Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 49 Kejujuran


__ADS_3

Dua hari setelah interview pihak PT. Textile Globalindo sudah menghubungi dan menyatakan bahwa aku lolos tahapan seleksi interview. Aku diminta datang ke sebuah laboratorium klinik yang ditunjuk oleh perusahaan untuk melakukan medical check up esok harinya. Surat pengantar sudah dikirimkan ke alamat surelku, dan aku diminta menunjukkan surat pengantar tersebut kepada petugas laboratorium saat akan melakukan medical check up.


"Selamat, Nduk. Jadi pekerja kantoran sekarang" seloroh Pakne saat aku mengabarkan hal tersebut.


"Pakne ini" gumamku malu-malu.


"Sepertinya kita butuh pegawai buat bantu-bantu di warung sama bersih-bersih rumah, Pak" ujar Bune.


"Untuk bersih-bersih rumah dan masak harian biar tetep Wulan saja, Bune. Gampang kalau urusan itu. Mungkin cari pegawai buat bantu-bantu di warung saja. Kalau Wulan keterima, siang ga bisa bantuin di warung lagi. Maaf ya, Bune, Pakne" ujarku dengan secercah rasa bersalah.


"Huss, apa tho? Pakne dan Bune justru bersyukur kalau kamu bisa diterima bekerja di perusahaan yang baik. Dengan begitu kamu bisa mengembangkan diri dan ilmu kamu tidak sia-sia" tukas Bune.


"Pakne!" ujarku memperingatkan, melihat beliau yang akan mencocolkan sambal pada tempe goreng ditangannya.


"Dikiiiitt aja ya? Ga afdhol kalau ga pedes, Nduk"


Aku dan Bune sama-sama mendelik menatap beliau.


"Ya udah, ya udah" gumam Pakne, dipelototi oleh dua wanita kesayangannya membuatnya ciut.


Dua bulan ke belakang Pakne sering mengeluh perih di lambung dan sakit pada ulu hati. Bahkan pernah sampai saking sakitnya, Pakne berkata terasa panas sampai ke dada dan punggung. Dan dari hasil pemeriksaan dokter, Pakne menderita maag kronis.


"Ya sudah, hampir jam 10.00. Ayo kita buka warung, semangat mengais rejeki untuk hari" ujar Pakne setelah piring kami berempat masing-masing telah tandas.


.


.


.


Pukul 22.15 warung bakso sudah tutup dan kami bertiga kembali ke rumah untuk beristirahat.


Aku yang sedang menggendong Langit yang sudah tertidur, pamit pada Bune dan Pakne untuk langsung beristirahat.


#Dikamar Pak Jaka dan Bu Nimas#


"Ayo Bu, istirahat sini. Bobo di lengan Bapak. Pakne pengen meluk Bune. Sudah lama kita ga mesra-mesraan" ujar Pak Jaka sambil menepuk-nepuk lengannya.


"Apa sih, Pak. Sudah tua juga" Bu Nimas bergumam malu-malu. Tapi tak urung tetap menuruti permintaan suaminya itu.


"Bulan depan ulang tahun pernikahan kita yang ke-40 tahun ya, Bu. Tak terasa, sudah 63 tahun Bapak ini. Bapak sangat bahagia hidup bersama Bune. Terima kasih, sudah bersedia menerima Bapak dengan segala kekurangannya" ujar Pak Jaka sambil mengelusi puncak kepala istrinya.


"Bune juga bahagia, Pak. Terlepas apapun kekurangan saya, Pakne juga menerima saya apa adanya. Mungkin memang saya yang bermasalah, tidak bisa memberi keturunan untuk Pakne"


"Pakne tahu alasan Bune ga pernah mau diajak periksa ke dokter?" Tanya Bu Nimas, membenamkan wajah pada dada suaminya.


"Bune waktu itu bilang, tak perlu kita mencari tahu siapa yang bermasalah dalam hal ini. Kalau salah satu dari kita bermasalah, lalu apa kita mau pisah? Biar Tuhan menyiapkan semuanya pada waktunya. Begitu kan, Bune?"

__ADS_1


Bu Nimas menggeleng lemah.


"Maaf Pak. Alasan terbesar Bune sebenarnya karena Bune takut, jika seandainya ternyata Bune yang bermasalah Bapak akan meninggalkan saya" ucap Bune lemah.


Pak Jaka mengecup lembut puncak kepala istrinya.


"Pakne boleh membuat pengakuan juga?"


"Hhmmm?" gumam Bu Nimas sambil mendongak menatap suaminya.


