
Hari-hari berikutnya disekolah setiap jam istirahat aku selalu kabur ke toilet perempuan. Di sekolahku toilet dipisah antara perempuan dan laki-laki. Untuk toilet perempuan, disediakan empat ruang toilet dengan posisi berjajar. Begitu bel istirahat berbunyi aku pasti langsung melesat ke toilet perempuan yang letaknya ujung dari pintu masuk lalu menguncinya. Untuk mengisi waktu selama berkurung, biasanya aku akan membawa buku masuk ke toilet untuk kubaca. Aku enggan bertemu dengan Ryo, Deni atau siapapun. Toilet wanita adalah satu-satunya tempat dimana Ryo maupun Deni cs tidak dapat menemukanku. Dan orang lain pun tak akan mengira bahwa akulah yang berkurung dalam toilet paling ujung.
Pernah suatu kali saat aku mengurung diri di kamar mandi, aku mendengar percapakan antara Lani dan Asti. Mereka berdua berteman akrab, dan juga teman sekelasku. Saat itu kamar mandi sedang sepi. Mungkin karena itu mereka berani berbicara dikamar mandi.
"Eh, Lan. Kamu bilang kamu bakal jadian sama Deni. Lha kok beredar kabar Deni bakal nikahin Wulan?" ujar Asti pada Lani.
"Aku juga ga tahu nih, As. Patah hati aku. Baru bulan kemarin aku jalan sama Deni. Di mobil Deni nyium aku hot banget, sampai tangannya ngegrayang kemana-mana. Wulan yang sok jual mahal sama dia, eh malah mau dikawinin", ucap Lani menanggapi Asti.
"Digerayangin? Maksud kamu dir*m*s-r*m*s gitu? Jangan-jangan kamu udah....", tanya Asti menggantung.
"Hush! Aku masih perawan kalau itu yang maksud. Ogah aku belum ditembak kok mau-maunya dibobol, aku ga semurah itu kali, As!", jawab Lani dengan nada sedikit kesal.
"Hahaha sorry sorry. Abisnya kamu bilang udah digerayangin sih, pikiranku jadi kemana-mana kan", kata Asti sambil tergelak.
"Sebenarnya sih, waktu itu Deni ngajakin lanjut ngamar karena Deni terlanjur on, tapi aku nolak. Aku ga mau dengan gampangnya nyerahin mahkota aku sama dia, pacaran aja belum. Akhirnya dia minta ganti yang lain. Ya terpaksa aku service dia dikit. Deni yang ajarin sih. Hahaha", aku Lani pada sahabatnya.
"Service gimana maksud kamu?" tanya Asti dengan nada heran.
"Ada deh. Nanti aja kamu minta ajari cowok kamu. Ya udah, yuk ah balik. Aku udahan nih benerin rambut", jawab Lani lalu mengajak Asti pergi dari toilet.
Aku yang tanpa sengaja dan tidak bermaksud menguping percakapan mereka merasa mual. Dari nada suaranya, Lani terdengar bangga sekali karena digerayangi oleh Deni. Deni memang laki-laki brengsek! Umpatku dalam hati.
******************************
__ADS_1
Tepat satu minggu setelah aku memutuskan untuk kembali ke sekolah, saat itu sedang pelajaran Sejarah. Bu Evi mengetuk pintu kelasku dan meminta ijin kepada Bu Endang selaku guru Sejarah untuk berbicara padaku. Bu Evi mengajakku untuk berbicara di depan pintu ruang kelasku yang tertutup.
"Nanti waktu jam istirahat kamu ke ruang BK ya", ujar Bu Evi padaku.
Aku kaget ketika diminta ke ruang BK, karena biasanya anak-anak yang dipanggil ke ruang BK adalah anak-anak bermasalah. "Ada apa ya, Bu? Apa saya ada bikin salah?" tanyaku pada Bu Evi.
"Memangnya kamu ada melakukan kesalahan?" Bu Evi bertanya balik kepadaku.
Aku hanya menggeleng menanggapi Bu Evi.
