
"Adik Bumi belum bangun, ya, Bu?" Tanya Langit. Bumi sudah berusia empat bulan, Langit genap berusia 12 tahun ada dua minggu lalu.
"Iya, masih bobo" jawabku sambil memilah-milah baju yang akan dicuci.
"Uti sama Yangti masak apa hari ini?" Tanya Langit beralih kepada kedua neneknya yang sedang sibuk di dapur.
"Masak sayur bayam, dadar jagung, pepes tahu sama peyek udang" jawab ibuku.
"Mandi dulu, Le. Abis gitu pakai seragamnya. Jangan sampai seperti kemarin, Ayahmu merengut karena dia sudah siap sementara kamu masih sibuk menata buku. Menata buku itu malam, habis belajar" omel Bune.
"Iya, Uti" jawab Langit sambil tersenyum kecut.
"Hahaha, pagi-pagi udah kena omel" ledekku, saat Langit menuju kamar mandi yang bersebelahan dengan ruang cuci. Langit hanya memeletkan lidahnya menanggapi ledekanku.
Oooaaaaa Ooaaaaa. Terdengar suara tangis bayi teredam dari kamarku.
Aku tergopoh-gopoh menuju kamarku. Terlihat Bumi sudah dalam posisi tengkurap, dan wajah yang separo tertutup bantal. Mas Adit tampak masih tertidur pulas dengan guling yang diposisikan menutup telinga, mungkin terganggu dengan suara berisik tangisan Bumi. Akhir-akhir ini Mas Adit sering pulang larut.
"Anak Ibu sudah bangun, yuk ***** dulu" gumamku, lalu menyusui Bumi di sebelah suamiku.
"Ayah, bangun, ayah! Bumi mau main sama ayah" kataku dengan suara ala anak kecil sambil menyusui.
"Masih ngantuk sayang" gumam suamiku sambil mengeratkan tutupan guling pada telinganya.
"Mas, ga mau main sama Bumi sebelum berangkat kerja? Akhir-akhir ini Mas sering pulang larut. Jangan sampai Bumi ga kenal sama bapaknya sendiri karena bapaknya ga pernah ajak main!" Cetusku dengan sedikit nada ketus.
"Maksud kamu apa?! Aku kerja sampai larut-larut juga demi kalian! Gimana ceritanya ada anak ga kenal sama bapaknya sendiri!" Mas Adit akhirnya membuka guling penutup telinganya.
"Gimana mau kenal, Mas. Berangkat kerja pas waktunya Bumi balik tidur lagi. Pas waktunya Mas pulang, Bumi sudah tidur. Mas tahu sendiri 'kan jadwal tidur Bumi, subuh bangun lalu tidur lagi setelah dimandikan. Mas berubah! Dulu Mas masih sering bantu aku jaga Bumi kalau Bumi bangun sementara aku sibuk bantu Bune dan Ibu masak dan bersih-bersih! Tiga bulan ini Mas berubah 180°. Pulang larut, bangun mandi-sarapan-kerja! Kapan ada waktu main sama anak?! tukasku menjelaskan panjang lebar.
"Udahlah! Pagi-pagi kok malah cari ribut!" Jawab Mas Adit sambil menyentakkan selimutnya kasar lalu menuju kamar mandi.
Aku menghembuskan nafas berat. Sudah tiga bulan ini Mas Adit selalu pulang larut. Alasannya selalu sibuk, sibuk dan sibuk. Hari libur pun ia gunakan untuk lembur atau meninjau pembangunan rumah baru kami, karena rumah yang saat ini kami tempati sewanya akan berakhir dalam dua bulan lagi. Apa aku harus menghukumnya agar ia sadar apa yang ia lakukan itu salah? Setidaknya berikan sedikit waktu untuk bercengkrama dengan anak-anak dan keluarga.
Kebiasaan Adit yang gila kerja ternyata belum sepenuhnya hilang. Pagi ini istrinya memprotes mengenai sikapnya yang sering pulang larut dan tidak memiliki waktu bersama keluarga.
Sebenarnya bukan tanpa alasan Adit bersikap demikian. Cobaan bertubi-tubi sedang menghantamnya. Dirinya mendapat tuduhan gratifikasi untuk tender proyek pembangunan sebuah pabrik besar di kawasan Jababeka. Padahal tender pun belum ditentukan hasilnya. Beberapa kali Adit dipanggil oleh pihak berwajib untuk memberikan kesaksian dan keterangan, sehingga pekerjaan di kantornya sedikit terbengkalai, dan ia harus menebusnya dengan kerja lembur setiap harinya. Belum lagi urusan pengawasan pembangunan rumah barunya yang ternyata cukup menyita waktu.
