
**Hai para reader kesayangan.. hari Senin nih, klo punya remahan vote voucher bagi yak๐๐. Jangan lupa like dan komen (gratisss lhoo)๐๐ Happy reading all**
Entah apa yang mendorongku untuk menceritakan kisah malam itu pada Mas Adit. Mungkin kata-kata lirihnya yang menenangkan. Atau perasaan terlindungi saat berada dalam dekapannya. Atau mungkin juga karena kedekatan Langit dan Mas Adit.
Atau mungkin karena kau sudah jatuh hati padanya? Bisik lirih suara dalam hatiku.
Mas Adit masih memelukku dan berbisik menenangkan tangisku.
"Malam itu terasa begitu dingin. Langit gelap dan tak berbintang. Mendung"
"Saat aku mendengar samar bisik-bisik Deni dengan ketiga kawannya, batinku bergemuruh. Hatiku berteriak agar aku segera kabur. Tapi Deni lebih cepat, dan mencengkeram pergelangan tanganku lalu menyeretku dan menghempaskan tubuhku pada gubuk pinggir sawah"
"Aku meringis menahan sakit pada punggungku karena terbentur balai bambu yang keras. 'Den, mau apa kamu? Kamu jangan macam-macam!' ancamku yang aku tahu bahwa itu hanyalah ancaman kosong. Aku tahu aku tak berdaya, tapi aku tak mau diam tanpa perlawanan sedikitpun"
"Deni malah menyeringai jahat, 'aku masih ingin bersenang-senang denganmu sayang' begitu kata Deni. Mereka berempat, sudah berdiri di depan gubuk sambil memandangiku seperti sekumpulan singa yang hendak menerkam mangsa. 'Tam, Do, pegang kakinya. Ngga, pegang kedua tangannya!' perintah Deni pada ketiga temannya yang lain"
Mas Adit melepaskan pelukannya perlahan.
"Ssshh... Sudah, tidak perlu kamu lanjutkan" ujar Mas Adit lembut. Entah karena tak sanggup mendengar kelanjutan ceritaku atau karena tak ingin.
Tapi aku tak menggubrisnya dan tetap melanjutkan ceritaku.
*Flashback on*
Mereka bertiga melaksanakan perintah Deni. Kulihat Deni sudah menelanjangi dirinya sendiri. Deni bergidik ringan merasakan dingin malam yang menerpa kulitnya.
"Hahaha... Pusakamu tampak culun, Den" Tama menertawakan milik Deni yang masih mengkerut.
"C u k! Matamu!" maki Deni sambil mendekatiku yang masih meronta dalam cekalan tiga orang pria itu.
Mereka berempat tertawa terbahak.
Air mataku sudah berderai karena membayangkan nasib buruk yang kini di depan mataku. Rintik hujan mulai terdengar. Mengiringi tangisan piluku. Mengiringi ratapan memohonku.
"Den, kumohon lepaskan aku. Aku...aku..." Aku memelas dan tergagap bingung.
"Cih, kau gadis sombong harus dihukum" Deni memegang daguku dan bertumpu pada lutut dengan menggagahi perutku.
Deni lalu me-lu-mat bibirku. Aku jijik sekali. Aku mengatupkan mulutku rapat-rapat.
Deni menyumbat hidungku agar aku membuka mulutku. Begitu mulutku terbuka, Deni memasukkan lidahnya. Aku merasa ingin muntah. Bercumbu dengan Ryo sangat berbeda.
Kugigit lidah Deni, dan kurasakan asin. Lidah Deni berdarah.
Plakk! Sebuah tamparan mendarat di pipiku.
"Brengsek! Gadis kurang ajar!" Maki Deni sambil meludahkan darah yang keluar dari lidahnya.
Deni melepaskan sweater yang kukenakan. Tanpa diperintah, Angga mengerti dan memberi akses agar lengan sweater bisa dikeluarkan dari lenganku.
Saat tangan kananku dilepaskan Angga, aku melayangkan tamparan pada Deni. Membuat Deni mendelik dan menyeringai semakin kejam.
Kaos ketatku di balik sweater membuat Tama dan Aldo bergumam kagum. Menampilkan lekuk tubuhku yang sempurna.
"Akan lebih baik kalau kau menurut. Tapi aku lebih suka kalau kau liar seperti ini. Kau lihat, kelelakianku tertantang" kata Deni terkekeh sambil menunjukkan pusakanya yang mulai tampak menegang dan membesar.
Aku memalingkan wajahku.
"Lepaskan aku, brengsek!" Ucapku mendongak pada Angga.
