
"Wulaaaann! Ga ada kabar-kabar ih, udah dua minggu ini. Jangan-jangan jadi somse gara-gara udah keterima di perusahaan bonafit" suara cempreng Diva terdengar saat aku sedang menyuapi makan siang pada Langit di satu bangku warung "Bakso Barokah". Diva duduk disebelanhku, setelah sebelumnya menyalami Pakne dan Bune.
"Boro-boro keterima. Kabar kelanjutannya aja belum ada. Padahal udah dua minggu. Biasanya kalau dua minggu ga ada kabar berarti ga lolos ke tahapan selanjutnya" ujarku sedih.
"Eh, seriusan?" tanya Diva kaget.
Aku hanya mengangguk dan kembali menyuapi Langit yang mulutnya telah kosong.
"Ga perlu bersedih. Kalau ga keterima berarti ya belum jodoh. Belum rejeki" tukas Pakne bijak. Pakne walaupun kadang bertingkah konyol, tapi sejatinya beliau adalah orang yang bijaksana.
"Iya, Nduk. Perusahaan lain masih banyak" ujar Bune menimpali.
"Udah, ga usah galau. Daripada galau, mending bantu aku ngerjain skripsi ya? Ya, mau yah?" ujar Diva dengan nada merayu dan mata yang dikedip-kedipkan dengan cepat.
"Idiiih, kemari ternyata karena ada maunya" ucapku mencibir dengan nada jenaka.
"Nasibku, Lan. Ga bisa dapet IPK magna cumlaude kaya kamu. Otak cuma pas-pasan ini. Sekarang IPK-ku cuma 2.95, Lan. Huaaaa" seloroh Diva berpura-pura menangis.
"Puk puk sini" ujarku sambil menepuk punggungnya dengan sedikit keras.
"Iku jenenge mbeguk*, Lan!" Diva bersungut-sungut menerima pukulanku pada punggungnya.
(Itu namanya mbeguk*, Lan)
Aku terkekeh mendengar protesnya. Sejenak melupakan keresahan karena belum adanya kabar baik yang kunantikan.
"Aku selesaiin dulu nyuapin Langit. Nanti aku bantu liatin skripsi kamu. Ngeliatin doang lho, ya" selorohku.
Diva mendesis sebal. Tapi dia tahu, aku hanya bermaksud menggodanya.
Tapi niatku membantu Diva belum bisa kesampaian karena warung Bakso sudah mulai ramai mendekati pukul 12.00 siang. Akhirnya Diva malah ikut melayani pelanggan, demi bantuanku memperlancar pengerjaan skripsinya.
Pukul dua lewat warung mulai lengang. Aku mengambil ponselku dan mengajak Diva menyeberang ke rumah agar lebih nyaman membahas skripsi Diva.
"Udah sampe mana skripsi kamu?" tanyaku saat sudah sampai di dalam kamarku. Aku menyalakan ponsel bersamaan dengan Diva mengeluarkan laptopnya. Diva sudah membuka mulut hendak menjawab pertanyaanku.
"Aduh, aduh! Gawat!" pekikku tiba-tiba.
"Kenapa, Lan?" tampak Diva khawatir.
"Jam satu-an tadi, Va. PT. Textile Globalindo telepon 2x. Aduh gimana ini, Va? Jangan-jangan mau nginfoin kabar baik? Aduh, Va. Piye iki (gimana ini)?" ujarku dengan suara tercekat. Aku bisa mengenali nomor telepon yang tak tersimpan dalam memori ponselku itu, karena nomor telepon tersebut adalah nomor yang sama saat memberikan panggilan tes tulis dua minggu yang lalu.
"Coba kamu telepon balik" saran Diva.
Aku menuruti saran Diva.
Tuuuuttt tuuuutttt tuuu
Pada dering ketiga, panggilanku dijawab.
"Selamat siang, dengan PT. Textile Goblalindo. Dengan siapa dan ada yang bisa dibantu?" suara seorang wanita dari seberang panggilan.
"Selamat siang, Bu. Saya Wulan Febriana Lestari. Tadi sekitar pukul satu nomor saya dihubungi oleh pihak PT. Textile Globalindo. Tapi karena saya sedang sibuk dan tidak memegang handphone, jadi saya tidak tahu dan tidak dapat menjawab panggilan tersebut" ujarku menjelaskan.
"Sebentar, Bu"
"Ah iya, benar. Selamat Ibu, Anda lolos serangkaian test tulis dua minggu yang lalu. Test selanjutnya adalah interview user dan interview dengan bagian HRD. Anda bisa hadir kembali pada pukul 09.00 pagi, hari Senin besok, Bu?"
