
**Hai para sobat reader Wulan di Malam Luka.. Hari Senin nih, kalau punya remahan vote boleh dibagi yaa ðŸ¤ðŸ¤— jangan lupa like dan komennya selalu dinanti😘😘
Happy reading all**
Sepanjang perjalanan pulang Ronald tak bisa melupakan ekspresi Wulan saat dia melakukan "serangan" tadi. Ekspresi kekasihnya itu didominasi oleh perasaan takut dan jijik. Bukan jijik pada dirinya, tapi pada sentuhannya.
"Aku telah melakukakan kesalahan besar" gumam Ronald sambil menggenggam erat kemudi mobilnya.
Sampai dirumah sudah hampir jam sebelas malam. Bu Jenny, sang Mama rupanya masih menunggunya di ruang tamu.
Ronald hendak naik ke atas menuju kamarnya yang terletak di lantai dua, saat suara sang Mama menghentikan langkahnya.
"Dari mana, Ron?"
"Jalan-jalan, Ma?" jawabnya singkat.
"Sama janda beranak satu itu?" tanya Bu Jenny dengan sirat nada tak suka.
"Namanya Wulan, Ma" ujar Ronald sabar sembari menghampiri mamanya yang sedang duduk di sofa ruang tamu, lalu duduk menemani.
"Esther datang ke rumah tadi, nyari temen buat nonton. Kalau ada waktu senggang coba kamu ajak dia nonton" pinta Bu Jenny pada putra sulungnya.
"Kapan-kapan aja, Ma" ujar Ronald ringan.
"Kapan-kapan itu kapan?"
"Kalau Ronald udah ga punya pacar. Hehehe" jawab Ronald sekenanya.
"Mama harap segera putus" tukas Bu Jenny.
"Ih, mama doanya gitu amat" ujar Ronald dengan muka ditekuk.
"Mama sudah bilang berkali-kali 'kan, Mama ga setuju kamu menjalin hubungan sama janda itu"
"Kamu bisa mendapatkan yang jauh lebih baik. Ada Esther, ada Diana, dan banyak gadis lain yang antri. Cantik, cemerlang, berpendidikan, dan pastinya masih gadis?"
"Tahu dari mana kalau mereka masih gadis?" seloroh Ronald.
"Tapi please, Ma. Jangan sebut 'janda janda' terus. Sebut nama lebih baik" pinta Ronald pada mamanya.
"Apa salahnya menyebut janda dengan sebutan janda" sergah Bu Jenny.
Ronald memutar mata lelah dan menghela nafas.
"Suka-suka Mama aja lah" lalu Ronald beranjak menuju kamarnya
"Kamu kapan menikah? Adikmu Reynold sudah akan menimang anak kedua tiga bulan lagi" tukas Bu Jenny.
Ronald mengacuhkan pertanyaan sang Mama dan memilih berlalu.
Setelah mandi, Ronald merebahkan dirinya di ranjang. Memikirkan ulang semua hal. Benarkah dirinya mencintai Wulan? Atau hanya sekedar rasa kasihan dan pembuktian diri bahwa dia bisa menyembuhkan luka hati gadis itu?
Sebagai seseorang yang merupakan magister psikologi, dirinya bisa melihat gelagat Wulan yang dirasa menjaga jarak dari orang lain, terutama pria.
Masih teringat jelas saat pertama dirinya bersalaman dengan Wulan. Saat setelah interview seleksi penerimaan karyawan baru. Tangannya basah, dan ada rasa enggan tersirat dari geriknya.
Ronald tertarik dengan Wulan, jelas. Sejak pertama melihat Wulan yang duduk di meja paling depan saat tes tulis, Ronald tidak bisa melupakan wajah gadis itu.
Saat mereka pertama kali dalam satu mobil, ada gelagat mawas dan pertahanan diri yang dikeluarkan Wulan. Mungkin gadis itu tak menyadari, tapi dia bisa tahu. Lebih terlihat jelas saat Ronald menyatakan ketertarikannya pada Wulan, ada secercah perasaan terluka yang terpancar dari mata Wulan.
Melihat itu, egonya tertantang. Bisakah aku mengambil hati gadis ini dan menjadikannya milikku. Begitu pikir Ronald.
Pendekatan demi pendekatan, dan hubungan selama satu tahun lebih tidak bisa meruntuhkan tembok pertahanan diri seorang Wulan. Wulan tetap membuat garis batas yang sulit dilewati. Wulan masih belum mau membuka diri pada Ronald.
Dan kejadian malam ini memperjelas segalanya. Wulan punya trauma, dan dilihat dari gejalanya trauma yang cukup berat. Bisa jadi PTSD, pikir Ronald.
__ADS_1
Kejadian itu membuat Ronald memikirkan ulang segalanya. Sanggupkah ia menjalani hubungan dengan wanita yang mempunyai masalah psikologi berat. Butuh kesabaran dan pengertian ekstra. Butuh perjuangan yang besar untuk dirinya mampu menjalani hubungan bersama Wulan.
Aku harus memberi waktu pada Wulan dan diriku sendiri. Batin Ronald letih.
Seminggu setelah kejadian itu Mas Ronald sama sekali tak menghubungiku sama sekali. Aku tak mempermasalahkannya, justru merasa lega. Setidaknya aku tak perlu berkelit atau mencari 1001 macam alasan menolak ajakan kencannya. Mungkin Mas Ronald tersinggung atas sikapku.
Triting. Sebuah pesan masuk.
Aku membaca notifikasinya sekilas, karena sedang sibuk. Mencurigai sesuatu.
