
"Apa-apaan ini?! Siapa Anda berani menampar saya?!" hardikku pada wanita tersebut sambil memegang pipiku yang berdenyut.
Sementara Mbak Dini yang terkesima atas apa yang terjadi hanya mampu melongo. Bingung hendak berbuat apa.
Suasana lobby sedang sepi, karena sedang jam istitahat. Karyawan yang lain sedang menikmati santap siang di kantin lantai dua.
"Saya istri kepala gudang yang kamu penjarakan! Kamu mikir, siapa yang akan mencari nafkah kalau suami saya dipenjara, hah?!"
"Kamu baru kerja disini sudah berani lapor sana lapor sini! Mau cari muka kamu sama atasan?! Suami saya sudah 13 tahun kerja disini. Bisa-bisanya orang baru melawan orang lama yang sudah kerja puluhan tahun disini!" cerocosnya dengan membentak-bentak. Tak terima suaminya dipenjarakan dan dipecat secara tidak hormat.
"Saya ga ada urusan dengan Anda!" ketusku kemudian berbalik, hendak berlalu. Baru ada dua langkah berjalan sebuah tangan menarik kuat rambutku yang dikuncir kuda.
Aku yang tak ingin rambutku tercabut dari akarnya, secara reflek menahan rambutku yang ditarik dengan tanganku.
"Aduh anjing!" makiku pelan.
"Kon sing asu! (kamu yang anjing). Saya belum selesai ya sama kamu!" maki Bu Wati kembali.
"Lepas!" ucapku sambil membalikkan badan. Alhasil cengkeraman tangan Bu Wati pada rambutku terasa semakin kencang. Membuatku meringis kesakitan.
"Heh, denger ya anak ingusan! Korupsi kecil-kecilan itu sudah biasa! Ga usah sok suci kamu!" ucapnya sambil mencengkeram pipiku dengan satu tangannya yang bebas, sementara tangannya yang lain masih mencengkram rambutku.
Kukunya yang tajam melukai pipiku. Perih.
Aku mencengkram kerah gaun casual hijau lumut yang dikenakan Bu Wati. Masih mencoba menahan diri untuk tak membalas kekerasan fisik yang dilakukan wanita itu.
"Lepaskan saya!" geramku dengan gigi terkatup.
Cuih. Bu Wati malah meludahi wajahku. Membuatku melotot dan habis kesabaran.
"Mau apa kamu kalau saya ga mau lepas, hah?!" tantangnya.
Belum tahu kau ya! Dengan masih mencengkram erat gaun Bu Wati, aku mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Lalu. Duak!
Tinggi kami yang tak jauh berbeda memudahkanku membenturkan dahiku kepada dahinya. Dengan bantuan sepatu heelsnya membuat tinggi Bu Wati nyaris sejajar denganku yang hanya menggunakan flat shoes.
Bu Wati yang tak mengira akan seranganku, terhuyung mundur dan melepaskan cengkeramannya pada rambut dan pipiku.
Tak bisa dikasih hati ini orang! Sungutku dalam hati.
"J a n c u k kon!" makinya sambil menggosok-gosok dahinya yang memerah.
Tak kupedulikan dahiku yang berdenyut. Aku hanya mengusap ludah yang menempel pada wajahku menggunakan lengan blouseku.
"Menjijikkan!" desisku dengan tatapan nyalang pada Bu Wati.
Aduh, semakin ga terkendali ini! pikir Dini. Dini segera berlari menuju pos satpam yang terletak di sebelah pintu gerbang.
__ADS_1
"Pak, tolong Pak! Ada yang berkelahi!" jerit Dini saat sampai di depan pos satpam.
Dua orang satpam yang bertugas langsung tergopoh-gopoh mengikuti resepsionis itu.
Sementara di lobby, Bu Wati yang semakin tak terima akan tindakanku menerjangku membabi buta. Membuatku jatuh terjengkang. Refleks aku menahan jatuhku dengan siku, agar tak mengalami cedera kepala yang parah.
Bu Wati kini duduk di atas tubuhku dengan mencengkram blouseku.
"Dasar lon te! Kata Mas Pram kamu janda. Kamu pasti sudah di anu kan sama bos-mu! Makanya semakin cari-cari muka!" Bu Wati semakin beringas dan hendak menampar kembali pipiku.
Aku menahan tangannya. Aku memegang kedua lengan Bu Wati sebagai tumpuan, dan dengan segenap tenaga membalik posisi. Sekarang aku yang berada di atas Bu Wati.
"Tahu apa Anda tentang hidup saya, hah?!" aku sudah mengangkat tanganku hendak menampar Bu Wati.
"Astaga, Wulan!" pekikan Mbak Ika dari depan pintu lift menyadarkanku. Tanganku hanya menggantung di udara.
Bersamaan dengan itu, dua orang satpam datang bersama Mbak Dini.
Aku segera bangkit dari atas badan Bu Wati, dan Bu Wati segera diamankan oleh kedua satpam. Masing-masing satpam memegang tangan Bu Wati di kanan dan kirinya. Mbak Ika menghampiri dan merangkul bahuku, mencoba menenangkan.
