Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 58 Penemuan Besar


__ADS_3

**HAPPY READING ALL😘😘**


Beberapa bulan berkutat dengan laporan keuangan hasil penjualan sales aku menemukan banyak kejanggalan. Ada ketidaksinkronan antara finished good product dengan pembelian bahan baku. Kucoba merunut data, kutemukan sekurangnya selama 5 tahun kebelakang penyimpangan mulai terjadi.


Sebelumnya aku ditugaskan untuk menangani invoice-invoice dan tagihan PO jatuh tempo. Setelah Mbak Mirna resign karena menikah dan akan diboyong ke Yogyakarta oleh suaminya, rekap penjualan sales yang awalnya di handle Mbak Mirna dilimpahkan padaku.


Awal-awal masa trainingku dulu, aku tak hanya mempelajari laporan keuangan tapi juga belajar mengenai alur proses produksi. Sehingga sedikit banyak mengetahui material apa saja yang dipakai dan seberapa banyak scrap yang diijinkan dalam satu proses produksi.


Kecurigaanku berawal ketika merekap invoice customer dan tagihan PO. Secara garis besar seperti ini. Dalam PO tertera pembelian kain sebanyak 10.000 meter. Seharusnya dari kain sebesar itu minimal bisa menghasilkan 6.500-7.000 kemeja. Tapi pada kenyataannya, hanya ada 6.000 kemeja yang terdistribusi kepada customer. Sisanya kemana?


Berbulan-bulan aku berkutat dengan banyak laporan. Mulai dari rekap PO, laporan pembelian bahan baku, laporan produksi, laporan hasil penjualan sales, sampai laporan penjualan scrap. Ada yang tidak beres.


Oh iya, bagaimana kabar Mas Ronald? Malam itu juga, setelah mengantarkanku makan malam Mas Ronald menanyakan apakah kami masih tetap bisa menjadi teman. Dan tentu saja aku mengiyakan.


Tak ada air mata, tak ada rasa kehilangan. Mungkin memang hatiku belum bisa membuka untuk pria lain. Rasa sakit dan traumaku terlalu dalam.


Setelah yakin akan adanya sesuatu yang tidak benar, aku mengajak Pak Bayu untuk berdiskusi.


Tok tok. Aku mengetuk pintu ruangan Pak Bayu.


Pak Bayu hanya mengangguk, karena di telinganya sedang terpasang sebuah gagang telepon.


Aku masuk, dan menanti Pak Bayu selesai berbicara di telepon.


"Ya, ada apa, Lan?" tanya Pak Bayu setelah selesai berbincang di telepon.


"Bapak kapan ada waktu luang? Saya ingin berdiskusi tentang sesuatu"


"Saya tidak terlalu banyak pekerjaan hari ini. Bisa kita diskusi sekarang" jawab Pak Bayu menyanggupi.


"Begini Pak, saya menemukan beberapa kejanggalan" aku mulai memaparkan temuan-temuan yang aku dapatkan. Aku telah merangkumnya menjadi 10 lembar laporan. Di akhir laporan aku menyimpulkan dalam 5 tahun terakhir ini, total kerugian perusahaan nyaris 20 miliyar.


"Gila, ini gila!" seru Pak Bayu saat aku selesai mempresentasikan temuanku.


"Kita harus segera lapor Pak Hermawan, agar segera bisa ditindak lanjuti" lanjut Pak Bayu.


Dua hari kemudian Pak Bayu mengajakku naik ke lantai 10 menemui Pak Hermawan.


"Ada apaan, Lan?" tanya Mbak Ika saat aku melewati biliknya.


"Nanti istirahat aku cerita, Mbak" lalu bergegas mengikuti Pak Bayu.


"Kerja bagus, Wulan" tukas Pak Hermawan saat kami sudah di ruangan beliau.


"Tikus-tikus licik ini harus segera dibasmi. Halus bener mainnya. Per hari perusahaan kehilangan material 300-400 meter kain. Belum lagi kerugian dari accesoris-accesoris seperti benang, label, zipper (resleting), button (kancing), hangtag. Dikit-dikit, lama-lama jadi bukit ini ceritanya" lanjut Pak Hermawan.


Per hari di perusahaan ini bisa menghabiskan 400.000 meter kain, dengan total produksi 250.000-300.000 garment per hari. Entah itu kemeja, kaos, atau celana dari berbagai jenis. 300-400 meter tentu tak akan terlalu disadari dari total 400.000 meter. Itu hanya dari kain, belum dari accesories.


Setelah hampir dua minggu dilakukan audit oleh tim audit internal

__ADS_1


ditemukan bahwa ada kongkalikong antara pihak supervisor purchasing, kepala gudang dan supplier. Dari order yang tertera pada PO dikurangi sedikit-sedikit oleh pihak supplier. Misal pesan 400.000 meter kain, maka yang dikirim hanya 399.600 meter.


Oleh kepala gudang selalu diloloskan, dan menginput pada sistem 400.000 meter, tidak sesuai dengan realita di lapangan.


Akhirnya kepala gudang dan supervisor purchasing dipecat secara tidak hormat, dan dilaporkan kepada pihak berwajib. Pihak supplier yang berbuat curang dituntut ganti rugi, dan perusahaan meminta agar kedepannya tidak beleh ada kejadian serupa.


