Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 22 Aku Gila


__ADS_3

Aku tak tahu berapa lama aku berkurung dalam kamar mandi. Aku benar-benar shock atas apa yang menimpaku. Kupukul-pukul perutku sendiri beberapa kali sambil terisak. Seolah dengan melakukan hal itu aku bisa mengenyahkan apa yang sedang bertumbuh dalam rahimku. Aku tak terima. Rasanya takdir sedang mempermainkan hidupku.


Lelah memukuli perutku aku mengambil posisi mendekap lututku erat-erat. Aku merasa tubuhku akan hancur berkeping-keping. Aku juga tak menghiraukan suara gedoran dari bagian luar pintu kamar mandi.


Dor! Dor! Dor!


"Wulan!! Buka pintunya!! Ibu mau mandi. Ibu bisa terlambat nanti", teriak ibuku sambil menggedor pintu kamar mandi berkali-kali.


Aku tetap bergeming. Bahkan saat ibu mengancam akan mencongkel pintu kamar mandi menggunakan linggis. Aku tahu ibuku, hal itu pasti hanya sekedar ancaman belaka. Toh ibu lebih khawatir pada pintu kamar mandi, daripada khawatir akan putrinya yang berkurung di kamar mandi. Atau lebih tepatnya, lebih khawatir pada uang yang akan dikeluarkan untuk memperbaiki pintu kamar mandi jika ibu benar-benar melaksanakan ancamannya.


Akhirnya suara teriakan dan gedoran ibu berhenti. Mungkin beliau merasa lelah sehingga akhirnya memutuskan berangkat kerja tanpa mandi terlebih dahulu. Ibu pergi bekerja tanpa pamit padaku.


Aku keluar dari kamar mandi saat hampir menjelang tengah hari. Perutku rasanya melilit. Didalam kamar mandi aku tiga kali memuntahkan isi perutku. Hanya muntah air dan cairan asam lambung. Rasanya mulutku tidak enak sama sekali, pahit dan asam jadi satu. Aku melirik meja makan, tidak ada makanan yang terhidang. Aku duduk termenung di kursi meja makan. Walaupun aku merasa sangat kelaparan, tapi aku tidak berniat untuk mengisi perutku.


Biar mati kelaparan apa yang ada dalam perutku ini! Rutukku dalam hati.


Aku melihat sebuah pisau tergeletak di dapur. Tiba-tiba pikiran gila melintas dalam kepalaku dan menyambar pisau itu. Aku mengarahkan pisau pada nadi pergelangan tangan kiriku.


Hah, mungkin mati lebih baik! Aku tak perlu merasakan sakit. Aku tak perlu bingung lagi bagaimana menjalani hidup ini! Tuhan, ijinkan aku mengambil nyawaku sendiri. Batinku disertai isak tangis.

__ADS_1


Pisau semakin kutekan ke dalam nadiku. Aku merasakan pedih. Tampak darah sedikit keluar pada pergelangan tanganku yang tersayat namun tidak begitu dalam.


Klontang!! Suara pisau jatuh ke lantai. Aku tak sanggup mengakhiri hidupku sendiri.


Hahahahahahahaha.


Aku tertawa terbahak-bahak beberapa saat lamanya. Beberapa saat kemudian kembali menangis. Lalu dilanjutkan tawa yang diselingi isak tangis. Ya, mungkin sepertinya aku sudah gila.


"Kamu bodoh Wulan, kamu bodoh! Kenapa malam itu kamu dengan mudahnya percaya bahwa Deni memang niat berbaik hati menolong! Bukankah kamu sudah tahu bahwa Deni pria brengsek?!! Kenapa kamu percaya pada Deni malam itu, kenapaaa?!!!", aku berteriak marah pada diriku sendiri. Aku menjambaki rambutku sendiri sampai ada beberapa helainya yang terikut di sela jari-jariku.


"Ya Tuhan, aku jijik pada diriku sendiri. Jijik pada kebodohanku! Aku masih bisa merasakan tangan-tangan terkutuk itu menyentuh tubuhku! Apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkan perasaan ini, ya Tuhan? Apa aku harus menguliti diriku sendiri?", aku menangis melolong-lolong. Mempertanyakan pada Tuhan aku harus apa untuk menghadapi diriku sendiri.


Di kamar aku hanya bisa diam melamun. Tatapan mataku kosong, tak ada sinar kehidupan didalamnya. Tak kupedulikan rasa perih pada lambungku. Aku tak tahu bagaimana aku akan sanggup mempertahankan kewarasanku.