"Pakne diam-diam memeriksakan diri ke dokter puluhan tahun lalu. Dan dokter memvonis Pakne dengan gangguan infertiltas hipogonadotropik hipopituiratism. Intinya gangguan pada kualitas dan jumlah s p e r m a"


"Pakne ga bilang sama Bune, karena saya juga takut" ucap Pakne lirih.


"Ssshhh, yang lalu biar berlalu. Yang penting hidup kita sekarang lengkap. Kita saling mengasihi dan menjaga. Ada Wulan putri kita, dan Langit cucu kita. Bune sudah merasa sangat bersyukur pada Tuhan atas segala karunia-Nya" Bu Nimas kembali menenggelamkan wajah ke dada suaminya.


"Bune hapal tho cara bikin bakso kita?"


"Ya hapal sekali, Pak. Sudah puluhan tahun kita menggeluti jualan bakso. Ya masa Bune belum tahu resep rahasianya" tukas Bune.


"Syukurlah. Jadi kalau Pakne sudah ga bisa mengurus dagangan lagi, Pakne bisa tenang. Cita rasa bakso kita akan tetap ga berubah"


"Pakne ini ngomong apa tho? Bapak bakal sehat terus, panjang umur. Bakal nemenin Bune mengurus Langit sampai Langit gede. Kalau bisa sampai punya cicit" sungut Bu Nimas.


"Aamiin" jawab Pak Jaka.


Bu Nimas tersenyum, dan membalas memeluk erat pinggang suaminya.


.


.


.


Sudah satu minggu sejak aku menjalani medical check up. Tapi sampai saat ini belum ada kabar dari pihak PT. Textile Globalindo.


Aku mulai gelisah. Hampir setiap sejam sekali aku melihat ponselku, serta selalu membawa ponselku kemana-mana. Aku tak mau kejadian waktu lalu terulang kembali.


Aku sedang menata mangkok untuk dagangan bakso hari ini.


Let it go, Let it go


Can't hold it back anymore


Let it go, let it go


turn away and slam the door

__ADS_1


I don't care.....


Bunyi nada dering panggilan pada ponselku. Lagu favorit Langit setelah melihat film animasi yang berjudul "Frozen".


Melihat barisan nomor yang tertera pada layar, aku langsung menyentuh gambar telepon berwarna hijau pada layar ponselku.


"Ya, Selamat pagi" salamku bersemangat.


"Selamat pagi, dengan Ibu Wulan Febriana Lestari?" suara wanita yang sama saat mengabariku untuk menjalani test interview.


"Ya, saya sendiri"


"Sebelumnya saya ucapkan selamat kepada Ibu, karena telah lolos serangkaian tahapan seleksi penerimaan karyawan PT. Textile Globalindo"


"Serius?" tanyaku refleks.


"Serius Ibu" nada suara diseberang terdengar geli.


"Kapan Ibu Wulan siap untuk mulai bekerja?"


"Secepatnya" jawabku segera.


"Oke. Kalau begitu, hari Senin Ibu sudah bisa datang ke kantor dan mulai bekerja. Saat tiba di kantor, silahkan naik ke lantai 9 dan menemui Pak Andrian untuk tanda tangan kontrak kerja"


"Untuk waktu kerja, penawaran gaji, penjelasan peraturan perusahaan akan dijelaskan oleh Pak Andrian dan akan tertulis dalam kontrak kerja. Ibu Wulan bisa hadir pada hari Senin?"


"Bisa, sangat bisa" aku memukul pelan mulutku sendiri yang keceplosan 2 kali karena kelewat bersemangat.


"Jam berapa saya harus kesana, Bu?" tanyaku.


"Pukul 08.00. Ada yang ingin ditanyakan lagi?"


"Tidak, Bu. Terima kasih untuk informasinya"


"Terima kasih kembali. Selamat pagi"


Sambungan diputus.


"Pakne! Bune! Wulan diterima. Langit, Ibu diterima kerjaa!" teriakku antusias dan menggendong Langit, lalu menciumi pipinya.


"Selamat, Nduk" ujar Pakne dan Bune bersamaan.


Mereka memelukku yang sedang menggendong Langit. Praktis, kami tampak seperti serial animasi Teletubies yang sedang berpelukan.


Bagaimana hari-hari Wulan menapaki dunia karirnya? Selangkah demi selangkah, Wulan semakin mendekati pencapaian misi balas dendamnya. Berhasilka ia?


*******************************************

__ADS_1


~Hipogonadotropik hipopituiratisme adalah kondisi rendahnya produksi hormon perangsang folikel (FSH) dan hormon luteinizing (LH) di kelenjar pituitari. Rendahnya produksi FSH dan LH dapat memicu terjadinya penurunan jumlah dan kualitas s p e r m a, sehingga menimbulkan infertilitas pria. (alodokter.com)


__ADS_2