
**Happy reading. mohon like, komen, rate ⭐⭐⭐⭐⭐, dan kalau ada remahan vote vouchernya 😁**
Pagi ini Adit bangun dengan kepala yang terasa pusing dan perut yang mual. Badannya mengeluarkan keringat dingin, terasa meriang. Semalaman karena merasa tegang dirinya tidak bisa tidur. Ditambah empat gelas kopi yang dinikmatinya semalam sebagai teman begadangnya, sukses membuat perut Adit kini terasa kembung. Semalam juga Adit enggan makan malam karena tidak berselera, akibat dari rasa tegangnya.
Adit merasa gugup, ia akan segera mempersunting wanita yang dicintainya. Walaupun ini adalah pernikahannya yang kedua kali, Adit tetap merasakan sensasi yang sama saat dulu ia akan menikahi mendiang Anin. Kemarin siang, Adit pergi ke makam Aluna dan Anin untuk meminta restu dan doa. Adit berpikir, hal itu harus dilakukannya demi bisa moving on terhadap rasa bersalah yang selama ini menghantuinya.
Sampai beberapa waktu lalu, Adit masih menyalahkan diri atas kematian Anin dan Aluna. Jika ia tak mengecilkan keluhan Anin hari itu dan langsung pulang begitu Anin menelepon, mungkin Anin tak akan pingsan (atau mungkin jatuh) di kamar mandi. Jika ia menemukan Anin lebih cepat, mungkin nyawa Anin bisa tertolong dan Aluna tidak akan lahir prematur. Adit menyalahkan diri karena tak mampu menjadi suami dan calon ayah siaga bagi keluarganya.
Sudah pukul 06.30, dan Adit memutuskan untuk ke ruang makan dan mengisi perut, dan berharap dapat meredakan rasa tak nyaman pada perut, kepala dan tubuhnya.
"Kamu pucat sekali? Kamu sakit?" Tanya sang Mama melihat anaknya yang tampak tidak sehat.
Sudah ada beberapa keluarga yang sampai di rumah Adit. Keluarga Om Danu dan Tante Nita, yang keduanya adalah saudara dari ibunya sudah datang besama anak-anak, menantu-menantu, dan cucu-cucunya karena rumah mereka dekat dari rumah Adit. Om Danu di Surabaya, dan Tante Nita di Sidoarjo.
"Mau jadi manten kok loyo! Malam pertama jangan sampai loyo, Mas!" Seloroh Dika, anak pertama dari Tante Nita. Adinda istri Dika mencubit paha Dika.
"Bukan malam pertama kali, Dik" timpal Om Danu.
"Eh, iya. Udah sering iyes-iyes pasti. Tapi 'kan malam pertama sebagai pengantin baru nanti malam" jawab Dika. Sukses membuat Adit melotot kesal walaupun perkataan Dika benar adanya.
"Matamu!" Adit memaki sambil melempar serbet yang ada di meja makan pada sepupu yang hanya terpaut dua tahun dibawahnya. Dika sudah seperti adik baginya. Membuat semua yang ada di sana tergelak, dan Mama mendelik memperingatkan untuk tidak memaki.
"Kamu kenapa?" Tanya Mama sekali lagi.
"Masuk angin kayaknya, Ma" jawab Adit lesu sambil mengambil sepotong roti dan meletakkan sepotong keju slice di atasnya. Menambahkan sedikit susu kental manis coklat, lalu menutupnya kembali dengan sepotong roti.
"Pasti karena semalam ga makan. Segugup apa sih, sampai-sampai ga selera makan? Udah kayak anak ABG yang baru jatuh cinta aja. Belum lagi mama lihat ada empat cangkir kotor bekas kopi. Begadang sampai jam berapa kamu semalam? Mau nikah, bukannya jaga kesehatan malah ngopi empat cangkir semalam. Empat cangkir! Belum lagi itu puntung rokok di asbak numpuk! Ampuuunn, kamu Adit!" Omel Mama.
"Mama ini, bukannya prihatin malah ngomel" sungut Adit sambil mengunyah rotinya.
