Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 96 Amnesia


__ADS_3

**Senin.. Senin.. yang punya remahan vote voucher bagi yak 🤗🤗 Happy reading all. Jangan lupa like dan komennya selalu dinanti 😘😘**


Aku begitu terkejut saat Mas Adit tidak mengenaliku. Walaupun sudah diprediksi oleh Dokter Rangga bahwa Mas Adit akan mengalami amnesia sementara, tak urung aku merasa terpukul. Membuatku tak mampu berkata-kata.


"Kamu tidak mengenali Wulan, Nak?" Tanya Tante Yuni.


Mas Adit menggeleng lemah, dan mengernyitkan dahinya.


"Sebentar, biar saya periksa dulu" cetus Dokter Anggara.


"Saya panggil Mas aja ya, biar enak ngobrolnya. Mas kenal sama bapak itu?" Dokter Rangga menunjuk Om Wisnu yang berdiri memeluk bahu Tante Yuni.


"Itu papa saya" jawab Mas Adit lemah.


"Sekarang tanggal berapa? Atau kalau ga, tahun berapa?" Lanjut Dokter Rangga.


"2020 'kan?" Jawab Mas Adit tak yakin.


"Ingat kenapa bisa ada disini?"


Mas Adit mengernyitkan dahi lalu menggeleng.


"Kerjaan terakhir?"


"Saya baru pulang dari Kalimantan" Mas Adit menelengkan kepala, seolah ragu akan jawabannya.


"Ini berasa ga?" Tanya Dokter Anggara meremas betis Mas Adit.


Mas Adit menggeleng.


"Mas Adit dan keluarga siap mendengar penjelasan saya?" Tanya Dokter Rangga.


Kami hening menanti penyampaian dokter.


"Tepat seperti yang saya prediksikan. Mas mengalami amnesia sementara. Perlu Mas Adit ketahui, Mas Adit berada disini karena mengalami kecelakaan. Benturan keras pada kepala menyebabkan epidural hematoma, lebih mudahnya penggumpalan darah di otak yang sudah berhasil kami tangani"


"Efek samping dari hematoma salah satunya kelumpuhan yang bersifat sementara. Mas Adit bisa segera pulih jika rajin menjalani fisioterapi" terang Dokter Rangga dengan sehati-hati mungkin.


"Amnesia? Lumpuh?" Tanya Mas Adit dengan panik.


"Sementara, Mas" ujar Dokter Rangga menenangkan.


Wajah Mas Adit masih nampak keruh. Begitupun kedua orang tua Mas Adit wajahnya terlihat begitu prihatin.


"Untuk amnesianya tidak perlu terlalu dipaksakan mengingat. Nanti jika sudah waktunya, ingatan itu akan kembali dengan sendirinya" Dokter Rangga kembali menenangkan.


"Baik, Dok. Terima kasih" jawab Om Wisnu.


"Kapan kira-kira ingatan itu akan kembali, Dok?" Aku khawatir jika Mas Adit akan melupakanku selamanya.


"Tidak ada kepastian untuk itu. Doakan saja secepatnya" jawab Dokter Rangga.


"Jika tidak ada yang ingin disampaikan lagi, saya pamit. Segera setelah kondisi stabil, Mas Adit bisa pindah ke ruang perawatan. Lalu, saya akan secepatnya mengatur jadwal fisioterapi agar Mas Adit bisa segera pulih"


Sepeninggal Dokter Rangga, kami semua terdiam.


"Ma, Adit lumpuh, Ma!" Ratap Mas Adit.


"Sementara, Nak, sayang. Sshhh...fokus sama pemulihan diri, ya. Jangan pikirkan yang lain" Tante Yuni mencoba menyemangati anaknya.


Aku sudah tidak mampu membendung air mataku lagi. Aku keluar ruangan untuk menumpahkan air mataku. Kekhawatiran merajai pikiranku. Bagaimana bila Mas Adit akan lama kembali mengingatku. Aku takut kehilangan cinta dan perhatian darinya.


