Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 77 Janji Wulan Kepada Langit


__ADS_3

**Tiap hari author selalu memperhatikan like dan komen dari reader semuanya. Jadi author tahu ketika author kedatangan reader baru. Welcome di dunia perjuanngan Wulan. Happy reading all. Lope lope buat semuanya ❤️❤️**


Langit sedang menunggu ojol yang dipesannya di depan gerbang sekolah, sesuai pesan sang Ibu.


"Hai, pulang sekolah?" tanya suara seorang pria di depannya.


Langit mendongak, dan melihat pria yang mengaku teman ibunya itu.


"Iya, Om. Nunggu ojol" jawab Langit.


"Mau om anterin? Om dari rumah teman, abis ngelayat" tunjuk Deni pada rumah di seberang sekolah Langit.


"Ibu bilang, ga boleh ikut sama orang asing Om" tolak Langit.


"Kalau gitu kita kenalan. Nama Om, Deni Wiratmaja. Tapi, mulai sekarang panggilnya jangan Om. Panggil ayah Deni, oke?" Deni tersenyum licik.


Jika aku tidak bisa mendapatkan Wulan langsung, aku akan mendekati anaknya. Anak ini harus tahu, bahwa akulah ayahnya. Pikir Deni licik.


"Ayah Deni?" ulang Langit. Seolah tak mendengar jelas apa yang baru saja dikatakan oleh pria didepannya.


"Iya. Mungkin" jawab Deni ambigu.


Langit bingung. Ibunya tak pernah mengatakan perihal apapun bahwa pria di depannya ini adalah ayahnya.


"Ibu ga pernah ada bilang kalau Om ayah Langit. Langit ga percaya!" tegas Langit. Ibunya selalu menanamkan untuk tidak mempercayai begitu saja apa yang orang lain katakan.


Deni tergelak.


"Tanyakan saja sama Ibu kamu" ujar Deni. Membuat Langit semakin gamang.


Tiba-tiba ponsel Langit berdering. Sekolah Langit memang mengizinkan siswanya membawa ponsel di sekolah. Tetapi ketika jam pelajaran berlangsung, semua ponsel diletakkan di meja khusus sebelah meja guru. Meja yang memang digunakan untuk meletakkan ponsel siswa-siswinya yang telah dimode silent.


"Ya, halo?" jawab Langit.


"Iya, Pak" lalu melambaikan tangan pada seseorang dengan jaket hijau lambang ojek online yang berada 20 meter di depannya.


"Ojeknya udah dateng, Om. Langit pulang dulu" pamit Langit, tapi tanpa menunggu jawaban dari Deni dan langsung bergegas pergi.


Deni memandang kepergian Langit. Dengan mengakui bahwa dirinya adalah ayah dari anak itu, Langit pasti akan meminta kepada ibunya agar bisa berkumpul bersama ayahnya sebagai keluarga yang utuh. Dan saat itu terjadi, Deni akan benar-benar membuat Wulan membayar atas semua tingkah sombongnya.


Setelah Langit tak terlihat lagi, Deni langsung masuk dan memacu mobilnya menuju rumah seorang wanita yang selama seminggu ini menemaninya mereguk kenikmatan di hotel-hotel kelas 'hotel melati'


Wanita itu adalah Nia. Sebelum berkencan dengan Nia, Deni mengencani sahabat Nia yaitu Gendis. Setelah bosan dengan Gendis, Deni mendekati Nia yang sering terlihat kesal saat dirinya mengantar pulang Gendis menaiki mobilnya.


Deni merasa hebat. Setiap wanita tidak ada yang mampu menolak pesonanya. Hanya Wulan satu-satunya yang tak sudi meliriknya. Baik dulu maupun sekarang. Deni merasa egonya dilecehkan oleh Wulan.

__ADS_1


Sementara Langit, tidak dapat melupakan kata-kata pria yang bernama Deni tadi. Sampai di rumah, setelah makan siang bersama Utinya Langit langsung berpamitan masuk ke kamarnya. Dia beralasan ada janji mabar bersama teman-temannya.


Langit mencoba melupakan perkataan Om Deni dengan bermain game. Memakai headset karena ingin fokus dan berusaha melupakan perkataan Om Deni.


Langit sebenarnya menyadari saat Ibunya datang, karena melihat pintu kamarnya terbuka. Tapi Langit memilih berpura-pura tidak tahu. Langit masih ingin menghindar menghadapi ibunya.


Pun saat sang Ibu meminta bantuan padanya untuk membantu membuat kue kering favoritnya, Langit masih memilih menghindar.


Langit menghindar bukan tanpa alasan. Dia masih ingat beberapa saat lalu, ketika dia bertanya tentang ayahnya. Ibunya terlihat sangat sedih. Langit tak ingin melihat wajah ibunya bersedih lagi.


Saat makan malam Langit mencoba tampak biasa. Menjawab sewajarnya saat Uti dan Ibunya bertanya. Berkali-kali Langit sudah hampir menanyakan masalah itu, tapi tetap ditahan-tahan olehnya.


Malam tiba, dan semakin larut. Hampir pukul sepuluh malam tapi Langit tidak bisa lelap. Biasanya tanpa tidur siang, maksimal pukul sembilan malam dia sudah akan merasa mengantuk. Tapi tidak malam ini.


Ibunya datang lagi kekamarnya. Langit hanya menjawab dehaman atas nasihat ibunya. Langit tak mampu menahan beban pikirannya lagi ketika sang Ibu mencium pipi dan puncak kepalanya.


Pertanyaan yang sejak tadi menjejali kepalanya akhirnya terlontar juga.


"Bu, apa Om Deni ayah Langit?"