Papa hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar omelan istrinya. Padahal dulu istrinya adalah wanita yang kalem. Tapi semenjak memiliki anak, istrinya berubah menjadi sosok yang hobi mengomel. Ngomel ketika banyak pakaian yang digantungkan pada belakang pintu. Ketika ditanya, pakaian yang digantung bersih atau kotor, Wisnu muda akan menjawab bahwa itu masih bersih. Tapi selalu lupa untuk mengenakannya kembali, dan mengambil baju baru dari lemari. Membuat istrinya bersungut-sungut memasukkan baju-baju yang digantung ke dalam keranjang baju kotor. 'Kayak gini bisa jadi sarang nyamuk. Nanti kalau anaknya sakit kena DB, mau?!' begitu omelnya kala itu. Istrinya juga akan mengomel ketika anak-anaknya lupa menjabarkan handuk bekas mandi di jemuran. Mengomel saat anak-anaknya sibuk bermain dan lupa akan kewajiban belajar. Apapun akan menjadi bahan omelan istrinya saat menemukan sesuatu yang tidak benar atau tidak pada tempatnya.
"Sakit dibuat sendiri, kok! Dari jam sepuluh Mama sudah nyuruh kamu buat istirahat. Besok hari besar. Tapi kamu bilang, iya nanti-iya nanti terus! Dari muda kalau diingetin iya iya terus, tapi ga dilaksanain! Kamu itu...!" Omelan Mama terhenti karena papa menyergap tubuh Mama dari belakang, dan memeluknya.
"Udah dong, Ma. Adit sudah sadar sama kesalahannya. Iya 'kan sayang?" Papa menengahi dan memberikan penekanan mengancam agar Adit mengiyakan ucapannya.
"Iya, iya. Pasal satu wanita selalu benar. Pasal dua, mama seorang wanita. Pasal tiga, jika mama salah kembali ke pasal satu" Adit terkekeh mendengar pasal yang baru saja dikarangnya sendiri. Pun sanak keluarga yang mendengarnya ikut tertawa senang.
"Kamu kalau dibilangin..." Mama sudah hampir mengomel kembali tapi urung karena mendapat kecupan di pipi dari Papa.
"Papa, ih! Malu sama keluarga. Udah tua juga. Ini, lepas!" Gumam Mama dengan pipi memerah, sementara beberapa orang sibuk ber'cie cieeee'.
"Wulan nanti juga bakal kayak Mama, ga ya?" Gumam Adit menerawang.
"Pasti! Semua wanita bakal jadi tukang ngomel pada waktunya. Kaki kamu gimana? Masih suka terasa linu?" cetus Mama mendengar gumaman anaknya.
"Kadang-kadang" jawab Adit sekenanya. Walaupun sudah bisa berjalan tanpa bantuan tongkat elbow, tapi sesekali Adit masih akan merasakan ngilu di kakinya. "Zivanna mana, Ma?" Tanya Adit mencoba mengalihkan topik.
"Jemput Pakdhe Willy yang dari Vietnam, sama Tante Ratih yang dari Swiss. Kedatangan pesawat mereka di Bandara Juanda cuma selisih sejam. Jadi sekalian" jawab Papa.
__ADS_1
"Buru mandi kalau udah selesai makan. Baju beskapnya udah mama siapin di ruang setrika" kata Mama.
"Siap, bos!" Adit berdiri dari duduknya karena merasa sudah cukup kenyang dengan setangkup roti.
"Minum Nolak Angin dulu!" Seru Mama dari arah dapur.
Adit tidak menuruti saran Mamanya dan langsung mandi. Tanpa pikir panjang Adit mandi seperti biasa dengan menggunakan air dingin. Membuatnya merasa semakin meriang setelah mandi. Adit merutuki kebodohannya dan membalurkan minyak kayu putih di sekujur tubuh. Adit takut terkena omelan dahsyat sang Mama, dan memilih bungkam alih-alih mengeluh ketika Mama merapikan rambut, mengoles make up tipis pada wajahnya, dan merapikan jarik yang dikenakannya.
Sudah pukul 07.30, rombongan Zivanna dan keluarga dari luar negeri baru saja datang. Tinggal menunggu keluarga dari bagian barat Surabaya. Keluarga dari Ponorogo, Madiun, Lasem, Yogyakarta, Kebumen dan Salatiga. Keluarga Papa dan Mama memang banyak yang menetap di daerah sana.
"Macet dimana?" Tanya Papa melalui sambungan telepon.
Papa nampak mendengarkan sebentar. Lalu menutup panggilan telepon. Rombongan dari sana sudah menyewa lima buah long elf. Keluarga yang berkumpul di rumah Adit rencananya akan menaiki long elf. Sementara Adit, Mama, Papa, Zivanna, Kiara dan Kiano (putra-putri kembar Zivanna), dan Ervan (suami Zivanna) akan naik mobil CRV Adit sebagai keluarga utama.
"Macet di Nganjuk. Ada kecelakaan" kata Papa dengan raut cemas.
"Nyampe jam berapa nanti? Nganjuk-Surabaya bisa dua jam, Pa" ucap Adit gusar.
