
Cukup lama aku melamun, menerka-nerka makna di balik mimpiku. Ditambah informasi mengenai mimpi Mas Adit ketika dulu ia menyatakan perasaan padaku.
Restukah? Batinku cocoklogi.
Tidak. Tidak mungkin rasanya orang yang sudah meninggal akan memberikan restu pada orang yang masih hidup. Pikiran logisku mengambil alih.
Tapi...tidak semua hal di dunia ini bisa dinilai sisi logisnya bukan? Batinku menyanggah.
Hissshh! Aku jadi geram pada diriku sendiri. Kepalaku pening dan pusing ketika logika dan hati saling bersahutan.
Aku mengambil ponselku. Pukul 04.20. Ada beberapa notifikasi pesan masuk, dan aku mengabaikannya.
Ide untuk berendam di bathub mungkin terasa akan menyegarkan. Akhirnya aku mengambil essential oil aroma lavender dari dalam tasku. Aroma lavender pasti bisa menenangkan batinku yang berkecamuk.
Sambil berendam aku mengusap-usap tubuhku dengan busa, untuk membersihkan kotoran yang menempel. Aku bisa merasakan kasar pasir yang berada di lipatan tubuhku. Membuatku wajahku memanas karena mengingat kejadian yang aku lakukan bersama Mas Adit tadi.
Jujur, aku sama sekali tidak pernah membayangkan atau berimajinasi ber-cin-ta di pantai. Aku merasa sungguh gila. Gimana kalau lagi di tengah jalan sedang begituan dipergoki orang, coba? Aku tertawa sumbang karena pemikiran nyeleneh itu.
Saat aku membersihkan area intimku, aku kembali teringat bagaimana rasa Mas Adit di dalam sana. Ada rasa licin yang tertinggal. Menimbulkan gelenyar aneh yang rasanya mengitari perutku.
Aku memukul air dalam bathub.
"Mesum kali kau!" Tegurku pada diri sendiri, saat merasa ada hasrat yang terusik dalam diriku.
Setelah puas membersihkan diri, aku beralih ke shower untuk membilas busa dari tubuhku dan berkeramas. Lagi-lagi pikiranku melayang kemana-mana. Membayangkan bagaimana rasanya bermesraan di bawah guyuran air.
Astaga....aku udah gila! Lalu aku terkekeh geli karenanya.
Sementara di kamarnya, Adit tak melihat Pak Adi di atas tempat tidurnya. Saat baru saja menutup pintu kamar, pintu kamar mandi terbuka dan Pak Adi keluar dari dalamnya.
"Teko ngendi wae, Mas?" Cetus Pak Adi. (Dari mana saja, Mas)
"Ngerokok, Pak" jawab Adit singkat.
"Ngerokok opo dirokok, Jeh?" Seloroh Pak Adi sambil tersenyum jahil, yang sukses membuat muka Adit memerah. Pikirannya jadi melantur membayangkan bagaimana rasanya 'dirokok'.
"Pak Adi, ini!" Gerutu Adit karena sungkan akan pikirannya sendiri.
"Bali turu wes (balik tidur sudah), Mas. Iseh (masih) subuh" ujar Pak Adi, lalu meringkuk dalam selimut.
Adit yang memang sangat mengantuk karena belum tidur semalaman, menuruti saran Pak Adi dan membaringkan diri. Di pantai tadi dirinya hanya memandangi wajah cantik Wulan yang terlelap di atas lengannya. Rasa sesal menyusup dalam hatinya, bagaimana ia begitu sembrono menggauli Wulan di tempat terbuka seperti itu. Memang, di kala naf-su sudah merajai akal sehat tak bisa diandalkan. Seandainya tadi ada orang yang memergoki mereka, bisa-bisa trauma Wulan semakin parah.
Belum lagi mengingat bagaimana cepatnya ia menyelesaikan permainan. Adit khawatir, Wulan akan merasa bahwa dirinya hanya dijadikan objek pelampiasan tanpa bisa menikmati permainan yang sebenarnya. Puluhan tahun tanpa pernah merasakan sentuhan wanita, membuat Adit layaknya perjaka yang baru belajar dalam urusan memuaskan wanita. Dirinya kelabakan, jelas.