Aku nyaris memekik kegirangan.
"Iya, tentu, Bu. Saya bisa hadir. Ada yang perlu dipersiapkan, Bu?"
__ADS_1
"Tidak ada, Bu. Mohon persiapkan diri saja sebaik mungkin. Dan dimohon tepat waktu"
"Baik, Bu. Baik. Terimakasih untuk informasinya"
"Terimakasih kembali. Selamat siang"
"Selamat siang"
Panggilan ditutup, diikuti oleh pelukan Diva padaku.
"Lolos, Vaaaaa" pekikku dengan suara tertahan. Aku tak ingin membangunkan Langit yang sedang tidur siang.
"Selamat, sayang. Traktiran dulu biar makin lancar prosesnya" ujar Diva sambil nyengir.
"Traktir bakso aja. Hahaha" ujarku terbahak.
Diva hanya mencibir.
"Udah, ayo lanjutin skripsi kamu"
>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<<
Hari Senin tiba. Aku mengenakan outfit kemeja dengan lengan ¾ berwarna putih dengan motif bunga kecil-kecil. Untuk bawahan aku mengenakan celana chinos panjang berwarna hitam dan sepatu kitten heels warna hitam. Rambut sebahuku kubuat model half tied, memberi kesan formal tetapi tetap elegan.
Setelah berpamitan pada Bune, Pakne dan Langit aku berangkat dengan perasaan berdebar. Sembari tak putus berdoa agar semuanya dilancarkan untuk hari ini.
Sampai di PT. Textile Globalindo aku kembali diminta naik ke lantai 8. Sampai di lantai 8, sudah ada beberapa peserta test yang juga akan menjalani proses interview. Masih pukul 8.40, aku punya waktu untuk ke toilet dan merapikan rambut dan make up minimalisku.
Tepat pukul 9, tiga orang masuk ke dalam ruang meeting. Dua orang aku mengenalinya sebagai Pak Ronald dan Pak Andrian, sementara seorang yang lain aku tidak mengenalinya.
Ada total lima orang yang sedang menunggu. Didepan ruang meeting sudah disediakan beberapa bangku untuk para peserta menunggu giliran interview.
"Regina Damayanti, silahkan masuk" Pak Andrian memanggil seseorang dari ambang pintu ruang meeting. Seorang wanita berkacamata mengikuti Pak Andrian masuk.
"Mari semuanya" pamit wanita berkacamata tersebut pada kami yang sedang menunggu.
"Devina Maharani Jumanto", seru Pak Andrian lagi.
Wanita berblazer coklat muda yang dipanggil langsung berdiri dan memasuki ruangan.
Wanita bernama Devina itu berada dalam ruangan sedikit lebih lama, sekitar 40 menit. Wanita ini keluar dengan senyum tipis dibibirnya. Sepertinya dia merasa menjawab interviewer dengan baik.
"Wulan Febrianan Lestari"
Aku bagai tersetrum listrik ribuan volt, langsung berdiri. Dengan tegang mengikuti Pak Andrian memasuki ruang meeting.
Pak Andrian duduk di sebelah kiri Pak Ronald, sementara di sebelah kanannya seorang pria yang kutaksir berusia di akhir empat puluhan dengan tatapan tajam.
"Silahkan duduk" ujar Pak Ronald kalem dengan senyum pepsodent-nya. Membuat perasaan berdesir aneh pada hatiku.
Aku duduk di kursi yang telah disediakan.
"Kemarin ikut tes tulis kan? Pasti sudah tahu saya sama Pak Andrian. Kalau yang disebelah kanan saya ini, Manager Accounting, namanya Pak Hermawan"
Aku mengangguk dan tersenyum sopan sopan kepada ketiga interviewer.
"Kita mulai saja, ya. Silahkan perkenalkan diri Anda" lanjut Pak Ronald.
"Sebelumnya, senang bertemu dan berkenalan dengan Bapak-Bapak sekalian. Perkenalkan nama saya Wulan Febriana Lestari, biasa dipanggil Wulan, 22 tahun. Saya menyelesaikan pendidikan strata saya selama 7 semester di Universitas Kristen Petra Surabaya dan mengambil jurusan Akuntansi Bisnis, baru diwisuda bulan Maret lalu. Saya anak tunggal dan juga ibu tunggal dari seorang balita berusia 3 tahun. Saya orang yang ulet, teliti, bertanggung jawab dan disiplin"
"Ibu tunggal? Kalau bekerja nanti anaknya sama siapa?" tanya Pak Andrian.
