune cuma pengen dengar pendapat kamu aja. Adit orang yang seperti apa menurutmu?"
Wulan terdiam. Bu Nimas menanti jawaban anaknya tersebut. Sejak mengenal Wulan, Bu Nimas tak pernah melihat sorot teduh dari mata Wulan. Hanya sorot terluka dan perasaan trauma yang terpancar dari matanya. Tapi tidak kali ini. Apakah anaknya itu sudah menemukan tambatan hatinya?