"Daripada Anda sibuk menyalahkan orang lain, coba instropeksi diri Anda sendiri. Barang bermerek seharga puluhan bahkan mungkin ratusan juta Anda kenakan dari ujung kepala sampai ujung kaki!"
"Gaya hidup Anda yang hedon bisa jadi salah satu penyebab suami Anda mencari uang dengan jalan pintas. Ga malu Anda, pakai barang mewah tapi dari hasil curian?" ujarku dengan sinis pada Bu Wati.
"Dasar lon te sok suci kamu! Sini kamu! Aku belum selesai bikin perhitungan sama kamu!" Bu Wati berteriak-teriak dan meronta dari pegangan satpam.
"Mbak Dini, tolong diamankan rekaman CCTV lobby ya" pintaku pada Mbak Dini, yang hanya mengangguk mengiyakan.
"Silahkan keluar dari gedung ini, Bu!" ucap satpam tegas dan menyeret Bu Wati keluar.
"Ada apa ini, Lan? Siapa wanita itu?" tanya Mbak Ika menuntut penjelasan padaku.
"Ke toilet dulu, Mbak" ujarku.
Mbak Ika membimbingku ke toilet.
"Aku nyariin kamu ke lobby karena kamu ga dateng-dateng ke kantin. Padahal sebelum turun ke lobby tadi janji mau makan siang bareng" jelas Mbak Ika.
Sampai di toilet aku memperhatikan wajah dan penampilanku. Ada tiga luka goresan bekas kuku pada pipi kiriku. Pipiku masih merah bekas tamparan. Ada memar di siku kananku, akibat menahan jatuhku tadi.
Hahh. Aku menghela nafas kasar. Penampilanku jadi amburadul begini. Dasar wanita tidak beradab! Sungutku dalam hati.
Dengan dibantu Mbak Ika, aku merapikan penampilanku yang acak-acakan. Mbak Ika membantu merapikan rambutku.
"Wanita tadi istri Pak Pram, si kepala gudang. Intinya dia ga terima" jelasku singkat pada Mbak Ika yang sedang menyisir rambutku lembut dengan jarinya.
"Ga bisa dibiarin itu, Lan. Kamu harus lapor! Jangan mau kalau diajak damai. Suaminya yang maling kok dia muring-muring ngelabrak orang seenaknya!" Mbak Ika ikut emosi mendengar penuturanku.
Aku tersenyum pada Mbak Ika. Merasa berterima kasih atas dukungannya.
__ADS_1
"Abis gini aku izin pulang dulu, Mbak. Mau ke rumah sakit buat visum, lalu ke Polsek bikin pengaduan" ujarku pada Mbak Ika.
"Iya. Harus itu!"
Setelah mengemasi barangku, aku langsung izin pada Pak Bayu untuk pulang. Pak Bayu heran melihat pipiku yang kemerahan dan lecet. Setelah penjelasan singkat, akhirnya Pak Bayu langsung mengizinkan.
Setelah aku selesai dari Polsek aku langsung pulang ke rumah. Sudah pukul empat sore saat aku memarkirkan motorku di depan warung bakso. Langit yang melihatku langsung memeluk tungkaiku, senang melihatku pulang lebih awal.
"Ibuuuu!" pekiknya menyambut kepulanganku.
"Anak ibu yang paling ganteng sudah mandi belum?" tanyaku sambil menuntunnya masuk.
"Syudah dong"
Aku mendudukannya di kursi, dan bersalaman pada Bune.
"Pulang cepet, Nduk?" tanya Bune
"Iya, Bune"
"Itu pipi kamu kenapa?" tanya Bune dengan sorot khawatir.
Langit yang mendengar penuturan utinya ikut memperhatikan wajahku.
Air mata merebak di wajah imutnya.
"Ibu, kenapa mukanya dipasang plesten? Teyluka ya?" ucapnya sedih.
"Em, anu. Itu tadi muka ibu tergores kuku sendiri pas garuk-garuk tadi" jawabku sekenanya.
"Ibu gapapa kok, Langit jangan nangis ya. Nanti ibu ikut sedih" ujarku dengan muka memelas.
"Makanya ibu potong kuku" mulut mungil itu menasihatiku.
Aku segera menyembunyikan tanganku yang kuku-kukunya masih belum terlalu panjang.
"Iya, nanti ibu potong" jawabku sambil tersenyum menenangkan.
Aduh, Nak Lanang gemesin. Ga terima ibunya tergores walau barang sedikit. Kelak kalau sudah besar, pasti jadi pelindung hebat Ibu Wulan.
************************************************
~j a n c u k merupakan makian atau umpatan kasar yang diucapkan oleh orang-orang Surabaya dan sekitarnya. Tapi ungkapan ini tidak selalu bermakna umpatan. Kata itu sendiri bisa beralih makna tergantung konteks penggunaan. Contoh, "Woi, kemana aja kamu c u k?" atau "Piye (bagaimana) kabarmu, c u k?"
~Hedon, berasal dari kata hedonisme. Merupakan pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama dalam hidup.
~Muring-muring, uring-uringan atau marah-marah.
~ Lanang, laki-laki.
__ADS_1