Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 7 Genk Kece


__ADS_3

"Kau pembohong, Den! Mana ada wanita yang bisa memasang k*nd*om ke anu dengan mulutnya." sergah Tama tak percaya. Siang sepulang sekolah, Genk Kece memutuskan untuk hang out ke pusat perbelanjaan satu-satunya di kota mereka. Masing-masing pulang ke rumah terlebih dahulu untuk berganti pakaian, lalu berkumpul di rumah Deni. Dari rumah Deni mereka bersama-sama menaiki mobil A*anz* Deni menuju tempat hang out.


"Ck. Kapan aku pernah berbohong, ***?" Deni memaki karena tak dipercaya. "Kalian percaya kan?", tanya Deni pada dua orang anggota genknya yang lain.


"Entahlah Den, aku juga sangsi tentang hal itu. Apa benar ayahmu pernah membawamu ke 'akuarium'?" tanya Aldo Dewanta, salah satu anggota Genk Kece. Aldo adalah seorang pria metroseksual, baginya menjaga penampilan merupakan keharusan. Padahal sebenarnya Aldo hanya sosok yang sangat biasa saja. Semua yang ada pada dirinya standar laki-laki pada umumnya.


"Ck. Aku tak pernah mengatakan Papa membawaku ke 'akuarium', tapi membawakanku 'ikan' yang cantik dan pro banget ke rumah. Dia tahu bagaimana memanjakan pria. Papa bilang daripada aku penasaran dan jajan sembarangan mending Papa yang nyariin cewek buat puasin rasa penasaranku. Cewek yang bersih, bahenol dan cakep tentunya", Deni nyengir menatap ketiga temannya yang melongo. Akuarium adalah cara Genk Kece menyebut rumah kaca di kawasan lokalisasi dekat Desa Karang Gayam. Saat malam lampu dalam rumah kaca tersebut menyala terang benderang menampilkan 'ikan-ikan' alias wanita penghibur didalamnya untuk dijajakan.


Genk Kece terdiri dari empat orang. Deni Wiratmaja sang ketua genk yang sombong, Pratama Andrean yang tegas, Aldo Dewanta yang gemar berdandan, dan Angga Satria yang penurut serta selalu mengiyakan ucapan Deni. Mereka berempat adalah anak orang-orang terpandang di Desa Karang Gayam. Bergaul dengan Deni membuat mereka tertular sikap brengsek Deni.


"Gimana rasanya begituan, Den? Enak ga?" Tama bertanya penasaran


"Nikmat bangeeeet cuy! Itulah kenapa ini disebut surga dunia", Deni mengacungkan tangannya dengan posisi ibu jari diapit diantara jari telunjuk dan jari tengah saat mengatakan "ini".

__ADS_1


"Woi, Ngga keluarin isi tasmu! Pesenan yang aku minta kemarin" perintah Deni pada Angga.


Angga yang penurut langsung menyerahkan apa yang dimaksud oleh Deni. Sebuah botol mungil dengan tulisan "Bombay Sapphire".


"Aduh, ga lagi deh Den. Kemarin aku dihajar Bapak ketahuan mabok. Bapak bilang ga mau ada laporan lagi dari anak buahnya tentang aku yang tertangkap mabuk. Malu kata Bapak, anak seorang Kapolsek keciduk sama anak buahnya" Tama mengelak dari ajakan Deni.


"Cemen bener sih! Buat campuran sama cola dikit, ga bakal mabok. Anyep kalo cuma minum cola doang. Kalian mau kan?" tanya Deni pada kawan-kawannya.


"Aku oke aja, Den. Ibuku paling cuma ngomel kalau aku teler. Ayah ga akan tahu kalau aku teler karena seharian sibuk dengan kantor beritanya. Ibu terlalu sayang sama aku jadi ga bakal ngadu sama ayah", Aldo mengikuti ajakan Deni untuk bersenang-senang. Ayah Aldo adalah seorang pimpinan redaksi kantor berita setempat. Tentu ibu Aldo tak ingin kenakalan anaknya masuk dalam berita di koran yang diterbitkan oleh suaminya. Sehingga ibu Aldo tak pernah melaporkan kenakalan apa saja yang telah diperbuat oleh Aldo pada ayahnya.


"Aku selalu oke, Den" jawab Angga yang memang selalu menyetujui apapun permintaan Deni.


Deni menuang sedikit-sedikit minuman biru tersebut ke dalam gelas cola masing-masing. Tersisa setengah, bisa dia bawa pulang untuk dia nikmati sendiri di rumah.

__ADS_1


Mereka berempat menikmati campuran cola dan minuman keras tersebut. Ada gelenyar aneh saat minuman tersebut melewati kerongkongan mereka. Rasa panas dan pahit akibat kandungan alkohol dalam minuman keras itu.


Sedang asyik menikmati minuman mereka, tiba-tiba Aldo berkata "Eh, Den. Arah jam 9", Aldo menunjuk meja ujung di lain sisi tempat mereka berempat duduk.


Tampak Wulan, Ryo, dan Lisa disana. Wulan selalu cantik. Kali ini dia mengenakan outfit kaos ketat warna hitam yang dibalut sweater navy untuk menutupi kaos ketatnya, kaki jenjangnya dibalut celana jeans biru panjang dan ketat yang tak mampu menyembunyikan indahnya kaki itu. Rambut hitam lurus sepinggangnya kali ini dia kuncir kuda, menampilkan leher kuning langsatnya yang jenjang. Saat Deni melihat Wulan yang memeluk Ryo, dia secara refleks meneguk ludahnya kasar. Ada rasa marah dan cemburu dalam diri Deni. Matanya berkilat garang saat melihat Wulan asyik bercengkrama dan bercanda dengan Ryo.


Brengsek. Kenapa pria miskin seperti Ryo yang mendapatkan Wulan. Aku lebih bisa memuaskan Wulan dalam segala hal ketimbang Ryo. Deni mengumpat dalam hatinya.


Dengan rasa amarah Deni menenggak sisa cola campurannya. Kemudian Deni berkata pada teman-temannya, "Rek, dengerin aku ngomong sekarang. Aku punya rencana, dan kalian wajib bantu aku. Aku mau bikin perhitungan sama Wulan. Seenaknya aja dia nolak aku tapi nerima gembel macam Ryo" sifat sombongnya tak terima dikalahkan oleh pria yang dia rasa sangat jauh dibawahnya.


Rekan satu genk Deni mendekat untuk mendengar apa yang direncanakan Deni. Apa yang sedang direncanakan Deni untuk Wulan? Yang pasti bukan sesuatu yang baik.


****************

__ADS_1


Setiap akhir episode ga bosan saya ngingetin para reader yang budiman untuk ngasi like atau komen ya.


Tengkyu dan salam sayang dari wulaaaann 😘😘


__ADS_2