Angga hanya mengedikkan bahunya lalu beralih menatap pusaka Deni.
Deni menarik kaos ketatku keatas, melalui kepalaku. Seperti saat melepas sweater, Angga melakukan hal yang sama.
Kali ini, perasaan jijik dan malu menderaku.
Aku memandang Deni dengan memelas. Mataku masih berlinang air mata.
"Den, kumohon lepaskan aku. Aku...aku meminta belas kasihmu, Den" ujarku memelas.
__ADS_1
Deni sama sekali tidak mengindahkan perkataanku. Justru mulai menciumi dan menghisap dan menggigit leherku dengan keras.
"Aaarrhh" aku mendesis kesakitan, tapi Deni salah mengartikannya.
"Ya, mengeranglah manis. Aku suka eranganmu" bisik Deni di telingaku.
"Tolong...tolong..." Aku mulai berteriak-teriak meminta tolong. Entah pada siapa atau pada apa.
Tama, Aldo dan Deni terkekeh.
"Tidak akan ada yang datang, cantik" kata Aldo mulai merabai pahaku.
Aku mendelik kesal tapi tak berdaya. Deni meneruskan aksinya. Menyesapi leherku, lalu kembali me-lu-mat bibirku sekalipun aku mengatupkan bibirku erat-erat. Aku merasa sangat mual.
Tangan Deni menyusup ke balik punggungku mencari pengait b r a-ku. Dengan sedikit sentakan, pengait itu terlepas.
Deni menaikkan penutup dadaku ke atas. Mata Deni menatap dadaku liar.
Ya, Tuhan. Ambil nyawaku sekarang juga. Teriakku dalam hati.
Aku menggigit lidahku, berusaha mengakhiri hidupku sendiri saat Tama dan Aldo bersiul menatap tubuh bagian atasku yang telah terbuka.
"Mantap, Den" ujar Aldo.
"Den, Wulan gigit lidahnya" Angga yang berada di atasku panik.
Plakk! Plakk! Tamparan di pipi kiri dan kananku dari Deni. Membuat ujung bibirku mengeluarkan darah.
"Jangan main-main, sayang. Aku tak ingin menikmati tubuh gadis yang sudah menjadi mayat" geram Deni sambil menyeringai tepat di depan wajahku.
Cuihh! Aku meludahi mukanya.
"Dasar wanita ja*lang" maki Deni.
Deni lalu meraih sweaterku dan menjejalkan lengan sweater ke dalam mulutku. Deni tak ingin aku menggigit lidahku lagi.
Sementara di bawah sana Aldo dan Tama kompak menarik celana jeans ketat berikut CD-ku setelah mengangkat sedikit bokongku.
"Minggir kalian!" Perintah Deni pada Tama dan Aldo yang sibuk berebut memainkan kewanitaanku. Tangan mereka tak berhenti mere*mas paha dan bokongku.
Deni menggesekkan pusaka dibibir kewanitaanku.
"Sh*it, kenapa kering sekali" gumam Deni.
Deni lalu meludah ke tangannya dan membasahi pintu kewanitaanku dengan ludahnya.
Deni menusukkan pusakanya mencoba menerobos kewanitaanku. Aku berteriak teredam sambil menggelengkan kepalaku berkali-kali.
Sedikit kelelakian Deni mulai menyeruak masuk. Aku merasakan sakit luar biasa.
"Hakiitt..." Rintihku teredam sumpalan mulutku.
"Gila, sempit" kagum Deni.
Aku tetap menggelengkan kepalaย dengan mata terpejam. Deni mulai tak sabar. Ujung pusakanya yang telah masuk merupakan pembuka jalan untuknya.
Deni menghentakkan pinggulnya cepat, seketika aku mendongak dan membuka mata. Rasa sakitnya sampai ke ulu hatiku.
"Saaaakiiiitttt" teriakku teredam sambil membelalakkan mata. Langit-langit gubuk tampak begitu suram.
Setelah berhasil merobek selaputku, Deni membungkukkan tubuhnya dan berbisik di telingaku.
"Segelmu sudah berhasil kurobek. Rasanya sungguh nikmat. Thanks" ejek Deni seolah aku memberikannya dengan sukarela.
Deni membuka sumpal mulutku.
"Men-de-sah-lah!" Perintah Deni dan mulai menggoyangkan pinggulnya sambil berpegang pada kedua dadaku.
Bukan de-sa-han, justru rintih permohonan yang keluar dari mulutku dengan air mata yang tak kunjung berhenti.
__ADS_1
"Kumohon, lepaskan aku"
"Tolong..."
"Sakiiitt..."