Belum beres urusan gratifikasi dan pembangunan rumah, masalah lain menghampiri. Seminggu yang lalu, dari hasil medical check up rutin yang diadakan perusahaannya, Adit dinyatakan mengidap kanker paru stadium satu. Kebiasaan merokoknya yang selama ini layaknya kereta api uap, akhirnya membawa dampak. Di rumah ia memang tidak pernah merokok, karena tak ingin kebiasaan buruknya akan ditiru oleh putranya. Tapi jika di kantor dan mulai bekerja, mulutnya akan terasa kebas jika tidak ada rokok terselip di antara bibirnya, jendela ruang kantornya akan ia buka lebar-lebar dan AC akan ia matikan.
Adit tak menceritakan masalah yang sedang menimpanya pada istri maupun keluarga yang lain karena ia tak ingin orang lain merasa cemas. Adit merasa, tak perlu orang lain ikut menderita karena mencemaskan dirinya.
Karena pertengkaran pagi denganku, Mas Adit tampak murung saat acara sarapan bersama. Mas Adit tak banyak bicara, dan makan dengan diam. Ibu dan Bune melempar tatapan 'Ada apa?' padaku, yang hanya bisa kujawab dengan mengangkat bahu.
Setelah Mas Adit dan Langit pergi, aku menceritakan yang terjadi pagi tadi pada kedua ibuku.
"Jangan begitu, Lan. Suami baru bangun tidur kamu ajak bicara begitu dimana-mana pasti emosi. Masih ngantuk, jelas ga mood" cetus Ibuku.
"Kunci menyelesaikan masalah rumah tangga itu, harus dengan pikiran yang rileks. Coba diajak ngobrol sambil ngeteh, pasti pembicaraan akan lebih adem" ujar Bune memberi saran.
__ADS_1
Aku sedikit dongkol, merasa tidak ada yang membelaku. "Mau ngeteh gimana, kalau pulang aja selalu larut malam! Semuanya ngebelain Mas Adit. Emang sih, sekarang di rumah ini aku ga menghasilkan! Cuma Mas Adit yang kerja, makanya semua pada memihak dia" Ucapku dengan nada kesal.
Ibu geleng-geleng kepala mendengar ucapanku. "Ck ck ck, dari dulu kamu ga berubah. Selalu mengedepankan prasangka. Bukan begitu maksud Ibu dan Bunemu! Maksud kami berdua, jika ingin berbicara dengan suami ciptakan suasana yang kondusif. Waktu yang kamu pantang ajak suami untuk berbincang adalah bangun tidur dan pulang kerja. Waktu-waktu itu pikiran suami sedang tidak dalam kondisi prima, jadi apa yang kita sampaikan akan diterima buruk olehnya! Paham kamu?!" Ucap Ibu dengan nada kesal pula.
"Suasana kondusif itu suasana saat pikiran sedang santai. Saat ngeteh contohnya. Atau sesaat setelah melaksanakan rutinitas 'ranjang'. Kalau seperti kamu bilang, ga pernah ada kesempatan ngeteh karena suamimu selalu pulang larut, ga mungkin 'kan Nak Adit ga pernah minta 'jatah' sama kamu, Nduk?" Bune menimpali lembut.
"Ya sudah, nanti Wulan coba" jawabku dengan setengah hati. Aku masih kesal karena merasa 'tidak dibela'.
Sudah seminggu ini aku mendiamkan Mas Adit. Setidaknya dia harus merasakan hukuman dariku sebelum kami meluruskan masalah yang terjadi. Aku hanya melayaninya di saat ia meminta pelayanan, menjalankan kewajiban istri ala kadarnya. Pun Mas Adit tampak menghindar ketika aku ingin mengajaknya berbicara.
"Mas, aku bisa ngobrol?" Tanyaku lembut sambil berbaring di lengan kokohnya, setelah sesi percintaan kami yang panjang. Walaupun baru saja melepas stress dengan bercinta, wajahnya masih saja tampak kusut.
"Hmm?" Responnya, sambil meremasi pinggulku. Naga-naganya, Mas Adit ingin meminta ronde kedua.
"Serius ah, Mas!" Ucapku mencoba menepis tangannya.