Ibunya yang saat itu tengah memegang handle pintu perlahan berbalik menghadap Langit.


Lagi. Sorot kesedihan itu terlihat di wajah Ibunya. Langit menyesali pertanyaan yang telah ia lontarkan. Langit menundukkan wajahnya, tak sanggup melihat raut kesedihan di wajah sang ibu.


Aku perlahan mendekat kembali pada Langit yang menundukkan wajahnya. Karena Langit menunduk, aku memilih duduk bersimpuh di lantai agar dapat memandang wajah putraku dengan mendongak.


Langit bungkam. Aku tetap sabar menunggu sampai dirinya berbicara. Aku memegang kedua telapak tangan Langit dan mengusap-usap lembut punggung tangannya dengan kedua ibu jariku.


Setelah sekitar lima menit bungkam, akhirnya Langit menceritakan pertemuannya dengan Deni tadi siang.


Selama itu kau menahan perasaanmu, Nak? batinku getir.


Aku mengajarkan Langit untuk selalu mengungkapkan perasaannya. Jika dia merasa marah, kecewa, sedih aku memintanya untuk menunjukkan dan mengatakannya. Tidak apa menunjukkan emosi negatif. Yang tidak boleh adalah, berteriak-teriak ketika marah. Atau menghancurkan barang ketika marah, apalagi melukai diri sendiri.


Aku memejamkan mata untuk meredam amarah. Kali ini Deni benar-benar keterlaluan. Beraniya dia menyentuh anakku.


"Langit percaya pada Om itu?" tanyaku lembut saat Langit telah menyelesaikan ceritanya.


Langit diam. Anakku itu tidak tahu harus menjawab apa. Aku tahu, dia ingin mengetahui dan mengenal siapa ayahnya. Jika sudah meninggal, dimanakah makamnya. Tapi aku tak pernah menceritakan apapun tentang "ayah".


"Sebelumnya izinkan Ibu meminta maaf pada Langit. Ibu bukan tidak mau menceritakan atau mempertemukan Langit dengan ayah. Tapi Ibu tidak bisa. Ibu belum bisa" ujarku dengan lirih.


"Kenapa?" akhirnya Langit bersuara.


"Akan tiba saatnya Ibu akan menceritakan semunaya pada Langit. Tapi tidak sekarang. Langit percaya pada Ibu 'kan? Ibu janji, ketika saat itu tiba Ibu akan menceritakan segalanya" ucapku memohon pengertiannya.

__ADS_1


Langit mengangguk. Langit tahu aku tidak pernah ingkar janji.


"Kapan, Bu?" tanya Langit.


"Saat Ibu merasa Langit sudah siap. Percaya pada Ibu 'kan?" tanyaku lagi meyakinkan dan mere*mas lembut kedua tangannya.


Langit mengangguk sekali lagi. Aku berdiri, dan Langit mengangkat wajahnya.


"Cium ibu" pintaku dan menyodorkan pipi.


Langit mengecup pipi kiri dan kananku. Lalu aku mencium dalam pipinya. Menyampaikan maaf dan rasa sesal karena belum bisa menjawab pertanyaannya melalui ciuman.


"Tidur, ya! Sudah malam. Selamat malam sayang" ujarku lalu mengusap punggungnya sejenak.


Aku keluar dari kamar Langit. Setelah menutup pintu, aku tak mampu meredam rasa marahku lagi. Aku harus membuat perhitungan pada pria brengsek itu.


Menuruni dua anak tangga sekaligus, lalu menyambar jaket dari dalam kamar.


Aku mengetuk pintu kamar Bune hendak pamit, tapi tidak ada jawaban. Aku membuka pintu kamar Bune, dan lampu temaram yang menyala. Kulihat Bune sudah terlelap.


Akhirnya aku memutuskan untuk langsung pergi ke rumah Deni. Kusambar kunci motor dari meja televisi. Aku melajukan motor dengan sedikit kencang.


Jalanan sudah sepi karena memang telah larut. Kuperkirakan mungkin sekarang pukul sebelas malam. Hawa dingin malam menusuk sampai ke tulang.


Pintu gerbang rumah Deni tertutup. Aku menggedor-gedor gembok yang terpasang pada pagar rumah itu. Aku tak peduli jika ada orang lain yang merasa terganggu.


Setelah beberapa menit membuat suara berisik, akhirnya seseorang muncul dari dalam rumah itu.


Asisten rumah tangga Pak Darma muncul lalu membuka kunci gembok, mempersilahkan aku masuk.


"Deni ada, Bu?" tanyaku tak sabar saat sudah berada di ruang tamu rumah Pak Darma.


"Den Deni sampai saat ini masih belum bisa dihubungi. Tuan Darma tiga puluh menit yang lalu dilarikan ke rumah sakit. Saya menemukan Tuan terkapar di kamar mandi. Kepalanya berdarah, sepertinya terbentur ujung lantai sekat kamar mandi"


Aku melongo mendengar penuturan asisten rumah tangga itu. Niat hati ingin melabrak Deni sepertinya harus kuurungkan.


"Saya permisi kalau begitu, Bu. Maaf menganggu malam-malam" ucapku pamit.


Saat aku hendak menstarter motorku, handphone yang ada di saku jaketku berdering.


Mas Adit incoming call.


"Ya, Mas?" jawabku. Heran, untuk apa dia meneleponku malam-malam begini.


"Aku di rumah sakit. Aku menemukan Deni dikeroyok lima orang laki-laki di jalan. Aku tak tahu harus menghubungi siapa" ucap Mas Adit cepat.

__ADS_1


Hah?? Ada apa lagi ini? Batin Wulan kesal. Benar-benar malam yang penuh kejutan.


__ADS_2