"Lan, dipanggil Pak Dirut" seru Pak Bayu setelah dua hari terkuaknya kasus korupsi dan kolusi tersebut.


"Kenapa, Pak?" tanyaku bingung


"Udah, naik sana. Udah ditunggu" tukas Pak Bayu.


Aku naik ke lantai 10 lewat tangga darurat karena ingin mengulur waktu dan menenangkan debar jantung. Kebingungan, ada apa gerangan sampai level staff seperti aku dipanggil oleh seorang Direktur Utama.


Tok tok. Aku mengetuk pintu berwarna coklat tua dengan label "DIREKTUR UTAMA" yang tertempel.


Ruangan dibuka dari dalam oleh seseorang. Saat aku melihat siapa yang sedang membuka pintu, membuatku mengangkat alis.


Mas Ronald. Sudah ada Pak Hermawan juga di dalam. Aku terpesona dengan desain interior ruangan Direktur Utama yang luasnya nyaris tiga kali kamarku.



Tampak seorang pria keturunan Arab paruh baya dengan wajah ramah tersenyum padaku.


Inikah Pak Direktur? tanyaku dalam hati.


"Jadi ini wanita hebat yang berhasil membongkar kasus besar itu?" tanya seorang pria yang menuruku bernama M.Fahreza Daud, S.E, M.B.A, Ph.D, kubaca dari plakat berwarna emas pada meja kerjanya. Pak Dirut dan Pak Hermawan sedang duduk pada sofa berwarna krem.


"Mari duduk sini, saya pengen dengar cerita kamu. Siapa tadi namanya?" tanya pria paruh baya tersebut sambil menunjuk pada salah satu sofa.


"Wulan, Pak" jawabku sopan. Aku dan Mas Ronald duduk pada sofa yang tersedia.


"Saya Fahreza, biasa dipanggil Pak Reza. Ga perlu sungkan gitu. Pak Dirut ga jahat kok" selorohnya.


"Berapa lama kamu mengobrak-abrik laporan selama 5 tahun sampai akhirnya bisa menarik kesimpulan kasus korupsi dan kolusi besar itu?" tanya Pak Reza.


"Hampir empat bulan, Pak" jawabku. Lalu mengalirlah cerita bagaimana aku menguak kasus korupsi tersebut.


"Terima kasih banyak sebelumnya. Kamu hebat. Baru dua tahun bekerja disini tapi sudah berhasil menunjukkan kinerja yang luar biasa"


"Ronald. Naikkan gajinya 25%" perintah Pak Reza.


"Baik, Pak" sahut Mas Ronald.


"Tidak perlu, Pak. Sudah menjadi kewajiban saya" tukasku sungkan.


"Pegawai seperti kamu wajib diapresiasi" ujar Pak Reza.


"Kamu punya anak buah hebat sekali, Wan" lanjut Pak Reza sambil terkekeh.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak" sahutku dan Pak Hermawan bersamaan.


"Untuk tim accounting siapkan makan malam mewah di salah satu restauran bintang lima. Kamu atur saja waktunya. Kalau saya bisa hadir, saya akan hadir. Bisa dihadiri oleh tim managerial juga" ucap Pak Reza mengakhiri obrolan.


Tak terasa hampir dua jam kami berempat berbincang di ruangan Dirut. Waktu sudah menunjukkan hampir waktu makan siang.


"Selamat, ya" ujar Mas Ronald.


"Saya ikut ke lantai 9, mau mengabarkan perihal makan malam mewah" seloroh Pak Hermawan.


Aku hanya menganggu dan tersenyum menjawab dua manager tersebut.


Sorak sorai terdengar saat Pak Hermawan mengabarkan bahwa tim accounting di ajak makan malam mewah. Pak Bayu ditugaskan untuk mengatur waktu dan reservasi.


Saat aku hendak turun ke kantin untuk makan siang, telepon extention di atas mejaku berdering.


Kriiiiiingg.


"Ya, halo?"


"Mbak Wulan, ini Dini" ternyata dari lobby.


"Ya, kenapa Mbak Din?"


"Ada ibu-ibu nyariin Mbak Wulan di lobby"


"Siapa?"


"Bilangnya Bu Wati"


Aku mengernyitkan dahiku. Tak merasa kenal dengan seseorang bernama Wati, apalagi seorang ibu-ibu.


"Oke, saya turun" jawabku, daripada penasaran.


Sampai di lobby aku melihat seorang wanita dengan dandanan mewah dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tersampir di tangannya sebuah tas tangan dengan logo "Rehmes Paris".


"Ibu cari saya?" tanya saat sudah sampai di hadapan wanita tersebut.


"Oh, jadi kamu yang namanya Wulan?" bentaknya padaku.


Aku terkesiap dibentak oleh wanita yang tidak aku kenal.


Plakk! Sebuah tamparan keras mendarat dipipiku.


Siapa wanita yang tiba-tiba menampar Wulan?


**********************************************


~*Resign, mengundurkan diri.

__ADS_1


~Scrap merupakan potongan bahan baku sisa, terdiri dari bahan baku sisa atau tertinggal sewaktu pelaksanaan proses produksi dan bahan baku cacat atau bahan baku yang rusak karena kecerobohan atau kealaian karyawan. Dalam industri garment biasanya adalah sisa potongan-potongan kain*.


__ADS_2