Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 18 Menghindar


__ADS_3

Pukul dua dini hari aku terbangun dengan keringat dingin dan nafas terengah. Aku mencoba memejamkan mata kembali, ternyata tak bisa. Aku duduk di bibir ranjang mengambil segelas air minum yang tersedia di nakas samping ranjangku. Sudah menjadi kebiasaanku minum segelas air putih setelah bangun tidur. Kebiasaan yang diajarkan ayahku semenjak aku kecil. Agar sehat, begitu yang beliau bilang.


Karena tidak dapat kembali tidur, aku memutuskan untuk memulai aktifitas pagi harianku. Memasak dan mencuci baju.


Hari masih gelap saat aku selesai memasak, sayup-sayup terdengar suara adzan dari masjid. Aku masuk kekamar mandi untuk mandi kemudian bersiap berangkat ke sekolah. Mandi berlama-lama kini menjadi kebiasaanku. Aku seolah tak puas sebelum melihat kulitku menjadi kemerahan akibat terlalu lama dan keras digosok. Aku tak tahu kapan kebiasaan ini akan berhenti.


Selesai mandi aku langsung kembali ke kamar, kulihat ibu sedang menunggu kamar mandi kosong dengan duduk di kursi meja makan. Aku berlalu tanpa berniat mengucapkan salam selamat pagi pada ibuku. Dikamar aku mengenakan seragam dan menata rambutku dengan mengucir kuda.


Ibu baru keluar dari kamar mandi saat aku keluar dari kamarku. Aku mengemas bekal makan siang untuk ibu dan diriku sendiri. Sekalipun sedang marah, aku tak pernah mau melupakan bakti kepada orang yang telah melahirkanku dengan bertaruh nyawa.


Aku makan seorang diri, ibu masih dikamarnya bersiap-siap untuk pergi bekerja. Aku malas menunggunya.


Aku mengetuk pintu kamar ibuku, tas ransel sudah tersampir pada bahuku. Kubuka pintunya, tampak ibu sedang mematut wajahnya di cermin.


Aku mendekati beliau, mengulurkan tangan. Ibu menyambut uluran tanganku.


"Masih pagi sekali kok sudah berangkat sekolah?" tanya ibu sambil melirik jam di meja riasnya, masih menunjukkan pukul enam kurang.


"Jalan kaki", jawabku singkat. Aku kini tak mungkin berangkat dan pulang sekolah bersama Lisa lagi.


"Ibu antar ya?" ibu menawariku.


Aku tak menjawab dan berlalu dari kamar ibuku.

__ADS_1


45 menit waktu yang kubutuhkan berjalan dari rumah ke sekolah. Walaupunm berjalan perlahan dan hari masih pagi, tak urung membuat tubuhku berkeringat. Untung saja aku memakai kaos dalaman sehingga baju seragamku tidak basah karena keringat.


Hari itu aku mengikuti pelajaran seperti biasa. Aku berubah menjadi sosok yang pendiam sekarang. Aku juga tidak menyadari ada kasak-kusuk yang terdengar di seantero sekolah.


Teeeeetttt teeeeettttt


Terdengar bunyi bel yang menandakan jam istirahat. Seperti biasa, aku tak pernah ke kantin. Aku mengeluarkan buku latihan soal ujian akhir karena satu bulan lagi UASBN akan di gelar. Tak ada lagi Lisa atau Ryo yang biasanya menyambangiku saat jam istirahat. Sebagai gantinya muncul Deni dengan dua orang anggota genk-nya, Angga dan Aldo.


"Hai, Lan. Kenapa ga masuk sekolah tiga hari kemarin? Aku kangen!" kata Deni.


Aku terperanjat saat mendengar suara Deni yang tidak aku sadari datang mendekat. Refleks aku beringsut menjauhinya. "Pergi! Jangan mendekat!" seruku dengan tatapan nanar.


"Jangan sok jual mahal, Lan!" kata Deni sambil menyeringai.


"Teriak aja, ga bakal ada yang nolongin. Seluruh sekolah sudah tahu kamu calon istriku", jawab Deni datar sambil berusaha meraih rambutku.


Aku menepis tangannya dan berkata sinis padanya, "Jangan mimpi!"


