
Aku sedang dipangku oleh ayahku.
"Nak, seandainya kamu dilahirkan jadi hewan kamu mau jadi hewan apa?" tanya ayahku.
"Wulan mau jadi kupu-kupu aja, Yah!" jawabku.
"Kenapa mau kupu-kupu?"
"Kupu-kupu itu hewan yang indah, warna-warni cantik sekali, bisa terbang juga, yah", jawabku polos.
"Hebat anak ayah. Ayah harap kamu juga bisa menebar keindahan bagi sekitarmu", kata ayah sembari mengelus rambutku.
"Kalau ayah kepengen jadi apa?", tanyaku polos.
"Ayah ingin jadi cacing tanah", jawab Pak Hanif sambil nyengir pada putrinya.
"Hiiii, kok cacing sih, Yah? Kan jijik", ucapku bergidik.
"Jangan salah, Nak. Cacing itu hewan paling bermanfaat bagi manusia. Cacing itu tinggal di dalam tanah dan tak terlihat tapi memberi kemanfaatan bagi kelangsungan hidup manusia. Cacing membantu menyuburkan tanah sehingga tanaman bisa tumbuh dengan baik. Ayah dulu sangat ingin menjadi orang yang berguna bagi sesama. Bagi nusa dan bangsa. Makanya sejak dulu ayah bercita-cita menjadi polisi, tapi ternyata jadi tentara. Hehehe. Tapi sama saja, sama-sama seorang perwira", ayahku menjelaskan panjang lebar. Aku yang tak begitu paham apa yang dijelaskan ayahku hanya mengernyit sambil manggut-manggut.
Aku terbangun dengan sebulir air mata yang merembes dari sudut mataku. Aku memimpikan percakapan terakhir dengan mendiang ayahku. Percakapan beberapa hari sebelum ayah berangkat dinas ke Papua.
Aku bangun dan menyandarkan punggungku pada sandaran ranjang. Air mata membanjir saat aku terkenang kembali pada moment itu. Untuk pertama kali sejak kejadian terkutuk itu, aku tak bermimpi buruk tapi memimpikan mendiang ayahku.
"Ayah, aku rindu. Tak bisakah ayah membawaku serta bersama ayah? Wulan rasanya ga sanggup menanggung semua ini, Yah", gumamku lirih dengan air mata berderai.
Hari ini adalah hari Minggu, hari dimana Deni akan melamarku. Aku merasa benar-benar tak rela. Suara ibu yang mengetuk pintu kamarku berkali-kali tidak kuhiraukan sama sekali.
__ADS_1
Ibu tengah sibuk memasak saat aku keluar dari kamar untuk menuju kamar mandi karena rasa mual di perutku.
"Akhirnya kamu keluar juga. Tolong bantu ibu memasak", ujar ibu yang melihatku menuju kamar mandi.
Aku tidak menjawab sama sekali dan langsung menuju kamar mandi. Begitu selesai, aku berniat kembali ke kamarku.
"Wulan! Kamu tidak dengar apa yang ibu bilang tadi?", ibu berteriak memanggilku.
"Yang bilang aku bersedia menikah dengan Deni siapa? Dari awal aku sudah menolak, Bu. Tolong jangan memaksa!", jawabku datar dan segera berlalu ke kamar.
"Jangan bikin malu Ibu, ya!...", aku tak lagi mendengar omelan ibu selanjutnya karena aku langsung menutup pintu.
Ibupun rupanya tak ambil pusing lagi aku membantu atau tidak. Beliau sama sekali tidak menggangguku selama beberapa waktu lamanya.
Aku sedang melamun saat terdengar suara ketukan di pintu kamarku. Aku selalu mengunci kamar sejak aku kalut akan kehamilanku. Aku sama sekali tak ingin diganggu oleh siapapun. Aku kembali menjadi Wulan yang terpuruk seperti tiga hari setelah kejadian malam itu.
Aku diam tak menyahuti. Setelah beberapa kali memanggil dan tak mendapat respon akhirnya ibuku menyerah.
>>>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<
Pak Darma dan Deni duduk di kursi ruang tamu rumah Bu Retno. Sebenarnya mereka datang terlambat hampir dua jam dari waktu yang mereka janjikan kepada Bu Retno, tapi tak tampak raut menyesal dari wajah mereka.
"Silahkan, Pak Darma dan Nak Deni diminum", kata Bu Retmo yang membawa senampan teko berisi air sirup dan tiga gelas yang telah berisi es batu.