"Iya, nanti saja ya!" Lalu Mas Adit membungkam mulutku dengan mulutnya. Kembali, mulut liat itu menjamah seluruh tubuhku. Setelah puas bermain dengan area intiku, Mas Adit turun dari ranjang, lalu menyeretku ke bibir ranjang. Mas Adit dengan posisi berdiri, mengarungi lautan kenikmatan bersamaku yang membelakanginya.
"Kamu suka kalau dipercepat?" Dengusnya ditelingaku.
"Iya, Mas.. ah, aaauu.. Mas masuk dalam banget! Aku suka!" Racauku dengan nafas terengah.
Lalu Mas Adit mempercepat tempo permainannya, dan sesekali akan menyentakkan pinggulnya untuk memasukkan miliknya dalam-dalam padaku. Aku hanya bisa mengerang hebat saat ombak gairah kembali menggulungku.
"Oohh, Mas aku hampir! Faster honey!" Racauku.
Sampai pada akhirnya, kami berdua melolong nikmat pada saat yang hampir bersamaan. Mas Adit ambruk menindihku dengan siku yang menahan beban tubuhnya. Kami berdua terengah-engah setelah bersama-sama mendayung perahu cinta demi mengarungi lautan kenikmatan.
Setelah selesai mengatur nafas, Mas Adit meraih tisu di nakas dan membersihkan area intiku. Satu yang aku suka dari suamiku, ia akan membersihkan milikku sebelum menyeka miliknya sendiri.
Setelah kami sama-sama berbaring bersisian, aku mencoba berbicara kembali pada Mas Adit. "Untung ya, Bumi ga kebangun denger suara de-sa-han kita" candaku memulai pembicaraan, sambil bergelung dalam pelukannya.
"Sudah kebal dia" jawab Mas Adit dengan suara mengantuk.
"Mas..."
"Besok aja ya, sayang. Mas ngantuk banget" belum sempat aku berbicara, Mas Adit sudah memotongnya.
"Besok-besok kapan? Kemarin bilang..."
Hek heek oeeeeekkk. Suara Bumi menangis, memotong ucapanku.
Dengan berat hati aku berdiri dan mengambil Bumi untuk kususui. Biasanya 15-20 menit setelah *****, Bumi akan kembali tidur. Tapi karena mungkin merasakan keresahan hatiku, Bumi malah bermain-main dengan wajah dan dadaku sampai hampir selama satu jam. Sementara Mas Adit, sudah terdengar dengkur halus darinya, penanda si empunya dengkuran telah lelap. Aku hanya bisa tidur membelakangi Mas Adit sebagai bentuk protes, dengan perasaan masygul.
Keesokan harinya, aku kembali mendiamkan suamiku. Hatiku masih dongkol. Enggan bersikap hangat padanya.
Setelah Mas Adit pergi bekerja, aku masuk ke kamar. Suasana hatiku sedang buruk, tak ingin berbincang dengan siapapun. Aku hanya berdendang kecil untuk menghibur Bumi dan diriku sendiri. Hingga akhirnya, Bumi kembali tertidur.
Aku berniat membereskan kamar yang terlihat sedikit berantakan agar sedap dipandang. Aku memilah-milah dokumen penting dan tidak, karena terkadang fotocopy dokumen penting tercampur dengan fotocopy materi pelajaran Langit. Aku sedang membolak-balik sebuah amplop coklat tipis besar yang terletak di laci nakas paling bawah. Tercetak di atasnya sebuah logo rumah sakit pemerintah, dan tertera nama 'Tn. Aditya Perdana. 36 thn'
__ADS_1
Karena penasaran, aku membuka amplop itu mengeluarkan isinya. Tampak olehku selembar klise foto hasil rontgen paru-paru. Aku memang tak bisa membaca hasil rontgen itu, tapi satu hal yang aku yakini ada suatu hal yang tidak beres pada foto rontgen tersebut. Aku bisa melihat ada bercak kehitaman yang cukup besar untuk hanya bisa dikatakan flek.
Aku segera menghubungi Mbak Kurnia, yang ayahnya adalah dokter ahli spesialis dalam. Mbak Kurnia adalah istri dari pegawai Mas Adit yang bernama Dani. Seminggu setelah melahirkan Bumi, Mas Adit membuat pengakuan bahwa makanan 'ngidam' yang selama ini kumakan adalah hasil dari masakan Mbak Kurnia. Aku terkekeh saat mengetahuinya. Dan saat Mbak Kurnia bersama suaminya menengok Bumi, kami akhirnya menjadi akrab karena kesamaan hobi yaitu memasak, dan sama-sama berasal dari satu daerah.
