Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 91 Private Beach


__ADS_3

**Hai para reader kesayangan yang setia menanti kisah Wulan. Mohon maaf dua hari ga ada update, karena sibuk sama acara peringatan dua tahun meninggalnya ayah mertua (plus setrikaan dan cucian baju yang menumpuk 😅). Sebagai permintaan maaf, bab kali ini cukup panjang. More than two thousand words.


Eh, Senin nih.. yang punya sisa vote voucher, dibagi-dibagi-dibagi 😁 jangan lupa like dan komennya 😘😘**


Seminggu setelah sidang putusan hari-hariku berlalu seperti biasa. Perayaan diadilinya Deni dan kawan-kawan, ditunda karena akan dirayakan bersamaan dengan selesainya Langit Ujian Akhir sekolah pekan depan.


Hari ini Sabtu. Seluruh petinggi PT. Textile Globalindo akan datang untuk pembukaan pabrik cabang baru secara simbolis. Departemen recruitment juga sudah mulai mempersiapkan materi untuk perekrutan karyawan baru.


Dengan diadakannya pengumuman dibukanya pabrik, menjadi penanda pula bahwa proses pembangunan sudah benar-benar selesai. Yang berarti PT. Textile Globalindo sudah putus kontrak dengan perusahaan kontraktor tempat Mas Adit bernaung.


Pukul 10.00 Pak Reza sudah naik ke atas podium yang terletak tepat di depan pintu besi besar yang terbuka setengahnya, yang merupakan pintu masuk. Sudah ada pita merah membentang di depan pintu tersebut. Dibelakang Pak Reza berdiri para petinggi PT. Textile Globalindo (termasuk diriku yang memegang nampan berisi tiga buah gunting) bersama jajaran direksi.


Pak Reza mengetuk-ngetuk microphone, berniat memulai pidatonya. Para tamu undangan, yang terdiri dari kepala desa, beberapa warga Desa Karang gayam, pekerja proyek dan Mas Adit duduk dengan tenang dibawah tenda kanopi, hendak mendengarkan pidato dari Pak Reza


"Tes 1 2 3, dicoba-dicoba..." Pak Reza hendak memulai pidatonya.


"Bapak-ibu tamu undangan yang saya hormati. Dan juga rekan-rekan saya di PT. Textile Globalindo yang saya banggakan" ucap Pak Reza dengan senyum lebar.


Pak Reza menyampaikan terima kasih atas kerjasama yang solid dari seluruh tim atas rampungnya pembangunan pabrik baru. Pak Reza juga mengucapkan terima kasih kepada warga desa yang sangat kooperatif. Sebagai penutup, Pak Reza menginformasikan bahwa open rekrutmen karyawan dilaksanakan pada hari Senin. Kesempatan dibuka selebar-lebarnya kepada siapapun yang ingin bergabung.


"Untuk gaji tanyakan sama HRD, ya! Kalau dikasih kecil, kepret aja HRD-nya" Seloroh Pak Reza saat ada warga yang berceletuk menanyakan hal itu. Yang disambut senyum kecut dari Mas Ronald dan gelak tawa dari para warga tamu undangan.


"Dengan ini saya umumkan, PT. Textile Globalindo cabang Pasuruan resmi saya buka!" Tutup pidato Pak Reza, lalu turun dari podium.


Dengan sigap aku menyerahkan nampan kepada beliau. Kemudian dua orang direksi pemegang saham tertinggi mengikuti langkah Pak Reza mendekati pita merah yang membentang.


Ketiga orang pemegang gunting memposisikan gunting pada pita, dan para tim dokumentasi sudah siap dengan kameranya. Lalu dengan aba-aba anggukan dari Pak Reza, ketiga orang secara bersamaan memotong pita merah.


Tepuk tangan riuh menyusul prosesi pemotongan pita. Pak Reza kemudian naik kembali ke atas podium.