Adit segera menelepon Ibu untuk mengabari. Ibu terdengar prihatin, tapi tidak mampu berkomentar apapun.
Adit bermain game untuk mengalihkan gelisah. Rasa gelisah membuat Adit kalah dalam dua ronde permainan gamenya.
"Gimana, Pa?" Tanya Adit saat hampir jam sembilan masih belum ada kabar, dan Ibu mengabarkan penghulu sudah datang. Direncakan, hari ini jam 08.00 akan dimulai acara lamaran dan ramah tamah. Pukul 09.30 akan dilanjutkan akad nikah.
"Baru keluar dari kemacetan" jawab Papa singkat. Membuat Adit memukulkan tinjunya pada sofa.
"Sampe mana, Pa?" Tanya Adit setengah jam kemudian.
Adit semakin kesal. Jam sepuluh lewat belum ada tanda-tanda kemunculan mereka. Kabar terakhir, mereka sudah sampai di Krian. Butuh satu jam dari Krian untuk mencapai rumah Adit yang terletak di daerah Karah, tengah kota Surabaya.
"Suruh langsung ke tempat Wulan kalau gitu Pa! Ibu bilang, penghulu ada akad di tempat lain jam dua nanti. Kalau sampai jam 11.30 kita belum datang kita bakal ditinggal!" Tukas Adit gusar.
"Mana bisa gitu!" Protes Mama. Bertepatan dengan rombongan lima long elf yang berjalan beriringan.
"Akhirnya..." Ucap semua orang hampir bersamaan.
"Langsung ikutin kita!" Kata Papa pada supir mobil elf pertama yang berhenti. Tidak ada ramah tamah karena waktu sudah menunjukkan pukul 10.50.
Adit segera masuk CRVnya dan duduk di kursi penumpang bagian depan. Diikuti Mama, Zivanna memangku Kiano, dan Ervan memangku Kiara. Papa segera mengambil duduk di kursi kemudi.
Aku sudah merasa sangat khawatir. Sudah pukul 10.30 tapi Mas Adit dan rombongan keluarganya belum juga menampakkan batang hidungnya. Aku mulai menggigit bibirku cemas. Aku merasa cukup kesal, dan siap mengomel pada Mas Adit jika diberi kesempatan.
Penghulu sudah berkali-kali menanyakan, apakah acara pernikahan akan tetap dilanjutkan atau ditunda. Aku berkali-kali melongok ke arah pagar untuk melihat kedatangan Mas Adit sekeluarga. Air mata sudah hampir merebak saat waktu sudah menunjukkan pukul 11.15 dan pihak keluarga Mas Adit hanya mengabarkan bahwa mereka telah otw alias on the way.
"Sudah datang, sudah datang" pekik Dendi yang ditugaskan berjaga di depan pagar.
Kami semua mengucap syukur dan merasa lega. Perlahan iring-iringan keluarga Mas Adit memasuki halaman dan menduduki kursi plastik yang telah disiapkan. Seserahan diangsurkan secara bersulur.
Kekesalanku mendadak sirna melihat Mas Adit tampak begitu gagah dan tampan dalam setelan beskap putihnya. Rambutnya ditata sedemikian rupa sehingga semakin menonjolkan ketampanannya. Rasa-rasanya aku ingin menghambur dalam pelukannya.
__ADS_1
Begitupun Adit, rasa gusarnya menguap seketika. Terpesona melihat Wulan yang terlihat begitu anggun dalam balutan kebaya putih model off shoulder. Memamerkan bahu dan leher jenjangnya yang putih. Polesan make up khas pengantin menghiasi wajah Wulan, tapi tidak tampak menor. Semakin menegaskan wajah Wulan yang ayu. Rambutnya ditata membentuk sanggul modern. Untaian kuncup bunga melati terpasang disisi kanan rambutnya. Lipstik merah merona semakin menegaskan bibir Wulan yang penuh dan sensual. Rasa-rasanya Adit ingin me-lu-mat bibir itu, dan mendaratkan gigitan pada leher dan bahu itu.
"Ehem" terdengar suara Papa digemakan oleh sound system yang sudah terpasang. Papa, Mama, Mas Adit, dua keponakan Mas Adit, Zivanna, dan suami Zivanna duduk lesehan di karpet ruang tamu.
