Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 97 Keputusan Wulan


__ADS_3

"Terima kasih sudah kembali mengingatku, Mas" ujarku disertai Isak tangis.


Mas Adit mengelus rambutku dan menepuk-nepuk punggungku.


"Maaf aku sempat melupakanmu"


Aku masih menangis sesenggukan. Dilupakan oleh orang yang dikasihi rasanya bagai di neraka. Aku benar-benar lega ketika tadi Mas Adit mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaanku.


"Maafkan aku, Mas. Maafkan aku yang selama ini bersikap egois. Huuu huuu..."


"Ssshh...aku sudah kembali. Aku sudah kembali" ucap Mas Adit berkali-kali untuk menenangkanku.


Setelah puas menangis, akhirnya kami saling melepaskan pelukan. Mas Adit menghapus air mata yang ada di wajahku dengan jarinya. Mas Adit melakukannya dengan begitu lembut.


Lalu Mas Adit mengecup keningku dalam dan penuh perasaan. Kemudian kami saling bertatapan.


"Itu hasil USG siapa?" Tanya Mas Adit kembali.


"Anak kita Mas" Jawabku sembari menatap dalam manik mata Mas Adit.


Mata Mas Adit membelalak bahagia.


"Anak kita? Maksud kamu, anakku? Hasil di pantai itu?" Tanya Mas Adit bertubi-tubi.


Aku mengangguk dan tersenyum.


Mas Adit lalu merangkum wajahku dengan kedua tangannya yang besar. Mendaratkan ciuman bertubi-tubi. Di dahi, di mata kanan dan kiri, di hidung, di pipi kanan dan kiri. Lalu sebelum mendaratkan ciumannya di bibirku, Mas Adit menatapku dalam.


"Terima kasih" ucapnya dengan penuh rasa haru.


Bibirnya mendarat di bibirku. Aku membuka mulutku untuk menyambutnya. Aku mengalungkan tanganku di lehernya.


Ciuman itu awalnya lembut. Tapi jilatan dan belitan lidah yang saling bertaut disertai gigitan dan sesapan nakal, membuat ciuman itu semakin memanas. Bibir kami bergerak seirama. Tanganku kini meremas rambut Mas Adit, menuntut untuk ciuman yang lebih dan lebih.


Ciuman yang semakin panas membuat mereka lupa diri. Di ruangan rawat VIP ini mereka hanya berdua. Tangan Adit tak mau rugi, dengan cekatan merayap masuk ke dalam kaos oblong yang dikenakan Wulan. Lalu meremas dada sekal yang masih terbungkus bra itu. Nafas mereka berdua menjadi memburu karenanya.


Tangan Adit merayap ke punggung Wulan, lalu menarik lepas pengait bra itu. Begitu terlepas, dada padat itu terasa longgar. Adit langsung menaikkan bra itu ke atas dan tangannya bebas me-re-mas dan memilin puncak dada indah itu. Wulan melepas ciuman mereka demi bisa men-de-sah dan mengerang. De-sa-han yang semakin membakar gairah mereka.


Adit menarik lepas kaos oblong beserta bra Wulan. Lalu langsung mendaratkan mulutnya pada dada padat dan sekal itu. Mencecap, memilin dengan lidah, dan menggigit lembut. Tangan Adit benar-benar tak mau rugi, tak ingin membiarkan satu dada gadis itu menganggur tanpa dimainkan. Wulan hanya bisa men-de-sah-sah pasrah dibuatnya.


Tangan Wulan mulai bergerilya nakal di milik Adit yang sudah mengeras. Wulan merogohkan tangannya ke dalam karet celana pasien Adit lalu langsung mempermainkan pusaka yang sudah menegang sempurna. Mengurutnya naik dan turun dengan jemari lentik dan halusnya.


Tangan kiri Adit beringsut ke bagian inti Wulan. Bisa dirasakannya, celana jeans terasa lembab. Tanpa banyak kata, Adit melepas kancing dani resleting jeans Wulan. Posisi Wulan yang masih berdiri, memudahkan Adit dalam menurunkan celana beserta underwear sampai sebatas lutut, dan gadis itu menarik lepas sendiri celana jeans-nya. Lalu jari jemari Adit menari lincah di inti tubuh Wulan. Membuat lutut gadis itu melemas karena gulungan ombak gairah yang menerpa.