Malam ini giliran Om Wisnu menemani Mas Adit di rumah sakit. Tanpa kata kesepakatan, kami bertiga membuat sendiri jadwal menginap di rumah sakit.


Pukul 22.05 aku pamit pulang. Tante Yuni menepuk bahuku dan berkata bahwa Mas Adit pasti akan segera mengingatku. Aku hanya bisa mengangguk pasrah.

__ADS_1


Pagi harinya, Mas Adit dipindahkan ke ruang perawatan. Selama Mas Adit di rumah sakit aku tak pernah absen menjenguknya.


Ini sudah hari ketiga Mas Adit sadar. Tapi tidak ada tanda-tanda ia sudah mengingatku. Aku semakin putus asa. Aku tak sanggup jika harus kehilangan cinta Mas Adit. Bagaimana mungkin Mas Adit bisa melupakanku. Apakah kenanganku bersamanya tidak layak diingat? Atau karena aku telah begitu menyakitinya karena berkali-kali menolak ajakannya menikah?


Kejadian ini menyadarkanku akan satu hal, bahwa aku selama ini menggantungkan hubunganku dengan Mas Adit. Dalam pikiranku selama ini hanya ada karir dan karir. Aku tak pernah membayangkan kehidupan pernikahan dengan Mas Adit. Kesendirian yang lama membuatku acuh akan rencana masa depan dengan orang yang kucintai.


Kini aku menyadari, bahwa dalam hidup ini kita tidak bisa mendapat apa saja yang kita inginkan. Ada kalanya kita harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain. Batinku bergolak. Mempertahankan karir atau menjadi bagian masa depan dari Mas Adit? Berat rasanya jika aku harus memilih.


Selama Adit di rawat, gadis yang bernama Wulan itu tak pernah absen menjenguk. Bahkan sesekali Wulan menginap di rumah sakit untuk bergiliran dengan Mama dan Papa. Adit penasaran mengenai gadis itu.


Walaupun tidak merasa kenal dan tidak bisa mengingat gadis itu, Adit tidak keberatan setiap hari dijenguk oleh Wulan. Bermacam hal Wulan lakukan untuk menghiburnya. Membuatnya melupakan rasa sakit yang diderita di sekujur tubuhnya.


Membacakan buku, mengajak ngobrol, menceritakan kejadian hari ini yang dialaminya, mengupaskan buah, menyuapkan makanan. Sampai hal paling random seperti prakiraan cuaca, bahkan masalah politik. Entahlah, Adit merasa tenang karena kehadiran Wulan. Bahkan Wulan pernah berkunjung dengan seorang bocah laki-laki yang dikenalkan dengan nama Langit. Bocah itu tampak begitu sedih melihat perban di kepala dan lengan Adit yang di gips.


Hari ini Minggu, hari keempat Adit tidak bisa mengingat kejadian setelah kepulangannya dari Kalimantan . Sejak pukul tujuh pagi Wulan sudah datang. Saat sarapan datang, gadis itu menyuapinya. Sekelebat bayangan muncul. Kepala Adit terasa sedikit pening.


"Makan siang dulu!" Perintah Adit.


"Hhmmm" Wulan hanya berdeham menanggapi.


"Aku suapin, mau?" Ancam Adit.


Wulan langsung mendelik.


Mata Wulan yang membulat kesal


tampak begitu cantik dalam ingatan Adit.


"Sepertinya kita memang saling kenal" gumam Adit saat Wulan membereskan piring bekas makannya.


Tiba-tiba empat orang rekannya dari kantor datang. Bau parfum Pak Jamal yang terkenal seperti bau minyak nyong-nyong tercium cukup menyengat.


"Kamu ini, mau naik jabatan malah kecelakaan" seloroh Pak Jamal sambil menyerahkan buah tangan kepada Wulan.


Tapi Adit tidak menanggapi pertanyaan mereka, karena Adit teralihkan pada Wulan yang menutup mulut lalu menghambur masuk ke kamar mandi.


