
**Senin Senin, vote mana vote????? #modetukangpalak# jangan lupa jempol juga dipencet ya para reader setia WML 😘😘😘**
Bruaaakk!! Remote televisi yang tergeletak di sofa menjadi sasaran kemarahan dan kekecewaanku. Masalah sepenting ini Mas Adit tidak mengatakan apapun padaku? Dia anggap aku selama ini dimatanya?
Ibu dan Bune tampak terperangah. Bumi yang baru saja diam dari menangisnya kembali manangis, terpengaruh oleh atmosfer negatif yang kukeluarkan.
"Wulan, apa-apaan kamu?" Seru Ibu.
"Mas Adit menganggapku apa selama ini? Masalah sepenting ini, tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Haruskah aku mendapat informasi mengenai suamiku sendiri dari pihak ketiga? Hah, suami! Hanya aku yang menganggap dia suami, tapi sepertinya dia tidak menganggap aku sebagai istrinya!" Ungkapku nyaris histeris.
"Tenangkan dirimu! Lihat anakmu menangis ketakutan!" Hardik Ibu sambil meraih Bumi yang ada di pangkuanku, lalu menimang-nimang untuk menenangkannya.
"Bagaimana aku bisa tenang, Bu, Bune! Asal kalian tahu, aku juga baru saja menemukan fakta bahwa Mas Adit mengidap kanker paru stadium awal. Tapi tak sedikitpun Mas Adit mengatakan sesuatu padaku!" Ujarku dengan geram.
"Kanker paru?" Bune bertanya dengan suara tercekat. Aku akhirnya menjelaskan penemuan yang baru saja kudapatkan.
"Aku merasa tak dihargai sebagai istrinya! Kalau seperti ini, untuk apa Mas Adit menikahiku? Jika dia tidak menganggap aku sebagai istrinya, lebih baik kami berpisah saja!" Ucapku dengan penuh emosi.
"Wulan, hati-hati kalau bicara!" Hardik Ibu
"Aku kecewa, Bu! Aku merasa diriku tak di anggap!" Ujarku dengan air mata yang telah menggenang. Apa memang Mas Adit setertutup ini? Menyembunyikan semua masalah untuk dirinya sendiri.
"Jangan gegabah, Nduk. Jangan ambil keputusan saat pikiran sedang cupet" nasihat Bune.
"Tarik nafas panjang, keluarkan perlahan dari mulut. Tenangkan dirimu!" Perintah Ibu.
Aku menuruti nasihat kedua ibuku. Pikiranku mulai jernih, kulihat Bumi yang meraih-raih ke arahku, meminta untuk kugendong. Aku mengambil Bumi, lalu memeluknya erat-erat, menghirup seluruh aroma bayi yang semakin menenangkanku.
Perlahan, aku menyadari bahwa Mas Adit memanglah pribadi yang tertutup. Bahkan mengenai mendiang istrinya, Mas Adit tak pernah menceritakan sebab musabab bagaimana istrinya meninggal, dan mengapa ia begitu menyalahkan diri atas meninggalnya sang istri. Tapi aku tidak menyangka, Mas Adit sangat tertutup dan cenderung introvert.
"Lalu Wulan harus gimana?" Ucapku dengan nada frustasi.
"Nak, menikah itu ya memang seperti ini. Kita akan hidup sampai akhir hayat, jika kamu berjodoh sampai mati dengan pasanganmu, dengan orang yang mungkin berbeda karakter jauh dengan kita. Apa kamu pikir mudah? Tentu saja tidak. Keduanya harus saling bahu membahu, saling memahami, dan memaklumi karakter masing-masing"
"Ini dunia sesungguhnya, tidak seperti dunia dongeng, happy every after di akhir cerita. Bukan pula ala-ala drakor seperti yang kamu sering tonton, dunia halu yang bucin-bucinan seperti yang banyak didengung-dengungkan oleh orang-orang sekarang. Kehidupan pernikahan akan selalu ada cobaan yang senantiasa menguji tingkat kesabaran dan keimanan kita. Jika kita lolos dari satu cobaan, kita akan naik kelas. Jika kita tidak bisa menjalani ujian itu, kapal rumah tangga kita akan karam" tukas ibu panjang lebar.