"Kepada seluruh tamu undangan, saya persilahkan untuk lunch dengan jamuan ala kadarnya dari kami" tunjuk Pa Reza pada sederet buffet yang terletak di belakang kursi tamu. Disekeliling buffet berdiri beberapa orang pegawai catering.


Saat hendak turun dari podium, Pak Reza berbalik kembali.


"Maafkan pria tua pelupa ini. Satu pengumuman penting terlewat oleh saya.  Liburan 2 malam 3 hari di Karma Kandara Villa, Ungasan, Bali untuk semua pekerja proyek. Dan staff kesayangan saya penanggung jawab proyek ini, Wulan"


Aku terbengong mendengar penuturan Pak Reza. Benar-benar kejutan yang tak kusangka-sangka. Para pekerja proyek ber-wooo dan bertepuk tangan riuh. Aku lihat Mas Adit juga tersenyum senang.


Pak Reza turun dari podium dan menghampiriku.


"Terima kasih atas kerja kerasnya" ucap Pak Reza menyalamiku dan menepuk pundakku.


"Iya, Pak. Terima kasih kembali untuk kepercayaannya pada saya" jawabku sambil menunduk.


"Silahkan lunch dulu, Pak" aku mempersilahkan beliau menuju buffet lunch bersama para petinggi perusahaan, lalu mengarahkan pada meja khusus yang tersedia.


Setelah memastikan Pak Reza menyantap makan siangnya, aku menghampiri Mas Adit yang sedang berbincang dengan Pak Adi. Para tamu undangan yang lain telah antri untuk mengambil makan siang.


"Mas, Pak Reza bilang berangkatnya besok. Siapa-siapa yang bisa ikut didaftar lalu minta copy KTP buat pembelian tiket pesawat" ujarku menginfokan.


"Siap, Mbak!" Justru Pak Adi yang menyambut antusias. Pak Adi lalu menghampiri rekan-rekan pekerja proyek dan mengumpulkan KTP tiap orang.


"Aduh, gimana ya, Mas. Langit ujian minggu depan. Mau nolak hadiah dari Pak Reza aku juga sungkan" keluhku pada Mas Adit.


"Nanti kita obrolin sama Langit dan yang lain" ujar Mas Adit lalu mengajakku mengambil makan siang.


Setelah berbincang dengan Langit dan kedua ibuku, akhirnya diputuskan bahwa Langit tidak turut serta ke Bali. Langit sendiri yang memutuskan, karena ia lebih mementingkan ujian akhir. Langit tidak mau jika sampai harus mengikuti ujian susulan seorang diri demi dirinya ikut liburan.


Dan disinilah kami sekarang, Karma Kandara Villa. Salah satu villa mewah dengan private beach di Ungasan, Bali. Setelah menempuh waktu satu jam dari Bandara Juanda ke Bandara Ngurah Rai, dan 30 menit dari Ngurah Rai menuju villa dengan travel guide yang disewa oleh perusahaan selama kami berada di Bali. Kami semua dibuat berdecak kagum dengan villa yang disewa oleh Pak Reza, sang Dirut. Beliau memang dikenal royal kepada bawahannya dengan kinerja yang dinilainya memuaskan.


Kami sampai di Bali pukul 12.30 WITA. Begitu sampai di villa, pihak villa sudah menyiapkan menu makan siang yang meneteskan liur. Sate lilit, ayam betutu, dan beberapa hidangan khas Bali. Perusahaan menyewa empat villa, dengan masing-masing empat kamar. Satu kamar akan dihuni oleh dua sampai tiga orang.


Setelah makan siang, kami semua sepakat untuk acara bebas. Para pekerja yang sudah mengetahui hubunganku dan Mas Adit dari Pak Adi, ber-koor cieee mempersilahkan kami 'kencan' berdua.


Aku tak menyangka, seorang Pak Adi yang tampak pendiam, ternyata seorang bigos. Tepat setelah Pak Adi menyaksikan 'live show' kami, Pak Adi langsung berkoar-koar kepada para pekerja proyek.