Hoooeeekk hoooeeekk


Samar-samar terdengar suara Wulan yang sedang muntah di kamar mandi. Mereka saling berpandangan heran.


Wulan muncul dari kamar mandi dengan wajah sedikit pucat.


"Maaf" gumam Wulan kepada rekan-rekan Adit.


"Kamu sakit?" Tanya Adit khawatir.


"Hamil kali, bro!" Celetuk Mukti tanpa sungkan.


Adit mengernyit, Wulan melengos. Suasana menjadi sedikit canggung.


"Aku ke kantin dulu, Mas. Silahkan ngobrol dulu sama teman-temannya" pamit Wulan pada Adit.


Setelah Wulan pergi, Adit berbincang dengan rekan-rekannya.


"Gimana, udah enakan?" Tanya Pak Jamal.


"Lumayan, Pak" jawab Adit singkat.


"Nanti setelah sembuh, segera kasih tahu keputusan kamu untuk tawaran yang di Jakarta, ya" ujar Pak Jamal tanpa tahu bahwa Adit tidak mengingat hal itu.


Adit mengernyit bingung, tapi memilih tidak menjawab.


"Wah mau naik jabatan, nih. Bikin farewell party, lah. Wisata tipis-tipis. Ke Bromo, gitu!" Cetus Mas Arta.


Tiba-tiba sekelebat bayangan muncul lagi. Adit tengah menggendong bocah laki-laki itu (Langit) menaiki tangga menuju kawah Bromo.

__ADS_1


Setelah pamit pada Mas Adit, aku sebenarnya tidak pergi ke kantin. Aku menuju poli obgyn untuk memeriksakan kandungan.


"Selamat, Bu. Usia kehamilannya sudah mencapai 10 minggu 2 hari. Kita lihat disini, tangan kaki sudah mulai terbentuk ya. Mata, hidung, telinga juga sudah terbentuk. Beratnya 5 gram, panjang 4 centi" ujar dokter wanita berkerudung sambil menunjuk pada layar USG dengan pointer laser.


"Sekarang kita dengar detak jantungnya"


Degdegdegdegdegdeg


Terdengar suara detak jantung bayi yang terdengar cepat.


"Detak jantungnya bagus, 135 kali/menit. Sehat insyaallah" aku tersenyum mendengar penuturan dokter tersebut.


Dokter lalu membersihkan gel dari perutku dan memintaku kembali duduk.


"Ada keluhan? Mual muntahnya parah?"


"Cukup parah, Dok. Hampir sepanjang hari saya bisa merasa mual, dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Muntah bisa 4 sampai 5 kali. Sama itu juga Dok, kok saya ngerasa ludah saya banyak sekali ya? Dikit-dikit ludah sudah terkumpul" keluhku.


"Kalau gitu saya resepkan multivitamin, penambah darah, sama obat untuk mengatasi mualnya. Lalu, hipersalivasi pada bumil itu lumrah, Bu. Itu dikarenakan rasa mual yang memicu produksi liur berlebih. Untuk mengatasinya, perbanyak minum air putih. Sediakan tisu atau bak pasir untuk menampung ludah" jelas dokter.


"Baik, Dok" jawabku.


Bune dan Ibu sudah mengetahui bahwa aku tengah hamil. Beliau berdua hanya bisa menasihatiku untuk bersabar dan terus berdoa agar Mas Adit bisa segera pulih.


Keluar dari ruang obgyn, aku dikejutkan oleh Tante Yuni yang melihatku menutup pintu ruang periksa.


"Kamu hamil, Lan? Sama Adit?" Todong Tante Yuni.


Aku hanya bisa mengangguk lemah. Aku malu pada Tante Yuni, bisa kecolongan sebelum ikatan resmi.


"Ya ampun, kenapa ga cerita? Itu cucu Tante, ya ampun. Mulai sekarang panggil Mama, ya! Setelah Adit membaik kamu nikah sama Adit. Papa harus segera tahu. Maafkan anak Mama yang sudah begitu sembrono, ya" cecarnya padaku.


