
Bu Nimas menyadari gelagat putrinya. Dia bisa menduga siapa "teman ibu" yang dimaksud oleh cucunya.
"Ssshhh, gapapa, Nduk. Gapapa" ujar Bu Nimas sambil mengusap lembut tangan putrinya yang wajahnya tampak memucat.
Usapan lembut pada tanganku menyadarkanku pada rasa kalut yang sesaat menyergap. Aku menepuk pelan punggung tangan yang berusaha menguatkanku itu.
"Nak, lain kali jangan bicara dengan orang asing ya. Kita tidak tahu 'kan dia orang baik atau orang jahat" tukasku lembut pada putraku.
"Tapi om itu bilang kalau dia teman Ibu. Jadi dia bukan orang asing, Bu" ujar Langit berargumen.
"Bagi Ibumu dia bukan orang asing, karena ibumu mengenalnya. Tapi, apa Langit sudah dikenalkan oleh Ibu dengan om itu?" Bune yang menjawab argumen Langit.
Langit menggeleng menjawab pertanyaan utinya.
"Jadi artinya om itu masih orang asing bagi Langit" jelas Bune sabar.
"Langit paham, Nak?" tanyaku.
"Paham, Bu" jawabnya lalu menyuapkan sepotong daging paha bebek yang telah dicabiknya dari tulang.
"Langit kapan mulai sekolah, Bu?" sesaat setelah dia menelan potongan bebek tadi.
"Besok Ibu ajak Langit ke sekolah baru, ya. Ambil seragam khas dari sekolahnya. Untuk seragam pramuka dan putih merah cuma perlu ganti badge nama sekolah saja" jawabku menjelaskan.
"Siap, Bos!" selorohnya.
Setelah makan malam Langit pamit naik ke kamarnya. Aku dan Bune berbincang sebentar di meja makan.
"Bune cari asisten rumah tangga, ya? Buat bantu bersih-bersih?" tawarku pada Bune yang masih nampak bugar diusia 63 tahun itu.
"Alah, ga usah. Bune cuma bersih-bersih sore. Kalau pagi kamu sudah bersih-bersih dan memasak. Bune butuh kegiatan agar tetap sehat dan bugar. Badan Bune sakit semua kalau tidak gerak. Sudah biasa gerak waktu jualan bakso di Surabaya" Bune menolak mentah-mentah usulku.
"Tapi nanti Bune capek"
"Capek apa. Paling nanti Bune cuma bersih-bersih rumah sama masak buat makan malam. Masih enteng dibanding waktu jualan bakso dulu"
"Ya, sudah kalau Bune maunya gitu. Tapi kalau Bune merasa capek, bilang ya?" akhirnya aku hanya bisa manut.
"Pria tadi....?" Bune menggantung kalimatnya. Nampak tak tega memperjelas pertanyaannya.
Aku hanya mengangguk dengan senyum masam.
Setelah berbincang sejenak, aku dan Bune akhirnya masuk ke kamar masing-masing.
Aku mencoba tidur dengan segudang rasa resah. Deni sudah berani datang kemari dan berbicara dengan Langit.
Benar-benar pria brengsek yang tak tahu malu! Rutukku dalam hati.
__ADS_1
Rasa resah dan kemunculan (walau tak bertemu) pria yang tak kuharapkan berhasil menghadirkan mimpi tentang malam itu lagi. Aku terbangun pukul tiga dini hari dengan nafas terengah dan keringat bercucuran.
Karena tak bisa kembali tidur, aku memutuskan untuk mencuci baju dan bersih-bersih. Hari ini aku akan mengajak Langit ke SD Dwibahasa Harapan Bangsa. Sekolah yang menambahkan dua bahasa pokok dalam kurikulumnya selain bahasa Indonesia, Mandarin dan Bahasa Inggris.
Selain karena kurikulumnya yang kurasa baik, SD tersebut cukup terjangkau dari rumah. 20 menit naik sepeda atau 10 menit dengan mobil. Tapi yang membuatku tak nyaman adalah, rumah Aldo berada tepat diseberang sekolah itu. Semoga aku tak akan pernah berpapasan atau bertemu dengannya.
Selesai bersih-bersih rumah aku beranjak ke dapur. Bune sudah bangun dan sedang berada di kamar mandi.
"Mau masak apa, Nduk?Bune kemarin dari Duperindo naik ojol beli bahan-bahan. Cek aja di kulkas, Nduk"
Kulihat di kulkas ada ayam giling, selada, dan mie basah, dan bahan-bahan lain.
"Masak cwimie mau?" tawarku.
"Itu buat makan siang sama makan malam saja. Sarapan sama roti bakar saja ya?" jawab Bune.
Aku mengangguk dan mulai mengeluarkan bahan-bahan yang kubutuhkan. Kulihat juga ada 4 bungkus kulit lumpia di dalam kulkas.
"Pisang masih ada, Bune?" tanyaku
"Masih banyak. Bune beli satu tundun pisang kepok kemarin. Kebetulan ada orang jual pisang dekat Duperindo. Murah, satu tundun cuma 120 ribu" ujar Bune sambil menunjuk pada sudut dapur.
