
Aku terhenyak saat Mas Adit menanyakan hal itu padaku. Bagaimana Mas Adit bisa membuat kesimpulan bahwa Langit adalah anak dari Deni?
Sepanjang ingatanku, Mas Adit baru tiga kali bertemu dengan Deni. Dan dari ketiga pertemuan itu, tak sekalipun secara tersirat maupun terang-terangan ada kata-kataku atau Deni yang membahas mengenai Langit.
"Mas pernah berbicara berdua saja laki-laki itu?" tanyaku penuh selidik.
"Tadi" jawab Mas Adit singkat.
"Tadi? Waktu gowes? Ada Langit juga? Bicara apa saja laki-laki itu?" cercaku pada Mas Adit.
"Di IndoMei. Aku dan Langit istirahat sejenak di sana. Aku meminta Langit membelikanku sesuatu, jadi Langit tidak mendengar pembicaraan kami"
"Dia tak benar-benar menyatakan Langit adalah anaknya. Tapi secara tersirat, dia bilang kalian pernah.... kau mengerti bukan, maksudku?" jelas Adit.
Aku merasa sedikit lega. Setidaknya Langit tidak mendengar isi percakapan Mas Adit dan Deni.
"Aku tak merasa punya kewajiban apapun untuk menjelaskan siapa ayah Langit kepada Mas Adit. Silahkan Mas Adit berpikir apapun sesuka Mas" ucapku dingin.
"Maaf. Aku tak bermaksud.... Aku tahu...." Mas Adit tampak bingung meneruskan kalimat-kalimatnya.
"Maaf. Aku permisi kalau begitu" ucap Mas Adit lalu mengayuh sepedanya.
Melihat ekspresi Mas Adit, aku melihat gurat kecewa dan keingintahuan yang besar dari sorot matanya. Apa yang dipikirkan tentang Mas Adit tentang diriku?
Mungkinkah Mas Adit berpikir aku seperti wanita murahan yang bersedia tidur dengan siapa saja? Atau mungkin Mas Adit berpikir aku menyerahkan diriku pada Deni saat aku menjadi kekasih Deni?
Ah, kenapa aku jadi begini? Sebelumnya aku tak pernah merisaukan pikiran orang lain tentang diriku. Aku segera menepis jauh-jauh rasa khawatir yang sempat menyergapku.
Hari Senin, seperti kesepakatan bersama pekerja melakukan pekerjaan proyek yang tertunda. Untuk mengejar ketertinggalan para pekerja menambah jam kerja satu jam selama dua minggu. Mereka melakukannya sukarela. Karena selama para pekerja tidak melakukan kegiatan apapun saat menunggu hasil perundingan, pihak perusahaan tetap membayar penuh gaji mereka.
Hari-hari berlalu seperti biasa. Tak ada lagi gangguan dari warga maupun dari keluarga Wiratmaja.
Hari ini hari Sabtu. Aku mengantarkan Langit ke sekolah karena roda belakang sepeda Langit bocor.
Saat menurunkan Langit di depan gerbang sekolahnya, diseberang jalan kulihat sebuah bendera warna hijau dengan bordir tulisan Arab sedang dipasang.
Rumah Aldo? Siapa yang meninggal? Keluarganya kah? Batinku penuh tanya.
Langit menyalami diriku, dan aku mengecup puncak kepalanya.
"Nanti pulang panggil ojol saja, ya. Jangan jalan kaki, lumayan jauh. Panas lagi. Sekolah yang rajin, perhatiin gurunya menerangkan" pesanku pada putraku.
Walaupun setiap hari aku selalu berpesan hal yang sama pada Langit, Langit tak pernah sekalipun memprotes seperti anak lain kebanyakan. Langit selalu menjawab "Iya, Bu" setelah aku berpesan-pesan padanya.
Aku tak mau ambil pusing tentang siapa yang meninggal di rumah Aldo. Setelah Langit turun, aku langsung tancap gas menuju lokasi proyek.