Saat ibuku pulang dari bekerja, aku sama sekali tak menyadarinya. Tiba-tiba saja ibu sudah duduk di bibir ranjangku dan mengguncang bahuku.


"Wulan, apa ini? Kamu hamil?" tanya ibuku sambil memperlihatkan tiga alat tes kehamilan yang tadi kutinggalkan dikamar mandi.


"Ibu baru saja mau mandi, dan melihat ini berserakan di lantai kamar mandi. Di rumah ini hanya ada kita berdua, jadi tentu saja ini milikmu karena bukan milik ibu", lanjut ibuku. Aku masih tak menanggapinya.

__ADS_1


"Pasti ini takdir. Tuhan mendukung Deni untuk menikahimu. Entah anak siapa yang ada dalam kandunganmu, anggap saja itu anak Deni. Deni akan senang mendengar tentang kehamilanmu", ibuku terus mengoceh tanpa mempedulikan aku yang diam dengan tatapan kosong.


"Ibu masak dulu ya, Nak. Tadi pagi sama siang kamu makan apa? Kamu harus sehat supaya anak dalam kandungan kamu juga sehat", ibu tersenyum lebar saat mengatakan hal itu. Senyum yang tertangkap oleh ekor mataku membuatku tersadar akan lamunan. Aku menatap sinis pada ibuku. Aku tahu apa yang beliau pikirkan. Ibu tersenyum lebar bukan karena membayangkan calon cucunya, tapi membayangkan akan berbesanan dengan keluarga Wiratmaja.


Ibu sudah keburu keluar dari kamar saat aku hendak mengomentari perkataannya. Aku menyentuhkan dahiku pada lutut saat pintu kamarku berdebam menutup. Air mata kembali membanjiri wajahku.


Ibu menjemputku di kamar saat aku tak kunjung keluar setelah dipanggil untuk makan malam. Dengan telaten ibu menuntunku ke meja makan. Saat aku enggan memakan makananku, ibu berinisiatif menyuapiku.


"Makan yang banyak. Nanti kamu sakit. Jaga diri kamu baik-baik dan calon anak Deni ini. Persiapkan diri kamu untuk menerima keluarga Wiratmaja hari Minggu nanti ya", kata ibuku.


Aku tak mengomentari apa yang diucapkan oleh ibuku. Tubuhku rasanya tak memiliki tenaga untuk berdebat. Aku menelan dengan susah payah makanan yang disuapkan oleh ibuku. Tenggorokanku rasanya sakit. Mungkin karena menangis terlalu lama. Pada suapan keempat, aku menggelengkan kepalaku menolak untuk melanjutkan makan. Ibu mencoba membujukku untuk makan sedikit lebih banyak, tapi aku bergeming. Akhirnya ibu menyerah dan menyuruhku untuk beristirahat di kamar.


Wulan kembali ke kamar dengan langkah gontai. Dia tak tahu harus bagaimana menghadapi cobaan yang bertubi-tubi menghantam di usianya yang masih terhitung belia. Haruskan Wulan pasrah dan menurut dengan apa yang dikatakan oleh ibunya? Apakah itu pilihan terbaik bagi Wulan?


***********************************


Sebenernya akutu sedih 😢 sampai sejauh ini belum ada yang baca atau komentarin novelku, atau minimal kasi like lah.. aku emang sengaja ga mau promote ke novel-novel lain yang sudah populer. Bagiku itu kayak ngepromosiin dagangan kita di lapak orang lain, padahal yang diperjual belikan sama. Ibaratnya, kita promo cabe yang kita jual di lapak orang yang juga jualan cabe. Bukan aku nyindir author lain yang promo2 gtu lho yaa.. itu cuma prinsipku aja 😬


Nulis novel ini mood-ku naik turun. Pas inget blm ada yg baca novelku sampe di bab 22 mood-ku turun. Maleeeesss banget rasanya mau lanjut.. tapi pas keinget niat awal waktu mau nulis novel "ada yang baca alhamdulillah, ga ada yang baca ya gapapa", aku jadi balik semangat lagi 😆

__ADS_1


Eh, jadi panjang ya curhatnya 😂 akhirul kata, jika ada yang baca novelku ini mohon dukungan dengan klik like dan komentar yaa.. makasi banyak sebelumnya 🤗


__ADS_2