Bune juga tak mau kalah, ikut memberikan petuahnya. "Cobaan dalam kehidupan pernikahan ada banyak macamnya. Ada yang suami-istri saling mencintai, tapi tidak dikaruniai momongan seperti Bune dan Pakne dulu. Ada juga yang sudah dikaruniai anak, tapi entah istri atau suaminya dipanggil Tuhan terlebih dahulu, seperti ibumu. Ada juga yang semua sudah terpenuhi, diuji oleh pasangan yang tak setia. Suami-istri setia, putra-putri sehat, tapi diuji dengan masalah ekonomi. Bisa jadi, harta berlimpah tapi diuji dengan anak berkebutuhan khusus. Banyak, Nduk, kalau mau dijabarkan satu-satu"
"Sekarang tinggal bagaimana kita menghadapi ujian yang menimpa. Ingat, ucapan adalah doa. Kalau kamu setiap mendapat ujian mengatakan 'pisah', suatu saat kata-kata tersebut akan menjadi kenyataan. Mungkin mudah bagimu dan suamimu pisah, karena awalnya kalian memang dua orang asing. Tapi bagaimana dengan anak-anak kalian nanti? Anak-anak yang terikat oleh pertalian darah, tentu tidak semudah itu memisahkan diri baik dari ayah atau ibunya. Kuncinya, bersabar. Ingat, Tuhan tidak memberi ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya"
Aku mendengarkan semua petuah tersebut dengan seksama. Aku menyesali kata pisah yang begitu mudahnya meluncur dari mulutku. "Nanti malam Wulan akan ajak Mas Adit berbincang" ujarku akhirnya.
__ADS_1
Setelah makan malam, semua kembali ke kamar masing-masing. Langit juga pamit untuk langsung tidur karena berniat bangun subuh untuk belajar, menyiapkan diri untuk ulangan harian. Aku memilih menunggu Mas Adit di kamar, sembari meninabobokan Bumi.
Pukul sepuluh, Mas Adit bilang ia masih ada pekerjaan dan memintaku tidur terlebih dahulu jika aku sudah mengantuk. Tapi aku bertekad menunggu dan menyelesaikan masalah malam ini juga.
Pukul 23.45 akhirnya aku mendengar suara mobil Mas Adit memasuki pagar. Aku menyambutnya di depan pintu seperti biasa.
"Mandi dulu, ya, Mas. Udah aku siapin air hangat" ucapku sambil meraih tas laptop yang dibawanya, lalu menyalaminya.
"Mandiin" rengeknya manja.
"Duh, kalau manja-manja gini mesti ada maunya" cibirku.
Mas Adit hanya terkekeh sambil meremas pinggangku.
"Pintu kamar mandinya dibuka aja, biar kalau Bumi kebangun kita bisa denger" ujarnya sambil menggandengku ke kamar mandi.
Dan benar saja, acara mandi bersama pasti akan berubah menjadi acara mandi plus-plus. Aku yang awalnya menolak membuka baju, karena berniat hanya membantu menggosok punggungnya, dengan dalih saling menggosok punggung Mas Adit akhirnya berhasil mene*lanjangiku. Dari menggosok punggung, tangan Mas Adit menjalar ke depan me-re-mas-i dadaku, kecupan-kecupan nakal menimbulkan percikan hasrat lalu membakar hormon yang menjadikannya kobaran naf-su. Dan kita semua tahu sendiri kelanjutannya 😅
Aaaakk. Rengekan kecil terdengar dari arah kamar.