Ronald HRD : Lan, malam ini ada waktu? Kita makan malam. Aku ada sesuatu yang harus dibicarakan.
Ronald HRD? Ya, aku memang belum mengganti nama yang tersimpan pada ponselku dengan panggilan istimewa layaknya pasangan pada umumnya. Dan aku memang tak berniat menggantinya. Aku tak merespon pesan itu. Nanti saja, pikirku.
Sampai waktunya jam istirahat aku tetap belum merespon pesan dari Mas Ronald. Aku tak berminat untuk istirahat makan siang. Aku menemukan kejanggalan laporan keuangan, membuatku asyik berkutat dengan laporan dan analisa.
Tok Tok. Bilikku diketuk oleh Mas Ronald.
"Eh, Mas" sapaku.
"Sibuk rupanya, pantas pesanku tidak dibalas-balas" tukas Mas Ronald.
"Aduh, sorry kelupaan Mas" ucapku menyesal
"Ga makan siang?" tanya Mas Ronald.
"Nanti, masih banyak kerjaan" jawabku sekenanya.
"Jangan lupa makan, nanti sakit" nasihatnya padaku.
"Pulang kerja kita langsung jalan, ya?"
"Kemana Mas?"
Tanpa pamit, Mas Ronald langsung berlalu.
Sejak berpacaran dengan Mas Ronald aku memang sering pergi dan pulang kerja bersama. Awalnya aku risih dengan pandangan orang lain, tapi lama kelamaan akupun kebal.
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.28, telah lewat 28 menit dari jam pulang.
Triting. Pesan masuk.
Ronald HRD : Tunggu di lobby. 15 menit lagi aku turun
Aku : Oke.
Aku segera mengemasi barang-barangku. Lalu segera turun ke lobby.
"Mbak Dini, duluan ya" sapaku pada resepsionis.
"Yuk, mari mbak" jawab Mbak Dini.
Beberapa menit menunggu akhirnya Mas Ronald muncul dan langsung mengajakku ke parkiran. Dalam perjalanan kami hanya diam, hanya diiringi lagu yang mengalun dari stereo mobil.
Mas Ronald membawaku ke sebuah restauran di daerah tengah kota surabaya. Restauran dengan desain klasik dan romantis.
Aku memesan striploin beef steak with mushroom sauce dan sebotol air mineral, sementara Mas Ronald memesan spagheti dan segelas jus strawberry.
Sambil menunggu, Mas Ronald memulai perbincangan.
"Kamu baik-baik saja?"
"Aku? Sangat baik kurasa" jawabku.
"Kamu mengidap PTSD?" tanyanya hati-hati.
__ADS_1
"PTSD? Mungkin" jawabku ringan.
"Kamu tak pernah meminta bantuan dari seorang ahli?"
Aku hanya menggeleng.
"Boleh tahu bagaimana kejadiannya?"
"Kejadian apa?" tanyaku berpura-pura biasa saja. Padahal sebenarnya aku sedang tidak baik-baik saja.
"Kejadian yang membuatmu trauma"
"Oh"
"Aku diperkosa, juga dikhianati oleh orang-orang yang aku percaya. Ibuku, sahabatku, dan kekasihku" ujarku skeptis.
Sejujurnya alasan aku enggan bercerita pada orang lain mengenai masa laluku adalah perasaan tercabik-cabik yang menderaku. Bukan perasaan lega yang kudapat setelah bercerita pada orang lain, justru luka hati yang kembali terbuka.
"Alasan lahirnya Langit....?" tanyanya menggantung.
Aku hanya mengangguk.
"Kenapa baru cerita sekarang?" erangnya tak percaya.
"Karena baru sekarang Mas Ronald tanya" jawabku ringan.
"Bisakah kita....?" lagi-lagi pertanyaan yang tak diselesaikan.
"Mas Ronald sanggup?" tanyaku dengan tatapan tajam pada matanya.
Mas Ronald diam.
"Aku tak tahu kapan traumaku akan sembuh. Bisa setahun lagi. Dua tahun. Sepuluh tahun. Atau mungkin tak akan pernah"
"Kita bisa minta pertololongan psikiater" tukasnya mencoba teguh.
"Ada jaminan akan segera teratasi? Mas Ronald sendiri seorang lulusan Psikologi, pasti tahu tak ada jaminan untuk itu"
"Sekarang coba tanyakan pada diri Mas sendiri. Mas Ronald sanggup? Minimal apakah orang tua Mas Ronald merestui kita?" cecarku tanpa ampun.
Mas Ronald hanya diam. Tampak tak yakin pada dirinya sendiri.
Makanan datang. Lalu kami makan dalam diam. Hanya live music yang mengiringi denting sendok dan garpu kami.
Janganlah pernah kau harapkan aku
Untuk dapat mencintai dirimu
Coba renungkan dalam hati kita
Perpisahanlah yang mungkin terbaik
Lupakan aku
Jangan pernah kau harapkan cinta
Yang indah dariku aku
(Cinta Yang Lain~Alm.Chrisye)
*********************************************
~PTSD merupakan singkatan Post Traumatic Syndrom Disorder, adalah gangguan yang ditandai dengan kegagalan untuk pulih setelah mengalami atau menyaksikan peristiwa yang mengerikan.
Kondisi ini bisa berlangsung berbulan-bulan atau bertahun-tahun, dengan pemicu yang dapat membawa kembali kenangan trauma disertai dengan reaksi emosional dan fisik yang intens.
__ADS_1