"Ya, Bu. Kita langsung saja pada intinya. Deni sepertinya sudah tak sabar ingin menikahi Wulan. Dia minta pernikahan dilangsungkan segera setelah kelulusan", kata Pak Darma tanpa basa-basi dan tanpa permintaan maaf karena terlambat.
"Tentu, Pak Darma. Niat baik itu memang harus disegerakan. Maaf Wulan tidak bisa ikut menemui. Wulan lagi ga enak badan, biasalah hamil muda suka mual dan muntah", kata Bu Retno sumringah.
__ADS_1
"Hamil anak siapa, Bu?", tanya Deni spontan.
"Ya anak kamu tho, Nak Deni. Kan kalian berempat bersama-sama melakukannya. Atau anggap saja itu anakmu. Toh sebentar lagi kalian akan menikah" kata Bu Retno lancar.
"Wah kalau begini ceritanya Deni ga mau, Pa. Iya kalau itu anak Deni, kalau bukan?" ucap Deni tanpa tedeng aling-aling. Deni sebenarnya ingin bersenang-senang terhadap tubuh Wulan dengan menikahinya. Deni sepertinya sudah terobsesi, ingin menggeluti Wulan setiap hari. Kenyataan bahwa Wulan tengah hamil entah anak siapa menyurutkan obsesi Deni.
Sontak ucapan Deni membuat Bu Retno terperanjat.
"Lho, kok jadi begini tho? Nak Deni sendiri yang kemarin ingin segera menikahi Wulan. Lalu siapa yang akan bertanggung jawab atas nasib anak saya?", suara Bu Retno nyaris memekik karena rasa marah dan kecewa. Padahal sebentar lagi dia akan berbesanan dengan orang terkaya di desa ini.
"Ya mau bagaimana lagi, Bu. Masa' anak saya Deni mau menjadi ayah dari anak yang tak jelas begitu. Deni juga masih terlalu muda. Gugurkan saja anak itu, beres" kata Pak Darma dengan entengnya.
Kemudian Pak Darma mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang nampak tebal dari dalam tas yang dia bawa. Lalu dikeluarkannya setumpuk uang dari amplop tersebut.
"Saya baru saja dari ATM, ambil gaji untuk pegawai", jelas Pak Darma. " Ini Untuk ganti rugi perbuatan anak saya dan teman-temannya, juga untuk biaya menggugurkan kandungan. Dan satu lagi, mulai besok Bu Retno tidak perlu ke pabrik. Uang itu juga untuk pesangon dan rasa terimakasih dari saya, karena Bu Retno sudah mengabdi selama sembilan tahun lebih di pabrik saya. Saya rasa Bu Retno sudah waktunya pensiun." ucap Pak Darma santai meletakkan setumpuk uang di meja ruang tamu.
Bu Retno tidak sanggup berkata-kata melihat uang didepannya. Mau menolak tak mungkin. Mau menerima, artinya hilang sudah kesempatannya menjadi orang terpandang di desa Karang Gayam.
"Ayo, kita pulang Den", ajak Pak Darma pada putranya tanpa permisi pada si empunya rumah.
Deni dan Pak Darma beranjak meninggalkan rumah Bu Retno, sementara Bu Retno mengantar kepergian ayah dan anak tersebut dengan membisu. Membisu karena tak menyangka tiba-tiba mendapat setumpuk uang, harga yang harus dibayarkan untuk kesucian putrinya.
Sepeninggal Pak Darma, Bu Retno segera menyambar uang yang ada di meja ruang tamunya. Dihitungnya lembar demi lembar uang yang berwarna merah tersebut. Totalnya dua puluh lima juta rupiah. Dalam benaknya, Bu Retno berpikir cepat. Akan kerja dimana dia setelah ini, usianya sudah menginjak 40 tahun. Perusahaan di luar desa Karang Gayam pasti tak akan mau menerima dirinya sekalipun ada gelar sarjana yang disandang. Satu-satunya pekerjaan yang mungkin adalah menjadi pembantu atau TKW.
Setelah menimbang-nimbang beberapa lama, akhirnya Bu Retno mengambil keputusan.
Wulan yang sedang berada di kamar tidak mendengarkan isi percakapan yang terjadi di ruang tamu. Wulan sendiri sedang sibuk memikirkan berbagai kemungkinan rencana yang harus dia ambil untuk kehidupannya. Wulan tidak tahu, ibunya telah menerima uang untuk membayar harga dirinya yang diinjak-injak dan kesuciannya telah direnggut secara brutal. Keputusan apa yang telah diambil oleh Bu Retno untuk Wulan?
__ADS_1