Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 39 Hai, Langit!


__ADS_3

Bruk!!


Bune jatuh terduduk. Melihat kondisiku yang tengah menahan rasa sakit yang hebat membuat lututnya lemas dan tak tega.


"Pakne, Pakne! Tolong Bune ini. Aduduuhh, sakit!" teriakku. Bingung antara melihat Bune yang tak betenaga dan rasa sakit yang semakin menjadi.


Pakne tergopoh-gopoh masuk mendengar teriakanku.


"Kenapa, Nduk? Aduh, Bune kok ndeprok ngene iki piye?" ujarnya kaget melihat istrinya yang duduk di lantai.


(Aduh, Bune kok duduk di lantai gini ini gimana?)


"Bune lemes banget, Pakne. Ga tega" ujar Bune sambil menangis.


Sebenarnya kondisi ini cukup lucu menurutku. Aku yang kesakitan, tapi Bune yang merasa lemas. Mau tertawa tapi yang keluar justru desis kesakitan.


"Bune tunggu di luar saja kalau tidak sanggup. Wulan tidak apa-apa kok" ujarku berusaha meyakinkan. Aku kembali menggigit bibir dan memegang erat pinggiran ranjang pasien.


"Bune sama Pakne tunggu di luar saja ya, Nduk! Masalah pendaftaran sudah Pakne bereskan tadi" tukas Pakne lembut.


Aku hanya mengangguk mengiyakan. Kulirik jam dinding menunujukkan pukul 2.30, tapi dokter belum juga datang.


Baru saja membatin, pintu ruang VK kembali terbuka. Seorang dokter wanita yang kutaksir usianya di pertengahan 30-an masuk dan menghampiriku. Dokter telah terbalut jubah berwarna biru dan menggunakan masker medis.


"Malam, Bu. Sudah menyiapkan nama untuk bayinya yang sebentar lagi lahir?" ucapnya sambil memasangkan alat pengukur tekanan darah padaku.


"Sudah, Dok" jawabku lemah.


"Normal ya, 125/80. Saya cek bukaan lagi ya. Tolong di tekuk dan dibuka kakinya"


Tapi sebelum dokter memeriksaku, rasa sakit menggulungku.


"Aduduuuhh, sakit sekali Dok!" ujarku kesakitan.


Dokter mengurungkan niatnya yang ingin memeriksa bukaan jalan lahir.


"Tunggu sakitnya hilang, baru saya periksa ya" kata dokter sambil menekan-nekan lembut perutku.


Setelah beberapa saat sakitnya pun mereda.


"Kalau ada keinginan mau mengejan ditahan dulu ya, Bu. Kalau bukaan belum sempurna tapi Ibu paksa mengejan nanti bisa robek perineum. Saya periksa lagi bukaannya" kata dokter menasihati.

__ADS_1


Aduh, dari tadi rasanya udah pengen mengejan ini. Udah kaya mau ngeluarin sesuatu aja rasanya, tapi ini malah dilarang-larang! Sungutku frustasi dalam hati.


"Bukaan sembilan. Ga sampai lima menit bukaan pasti sudah lengkap. Saya udah bisa meraba rambutnya. Tolong Sus, meja peralatan letak sini" ujar Dokter Erna memberi instruksi.


Dokter Erna kembali memeriksa bukaan jalan lahir lima menit kemudian. Dan benar saja dokter menyatakan bahwa bukaan jalan lahir sudah sepuluh yang artinya sudah bukaan lengkap.


"Bu kalau mau mengejan sesuai instruksi dari saya" kata dokter memposisikan agar tanganku memegang area lipatan paha. Sehingga kini posisi kakiku menekuk yang kupegangi.


Lalu sakit kontraksi datang lagi menghampiri.


"Mengejan sekarang, Bu" perintah dokter


Aku langsung mengejan sekuat tenaga sampai mukaku memerah. Aku tak tahu bahwa sakit melahirkan akan terasa seperti ini. Rasanya tulang-tulangku di patahkan secara bersamaan. Dulu aku pernah jatuh dari sepeda dan lututku retak. Sakitnya sampai puluhan kali lebih sakit daripada saat itu. Rasa sakit ini membuatku teringat akan ibuku yang sampai saat ini belum ada memberi kabar. Secercah rasa rindu dan khawatir menghampiriku.


"Istirahat sebentar. Tarik napas dalam-dalam dari hidung, keluarkan perlahan dari mulut. Oke, sekarang mengejan lagi" instruksi dokter saat perutku kembali menegang dan gelombang sakit kontraksi menerpaku.


"Lebih kuat lagi, Bu! Kepala bayinya sudah mulai keluar" perintah dokter padaku.


Aku mengejan sekuat tenaga. Keringatku bercucuran. Mukaku memerah. Aku serasa mau pingsan.