"Kumohon jangan lakukan itu"
Begitulah ratapan memelasku dengan mata terpejam. Tapi tak mampu menembus nurani mereka berempat yang sudah dirasuki iblis.
Setelah beberapa lama Deni mengayunkan pinggulnya dengan tempo bervariasi, Deni mulai mengayun dengan sangat cepat. Membuatku merasa sangat kesakitan.
Deni mendengus-dengus seperti banteng yang habis berlarian. Lalu sejenak kemudian Deni memekik sambil menancapkan pusakanya dalam-dalam pada kewanitaanku.
Aku merasa hancur-hehancurnya. Deni menumpahkan semua ma-ni-nya dalam rahimku. Aku takut, sangat takut.
Deni ambruk di atas tubuhku.
"Milikmu nikmat sekali" gumam Deni sambil me-re-mas lembut dadaku.
Tapi perasaanku kini sudah kebas. Hujan telah berhenti, begitupun air mataku. Aku memejamkan mata dengan perasaan hampa.
"Gantian woi!" Bentak Aldo.
Lalu Deni mengangkat tubuhnya dari atas tubuhku. Deni mengeluarkan pusakanya dari dalam diriku.
Sesaat kemudian entah kelelakian siapa yang kini memasukiku. Aku tak tahu karena aku masih memejamkan mata.
Aku bisa mendengar bunyi kaleng bir yang dibuka. Bau asap rokok juga memenuhi udara. Kedua tangan dan kakiku masih dipegang erat. Mungkin mereka takut aku akan kabur.
Pria itu menjamah seluruh tubuhku yang bisa dijangkaunya sambil mengayunkan pinggulnya. Sesaat kemudian kelelakian yang menggantikan Deni memuntahkan laharnya. Aku merasa sangat basah di bawah sana. Tapi aku sudah tak bisa bereaksi apapun.
Pria selanjutnya mengambil giliran. Tenggorokanku terasa sakit karena terlalu banyak teriak dan menangis. Aku diam layaknya mayat. Entah siapa itu, telah menyelesaikan gilirannya dengan lenguhan dan rema*san pada dadaku.
"Giliranmu, Ngga!" Ucap Deni.
"A..aku.. ga usah, Den" Angga berusaha menolak.
"Kasihani burung dalam sangkar yang sudah menegang di balik celanamu" kekeh Aldo.
"Udah ngejendol gitu" ujar Tama geli.
"Cepat selesaikan!" Perintah Deni.
Berikutnya, aku merasakan kelelakian Angga menyatu dengan tubuhku. Tak butuh waktu lama, Angga sudah menyelesaikan gilirannya. Angga turun dari atas tubuhku nafas terengah-engah.
"Ayo pulang!" Ajak Deni.
Mereka berempat pergi, meninggalkanku yang diam seperti mayat. Tubuhku rasanya remuk redam. Aku merasa hancur-sehancurnya. Aku merasa duniaku runtuh. Aku merasa masa depanku hancur berkeping-keping.
Tak ada yang tersisa dalam diriku. Hanya perasaan pilu, marah dan tak berdaya.
Setelah menyadari bahwa mereka telah tak ada di sekitarku, aku menutup wajah dengan telapak tanganku. Aku menangis tersedu meratapi nasibku.
Aku tak tahu berapa lama aku menangis. Aku berhenti menangis. Lalu memunguti pakaianku yang berceceran. Memakainya dengan tangan dan tubuh gemetar hebat.
*Flashback Off*
Adit mendengarkan cerita Wulan dengan seksama. Gadis itu menceritakan kejadian lebih dari sepuluh tahun lalu dengan sangat mendetail, seolah kejadiannya baru kemarin.
Sesekali saat Wulan bercerita Adit meneteskan air mata. Alih-alih air mata, Adit justru mendapati tatapan nanar penuh luka pada mata Wulan. Hatinya marah, geram, sekaligus iba pada saat bersamaan melihat ekspresi Wulan.
Serapuh itu jiwamu, Wulan? Batin Adit terenyuh.
Jika tahu itulah yang terjadi pada Wulan di masa lalu, Adit tak akan melepaskan Deni begitu saja. Mungkin Adit sudah menjadi seorang pembunuh sekarang.
Adit merengkuh Wulan. Tak ada penolakan. Akhirnya air mata Wulan luruh setelah beberapa kali Adit mengusap punggung Wulan.
Tanpa mereka sadari, seorang wanita ikut mendengarkan cerita itu. Wanita itu bersandar pada dinding di dekat ambang pintu kamar Wulan yang terbuka. Menangis lirih sambil membekap mulutnya.
__ADS_1