Mas Adit masih menghunjamkan miliknya padaku dari belakang dengan posisi berdiri. "Mas, Bumi bangun, Mas" de-sah-ku sambil menoleh ke arahnya. Oh, tampan sekali suamiku. Poninya menjuntai menutupi sebagian dahinya, ditambah ekspresinya yang sedang menikmati percintaan kami, membuatku merasa bersalah sempat berpikir ingin berpisah.
Oaaaaaa. Suara tangisan Bumi semakin kencang, merasa diabaikan dan tak mendapat respon dari orang tuanya.
Tak sampai dua menit, Mas Adit menusukkan miliknya sedalam-dalamnya dan menggeram sambil mencengkram kedua bokongku. Akupun kembali meraih puncak keduaku.
Tangisan Bumi semakin kencang. Mas Adit tergesa membilas milikku seadanya, lalu menyerah bathrobe. Aku bergegas keluar kamar mandi sambil mengenakan bathrobe.
"Maaf ya, anak Ibu. Ayah nakal tuh!" Gumamku lalu menyusuinya. Begitu mendapat puncak dadaku, Bumi langsung menyesapnya dengan rakus. Rupanya Bumi-ku kelaparan.
Mas Adit mengecup puncak kepalaku, lalu kening Bumi yang sedang menyusu.
"Anak ayah lapar rupanya. Kenyang-kenyangin deh ne-nen-nya" ucap Mas Adit sambil menjawil pipi montok Bumi.
"Iya, soalnya tadi ayahnya udah ambil bagian duluan" cibirku, yang hanya ditanggapi dengan kerlingan matanya. Sekali lagi, aku terpesona.
Mas Adit menuju lemari kecil tempat menyimpan makanan ringan. Keluarga kami memang suka sekali mengemil. Maka dari itu banyaknya waktu senggang yang dimiliki para wanita di rumah ini adalah membuat camilan, atau memasak mencoba-coba menu baru. Selain sehat, juga menghemat pengeluaran.
"Sayang, rumah baru kita tinggal finishing saja. Dua minggu lagi, perabotan bisa masuk. Jadi praktis kalau kamu mau secepatnya menempati rumah baru, jadi dua minggu lagi kita pindahan. Tapi aku ada satu kendala kalau kamu mau pindahan secepatnya" ujar Mas Adit sambil mengunyah keripik pisang.
"Kendala apa, Mas?" Tanyaku sambil perlahan melepaskan puncak dadaku dari mulut Bumi. Bumi sudah mulai tidur.
__ADS_1
"Tiga hari lagi aku ada kerjaan di luar kota, setidaknya selama satu bulan" Adit terpaksa berdusta. Adit bukan ada pekerjaan, tapi ia akan ke Singapura untuk menjalani operasi. Ia ingin masalah kanker paru yang dideritanya bisa diangkat tuntas. Dan juga, Adit sudah mulai menghentikan kebiasaan merokoknya.
Masalah gratifikasi juga sudah beres. Dirinya terbukti tak bersalah sama sekali. Bukti foto makan malam Adit bersama petinggi perusahaan yang mengadakan tender, sama sekali tidak menguatkan klaim dan tuduhan tersebut. Tuduhan yang dilayangkan adalah pemberian discount tidak wajar pada proyek tender tersebut sekaligus perjalanan wisata ke Maldives yang dibiayai PT. Bangun Karya untuk petinggi perusahaan pelaksana tender. Karena memang kebetulan dua hari setelah makan malam tersebut, petinggi tersebut berlibur bersama keluarganya ke Maldives.
Setelah diusut tuntas, perusahaan dan dirinya sama sekali tidak bersalah. Isu tersebut sengaja dihembuskan pihak lawan, agar pelaksana tender mengurungkan niatnya memilih PT. Bangun Karya sebagai pemenang. Kini, perusahaan Adit tengah melaporkan balik pihak lawan dengan pencemaran tuduhan nama baik.
