
Delapan Tahun Kemudian
PoV Deni
Aku sudah mendekam di penjara selama tiga belas tahun. Awal-awal aku menempati rutan ini, sambil menunggu sidang hasil putusan, aku sering membuat onar. Membangkang pada petugas, ribut dengan napi yang lain, bahkan pernah menyelundupkan miras ke rutan. Itu semua aku lakukan sebagai bentuk kemarahanku. Aku marah pada wanita brengsek yang telah kurang ajar berani memenjarakanku.
Titik balik perubahan sikapku adalah saat aku mendengar kabar luar biasa menjelang sidang putusan, dari ART-ku. Tapi aku tak pernah bercerita mengenai kabar itu kepada Papa, karena aku kini merasa kerdil. Aku berencana menemuinya setelah aku menebus dosa-dosaku di penjara ini. Setidaknya aku bisa sedikit menunjukkan bahwa aku telah bertaubat. Sungguh setelah mendengar kabar itu aku ingin berubah. Aku menyadari bahwa yang selama ini aku lakukan salah.
Semua kenakalan yang kulakukan semata-mata karena aku dendam pada papa karena merenggut nyawa ibuku sendiri. Perbuatan-perbuatan nakalku dulu merupakan bentuk protesku karena Papa telah begitu tega membunuh Mama dan membuatku melihatnya. Dan juga aku ingin melihat sejauh mana papa akan melindungi perbuatanku, sebagaimana aku melindungi perbuatannya.
Aku sebenarnya trauma dengan kejadian itu, sempat merasa takut berdekatan dengan papa. Tapi papa yang selalu memanjakan dan selalu membelaku untuk setiap kenakalan yang kulakukan, membuatku berpikir bahwa semua yang aku lakukan tidak masalah karena ada papa yang akan selalu membela, menutupi kesalahan, dan membereskan semua masalah yang kutimbulkan.
Hari ini adalah hari pembebasanku, karena terpotong akumulasi remisi selama dua tahun. Adakah orang yang sudi menyambut kebebasanku? Papa meninggal dunia tahun lalu, aset pabrik garment milik papa sudah diakusisi oleh PT. Textile Globalindo, tempat Wulan dulu bekerja. Hasil dari akuisisi dan penjualan rumah aman dalam rekeningku, dan aku yang kini telah insyaf tidak berniat menghamburkan uang itu. Aku berencana keluar dari Desa Karang Gayam, lalu memulai hidup dan usaha baru entah dimana.
"Deni Wiratmaja!" Pak Subandi, seorang sipir penjara memanggilku.
Aku menghampiri Pak Subandi yang tengah membuka sel tahananku. Empat orang lain yang satu sel denganku ikut berdiri, hendak memberikan pelukan selamat dan perpisahan.
"Selamat, bro! Empat bulan lagi aku nyusul!" Ucap Anton, yang di penjara karena kasus penjambretan.
"Jangan balik sini lagi. Jangan kayak gua!" Geram Bang Joko, seorang residivis perampokan rumah kosong.
Dua yang lain hanya menyalamiku dan menepuk bahuku. Aku tersenyum dan menyalami balik mereka satu per satu.
"Aku duluan, Bang! Aku sudah kasih nomor HP-ku. Kalau sudah bebas jangan lupa kabarin, ya!" Pintaku pada mereka.
Akupun bergegas mengikuti Pak Subandi, yang membawaku ke kantor sipir. "Selamat, ya. Saya lihat kamu sudah banyak berubah. Jangan jadi penjahat kambuhan seperti si Joko", Pak Subandi menyerahkan tas ransel yang berisi beberapa potong baju, HP, dan beberapa peralatanku yang lain.
"Terima kasih, Pak" aku menerima tas ransel itu, lalu menyalami Pak Subandi. Pak Subandi mengantarku sampai pintu keluar rutan.
Aku terdiam sejenak sebelum melangkahkan kakiku keluar pintu, menghirup nafas dalam-dalam, mencoba membandingkan dengan aroma kebebasan yang akan segera kuhirup. Apakah dia akan menyambutku? Aku tak mau berharap terlalu tinggi.