Adit sedang menikmat aksi tangan Wulan dimiliknya sambil menyesapi leher jenjang Wulan, ketika tiba-tiba gadis itu menghentikan aksinya dan berlalu pergi dengan tubuh yang tak tertutup kain barang sehelaipun. Adit ingin berteriak protes, tapi urung melihat kerlingan nakal di mata Wulan. Ternyata gadis itu menuju pintu ruang rawat. Mungkin Wulan takut akan kedatangan tiba-tiba suster jaga yang ingin mengecek kondisinya, lalu memergoki perbuatan tak senonoh mereka.


Saat Wulan berjalan menjauh, Adit baru menyadari bahwa dirinya sedang tidak dalam posisi bisa 'melayani'.


Shitt!! Adit memaki dan kebingungan sendiri.

__ADS_1


Aku kembali ke tempat Mas Adit setelah mengunci pintu, dan kulihat sorot kebingungan di matanya. Aku cepat menyadari apa yang dirisaukan Mas Adit. Lalu aku bergumam lirih nan nakal dengan wajah semerah tomat matang, "Biar aku yang beraksi". Sungguh sebenarnya aku malu, tapi kami sudah mencapai point there's no way to turn back.


Aku lalu menarik turun celana pasien Mas Adit (dengan dibantu Mas Adit yang sedikit menaikkan pantatnya), dan aku terhenyak melihatnya. Saat di pantai, aku belum sempat melihatnya. Pantas saja aku merasa penuh sesak saat itu.


Aku lalu menaiki ranjang dan mengambil posisi di atas tubuh Mas Adit. Saat pusaka Mas Adit mulai menyeruak masuk, kami mengerang bersamaan.


Aaaarrrgghhh


Nafasku terengah saat milik Mas Adit telah sepenuhnya memenuhi ronggaku. Membawa kami ke dalam arus kenikmatan surga dunia yang membuat mabuk kepayang. Saat aku mulai bergerak naik turun, penglihataku terasa mengabur karena tersaput kabut gairah.


Suara de-sah kami bersahut-sahutan. Terdengar menggema dalam sunyinya malam di ruang berukuran 4x5 meter ini. Hanya dengung suara pendingin ruangan yang mengiringi kami menuju puncak keindahan cinta.


Tak berapa lama kemudian, tubuh Wulan melengkung dan suara erang tertahan keluar dari bibir gadis itu. Kedua tangan Adit sibuk me-re-mas dan memilin puncak dada Wulan. Peluh membasahi tubuh Wulan. Adit tak bisa membedakan peluh itu akibat rasa trauma Wulan ataukah pergerakannya. Adit hanya bisa mengagumi tubuh indah itu. Dirasakannya kewanitaan Wulan memijat lembut miliknya.


"Capek?" Tanya Adit lembut seraya mengusap keringat di dahi Wulan.


Wulan menggeleng kecil.


"Mas Adit belum?"


"Kalau kamu capek gapapa, aku bisa lain kali" jawab Adit. Meski mulut Adit berkata demikian, tapi tangannya tak henti memilin dan me-re-mas. Membuat api gairah Wulan yang sempat padam, berkobar kembali.


"Mas Adit tangannya nakal" Rajuk Wulan dengan manja. Wulan menyodorkan dadanya di depan muka Adit, yang langsung disambar oleh mulut Adit dengan lahap.


Bokong Wulan sedikit terangkat, memberi akses agar Adit dapat bergerak dari bawah. Suara de-sah kembali terdengar bersahut-sahutan. Membawa mereka berdua kepada gelora asmara yang melenakan.


Hampir dua puluh menit berlalu, akhirnya Wulan kembali melentingkan tubuhnya disertai erangan panjang dan dalam. Kepalanya mendongak menyesapi setiap rasa nikmat yang dihasilkan akibat gerakan-gerakan syahdu mereka. Beberapa detik kemudian, Adit menyusul memekik dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Wulan. Mereka berhasil mendaki puncak gunung gairah mereka secara bersamaan.


"Love you" bisik Adit parau.


"Love you, too" jawab Wulan lirih.


Mereka lalu berpelukan sejenak, dengan posisi Wulan masih di atas tubuh Adit. Menetralkan kembali debar jantung yang tadi sempat berdegup kencang, nyaris di atas batas normal.


Aku hendak beringsut turun. Tapi Mas Adit menahan tubuhku dengan tetap memeluknya erat.


"Mau kemana?" Tanya Mas Adit.


"Mau bersih-bersih" jawabku dengan tersipu.