"Halo, Neng. Apa kabar? Udah lama nih, kita ga masak-masak bareng" ucapnya menjawab panggilan teleponku.
"Baik, mbak. Mbak Kurnia sendiri apa kabar?" ucapku berbasa-basi. Setelah berbasa-basi sejenak, aku akhirnya menyampaikan tujuan utamaku menghubunginya.
"Mbak, aku bisa minta tolong?" tanyaku.
"Selama aku bisa, pasti aku bantu"
"Ayah Mbak ahli spesialis dalam 'kan? Aku ada foto Rontgen paru-paru seseorang, cuma aku ga bisa bacanya. Bisa minta tolong di terjemahkan ga mbak?" Pintaku pada mbak Kurnia.
"Oh, bisa banget, say. Kamu bisa langsung scan fotonya terus kirim ke email ayahku. Abis ini aku kirim alamat email ayah, ya! Biar aku nanti telepon buat ngabarin ayah" jawab Mbak Kurnia.
Tiga puluh menit mondar mandir dalam kamar, akhirnya email balasan aku terima.
Selamat siang, Bu Wulan.
Berdasar hasil foto Rontgen yang saya terima, saya membaca ada indikasi kanker paru stadium 1. Saran saya untuk lebih meyakinkan lagi, silahkan lakukan pindai CT scan. Beruntung ditemukan di stadium awal, sehingga bisa segera diatasi sebelum sel kanker menyebar dan menginfeksi jaringan-jaringan yang lain.
Demikian informasi yang bisa saya sampaikan.
Regards,
(Handoko)
Aku jatuh lemas dan terduduk di bibir ranjang. Mas Adit? Kanker paru? Sejak kapan? Kenapa Mas Adit ga cerita apa-apa? Inikah alasan beberapa waktu terakhir ini Mas Adit nampak sesekali batuk? Tapi Mas Adit bilang cuma batuk biasa, dan akan sembuh saat diberi obat batuk. Ribuan tanya dan kecewa bergelayut dalam pikiranku.
Tok tok! Suara ketukan di pintu yang cukup keras, mengagetkan tak cuma diriku tapi juga Bumi, membuat Bumi terbangun dari tidurnya dan menangis. Dengan sedikit kesal, aku menggendong Bumi dan membuka pintu.
Aku melihat ibuku berdiri di depan pintu dengan raut muka yang tak bisa kuartikan. Antara terkejut, sedih, dan khawatir. "Ada apa, Bu?" Tanyaku sambil menimang Bumi agar berhenti menangis.
"Ayo sini liat berita, ada Adit diberitakan di TV!" Tukas Ibu dengan setengah menyeretku. Bune juga ikut keluar dari kamarnya yang tak tertutup karena mendengar tangisan Bumi. Mendengar ada berita di televisi tentang menantunya, Bune ikut menuju ruang keluarga.
"Berita apa?" Tanya Bune.
"Aduh, sudah habis beritanya!" Ibu menepuk dahinya.
"Memang berita apa, Bu?" Tanyaku dengan hati berdebar. Dulu aku mendapat info tentang kecelakaan Mas Adit dari berita, apakah kali ini juga berita buruk?
"Tadi di berita disebutkan, bahwa manager PT. Bangun Karya yang bernama Aditya Perdana terjerat kasus gratifikasi. Tapi katanya sudah mulai menemukan titik terang. Di perusahaan itu ada berapa manager dengan nama Aditya Perdana, Lan?" Jawab ibuku panjang lebar.
Ya Tuhan, apa lagi ini? Belum hilang rasa kalutnya akibat informasi kanker yang Wulan peroleh, kembali muncul berita mengejutkan mengenai suaminya. Perasaan Wulan campur aduk. Cemas, marah, terluka, kecewa, khawatir, sedih dan kalut menjadi satu. Kenapa suaminya tak menceritakan apa yang menimpa dirinya pada sang istri. Wulan berpikir, apa arti dirinya di mata suaminya? Apa benar dirinya dianggap istri oleh seorang Aditya Perdana?
*********************************************
~Gratifikasi, pemberian dalam arti luas yang meliputi pemberian uang tambahan, hadiah uang, barang, rabat (discount), komisi pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya (UU No. 20/2021 penjelasan pasal 12b ayat 1)
__ADS_1