"Duh, memangnya ruangan Ibu tempat anak-anak bermasalah ya?" ujarnya berkelakar.
"Tidak juga sih, Bu", aku tersenyum tipis menanggapi gurauan Bu Evi.
Aku kembali ke kelas dan mengucap terimakasih pada Bu Endang karena mengijinkanku keluar dari kelasnya sebentar, dan Bu Endang mempersilahkan aku duduk kembali di bangkuku. Dua puluh menit sisa pelajaran Sejarah aku ikuti dengan tidak konsentrasi karena rasa penasaran.
Bel tanda istirahat akhirnya berbunyi. Setelah guruku meninggalkan kelas aku segera menuju ruang BK. Tampak Bu Evi sudah menungguku di balik mejanya. Saat aku menghampiri beliau, Bu Evi mempersilahkan aku untuk duduk.
"Ada surat untuk kamu, Lan", ujarnya sambil menyerahkan sebuah surat kepadaku.
Aku menerima surat tersebut. Ada nama dan alamat sekolahku tertera di sana. Di baliknya ada logo Universitas Kristen Petra beserta alamat lengkapnya. Aku membuka berdebar-debar melihat logonya. Apa ini kabar yang aku nantikan? Tanyaku dalam hati.
"Apa boleh dibuka disini, Bu?" tanyaku pada Bu Evi.
__ADS_1
"Tentu boleh sayang", ujar Bu Evi.
Aku membuka amplop tersebut secara perlahan. Saat aku membaca isi suratnya, mataku membelalak tak percaya. Aku nyaris menangis saking bahagianya. Pada baris awal surat tersebut tertulis kata "Selamat"
"Bu, saya diterima UK Petra dengan beasiswa penuh, Bu! Beasiswa pendidikan penuh selama delapan semester. Free tanpa biaya apapun, Bu!" ujarku memekik kegirangan.
Bu Evi tersenyum sumringah mendengar perkataanku. "Selamat, ya. Dua siswa berprestasi Ibu diterima masuk universitas dengan beasiswa penuh. Bu Evi ikut bangga", Bu Evi menyalamiku dan menepuk-nepuk bahuku.
Kemudian aku permisi pada guruku tersebut. Aku membawa surat tersebut ke perpustakaan. Aku sedang tak ingin berkurung di dalam toilet saat ini. Aku terlalu bahagia untuk terus menghindar. Di perpustakaan sepi, dan aku tak mendapati orang yang tak kuinginkan disana. Mungkin mereka bosan mencariku yang selalu berkurung di toilet, dan akhirnya menyerah.
Kubaca berkali-kali surat penerimaanku di UK Petra, dan semakin kubaca perasaan berbunga-bunga di hatiku semakin besar.
"Surat apa itu, Lan?", suara Lisa terdengar dibelakangku.
Ternyata dugaanku salah. Di perpustakaan ini ada orang yang tak ingin kutemui. "Bukan apa-apa", jawabku datar. Aku sedang tidak ingin berbagi kebahagian ini dengan siapapun. Lagipula Lisa kini bukan siapa-siapaku, karena pengkhianatannya praktis persahabatan kami terputus.
"Surat penerimaan, ya? Aku lihat logonya tadi. Selamat, ya" ujarnya tulus.
"Selamat juga untuk kamu karena berhasil jadian sama Tama. Akhirnya cintamu tidak bertepuk sebelah tangan", ucapku sinis.
"Aku.....", ujar Lisa menggantung karena kata-katanya aku potong.
"Cukup. Aku tak ingin mendengar penjelasan apapun. Aku hargai pilihanmu, yang lebih memilih cinta ketimbang persahabatan!" ucapku, kemudian berlalu meninggalkan Lisa yang mematung.
__ADS_1
Sebuah kabar bahagia akhirnya mampu sedikit mengobati luka hati Wulan. Wulan sudah berusaha menerima takdirnya. Tuhan pasti punya rencana terbaik untuk hidupnya. Wulan yakin, Tuhan sedang mempersiapkan derajat hidup yang lebih tinggi jika Wulan ikhlas dengan cobaan yang menerpanya.