Mas Adit terkekeh lalu melepaskan pelukannya. Aku segera turun, lalu memunguti bajuku yang berceceran. Aku bergegas masuk kamar mandi, dengan setengah berlari. Walaupun Mas Adit sudah melihat tubuh polosku tapi aku belum terbiasa.


Aku keluar kamar mandi dan kulihat Mas Adit sudah selesai membereskan dirinya sendiri. Aku membuka kunci pintu ruang rawat.


Mas Adit menggeser sedikit tubuhnya, memberi ruang agar aku bisa berbaring di sebelahnya.


"Tidur sini" perintah Mas Adit sambil menepuk-nepuk lengan kokohnya.


"Nanti Mas Adit kesempitan" tolakku.

__ADS_1


"Aku lagi pengen peluk kamu. Aku benar-benar rindu" rengeknya.


Mau tidak mau, aku menurutinya. Aku juga merindukan pelukan lengan gagah nan kokoh itu.


Setelah aku berbaring, Mas Adit menarik selimut dan menyelimuti kami berdua.


"Aku akan resign, Mas" cetusku.


"Kamu yakin?" Suara Mas Adit terdengar terkejut.


"Hhmmm" aku bergumam menjawabnya. Walau dalam hati masih berat melepas apa yang dulu kuperjuangkan dengan gigih, tapi aku sudah membulatkan tekad.


"Aku tidak ingin kamu berkorban" lirih Mas Adit, dengan nada penuh penyesalan.


"Tidak, memang sudah waktunya. Aku tidak mungkin terus-terusan menggantungkan hubungan kita, Mas. Bagaimana kalau sampai Mas Adit kecantol sama cewek lain?" Ujarku setengah bercanda.


"Bisa-bisanya mikir begitu" Mas Adit menowel hidungku.


"Aku serius, Mas. Mas Adit tampan, gagah, mapan, penyayang, perhatian. Mana ada cewek yang bisa nolak pesona Mas Adit. Aku aja klepek-klepek" Kami terkekeh.


"Aku udah jatuh hati sama kamu. Jatuh cinta pada kegigihan dan ketabahanmu. Terpesona pada kecantikanmu. Aku ga mungkin berpaling. Ditambah lagi, ada buah cinta kita yang sedang bertumbuh dalam dirimu. Membuatku semakin terjerar oleh cintamu. Jerat dengan simpul rumit yang tak mungkin bisa kulepaskan" tukas Mas Adit sambil mengelus pipiku dengan telunjuknya.


Aku tersanjung mendengarnya. Membuatku meraih tangan Mas Adit lalu mengecupnya mesra.


"Aku mendapat tawaran jadi manager tim lapangan. Tapi penempatan di Jakarta. Jika aku menerima tawaran itu, aku akan menetap di sana dan tidak akan moving" tukas Mas Adit.


"Aku ikut kemanapun Mas Adit pergi. Ke ujung dunia, ke nerakapun aku akan ikut. Saat Mas Adit tidak bisa mengingatku, hari-hariku terasa sungguh menyiksa"


"Terima kasih, sayang" ujar Mas Adit dengan suara penuh syukur.


"Langit gimana?" Tanyaku.


"Gimana apanya? Tentu saja dia harus ikut. Dia anak yang supel dan baik. Aku yakin dia bisa cepat menemukan kawan baru dan beradaptasi" jawab Mas Adit lugas.


"Bune? Ibu? Papa? Mama?"


"Kenapa ga sekalian orang sekampung kamu tanyain?" Mas Adit mencubit pipiku gemas. Aku meringis dibuatnya, meskipun cubitan itu jauh dari kata sakit.


"Mereka sudah dewasa. Kita serahkan pilihan pada mereka. Aku tidak keberatan hidup bersama Ibu-ibu mertua. Papa-mama ga mungkin ikut aku. Ada keluarga Zifanna, adikku, di Surabaya. Mereka tak akan mengizinkan Papa dan Mama kuboyong ke Jakarta" jelas Mas Adit panjang lebar.


"Hhmmm" aku hanya bisa bergumam menanggapi. Kantuk sudah mulai menyerangku.


"Tidurlah, manis. Cintaku" gumam Mas Adit sambil menepuk-nepuk punggungku.


Tak berapa lama kemudian aku akhirnya terlelap.


Rasanya baru sebentar aku tertidur, ketika suara deham yang keras mengagetkanku.


"Eheeemm!!"

__ADS_1


Aku dan Mas Adit sontak terbangun dibuatnya. Sudah ada orang-orang yang berdiri di samping ranjang pasien Mas Adit, bersiap menyidang kami berdua.


__ADS_2