"Jaga kesadaran, Bu! Sus, tolong pasang infus biar ada tambahan tenaga" kata dokter yang melihat kondisiku mulai ngedrop.


"Kepala bayinya masih nyangkut ini. Apa perlu di-tang ya?" gumam Dokter Erna.


"Dorong lebih keras Bu! Satu, dua, tiga, Dorong!"


Aku mendorong sekuat tenaga. Lalu aku merasakan ada sesuatu yang terdorong keluar dari mulut kewanitaanku.


"Bagus kepalanya sudah keluar sepenuhnya. Dorong sekali lagi. Dorong!!" perintah dokter.


Aku merasa lega sekali. Lahirlah bayi laki-laki yang selama ini aku nanti-nantikan.


"Selamat, Bu. Bayinya laki-laki. Pukul 03.40. Tolong, Sus" kata dokter menyerahkan bayi laki-laki yang baru lahir tersebut pada suster yang menjadi asistennya. Anakku. Priaku.


Aku menangis haru saat sekilas melihat bayi yang dibawa oleh suster untuk dibersihkan.


"Sekarang kita akan mengeluarkan plasentanya ya, Bu. Oke, dorong sekarang" pinta dokter sambil mengurut lembut perutku dari atas kebawah.


Aku merasakan sesuatu yang licin keluar. Kemudian dokter meletakkan plasenta tersebut dalam wadah stailess steel.


Ooaaaaa Ooooaaaaaaa

__ADS_1


Terdengar suara tangis bayi. Aku menangis sesenggukan mendengar suara tangisan anakku. Merasa tak sabar ingin segera mendekapnya.


Dokter masih sibuk di bawah sana. Dokter bilang, masih ada jaringan yang tertinggal. Entah apa yang dilakukan dokter, yang pasti aku merasakan ngilu beberapa kali.


"IMD dulu ya, Bu" kata suster meletakkan bayi di atas dadaku dengan posisi tengkurap. Bayi di atas dadaku membuka mulutnya sambil mencari-cari puncak dadaku. Aku takjub melihatnya.


(IMD adalah proses memberikan ASI sesegera mungkin pada si kecil dalam 30-60 menit setelah kelahirannya)


Dengan dibantu suster, bayi kemerahan itu akhirnya menemukan puncak dadaku. Begitu mendapatkannya, bayi tersebut langsung mencecap-cecap dengan semangat. Senyum yang disertai air mata menghias wajahku.


Tak kuhiraukan rasa menyengat pada area kewanitaanku akibat jarum suntik yang ditusukkan.


"Saya jahit dulu, Bu" kata dokter Erna. Aku tetap tak mempedulikan perkataan dokter. Aku sedang terkesima dengan bayi yang sedang berada di atas dadaku. Aku memeluk dan mengangkat kepalaku dari bantal untuk mencium puncak kepala anakku.


Setelah dokter selesai menjahit luka robek pada kewanitaanku, kemudian digantikan bidan yang akan membantu mengenakan pembalut.


"Pendampingnya sudah boleh masuk kalau mau melihat bayinya, Bu. Sekali lagi selamat ya" kata dokter sambil menepuk punggung tangan yang sedang memeluk anakku.


Beberapa menit IMD, suster mengambil kembali anakku untuk dikenakan pakaian. Tampak suster sudah menyiapkan seperangkat pakaian yang akan dikenakan oleh anakku.


Bune dan Pakne langsung masuk begitu dipesilahkan oleh dokter. Mereka bergegas menuju ranjangku.


"Ya ampun, Nduk. Bagus tenan putuku! Putuku iku, Pakne" kata Bune dengan tangis haru menunjuk-nunjuk bayi yang sedang di rawat oleh suster.


(Ya ampun, Nduk. Tampan sekali cucuku! Cucuku itu, Pakne)


Pakne tidak berkomentar, hanya mengelus punggung Bune lembut sambil menatap sendu anakku.


Suster telah selesai memakaikan pakaian untuk anakku, lalu membawanya padaku. Suster meletakkan bayi tersebut disisiku yang terbaring. Walaupun merasa kelelahan, aku merasa sangat bahagia.


Setelah suster undur diri, Bune dan Pakne bergegas menghampiriku. Bune masih menangis haru. Pakne mengelus pipi anakku dengan jari telunjuknya.


"Namanya siapa, Nduk?" tanya Pakne.


"Langit Anugrah Dirgantara. Artinya pemberian yang baik dari langit" jawabku mantap.


"Nama yang bagus, Nduk. Selamat ya!" kata Pakne dengan nada bahagia.


******************************************


Halo pembaca sekalian. Yang mau kasi ucaoan selamat buat kelahiran Langit langsung cus di kolom komentar. Jangan lupa, gambar jempolnya dipencet dulu 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2