PoV Nia
"Bun, aku ingin tahu siapa ayah! Aku sudah dua belas tahun, sudah masuk SMP" Tukas Adra pada Bundanya, Nia.
Aku menghela nafas. Huufftt. Padahal dulu aku asal berjanji saja. "Kenapa kamu begitu ngotot ingin tahu siapa ayahmu, Dra? Bunda tidak mau kamu kecewa setelah tahu siapa ayahmu!" Tukasku dengan kesal.
"Kecewa atau tidak, biar Adra yang tentukan sendiri" ucap Adra berkeras.
__ADS_1
"Ayahmu sudah mati!" Dustaku
"Dimana kuburannya?" Adra tahu Bundanya berdusta. Jika memang ayahnya sudah meninggal kenapa tidak dari dulu-dulu Bunda mengatakan hal itu dan mengajaknya ziarah ke makam sang ayah.
Kembali aku menghembuskan kasar nafasku. "Ayahmu dipenjara. Dia seorang pemerkosa"
Adra menatap lekat-lekat wajah Bundanya yang tampak lelah sepulang bekerja. Tak ada gurat dusta disana.
"Besok antar Adra ke penjara. Adra pengen ketemu ayah" Adra sungguh ingin bertemu ayahnya. Terlebih ayahnya sudah menebus kesalahannya di penjara, Adra ingin tahu bagaimana pendapat ayahnya tentang dirinya.
"Bunda harus bekerja" ujarku mencoba mengelak.
"Besok Sabtu, Bunda cuma setengah hari. Bunda bisa ambil jatah cuti, atau izin besok" kata Adra.
"Terserah padamu" Aku akhirnya mengalah.
"Ceritakan sedikit mengenai ayah" pinta Adra.
"Kamu tahu 'kan hanya Uti yang sesekali menemuimu? Itu karena Uti yang mulai bisa menerimamu. Sementara Kung-mu masih marah pada Bunda. Bunda hamil kamu di luar nikah. Kamu jangan mengikuti jejak Bunda, jaga kehormatanmu untuk suamimu kelak!" Bagaimanapun putriku sudah beranjak remaja, dia sudah mengerti mana yang baik mana yang tidak.
Aku melanjutkan ceritaku. "Ayahmu dulu pria yang brengsek, entah sekarang. Semoga penjara mampu merubah dirinya. Malam setelah Deni mengantarku pulang, keesokan harinya Bunda kerja seperti biasa. Tapi tak nampak batang hidungnya di pabrik. Padahal biasanya ia akan selalu melenggang tebar pesona pada para pegawainya"
"Setelah berhubungan, keesokan harinya ayahmu akan memberikan pil pencegah kehamilan pada Bunda. Tapi karena pengeroyokan itu, pil tersebut tak bisa diberikan oleh ayahmu pada Bunda. Bunda baru tahu bahwa Bunda hamil, setelah Bunda muntah-muntah tiga hari berturut-turut dan Uti-mu mengajak Bunda ke dokter. Setelahnya, Kung mengusir Bunda, mengatakan bahwa ia tak sudi melihat anak yang cuma membuat malu keluarga. Dengan berbekal tabungan dan kartu ATM yang diberikan oleh Uti, Bunda pergi dari rumah. Melahirkanmu, kemudian mencari kerja. Dan disinilah kita sekarang" ujarku mengakhiri cerita.
"Kenapa Bunda tidak mencoba menghubungi ayah, meminta pertanggungjawabannya?" Tanya Adra.
"Ayahmu di penjara. Bagaimana bisa dia bertanggung jawab?! Lagipula Bunda kesal dengan penolakannya saat Bunda hendak menjenguknya dulu. Bunda merasa, habis manis sepah dibuang!"
"Tapi siapa yang tahu, Bun!" Adra berkeras.
"Buktinya sampai sekarang Pak Darma, kakekmu, tidak pernah mencari Ibu! Padahal Bunda pernah bertemu ART-nya di pasar saat perut bunda sudah membuncit, yang saat itu Bunda sudah hamil dirimu hampir delapan bulan. Padahal mereka tahu bahwa Bunda pernah dekat dengan Deni! Kalau Pak Darma menganggapmu cucunya, tentu dia akan mencari Bunda" argumenku. Saat itu aku pulang ke rumah, berharap rasa marah Bapak sudah reda padaku. Tapi selama di rumah, Bapak sama sekali tak mau menemuiku bahkan melihat wajahku. Hanya Ibuk yang menyambut, dan keesokan harinya aku kembali ke tempat pelarianku.