Pekerjaanku hari itu tidak terlalu banyak. Laporan keuangan bulanan dari beberapa cabang telah selesai aku periksa kemarin. Setelah makan siang, aku ingin melanjutkan menyaksikan drama korea yang belum sempat aku tonton kelanjutannya.
"Gabut, neng?" celetuk Mas Adit saat mendengar percakapan dalam bahasa Korea dari laptopku.
Setelah kejadian itu, aku tetap mencoba bersikap biasa terhadap Mas Adit. Begitupun Mas Adit, tak pernah sekalipun membahas kembali tentang Deni.
"Lagi longgar, Mas" jawabku sambil menyuapkan sepotong biskuit ke dalam mulutku.
"Bagi, ya?" Mas Adit mencomot tiga keping biskuit dari toples. Lalu kembali ke lapangan.
__ADS_1
Tak terasa, sudah hampir pukul tiga. Saat tengah asyik menyaksikan drakor, handphoneku berdering. Menampilkan nama "Bune" pada layarnya.
"Iya, Bune?"
"Nduk, ada ibu-ibu nyariin kamu. Bilangnya dia ibu teman SMA kamu. Ibunya Aldo" jawab Bune.
"Ibu Aldo?" tanyaku heran.
"Iya"
"Bilang ada perlu apa?" tanyaku lagi.
"Cuma bilang kalau mau nungguin sampai kamu datang, Nduk" jawab Bune.
"Sebentar lagi Wulan pulang" ujarku, lalu mematikan sambungan telepon.
Aku segera mengemas barang-barangku, kemudian pamit pada Mas Adit yang masih berkutat dengan laptop dan kertas-kertas gambar di atas mejanya.
Sampai di rumah, aku melihat sebuah mobil Kijang terparkir di depan pagar. Aku memasukkan mobilku ke halaman rumah.
Saat turun dari mobil, Bu Anggita (nama Ibu Aldo) sudah menantiku di gawang pintu ruang tamu. Bune masih duduk di kursi ruang tamu, mencoba memahami situasi.
"Ada apa Ibu mencari saya?" tanyaku berusaha sopan. Padahal sebenarnya aku enggan berhubungan dengan mereka yang telah berbuat dzalim terhadapku.
"Jadi benar kata Deni tadi waktu ngelayat, bahwa kamu sudah kembali ke desa ini" tukas Bu Anggita ketus.
Aku yang tak paham hanya bisa menunggu perkataan atau perbuatan Bu Anggita selanjutnya.
Plak!! Sebuah tamparan mendarat di pipi kiriku. Pipiku panas dan berdenyut dibuatnya. Bune menutup mulutnya terkejut.
"Dasar wanita tidak tahu malu!! Aldo meninggal gara-gara kamu!! Aldo terkena AIDS juga gara-gara kamu! Ayah Aldo menceraikan saya karena malu anaknya terkena AIDS juga gara-gara kamu!" pekik Bu Anggita sambil sekali lagi mengarahkan telapak tangannya pada wajahku.
Masih sambil memegang tangannya, aku berbicara dengan dingin pada Bu Anggita.
"Saya yang meminta anak Anda memperkosa saya? Saya yang menularkan penyakit itu pada anak Anda? Apa saya juga yang menyuruh anak Anda menyambangi praktek prostitusi?" cecarku tanpa ampun.
"Lepas!" desis Bu Anggita.
Aku menghempaskan kasar tangan Bu Anggita.
"Kurang ajar, kamu!" pekik Bu Anggita. Perasaan sedih, kehilangan, kecewa dan kalut menumpulkan naluri dan logika Bu Anggita pada kenyataan. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Wulan tadi membuatnya tersadar bahwa hal itu adalah sepenuhnya kesalahan anaknya.
Tapi rasa kasih sayang ibu yang berlebihan dan rasa kehilangan membuat Bu Anggita masih tetap tidak mau menerima fakta tersebut.