__ADS_1


"Haduh, lek. Bar ganggu wong arep ***-*** aku (habis ganggu orang mau ***-*** aku)" Seloroh Pak Adi kala itu, pada pekerja proyek yang sedang sibuk menyemen dan memasang batu bata.


"Sopo tho?" Tanya pekerja tersebut nampak tak paham.


"Kuwi (itu) Mas Adit karo (sama) Mbak Wulan! Lagi...." Kekeh Pak Adi menggantung kalimatnya.


Gosip dihentikan karena Mas Adit datang menghampiri, lalu menoyor pelan lengan Pak Adi.


Setelah saling berpamitan, semua orang berpencar ke tempat favorit masing-masing. Aku dan Mas Adit memilih duduk-duduk di cafe dekat villa sambil berbincang.


"Aku rencana mau perpanjang kontrak rumah yang di Pasuruan, Lan" cetus Mas Adit.


"Lho, ngapain?" Tanyaku heran.


"Aku ga bisa jauh dari kamu. Aku mau PP Surabaya-Pasuruan. Dekat, cuma satu jam perjalanan" terang Mas Adit.


"Kalau aku saran, jangan Mas. Kita belum pernah coba LDR-an 'kan? Kangennya pasti tumpeh-tumpeh" selorohku.


"Tapi aku ga mau jauh dari orang yang aku sayang. Aku ga mau kejadian yang sama terulang. Aku tidak ada saat orang yang aku cintai membutuhkanku" lirih Mas Adit.


"Ada Bune sama Ibu, Mas. Ada Langit juga. Mereka akan menomorsatukan Mas Adit untuk setiap kabar tentangku. Lagipula, aku juga belum tahu akan ditempatkan dimana setelah ini. Entah ditarik kembali ke Surabaya, atau memimpin cabang yang di Pasuruan" terangku.


Akhirnya Mas Adit menyetujui saran dariku mengenai LDR-an yang sebenarnya tidak terlalu jauh. Long distance relationship, but without long distance. Ha! Bingung ga tuh. Jarak Pasuruan-Surabaya memang tidak jauh, satu jam lewat tol. Tapi tetap saja, kami tidak akan bisa bertemu setiap waktu.


Menjelang sore, kami memutuskan berjalan-jalan di pinggir pantai. Bergandengan tangan menyusuri bibir pantai, sambil menanti matahari terbenam. Setelah cukup lelah berjalan kami duduk di pinggir pantai masih sambil menautkan tangan. Menatap jauh ke matahari yang membulat sempurna, perlahan masuk ke peraduannya di ufuk barat. Menampilkan rona jingga mempesona.


Adit mengangkat lalu mengecup tangan Wulan lembut. Tangan dalam genggamannya terasa basah. Entah kapan trauma Wulan akan sembuh. Sambil mengecup tangan Wulan ia berjanji akan sabar menanti saat itu tiba. Lalu bisa mencintai Wulan tanpa beban dan seutuhnya.


Wulan tersenyum sangat manis ke arahnya. Membuatnya merasa tak tahan untuk tak mengecup bibir itu.


Cup!


Sebuah ciuman ringan mendarat di bibirnya, sukses menampilkan sembuat kemerahan di pipi Wulan.


Ah, cantik sekali! Batin Adit terpesona.


Hah! So awkward moment! Ga banget kalau sampai aku beneran bau.


Aku yang baru saja dicium olehnya, sontak mengendus ke arah ketiak.


Lalu aku melihat senyum jenaka di wajah Mas Adit yang telah menjulang berdiri di sampingku.


"Ish, ngerjain aja nih!" Kesalku manja lalu mengejar Mas Adit yang telah terlebih dahulu berlari.


Kami berkejaran sesaat, lalu bergandegan tangan menuju villa.