"Mungkin ART itu berpikir bahwa Ibu menikah dan hamil dengan pria lain!" Kembali Adra mengungkapkan pendapatnya.
"Nonsense! Kalau Bunda menikah, tentu pernikahan Bunda akan dirayakan besar-besaran oleh Kung-mu, dan seluruh warga Desa akan tahu. Kung-mu dulu seorang sekda!"
"Kalau begitu kita temui ayah besok, dan kita lihat pendapatnya!" Cetus Adra mengakhiri perdebatan.
Keesokan harinya aku dan putriku berangkat ke Rutan Bangil.
__ADS_1
"Mau bertemu siapa?" Tanya sipir yang ber-name tag Subandi.
"Deni Wiratmaja, Pak" jawabku.
"Lho, mau jemput? 'kan Deni baru jam sepuluh besok dibebaskan" ucap Pak Subandi heran.
Aku melongo dibuatnya. Aku tak menyangka besok adalah hari pembebasan Deni.
"Maaf, kami salah hari, Pak. Kami terlalu bersemangat" cetus Adra cepat, lalu menarikku keluar.
"Kita temui ayah besok, Bun! Kita cari penginapan sekitar sini, biar ga bolak-balik. Lumayan Ngoro-Bangil sejam lebih" tukas Adra. Anakku ini kalau sudah punya keinginan memang selalu minta dituruti. Aku hanya bisa pasrah.
Dan disinilah kami sekarang, menanti Mas Deni di luar Rutan Bangil. Hatiku berdebar, karena sesungguhnya aku masih mempunyai rasa pada Mas Deni. Aku tak bisa memprediksi bagaimana reaksi Mas Deni melihatku dan Adra.
Pukul 10.15, ada seorang pria keluar perlahan dari pintu keluar rutan. Ya, dia adalah Deni Wiratmaja.
"Bu?" Tanya putriku, meminta konfirmasi. Aku hanya mengangguk lemah dengan nafas tercekat.
Mas Deni berjalan perlahan mendekati kami. Aku tahu, Mas Deni bisa mengenaliku, maka dari itu dia mendekati kami.
Saat dia sudah berada dalam jangkauan pandangku, aku bisa melihat Mas Deni masih tampan seperti dulu. Meski kini ada kerut halus di wajahnya yang menandakan dirinya sudah mulai menua.
Saat Mas Deni sudah berada di depan kami, ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca dan berkata, "Jadi inikah putriku?"
TAMAT
*******************************************
Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pembaca Wulan Di Malam Luka. Terima kasih untuk like, komen, hadiah, vote dan rate ⭐⭐⭐⭐⭐
author juga mengucapkan maaf jika terdapat kata yang menyinggung dan kurang berkenan. jika berkenan, novel ini bisa di promoin ke temen-temennya yaa 😉😉
Satu yang ingin author sampaikan, para wanita jangan takut untuk memperjuangkan haknya. jika kamu korban pelecehan, kamu tidak seharusnya malu atau takut untuk melapor pada pihak yang berwenang. karena yang seharusnya merasa malu atau takut adalah pelaku. jika kamu menyerah berjuang sama saja kamu membiarkan wanita lain bernasib sama seperti dirimu.
apapun alasan seorang pria tega memperkosa seorang wanita, entah itu karena khilaf, pengaruh obat, pengaruh alkohol, atau memang karena dia pria brengsek, pria tersebut wajib dihukum sesuai koridor hukum yang berlaku. biar undang-undang dan hukum yang berbicara. kamu diperkosa, artinya dipaksa. kebebasanmu untuk berkata "tidak" telah direnggut, dan kehormatanmu dirampas. jika kamu memilih berdamai dan menikah dengan pemerkosamu, sama saja kamu memberikan contoh pada pria lain untuk melakukan hal serupa.
aku dan kamu wanita. mari kita menjadi wanita hebat bersama 🤗🤗
BIG KISS AND BIG HUG from wulaaaann
__ADS_1