Setelah dari Singapura Adit berencana menceritakan semuanya pada sang istri. Setidaknya masalahnya tuntas, sehingga ia tidak perlu membuat orang-orang yang dicintainya mencemaskan dirinya. Jika ia sudah dinyatakan sembuh, maka istri dan ibu mertuanya tidak perlu merasa khawatir. Toh, bekas luka operasi tentu tak bisa Adit sembunyikan, maka dari itu mau tidak mau dirinya pasti harus jujur.
"Kemana?" Tanyaku sambil berjalan mendekat ke arah suamiku. Aku duduk di depannya, lalu meraih tangan kokoh itu dan menautkannya.
"Ke Bali" jawab Adit sekenanya. "Aku minta izin untuk pergi"
"Apa hanya itu yang Mas ingin sampaikan?" Tanyaku dengan penuh selidik. Aku masih berharap Mas Adit akan menceritakan sendiri masalah yang tengah dihadapinya.
Mas Adit menatapku bingung.
"Mas ingat dulu saat Mas memintaku menjadi kekasihmu? Mas bilang, untuk mengatasi traumaku 'kita hadapi bersama'. Dan terbukti, kita bisa melaluinya bersama" mas Adit mengangguk.
"Aku siapamu, Mas?" Tanyaku dengan perasaan terluka yang sulit ku sembunyikan.
"Istriku tercinta" jawab Mas Adit dengan mengecup punggung tanganku.
"Sebelum aku memberi izin, aku ingin Mas menjelaskan sesuatu dulu padaku" ujarku lalu melepas tautan jari kami, dan menuju nakas. Berjongkok dan mengambil sebuah amplop cokelat cokelat.
"Tolong jelaskan masalah gratifikasi dan hasil Rontgen ini, Mas" ujarku dengan menatap matanya dalam.
"Kamu...sudah tahu? Tapi bagaimana?" Tanya Mas Adit sambil melihat amplop dan diriku bergantian.
"Tak perlu tahu darimana dan bagaimana aku mengetahuinya. Aku hanya ingin mendengar penjelasan Mas, kondisi Mas sebenarnya, dan kenapa masalah sepenting ini mengenai suamiku sendiri, harus aku ketahui dari pihak ketiga?"
Lalu Mas Adit membeberkan semuanya padaku, termasuk rencananya ke Singapura tiga hari lagi. "Maafkan aku. Aku tidak ingin membuat kalian, terutama kamu, merasa cemas dan khawatir. Kamu sedang meng-ASI-hi ekslusif, dan aku tidak mau kabar mengenai penyakit dan masalahku berdampak pada kualitas dan kuantitas produksi ASI anak kita" mas Adit mengakhiri ceritanya dengan permintaan maaf penuh penyesalan padaku.
"Mas tahu, rasa cemas dan khawatir itu ada karena aku begitu mencintaimu. Seandainya Mas adalah orang lain, mungkin aku hanya akan sekedar bersimpati, hanya akan merasa kasihan. Salahkah mencemaskan dan mengkhawatirkan orang yang kita cinta? Aku mencintaimu, Mas. Izinkan aku menunjukkan rasa cintaku dengan selalu berada di sisimu apapun badai yang sedang menerjangmu. Aku istrimu, susah-senang kita lalui bersama" ujarku sambil merangkum wajahnya dalam kedua telapak tanganku.
"Maafkan aku" gumam Mas Adit dengan penuh penyesalan.
"Aku maafkan. Tapi dengan satu syarat" Mas Adit menatapku lekat-lekat.
"Berjanjilah. Berjanjilah untuk selalu terbuka padaku, sekecil apapun masalah yang sedang Mas hadapi. Bahkan jika seandainya, Mas merasa tidak puas dengan goyanganku" ucapku, lalu mengedipkan sebelah mataku nakal.
"Nantangin kamu, ya!" Geram Adit sambil menubruk sang istri, sampai Wulan jatuh telentang. Wulan pasrah, hanya bisa tertawa kecil saat cumbuan suaminya mendarat kembali disekujur tubuhnya. Bersiap untuk kembali bergoyang!
__ADS_1