Setelah mandi, dan vidcall dengan Langit yang diakhiri dengan janji akan membawakan bermacam oleh-oleh, aku beranjak menuju ruang makan. Hampir semua sudah berkumpul.  Menu malam ini adalah western. 'Well done' steak, lengkap dengan mushroom sauce, sayuran, dan mashed potato.


"Mangan daging thok iso wareg, tibane yo (Makan daging aja bisa kenyang ternyata ya)!" Celetuk salah satu pekerja.


"Nek aku, yo ora tuso (Kalau aku, ya ga puas)!" Kekeh Pak Adi sambil membersihkan giginya dengan tusuk gigi.


"Yo pancen wetenge pean cembut, Pak. Lambunge ono telu paling (Ya memang perut kamu buncit, Pak. Lambungnya ada tiga mungkin)" jawab pekerja yang lain.


Pak Adi dan kami tergelak. Setelah makan malam, kami berbincang di teras villa. Pukul sepuluh lewat sedikit, aku pamit undur diri untuk beristirahat terlebih dahulu.


Sampai di kamar, aku langsung tertidur. Aku bangun karena mimpi. Mimpi yang tidak aku ingat setelah aku terbangun.


Kuraih ponselku di atas nakas. Kulihat pukul 01.05 dini hari. Ada notifikasi pesan dari Mas Adit


Udah tidur? Nite. Sleep tight -emo kiss love-


Aku tidak dapat memejamkan mataku kembali. Aku memutuskan keluar kamar, dan menikmati pantai malam hari yang pasti sepi. Aku membawa kain bali untuk nantinya akan kugunakan sebagai alas duduk.


Pantai memang lengang, tanpa kehadiran seorangpun disana. Memang masih dini hari. Hanya orang kurang kerjaan sepertiku yang akan duduk di pinggir pantai di jam seperti ini.

__ADS_1


Aku menggelar kain bali yang aku bawa. Sedikit kesulitan karena hembusan angin laut yang sedikit kencang. Akhirnya dengan mengganjalnya dengan sandal kain itu bisa tergelar.


Aku duduk sambil menekuk lutut. Menopang dagu dengan lutut dan mengamati lautan gelap di depan sana.


Maafkan aku, Mas. Aku belum bisa mencintai dan dicintai seutuhnya.


Aku merasa sangat bersalah pada Mas Adit. Aku serius dengan ucapanku tempo hari, bahwa aku siap melepaskan Mas Adit jika ia sudah tidak bisa sabar akan kondisiku. Bukan karena aku tidak mencintainya, tapi aku tak ingin egois.


Niat Mas Adit untuk melamarku aku tolak mentah-mentah. Aku masih merasa rendah diri akan kondisiku. Bagaimana aku bisa memberikan Mas Adit haknya jika traumaku belum hilang.


Nanti. Janjiku entah kapan yang akan bisa kutepati.


Tiba-tiba sebuah lengan kokoh merengkuh leherku dari belakang. Aroma woody yang maskulin menyergap indra penciumanku. Aroma khas Mas Adit. Aku tersenyum tipis dan mengelus lengan Mas Adit.


"Kirain udah bobo" cetus Mas Adit di sisi kananku. Dagunya diletakkan di pundakku.


"Kebangun karena mimpi. Tapi lupa mimpi apa" jawabku.


Mas Adit mngecup pipiku sekilas. Aku menolehkan wajahku padanya.


Aku berinisiatif mencium bibirnya terlebih dahulu. Selama ini selalu Mas Adit yang menciumku terlebih dahulu. Hanya kecupan singkat.


Mas Adit tersenyum senang. Tangannya kini sudah berada ditengkukku dan kami duduk berhadapan. Tanganku kuletakkan di dada Mas Adit. Kami bertatapan dalam.


Lalu tanpa aba-aba, Mas Adit mendekatkan bibirnya pada bibirku. Aku refleks memejamkan mata. Menikmati setiap buaian lembut bibir Mas Adit. Tatkala lidah itu menjilati bibirku, aku membuka bibirku dan mengerang lirih.