__ADS_1
"Ada Uti dan Kakungnya, Pak"
"Fresh graduate, ya. Menurut kamu, kualifikasi apa yang kamu miliki sehingga layak diterima bekerja disini?" Kali ini Pak Ronald yang bertanya.
"Saat saya membaca iklan lowongan pekerjaan ini di salah satu platform situs pencarian kerja, saya sedikit minder dengan persyaratan minimal 1 tahun pengalaman kerja yang disyaratkan. Namun tidak lantas menyurutkan semangat saya untuk apply aplikasi lamaran saya. Ketika saya menerima panggilan tes tulis, rasa percaya diri saya kembali. Saya yakin dengan karakteristik yang saya miliki, walaupun saya seorang fresh graduate saya tetap bisa bersaing dengan mereka yang telah memiliki pengalaman kerja. Seperti pepatah bilang, 'Alah bisa karena biasa'. Disini saya ingin belajar, sekaligus juga mengabdi. Mengupayakan segala daya dan upaya yang terbaik jika saya diterima di PT. Textille Globalindo"
Tampak ketiga pria didepanku manggut-manggut mendengar jawabanku.
"Bagaimana Anda tetap up to date pada undang-undang dan peraturan akuntansi saat ini?" kali ini Pak Hermawan yang bertanya.
"Di era globalisasi seperti sekarang, banyak jalan untuk kita menerima akses informasi. Media cetak, media elektronik, bahkan internet. Saya senang membaca koran maupun menyaksikan berita-berita ekonomi. Saya juga sering berselancar di dunia maya untuk melihat artikel dan jurnal-jurnal ekonomi, mengamati regulasi perekonomian baik di dalam dan di luar negeri yang bisa berdampak pada kebijakan perekonomian dalam negeri"
"Biasa pakai software apa untuk mengerjakan tugas-tugas akuntansi selama kuliah?" lanjut Pak Hermawan.
"Biasanya Accurate, MBSoft, dan Microsoft Excel tentu saja"
"Jika Anda melakukan kesalahan, bagaimana anda menanganinya?" Pak Andrian kali ini bertanya.
"Awal-awal memang saya akan merasa panik. Tapi beberapa saat kemudian saya akan menenangkan diri. Dari sana, saya akan merunut pekerjaan saya dari awal, sebanyak apapun pekerjaan yang telah saya kerjakan. Seperti sudah saya jelaskan sebelumnya, bahwa saya ulet. Jika sudah ketemu, maka saya akan segera memperbaikinya"
"Katanya teliti?" Pak Andrian mengingatkan pada sesi perkenalanku.
"Teliti bukan berarti tidak pernah berbuat kesalahan 'kan, Pak. Saya bukan robot, lho" selorohku.
Mereka bertiga terkekeh.
"Bersedia lembur?" tanya Pak Ronald.
"Jika diperlukan, saya siap"
"Minta gaji berapa?"
"Saya fresh graduate, tidak berani muluk-muluk. Standar gaji pegawai baru untuk perusahaan ini, Pak"
"Pak Ronald dan Pak Hermawan ada yang masih ingin ditanyakan?"
Mereka berdua menggeleng.
"Cukup dari kami. Ada yang ingin ditanyakan, Saudari Wulan?" tanya Pak Andrian.
"Untuk proses selanjutnya, kapan kira-kira saya harus menunggu kabar?"
"Untuk proses selanjutnya adalah test kesehatan. Paling lama 2 minggu dari sekarang, akan kami hubungi jika anda lolos di tahap ini. Ada yang lain?" Pak Ronald yang menjawab pertanyaanku.
Aku menggeleng.
"Silahkan meninggalkan ruangan dan bisa langsung pulang" pinta Pak Andrian .
"Terima kasih, Pak. Besar harapan saya untuk bisa bergabung menjadi keluarga besar PT. Textile Globalindo" tukasku.
Aku berdiri dan menyalami para interviewer satu per satu dengan senyum terkembang.
"Sampai keringat dingin begini" seloroh Pak Ronald saat bersalaman denganku dan merasakan telapak tanganku yang berkeringat.
"Grogi, Pak" jawabku kikuk.
Pak Ronald terkekeh.
Reaksi alamiah berinteraksi sama lawan jenis, Pak. Bisikku dalam hati.
Wulan meninggalkan ruang meeting dengan perasaan campur aduk. Senang karena berhasil menjawab pertanyaan para interviewer dengan baik. Sekaligus khawatir jika dirinya tidak lolos ke tahap selanjutnya.
__ADS_1
***********************************************
*Mbeguk/dibeguk, memukul bagian punggung dengan keras dan sampai terdengar suara "bug"