"Saya baru tahu mengenai kehamilan ini tepat sehari sebelum kecelakaan. Saya berniat mendiskusikannya dengan Mas Adit, tapi..." Jelasku menggantung.


"Ya ampun, anak nakal itu" gumam Mama.


Akhirnya semua dokumen disiapkan untuk pernikahan kami. Aku sebenarnya ingin memprotes, karena masa depan kehidupan pernikahanku dengan Mas Adit masih tampak abu-abu. Haruskah aku resign? Tapi itu adalah karir yang aku bangun dari bawah. Aku bingung harus apa. Pihak orang tua memutuskan, jika dalam sebulan ingatan Mas Adit tak juga pulih, maka akad akan tetap dilangsungkan.


Walaupun terkesan manut, aku sebenarnya belum mengambil keputusan apapun. Aku masih ingin mendiskusikan masalah ini dengan mas Adit. Dan aku akan menunggu sampai ingatan mas Adit pulih. Aku optimis mas Adit akan segera pulih.


Sudah seminggu mas Adit kehilangan ingatannya. Seperti biasa sore setelah pulang kerja, aku menjenguk mas Adit. Hari ini giliranku menginap menemani mas Adit. Aku sudah menyiapkan buku untuk kubaca sebagai pengantar tidur bagi mas Adit.


Setelah makan malam dan minum obat mas Adit bersiap untuk tidur. Aku membacakan sebuah novel berjudul Antologi Rasa karya Ika Natassa. Dua puluh menit membaca aku bisa mendengar dengkur halus mas Adit. Pertanda mas Adit telah lelap.


Aku menghentikan bacaanku, lalu mulai memeriksa ponselku. Tidak ada pesan penting di dalamnya. Aku keluarkan foto hasil USG dari dalam tas dan mengamatinya. Sampai saat ini aku masih galau. Seolah dengan mengamati foto tersebut aku bisa mendapatkan jawaban atas kegalauanku.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat. Aku merasa penat dan mengantuk. Aku merebahkan kepalaku di ranjang pasien Mas Adit dan masih dalam posisi duduk. Rasa kantuk yang berat membuatku tertidur.


Adit terbangun karena merasa kehausan. Diliriknya jam dinding, sudah lewat tengah malam. Dilihatnya Wulan tertidur dengan posisi duduk dan kepalanya direbahkan ke ranjang. Adit merasa terenyuh dan muncul sedikit rasa bersalah. Seseorang yang tidak diingatnya begitu perhatian kepadanya.


Adit meraih segelas air dari atas nakas. Adit menyesap minuman itu dengan sedotan. Saat hendak kembali tidur, Adit melihat secarik kertas yang dipegang Wulan. Rasa penasaran membuat Adit mengambil kertas tersebut. Ternyata itu adalah hasil foto USG.


Tiba-tiba sekelebat bayangan ingatan muncul dalam kepalanya. Dalam ingatan itu Adit dan Wulan sedang ber-cin-ta di pantai. Ingatan yang begitu indah, dalam, dan bermakna. Ingatan itu begitu menghantamnya. Lalu, ingatan-ingatan lain tentang kebersamaan Adit dan Wulan muncul silih berganti dalam kepalanya. Adit sedikit mengerang akibat rasa pening yang dirasakannya.


Suara erangan mas Adit membangunkanku. "Kenapa mas?"


Mas Adit mengulurkan foto USG yang ada di tangannya kepadaku.


"Ini hasil USG siapa, Lan?" Tanya Adit dengan suara lemah.


"Mas Adit udah ingat?" Tanyaku dengan mata berkaca-kaca.


Mas Adit mengangguk.


Wulan merasa begitu bahagia dan terharu. Seketika Wulan menghambur dalam pelukan Adit. Dalam hatinya ia berjanji, bahwa ia tak akan menyia-nyiakan lagi orang yang dicintainya.

__ADS_1


__ADS_2