Hal lain yang mengusik dirinya adalah, bagaimana ia tadi menanamkan benihnya dalam rahim Wulan. Bagaimana kalau gadis itu sampai hamil? Adit tentu tak berkeberatan, justru akan teramat sangat bahagia. Tapi bagaimana dengan Wulan? Adit tak siap jika harus menerima penolakan Wulan jika benihnya benar-benar berhasil tertanam di rahim gadis itu.
Hahh!! Adit mendesah masygul. Entah mengapa, dirinya menjadi pria yang over thinking sekarang.
Dengan perasaan resah, Adit memejamkan matanya dan jatuh lelap.
Setelah selesai mandi, Wulan mengenakan bathrobe. Di ambilnya speaker bluetooth dari dalam koper dan menghubungkan dengan ponselnya. Dipilihnya lagu secara random, dan mengalunlah lagu lama dari speaker itu.
Akhirnya, ku menemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Akhirnya, ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh
Ku berharap engkaulah
Jawaban segala risau hatiku
Dan biarkan diriku, mencintaimu hingga ujung usiaku
Jika nanti kusanding dirimu
__ADS_1
Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan jika nanti engkau disampingku
Jangan pernah letih, 'tuk mencintaiku
(Naff ~ Akhirnya Ku Menemukanmu)
Aku bersenandung kecil mengikuti alunan lagu sambil mengeringkan rambut dengan hair dryer. Mau tidak mau, lirik lagu yang begitu menyentuh merasuk ke dalam relung hati paling dalam. Membuatku tak sanggup menahan mata yang memanas akibat air mata yang mengumpul.
"Ya, Tuhan. Diakah pria yang Kau kirimkan untuk menyembuhkan luka hatiku?" Gumamku lirih.
Setelah selesai mengeringkan rambut, aku membalurkan sun protection ke seluruh tubuh. Hari ini rencananya kami akan tour ke tempat wisata menarik di Bali.
Aku beralih duduk di depan meja rias, mematut diri di depan cermin untuk mengoleskan pelembab wajah. Dan betapa terkejutnya diriku, mendapati beberapa bercak kemerahan di leher.
"Ya ampun, Mas Adiiitt!" Erangku gemas. Aku bisa melihat wajahku memerah di cermin.
Aku segera melipat kembali baju yang telah kusiapkan tadi. Blouse lengan pendek bermotif daun kecil-kecil berwarna burgundy, dan celana jeans. Blouse itu memiliki kerah berbentuk V, dan tentu tidak akan bisa menutupi bercak merah itu. Aku tidak yakin, concealer mampu menutup warna kemerahan itu.
Mengacak koper, aku menemukan sebuah gaun di tumpukan paling bawah. Rencananya aku akan mengenakan dress batik model qipao dengan motif floral saat pulang nanti.
Rambut sengaja kugerai agar semakin menutup leherku. Sebuah jepit mungil menghiasi rambutku disisi kanan. Anting berbandul bunga mungil kukenakan agar senada dengan dress. Setelah memoles make up tipis dan natural, aku memasang strappy sandal agar memudahkan aktifitasku saat tour nanti.
Mematut diri terakhir kali di depan cermin, aku merasa penampilan sudah cukup oke. Mencangklong sebuah tas ransel mini untuk tempat barang-barang berharga. Kulirik jam tangan di pergelangan kanan, sudah pukul 07.40.
Aku bergegas menuju ruang makan. Sebagian orang sudah berkumpul, dan pegawai villa juga sudah mondar-mandir menyajikan sarapan. Berbagai menu terhidang. Nasi goreng seafood, kanapki, cream soup, roti bakar dengan berbagai topping.
Kulihat Mas Adit sudah duduk disana, dan sedang berbincang dengan salah satu pekerja yang kuketahui bernama Yono. Pria muda yang kutaksir usianya tak lebih dari 25 tahun.
"Mas" aku mencolek pundak Mas Adit, dan menarik kursi di sebelah kirinya.