Lidah kami saling bertautan. Sesekali saling menggigit dengan menggoda. Tanganku telah berpindah ke kepala Mas Adit dan meremas lembut rambutnya.


Lalu salah satu tangan Adit berpindah ke dada Wulan. Wulan melepaskan ciuman kami, dan terengah. Adit menunggu reaksi Wulan. Jika ia sudah mulai sedikit berani, nafas Wulan akan tercekat. Tapi kali ini dilihatnya Wulan mencoba menenangkan diri.


Adit semakin berani dengan meremas lembut dada itu. Bibirnya berpindah ke leher Wulan. Mengecup lembut leher yang basah kuyub oleh keringat. Adit abai pada rasa asin di lidahnya.


Adit mengangkat wajah dan menatap dalam mata Wulan. Meminta izin untuk tindakan yang akan dilakukannya selanjutnya. Wulan diam menanti.


Adit menaikkan kaos lengan panjang Wulan dan melepaskan kaos itu melalui kepalanya. Tak ada protes, yang artinya Wulan setuju dengan tindakannya.


Pemandangan di depannya membuat (giliran) nafas Adit tercekat.


Goddamned. Dada terbungkus bra merah berenda itu sungguh indah. Untuk menyembunyikan rasa malunya, Wulan menubrukkan wajahnya di dada Adit.


Adit senang bukan kepalang, seolah tindakan Wulan memberi izin padanya untuk membuka kait yang ada di belakang punggung gadis itu.


Cetik! Terbuka sudah pengait itu.


Adit tak menyiakan waktu. Dire-masnya lembut dada itu, membuat Wulan mende-sah dan mendongakkan wajah.


Adit membenamkan wajah di leher Wulan sekali lagi. Meninggalkan beberapa bekas kemerahan di leher putih itu. Perlahan ciuman Adit turun ke dada Wulan. Menyesap lembut puncak cokelat muda yang begitu menggoda.


Adit mengambil jeda dengan membuka kaosnya sendiri. Selama jeda itu tak ada sedikitpun protes dari Wulan. Lalu dengan izin melalui tatapan mata, Adit menarik turun celana training Wulan beserta CD-nya. Wulan menunduk malu. Lalu mengangkat wajah saat melihat tonjolan pada bagian depan celana Adit.


Adit sedikit mengerling, lalu menurunkan sendiri celananya. Menyisakan boxer ketat sebagai penutup terakhir.


Angin laut tidak mampu mengusir keringat yang keluar dari tubuh Wulan. Keringat itu seperti bentuk perlindungan diri dari kenangan buruk Wulan akan malam kelam itu. Tubuh Wulan tampak berkilat basah, dan di mata Adit kilat itu begitu menggoda.


Dilu-matnya lagi bibir Wulan, lalu secara perlahan menurunkan posisi mereka menjadi berbaring. Tangan Adit tak tinggal diam. Bergerilya mencapai apa yang bisa dicapai. Me-re-mas apa yang bisa di-re-mas. Dada, paha, perut dan bokong.


Saat tangan Adit mencapai kewanitaan Wulan, Adit merasa 'itu' sudah cukup basah. Tanpa Wulan sadari, Adit telah melepaskan boxer yang merupakan penutup terakhir dirinya


Sh*it! Aku tidak bisa menahan diri lagi! Maki Adit dalam hati.


Mata Wulan membelalak dengan indahnya saat menyadari kelelakian Adit terasa menekan pahanya. Mereka abai pada dinginnya angin laut, karena mereka sedang saling menghangatkan.


Dengan tatapan dalam dan suara parau menahan gairah, Adit meminta izin pada Wulan.


"Bolehkah?" Tanya Adit.

__ADS_1


Wulan menyadari, degup jantungnya kali ini begitu berbeda. Biasanya, ia akan membenci saat degup bertalu-talu itu datang. Tapi kali ini, degup jantungnya terasa begitu sesak yang menyenangkan.


__ADS_2