Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 69 Mt. Bromo


__ADS_3

**Mengutip kata-kata mbak @juskelapa dalam karyanya Pengakuan Dijah (salah satu novel favorit othor) "Kamu baik ke orang lain juga Ra... Balesannya emang ga langsung dari orang yang nerima kebaikan dari kita. Bisa muter, dan kita nerima ya dari orang lain".


Nah, author cuma mau satu kebaikan aja kok dari reader sekalian. Cukup pencet gambar jempol sebelum baca. Apalagi kalau dapat vote voucher dan rate ⭐⭐⭐⭐⭐ tambah seneng akutuuu. Hahaha maapkeun jadi nglunjak😂. Anyway, happy reading all**


"Ya, Mas?" tanya Wulan menghentikan langkahnya.


"Ehhmm, mau bilang apa ya tadi?" Adit merasa kebingungan sendiri. Sejujurnya tidak ada yang ingin dibicarakan lagi dengan Wulan, alias dia kehabisan topik. Tapi Adit masih ingin berlama-lama dengan Wulan.


Beberapa saat menunggu sehingga menimbulkan hening yang canggung. Aku mulai merasa rikuh.


"Aku masuk dulu ya, Mas. Sudah mulai ngantuk juga" dustaku pada Mas Adit.


Saat sudah di dalam kamar, aku bersandar sejenak pada pintu kamar yang telah kututup. Entah mengapa, aku merasa rikuh.


Aku segera merebahkan diri, berharap lelap segera menghampiri.


Rasanya baru saja aku tertidur, tapi alarm ponselku sudah berbunyi. Pukul 01.30. Tampak Bune juga terbangun akibat bunyi alarm.


Setelah mencuci muka dan berganti pakaian aku segera mengemas barang-barang. Barang dan mobil masih kami tinggalkan di penginapan, karena dari penginapan kami akan langsung mengendarai jeep menuju Penanjakan 1.


Aku mengenakan celana cargo motif army, kaos turtle neck semalam, jaket parka warna hitam, dan sepasang sepatu sneakers. Untuk mempermanis penampilan, sebuah kacamata hitam bertengger di atas kepalaku yang rambutnya telah kuikat model cepol.


Aku dan Bune sudah siap menunggu di teras, tapi Mas Adit dan Langit tak kunjung keluar dari kamar.


Karena tak sabar aku mengetuk pintu kamar mereka.


"Masuk" terdengar suara teredam dari dalam.


Aku membuka pintu. Tampak Mas Adit tengah mengenakan jaket pada Langit yang duduk dengan mata terpejam. Rupanya Langit susah dibangunkan.


"Masih ngantuk banget katanya" ujar Mas Adit sambil menaikkan resleting jaket Langit.


"Maaf, Mas, merepotkan. Biar aku aja" ujarku lalu meraih sebuah topi rajut dan memakaikannya pada Langit. Dalam hati aku malu karena sudah tidak ada yang bisa kulakukan selain memasangkan topi.


"Kasian, ngantuk banget kayanya. Biar aku gendong aja" tukas Mas Adit lalu berdiri lalu bersiap merengkuh Langit.


"Jangan, Mas. Biar Langit jalan sendiri" tukasku menolak, merasa tak enak hati.


"Jangan. Kasian. Aku gapapa, kok" jawab Mas Adit dan langsung menggendong Langit.


Aku membantu membuka pintu. Saat Mas Adit melewatiku, mataku tertumbuk pada outfit yang dikenakan Mas Adit. Celana kami mirip, celana cargo bermotif army.


Aku meringis.


Haish, kok jadi berasa couple-an gini ya.


Setelah semua siap kami keluar penginapan, dan sudah ada jeep beserta supir yang menanti kami di depan penginapan.


"Semoga dapet sunrisenya, ya Mas. Istrinya ya, Mas? Liburan keluarga?" kata si supir jeep.


Mas Adit hanya mengiyakan tebakan ngawur pria tersebut, mengangsurkan Langit yang masih tertidur padaku yang telah masuk ke dalam jeep terlebih dahulu.