"Eh, pagi sayang" selorohnya. Aku mencibir.
"Pagi semua. Masih nunggu yang lain, ya?" sapaku ramah.
Pukul delapan lewat akhirnya semua sudah hadir. Kami makan dalam suasana riuh rendah karena sambil berbincang. Saat yang lain sibuk berbincang, aku secara sembunyi-sembunyi mencubit ringan pinggang Mas Adit.
"Aduh" desis Mas Adit.
"Mas Adit nakal ih! Leherku merah-merah" rengekku dalam bisikan.
Mas Adit terkekeh. "Itu tanda kalau kamu milikku"
"Terpaksa aku pake dress ini" bisikku gemas.
Mas Adit memperhatikanku dari kepala sampai kaki.
"Cakep gini! Ga rugi aku" ujarnya sambil manggut-manggut.
"Wes ayu (sudah cantik)! Ojo dipirsani terus, Mas (jangan dilihatin terus). Ga bakal luntur!" Cetus Yono dari sebelah kanan Mas Adit. Lalu disambut gelak tawa dari sebagian orang yang mendengarnya.
Aku tersenyum canggung lalu memulai acara sarapanku dalam diam. Mas Adit cengengesan santai tanpa beban.
Setelah selesai sarapan, Mas Adit merengkuh bahuku lalu mengajakku menaiki mini bus yang sudah siap mengantarkan tour kami.
Tujuan pertama kami adalah ke patung GWK (Garuda Wisnu Kencana). Dekat, hanya sekitar dua puluh menit perjalanan.
Turun dari bus kami dibuat terkagum oleh tebing batu kapur disekeliling kami. Berjalan dari parkir mobil, kami bisa melihat patung raksasa Garuda Wisnu Kencana rancangan arsitek asli Bali, I Nyoman Nuarta. GWK merupakan patung Dewa Wisnu, yang dalam agama Hindu dikenal sebagai Dewa Pemelihara, sedang menaiki burung Garuda.
Kami para peserta tour bepencar, dan tentu saja aku 'berkencan' dengan Mas Adit. Puas berfoto kesana kemari, mengabadikan berbagai moment dan pemandangan indah, kami mampir ke toko souvenir.
Pukul 11.00 tepat, kami semua sudah berkumpul di depan mini bus untuk menuju destinasi selanjutnya, yakni Pantai Pandawa. Perjalanan juga singkat, tak lebih dari 20 menit.
Setelah membayar tiket masuk, mini bus masuk melalui pintu masuk yang menyerupai gerbang tol terbuat dari batu kapur putih. Keluar dari gerbang masuk, mini bus melewati jalan raya dengan aspal halus. Dibagian pinggir jalan raya, kami bisa melihat tebing kapur menjulang tinggi. Pada bagian kiri jalan raya terdapat enam lubang pada tebing. Di dalam lubang ini terdapat patung Panca Pandawa beserta ibunya Dewi Kunti. Setelah beberapa meter melewati jalan raya, terlihat pemandangan samudra Hindia serta garis pantai berwarna putih. Sungguh eksotis.
Mini bus parkir di tempat yang telah disediakan. Tour guide mempesilahkan kami menikmati wisata Pantai Pandawa. Jika ingin makan siang, banyak warung yang dikelola oleh penduduk lokal.
__ADS_1
Mas Adit mengajakku bermain kano, tapi aku menolak. Aku tidak membawa baju ganti.
"Meni pedi, yuk!" Tunjukku pada satu booth yang menyediakan layanan pijat serta manicure-paddycure.
"Ga, ah!" Giliran Mas Adit menolakku.
"Ayo lah, Mas!" Manjaku. Dan akhirnya Mas Adit (terpaksa) mengikuti keinginanku.
"Ga mau pijat sekalian, Mas? Biar badan jadi lebih enteng, stamina lebih grenk! Lagi honeymoon 'kan di Bali?" Cetus wanita yang baru selesai men-treatment Mas Adit.
"Grenk ya?" Mas Adit melirikku nakal. Aku mendelik dibuatnya.