"Silahkan Anda pergi sebelum saya melaporkan Anda dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan. Jika saya tahu Anda kesini hanya ingin membuat keributan, saya pasti sudah mengusir Anda sejak tadi" Bune meraih bahuku dan mengelusnya. Mencoba menenangkan diriku.
Akhirnya Bu Anggita pergi tanpa sepatah katapun lagi.
"Maaf, Nduk. Bune tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini" ucap Bune menyesal.
"Bukan kesalahan, Bune" ujarku sambil menepuk pelan tangannya yang berada di pundakku.
"Langit diatas 'kan, Bune?" tanyaku khawatir. Aku tak ingin Langit melihat ibunya dikasari oleh orang lain. Terlebih aku tak ingin Langit mendengar bahwa aku adalah seorang korban perkosaan. Langit masih terlalu kecil untuk memahami hal itu.
"Abis makan siang langsung naik. Janjian mabar sama temennya dia bilang" jawab Bune.
__ADS_1
Aku mengagguk dan pamit masuk ke kamarku. Berganti pakaian lalu mandi.
Setelah mandi aku menyambangi Langit dikamarnya. Headset terpasang pada kedua telinga Langit
"Atas, atas!"
"Woi, tolongin. Malah diem aja!"
"Noob jangan main deh! Nyusahin aja!"
Begitulah ucap Langit selama bermain game. Sama sekali tak menyadari keberadaanku. Aku berdiri bersedekap mengamati Langit bermain game.
"Ah, Anjir! Kalah!" ucap Langit kesal.
Akhirnya aku mencolek pipinya.
"Eh, Ibu. Ngagetin aja" tukasnya cemberut.
"Main game serius amat. Sampai marah-marah gitu mainnya" ujarku mengingatkan.
Langit hanya nyengir.
"Mau bantu Ibu? Ibu mau bikin castengel kesukaan Langit"
"Ga ah, Bu. Kerjaan cewek itu" jawab Langit enggan.
"Eh, siapa bilang. Chef banyak yang laki lho. Dulu aja suka merengek minta izin biar dikasih bantu" ucapku sambil menowel pipinya sekali lagi.
"Itu 'kan waktu kecil, Bu" tukasnya membela diri.
"Ya udah. Nanti jam tujuh langsung turun makan malam, ya?"
Langit mengangguk dan memasang kembali headsetnya.
Saat makan malam, ada gelagat aneh pada diri Langit. Langit tak seceria biasanya. Tadi sore aku tak menyadari karena teralihkan game yang dimainkan Langit.
Langit hanya menjawab saat ditanya. Selebihnya hanya diam. Walaupun Langit berusaha bersikap biasa, tapi aku bisa merasakan bahwa Langit sedang memikirkan atau memendam sesuatu.
Saat Langit pamit kembali ke kamarnya, aku membekalinya dengan dua toples castengel.
Dengan dibantu Bune, aku melanjutkan acara membuat castengel. Aku sengaja membuat banyak sebagai stock. Karena kami bertiga memang suka mengemil.
Jam sepuluh malam lewat sedikit, akhirnya lima resep kue castengel selesai dibuat. Bune langsung pamit hendak beristirahat.
Aku naik ke atas, untuk menengok Langit. Ternyata priaku itu belum tidur dan tampak masih bermain game.
"Mentang-mentang malam minggu" selorohku, karena tak melihat headset terpasang pada telinganya.
"Hhmmm" Langit hanya bergumam.
"Jangan tidur terlalu larut" pesanku lalu mencium pipi dan puncak kepala Langit.
Langit hanya mengangguk.
"Victory" terdengar notif dari game yang dimainkan Langit saat aku berjalan ke arah pintu, hendak keluar dari kamar Langit.
__ADS_1
Tanganku sudah meraih handle pintu saat tiba-tiba Langit bertanya dengan lirih, "Bu, apa Om Deni ayah Langit?"
Deg! Wulan membalikkan tubuhnya perlahan. Benarkah yang didengar oleh telinganya tadi?