__ADS_1


"Hawane adem tenan, ya, Nduk" tukas Bune sambil bersedekap.


"Ini masih tergolong hangat, Bu. Sampean kemari pas musim kemarau. Kalau ga betah dingin, jangan coba-coba kemari pas musim hujan. Iso cetatuken pean (bisa menggigil kamu)" celetuk supir sambil melajukan jeepnya.


(Sampean/pean : kamu dalam bahasa Jawa yang lebih halus)


Setelah perjalanan berkelok-kelok yang menanjak akhirnya kami sampai di Penanjakan 1. Langit bangun tepat saat supir memarkirkan jeepnya. Hari masih gelap saat kami turun dari jeep. Pukul 04.15, dan lokasi sudah sarat akan pengunjung.


"Minggu Mas, makanya rame. Saya tunggu sini ya" ujar supir sambil menyulut sebatang rokok.


Kami berempat berdiri berjejer di sepanjang pagar pembatas. Menanti saat-saat matahari akan memancarkan sinarnya untuk menghangatkan dunia.


Dari ufuk timur, cahaya mentari mulai menampakkan sinarnya dengan malu-malu. Dari ketinggian 2.774 mdpl kami menyaksikan anugrah Tuhan yang tiada terkira. Keindahannya tak bisa dilukiskan oleh kata-kata.


Setelah beberapa menit, akhirnya matahari terbit sepenuhnya. Pemandangan mulai tampak terang. Sekali lagi kami dibuat terpesona akan keindahannya. Dari tempat kami berdiri, mata kami dimanjakan oleh penampakan puncak tiga gunung yaitu Gunung Bromo, Gunung Semeru dan Gunung Batok.


Setelah puas menikmati sunrise akhirnya kami beranjak untuk pergi menyaksikan kawah Gunung Bromo.


Supir yang sudah handal melajukan jeepnya meliuk-liuk menyusuri jalur. Setelah beberapa lamanya, akhirnya mataku menyapu pemandangan hamparan padang pasir yang luas. Menyusuri padang pasir dengan menaiki mobil jeep, benar-benar terasa seperti rally dakkar.


"Ngebut, Om!" celoteh Langit dengan semangat pada sang supir.


Mas Adit nampak mengabadikan pemandangan hamparan pada pasir keemasan yang mempesona dengan kamera handphonenya. Aku dan Bune tidak terlalu banyak berbicara. Kami lebih memilih mengagumi mahakarya Tuhan dalam diam dan menyimpannya dalam memori kami.


Akhirnya jeep menurunkan laju kecepatannya lalu berhenti. Kami turun dan sepanjang mata memandang hamparan pasir masih terlihat. Sudah banyak jeep-jeep lain yang juga terparkir. Juga terdapat kuda-kuda dengan pengendalinya yang sedang menanti penyewa jasa menunggang kuda.


Di pinggir-pinggir tampak bangunan-bangunan sederhana yang merupakan warung yang menjajakan berbagai menu makanan khas daerah pegunungan. Terutamanya semangkuk mie instan panas.


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat, perutku terasa keroncongan.


"Bu, lapar" keluh Langit.


"Sama" ujarku sambil nyengir.


"Pak, mari ikut kami sarapan dulu" ajakku pada si supir jeep.


"Wah, makasih banyak Mbak. Istrinya Mas sudah cakep, baik lagi" selorohnya pada Mas Adit.


"Ah, bisa aja" jawab Adit sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sesungguhnya Adit merasa bangga saat supir jeep menganggapnya suami dari Wulan.


Kenapa salah paham masih saja terus berlanjut. Padahal sedari tadi Langit selalu memanggil 'Om Adit, Om Adit'. Pikirku gemas.


Meski dalam hati aku memprotes, tapi ada gelenyar aneh yang menggelitik perutku. Membuatku tetap tersenyum sekalipun disalahpahami.


Setelah menikmati semangkuk mie instan (Mas Adit dan supir porsi double) dengan topping telur mata sapi dan sepiring nasi, kami akhirnya melanjutkan perjalanan dengan menyewa tiga ekor kuda. Bune memilih tidak ikut mendaki karena sudah cukup merasa lelah.