"Hahaha. Kamu tunggu aja lamaran Papaku, Lan. Setelah UASBN aku dan Papa akan langsung ke rumahmu!" kata Deni.


"Kalau sama Deni ga mau, sama aku aja, Lan. Aku kayaknya ketagihan sama rasamu nih!", ujar Aldo sambil terkekeh


Aku mendelik jijik mendengar ucapan Aldo. Sementara Angga tak berkomentar sama sekali.

__ADS_1


Aku tak mempedulikan lagi ocehan mereka. Aku bergegas keluar dari ruang kelasku. Aku bingung sejenak harus kabur kemana. Akhirnya kuputuskan untuk ke perpustakaan saja. Beberapa teman yang kulewati saat menuju perpustakaan sibuk berkasak-kusuk, sebagian melihatku dengan tatapan yang tak dapat aku artikan.


Dari kelasku, untuk menuju perpustakaan aku harus melewati kantin. Tanpa sengaja ekor mataku melihat hal yang akhirnya membuatku paham. Aku melihat Tama dan Lisa sedang duduk berdua di salah satu meja kantin. Tangan keduanya berada di atas meja dengan posisi saling menggenggam.


Kini aku sadar, kenapa hanya ada tiga anggota Genk Kece yang menghampiriku. Itu dikarenakan anggotanya yang lain sedang sibuk berpacaran. Aku juga sadar kenapa Lisa memberikan kesaksian yang melawanku di kantor polisi hari Minggu lalu. Ingin rasanya aku meneriaki Lisa saat itu juga. Apakah hanya sekecil itu nilai persahabatan kami di matanya?!


Aku berlalu menuju perpustakaan dengan hati terluka. Di perpustakaan aku hanya membuka-buka buku yang aku ambil sembarangan dari raknya tanpa berniat untuk membacanya.


Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku, kemudian berbicara dengan berbisik. "Lan, aku tadi ke kelas kamu. Tapi kulihat tadi ada Deni disana jadi aku mengurungkan niatku." Tak ada respon dariku. Ryo meneruskan perkataannya, "Aku dengar kamu akan menikahi Deni setelah lulus nanti? Benarkah?".


Aku tetap tak merespon, justru berjalan ke rak tempat aku mengambil buku untuk meletakkannya kembali.


Gangguan dari manusia-manusia brengsek dimana-mana! Makiku dalam hati.


Karena merasa jengah pada Ryo, aku memutuskan untuk keluar perpustakaan. Ryo mengikutiku keluar perpustakaan. Tepat setelah keluar dari ruang perpustakaan, Ryo menyambar tanganku dan membalikkan tubuhku menghadapnya. "Tolong jawab aku, Lan! Benar kabar yang beredar itu? Aku serius dengan kata-kataku tempo hari. Aku tetap sayang dan menerima kamu apa adanya. Anggap saja kejadian itu tidak pernah ada. Kita lanjutkan mimpi-mimpi kita. Setelah kita berdua sama-sama sukses kita akan menikah seperti janji kita dahulu", kata Ryo mengingatku dengan janji kami.


Aku menatap datar pada Ryo. Perasaanku kebas karena pengkhianatannya. Aku tak peduli fakta bahwa mata pencaharian ayahnya terancam. Aku juga tak peduli bagaimana keluarganya yang diancam harus mencari uang dengan jumlah yang tidak sedikit dalam waktu dekat untuk membayar hutang pada Pak Darma. Aku hanya tahu bahwa aku kecewa.


"Lepasin tangan calon istriku, manusia gembel!" suara Deni menghardik dibelakangku. Ryo langsung melepaskan tanganku. Bertepatan dengan itu, terdengar bunyi bel tanda jam istirahat berakhir. Aku langsung berlalu melewati Deni dan kawan-kawannya menuju kelasku.


Aku tak peduli apa yang akan mereka lakukan setelah kepergianku. Mau baku hantam? Silahkan!


Mereka berdua benar-benar pria yang tak dapat dipilih oleh Wulan. Satu brengsek. Satu pecundang. Wulan sedang tak ingin memikirkan pria dalam hidupnya.

__ADS_1


Saat ini Wulan sedang fokus melupakan kejadian malam itu dan menata hidupnya kembali. Mampukah Wulan menjadi dirinya yang dulu?


__ADS_2