"Boleh deh, Mbak! Istri saya juga pasti mau. Iya 'kan, sayang?" Aku meringis kesal. Lalu sejurus kemudian tersenyum sembunyi-sembunyi saat mengingat Mas Adit menyebutku sebagai istrinya.
Sudah pukul satu lewat saat kami selesai dipijat.
"Laper, Mas" ujarku.
"Heehm, sama. Yuk cari makan"
Pilihan kami jatuh pada olahan seafood. Mas Adit memilih kakap bakar madu, dan aku memilih olahan seafood campur (terdiri dari kepiting, kerang dara, kerang hijau, potongan cumi dan udang) dengan saus Padang.
"Pulang dari sini harus olahraga, nih. Bakar kolesterol dan lemak" cetusku saat makanan pesanan kami terhidang.
"Ada cara gampang bakar lemak!" Jawab Mas Adit sambil mengedipkan sebelah mata padaku.
Aku bisa merasakan wajahku merona. Aku memilih mengambil makanan, karena malu harus menanggapi gurauan menjurus Mas Adit.
"Yuk, makan! Keburu dingin" ujarku mencoba mengalihkan topik.
Mas Adit terkekeh. Lalu mengikuti mengambil hidangan yang sudah tersaji.
Jam 14.00 tepat kami sudah harus berkumpul kembali, karena akan menuju destinasi selanjutnya yang cukup jauh, yakni Desa Panglipuran, Bangli. Aku dan Mas Adit makan sedikit tergesa.
Perjalanan dari Pantai Pandawa ke Desa Panglipuran, memakan waktu satu jam lebih. Kami sampai di sana sudah sore, hampir pukul empat.
Desa Panglipuran merupakan desa adat yang dinobatkan sebagai desa terbersih di dunia. Mengelilingi desa ini, dilarang menggunakan kendaraan bermotor agar mencegah polusi udara. Pagar tanaman hijau menghiasi setiap rumah penduduk yang bentuknya semua mirip. Sebagai desa adat, tatanan desa masih mengikuti aturan nenek moyang. Tatanan desa Panglipuran mengusung konsep Tri Mandala. Yakni, Utama Mandala (tempat ibadah), Madya Mandala (perumahan penduduk) dan Nista Mandala (pemakaman penduduk). Setelah puas berkeliling dan berfoto, pukul 17.30 kami diarahkan kembali ke minibus untuk kembali ke villa.
Sampai di villa kami langsung diarahkan untuk makan malam. Menu malam ini aneka olahan berkuah. Sup ikan kakap, tomyam, sup asparagus, soto daging, dan soto ayam Lamongan.
Setelah makan malam, kami kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Aku langsung menuju kamarku, dan mandi. Badan serasa lengket oleh keringat. Setelah selesai mandi, aku merebahkan diri dan melakukan panggilan vidcall dengan Langit. Menanyakan kabar dan harinya. Langit berceloteh dengan riang, lalu mengingatkan perihal oleh-oleh.
Saat asyik melakukan panggilan, pintu kamarku diketuk.
"Bentar, ya" Ternyata Mas Adit dengan membawa kantong kresek putih berlogokan IndoMei.
"Lagi apa?" Tanya Mas Adit.
"VC sama Langit" jawabku singkat.
"Hai, jagoan!" Tukas Mas Adit menyerobot masuk dalam jangkauan kamera ponselku.
Terdengar Langit memekik senang. Lalu mereka terlibat antar pria seputar game dan pelajaran menggambar. Mas Adit berjanji akan membantu mempersiapkan ujian kesenian yang mengambil materi menggambar pola.
Akhirnya perbincangan diakhiri.
"Ada apa, Mas?" Aku menanyakan maksud kedatangan Mas Adit.
"Capek?" Tanya Mas Adit lalu mendudukkan diri di kursi depan meja rias. Barang bawaannya diletakkan di atas ranjang.
"Lumayan" jawabku singkat.
"Mau ngobrol serius bisa?" Tanya Mas Adit.
Wulan mengangkat alisnya. Masalah serius apa yang hendak dibicarakan oleh Adit dengannya?
__ADS_1