"Tunggu ya, Bune. Paling lama dua jam" pamitku pada Bune.


"Iya Bune mau menikmati secangkir jahe panas sambil lihat drakor yang kamu kasih tunjuk kemarin" jawabnya sambil mulai memutar drama dari ponselnya.


Dengan menaiki kuda kami menempuh waktu perjalanan sekitar 30 menit. Dari kejauhan tampak ratusan anak tangga yang menjulang dari bawah sampai ke atas kawah Gunung Bromo.

__ADS_1


Saat kami turun dari kuda, aku menyuarakan kekhawatiranku.


"Langit sanggup naik setinggi itu?" tanyaku pada Langit sembari menunjuk 250 anak tangga di depan kami.


Setelah mengamati sejenak, Langit menjawab mantap.


"Sanggup, Bu" jawabnya lugas.


Akhirnya kami bertiga menaiki tangga tersebut dengan formasi Mas Adit di depan, Langit di tengah, dan aku di belakang.


Sampai di tengah perjalanan, Langit tampak mulai ngos-ngosan.


Sampai akhirnya di tiga per empat perjalanan, Langit sudah merasa tak sanggup lagi mendaki dan meminta istirahat.


"Tinggal dikit lagi. Om gendong aja, ya?" tukas Mas Adit sambil membungkukkan badan. Meminta Langit untuk naik ke punggungnya.


"Jangan, Mas. Berat. Nanti Mas Adit capek" ujarku dengan nafas satu dua.


"Sama gendong ibunya Langit juga masih kuat ini!" selorohnya.


Aku memutar mataku sebal. Bisa-bisanya!


Akhirnya Langit naik ke punggung Mas Adit. Sampai di atas, sekali lagi aku dibuat terpesona oleh mahakarya Tuhan yang lain. Hanya satu kata yang mampu menggambarkan pemandangan di depanku. Menakjubkan.


Puas menikmati pemandangan dan mengabadikannya dengan kamera ponsel akhirnya kami turun.


Bune masih menonton drakor saat kami tiba di warung tempat kami sarapan tadi. Jam sudah menunjukkan pukul 10.30, akhirnya kami memutuskan untuk langsung kembali ke penginapan.


Sampai di penginapan, sudah pukul satu siang lewat. Akhirnya kami langsung berkemas dan check out. Mas Adit menolak tawaraku istirahat di penginapan lebih lama, karena mendengar kabar bahwa para pekerja memilih lembur Minggu ini. Mas Adit ingin mengecek progress pengerjaan di lapangan.


Setelah makan siang di restauranm pinggiran kota Probolinggo, kami langsung melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.


Waktu sudah hampir pukul empat sore saat kami memasuki kota Pasuruan, hanya butuh 30 menit saja untuk sampai di tujuan.


Ponsel Mas Adit berdering, menampilkan nama "Pak Adi Mandor" pada layarnya.


"Lan, tolong angkat. Aku lagi fokus" pinta Mas Adit.


Aku saat ini duduk di sebelah Mas Adit karena Langit sedang ingin berbaring di pangkuan utinya. Dan sesaat setelah berangkat, Langit memang benar-benar tertidur.


"Ya, halo, Pak Adi? Maaf, Mas Adit lagi nyetir. Jadi ga bisa angkat telepon" ujarku menjelaskan.


"Siapa ini? Mbak Wulan, ya?" tanya Pak Adi dari seberang panggilan.


"Iya, Pak" jawabku. Aku mengernyitkan dahi. Samar-samar aku bisa mendengar suara riuh melatari panggilan kami.


"Gawat, mbak, gawat. Tolong cepetan pulang, Mbak" jawab Pak Adi dengan nada gusar.


"Ada apa, Pak?" tanyaku khawatir.


Apa yang sedang terjadi di lokasi pembangunan pabrik? Perasaan Wulan benar-benar was-was.

__ADS_1


__ADS_2