"Pertama saya ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kedatangan rombongan kami yang sangat sangat terlambat. Membuat kami tidak sempat saling beramah-tamah dan saling mengenalkan diri. Saya langsung saja, ya, mengingat waktu yang sudah sangat mepet karena pak penghulu sudah dikejar jadwal akad di tempat lain. Kami keluarga besar Wisnu Darmawan dan istri saya, menyampaikan keinginan anak kami yang bernama Aditya Perdana untuk melamar dan mempersunting seorang gadis cantik bernama Wulan Febriana Lestari. Apakah lamaran anak saya diterima? Saya rasa pertanyaan yang tak perlu diajukan ya" Papa mengakhiri kalimat panjangnya dengan selorohan, lalu memandangku. Menanti jawabanku.
Aku mengangguk malu-malu dan semua yang hadir mengucap syukur.
"Kalau begitu acara bisa langsung dilanjutkan ke akad" kata Papa kemudian.
Pak penghulu sudah siap duduk di salah satu sisi meja yang telah disiapkan. Aku dan mas Adit perlahan menuju meja seberang Pak Penghulu.
"Baik, saya sudah ditunjuk oleh keluarga mempelai wanita sebagai wali hakim. Kita langsung saja. Mari kita berjabat tangan saudara Aditya. Jawab pernyataan saya dalam satu tarikan nafas ya, Mas" Penghulu mengulurkan tangan dan Adit menyambutnya dengan mantap. Walaupun terlihat mantap Adit sebenarnya merasa gugup. Kepalanya kembali terasa pening, perut mual, dan keringat dingin bercucuran. Kipas angin yang difungsikan sebagai pendingin hawa panasnya Surabaya, justru membuat Adit merasa tersiksa. Membuat Adit tidak bisa berkonsentrasi.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Aditya Perdana bin Wisnu Darmawan dengan Wulan Febriana Lestari binti Almarhum Muhammad Hanif dengan mas kawin satu set perhiasan emas seberat 35 gram, dibayar tunai" Penghulu menghentakkan tangan yang saling bergenggaman dengan Adit.
"Saya terima nikahnya Wulan Febriana Lestari binti Almarhum Muhammad Hanif dengan mas kawin tersebut diatas, dibayar tunai!" Ucap Adit mantap.
"Nikah saja, Mas? Ga mau pakai kawin?" Seloroh Pak Penghulu. Dari awal suara Adit dan penghulu digemakan melalui pengeras suara. Selorohan penghulu langsung ditanggapi tawa riuh para keluarga. Wulanpun tak luput untuk tersenyum.
"Kita ulangi lagi, ya!" Penghulu kemudian mengucap ijab sekali lagi.
"Saya terima nikah dan kawinnya Wulan Febriana Lestari dengan mas kawin tersebut di atas, dibayar tunai!" Jawab Adit.
"Bintinya mana, Mas? Mempelai wanita ini ada bapaknya, bukan anak kucing. Masnya gugup ini rasanya" penghulu geleng-geleng kepala, dan dari nada suaranya sudah terdengar gemas. Riuh tawa kembali terdengar.
Penghulu mengulangi kembali ijabnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Wulan Febriana Lestari binti Almarhum Muhammad Hanif dengan mas kawin tersebut diatas. Sah?" Adit mengatakan kata 'sah' dengan lantangnya.
Wulan membelalakkan matanya, nampak prihatin sekaligus geli.
"Tugas saya itu, Mas. Mas kawinnya tunai apa kredit? Haduh, tolong dikasih minum mempelai prianya" penghulu mulai terdengar kesal. Papa yang dibelakang Adit menyodorkan segelas air mineral yang sudah ditusuk sedotan. Adit menyesap sedikit air mineral tersebut.
Pak penghulu meminta Adit menarik nafas panjang dan mengeluarkan perlahan dari mulut sebanyak tiga kali.
"Sudah siap? Sampai keringatan gitu!" Tukas penghulu. Kembali penghulu mengucap ijab.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Wulan Febriana Lestari binti Almarhum Muhammad Hanif, dengan mas kawin tersebut di atas, dibayar tunai!" Ucap Mas Adit mantap.
"Akhirnya" aku bergumam pelan.
"Bagaimana saksi? Sah?" Tanya penghulu.
"SAH!!" hampir semua yang hadir mengucap kata tersebut dengan lantang.
***********************************************
Diantara semua reader disini ada yang punya pengalaman tentang ujian sebelum pernikahan? bermacam-macam, ya.. ada yang ujian ekonomi, kemunculan mantan, perselisihan pendapat yang berujung emosi, halangan ini itu saat menjelang prosesi, dan lain sebagainya. boleh ceritain di kolom komen dong 🤗
__ADS_1
scene Adit yang berkali-kali salah mengucap Qabul itu pengalaman pribadi author. saking gugupnya paksuami waktu itu, sampai salah dua kali. dan syukurlah yang ketiga akhirnya benar 😂