"Boleh tolong bikinin piscok? Cwimie biar Wulan yang masak"
"Bisa dong. Apa yang ga bisa buat anak Bune" seloroh Bune.
Sudah pukul enam lewat sedikit saat Langit turun dari kamarnya.
"Yang bukan bau ompol, Bu" jawab Langit menanggapi selorohanku.
Aku dan Bune terkekeh mendengarnya.
"Mandi dulu, Le. Terus sarapan" perintah Bune pada cucunya.
"Iya uti"
Cwimie dan roti bakar telah siap. Topping dioles terakhir sesuai selera masing-masing. Piscok juga telah digoreng sebanyak 100 biji, karena aku berencana membawanya ke proyek sebagai salam perkenalan. Sedangkan sisanya disimpan dalam freezer sebagai frozen food.
Aku membekal 2 porsi cwimie dengan mie basah yang belum kurebus. Satu untukku, satu untuk Mas Adit. Tak lupa aku membawa kompor portable beserta gasnya. Aku tak melihat ada kompor disekitar 'kantor' itu.
Setelah sarapan bersama, aku dan Langit pamit pada Bune. Pendaftaran dan perpindahan sekolah Langit telah aku bereskan saat masih di Surabaya via online dan via telepon. Berkas-berkas juga telah aku kirimkan dengan jasa kurir.
Aku tak lama di sekolah. Setelah mengenalkan Langit pada kepala sekolah dan mengambil seragam serta perlengkapan lain, aku langsung mengantar Langit pulang ke rumah.
"Bilang sama Uti, Ibu langsung berangkat kerja ya" aku mengecup puncak kepala Langit sekilas lalu Langit keluar dari mobil.
Aku sampai di proyek pukul sembilan lewat sedikit. Kukeluarkan bawaanku. Mas Adit tampak heran melihatku mondar-mandir dua kali untuk mengambil barang-barang dari mobil.
__ADS_1
"Butuh bantuan?" tawarnya dibelakangku yang tengah membungkuk mengeluarkan seperangkat kompor portable dari bagasi.
"Ngagetin aja" gumamku kesal.
"Tolong bawain es batu sama extrajuoss mas. Biar tukang pada semangat kerjanya" jawabku sambil nyengir
"Kompor buat apa?"
"Aku ada bawa cwimie. Buat rebus mienya nanti. Kan ga enak makan cwimie kalau mienya lembek karena sudah terlalu lama direbus" jawabku menjelaskan.
"Cerdas" pujinya.
"Wulan gitu loh!" selorohku. Entahlah dengan pria ini aku bisa merasa santai.
"Mas tolong panggilin pekerjanya, ya. Aku ada bawa piscok" pintaku sambil menyiapkan tiga teko besar extrajuoss.
Dari walkie talkienya Mas Adit berbicara dengan sang Mandor. Terdengar bunyi gemerisik dari walkie talkie itu.
"Pak Adi, tolong anak buahnya suruh istirahat dulu. Ada yang mau kenalan. Ganti"
"Siap Pak" jawab gemerisik suara dari walkie talkie.
Tak berapa lama kemudian sekitar 30 orang pria berkumpul didepan bangunan kantor. Bangku panjang yang terletak di di depan kantor kugunakan untuk meletakkan 5 piring piscok dan 3 teko extrajuoss beserta setumpuk gelas sekali pakai.
"Bapak-bapak sekalian, perkenalkan saya Wulan dari PT. Textile Globalindo. Mohon kerjasamanya untuk beberapa bulan kedepan ya. Semoga proyek kita berjalan lancar dan tanpa ada kendala berarti ya, bapak-bapak. Silahkan dinikmati camilan ala kadarnya dari saya ini" ujarku dengan senyum lebar.
"Wah, bosnya bening begini"
"Baik lagi"
"Betah kalau punya bos ga pelit begini"
"Sering-sering bawa makanan ya, Neng"
Itulah celotehan dari para pekerja setelah aku memperkenalkan diri. Aku hanya tersenyum-senyum mendengar perkataan mereka.
Aku bercengkrama dengan Pak Adi dan Mas Adit. Menanyakan ini dan itu agar proyek dapat berjalan dengan maksimal.
Grep! Tiba-tiba seseorag mencengkram lenganku dan membalikkan tubuhku menghadapnya.
"Dasar gadis sialan! Beraninya kamu membangun pabrik disini!" hardiknya padaku.
Pak Darma Wiratmaja berdiri di depanku dengan wajah beringas.
"Apa-apaan ini?!" bentak Mas Adit dan menarik kasar tangan Pak Darma dari lenganku.
Aku mengelus tanganku yang sakit akibat cengkeraman tangan Pak Darma.
__ADS_1
"Masamu sudah lewat, Pak Tua!" ujarku dengan senyum mengejek.
Tangan Pak Darma sudah terangkat dan menyasar pipi Wulan. Apakah Wulan akan baik-baik saja berhadapan dengan orang-orang jahat itu?