Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 60 Bertemu Kembali


__ADS_3

**Maafkan update yang terlambat hari ini. Seharian ini listrik padam, jadi no connetion internet soalnya pake wifi. Ga bisa beli kuota, lagi bokek 😂 Happy reading all**


Surabaya, 31 Juli 2021


Aku sampai di rumah mendekati pukul tujuh malam. Di seberang jalan warung tampak ramai. Terlihat Bune dan Ragil, istri dari Dendi, mondar mandir melayani pelanggan. Masih ingat kan siapa Dendi? Dendi adalah keponakan Pakne dari Kediri, yang telah menikah empat bulan lalu.


Setelah memarkirkan mobil di garasi, aku masuk ke rumah untuk menyapa Langit dan mandi. Anakku itu sudah berumur sepuluh tahun sekarang. Dia pasti sedang belajar atau mengerjakan PR saat ini.


Empat kamar di lantai bawah, sejak Langit berusia delapan tahun, tidak disewakan lagi. Bune kembali tidur di kamarnya sendiri. Langit diberikan kamar sendiri, begitu pula dengan Dendi dan istrinya.


Ini adalah tepat satu tahun aku menduduki jabatan accounting manager PT. Textile Globalindo. Setelah Pak Hermawan pensiun tahun lalu, aku mendapatkan jabatan itu setelah bersaing dengan beberapa kandidat potensial yang melamar posisi tersebut.


Perusahaan tempatku bekerja memang selalu melakukan open recruitment terhadap kebutuhan karyawan. Fair play, itulah moto PT. Textile Globalindo.


Tok tok. Ceklek.


Aku mengetuk dan membuka pintu kamar priaku itu. Aku melongokkan kepalaku ke dalam. Tampak Langit masih berkutat dengan buku-bukunya. Sebuah headset hitam terpasang pada telinganya. Sudah menjadi kebiasaan Langit mengerjakan tugas sambil mendengarkan musik, kecuali jika sedang menghafal.


Aku mendekati Langit yang sama sekali tidak menyadari keberadaanku. Aku mengelus rambutnya yang hitam lebat, mirip rambutku dalam versi pria.


"Eh, Ibu. Dari tadi?" tanyanya dan mendongak padaku.


"Baru masuk" kataku dan meletakkan satu cup strawberry mojito dan sekotak croffle dengan topping selai cokelat dan potongan kacang almond.


"Masih banyak tugasnya? Butuh bantuan?" tanyaku melihat tugas apa yang sedang dikerjakan Langit. Matematika.


"Udah mau selesai, Bu. Tadi gurunya jelas banget waktu neranginnya. Ini apa, Bu?" tanyanya membuka bungkusan yang kuletakkan di meja.


"Yeay, makasih Bu" pekiknya melihat camilan yang aku letakkan di mejanya.


"Ibu mandi dulu, ya. Terus mau bantu-bantu di warung. Langit belajar yang rajin" ujarku sambil mengecup puncak kepalanya.


Aku masuk ke kamarku sendiri dan membersihkan diri. Tepat pukul 19.30 aku selesai membersihkan diri dan sudah berganti dengan pakaian santai. Celana training panjang dan kaos oblong hitam dengan gambar wink emoji di bagian dadanya.


"Bune" aku mengambil tangan Bune dan menciumnya. Beliau baru saja meletakkan tiga gelas es teh di meja pelanggan.


Aku meletakkan dua kotak martabak telur di kursi panjang belakang rombong. Lalu mulai membersihkan meja kosong yang baru saja ditinggalkan.


"Ragil, Dendi, dan Bune itu Wulan ada bawa martabak telur" ucapku sambil membawa setumpuk mangkuk kotor ke dapur.


"Iya, mbak makasih" sahut Ragil yang sedang melayani pesanan bungkus.

__ADS_1


Aku membantu mencuci mangkok dan lain-lain di dapur. Setelah selesai, aku membantu apa yang bisa dibantu di warung.


Pukul sembilan lewat sedikit suasana warung mulai lengang. Aku mengajak keluargaku duduk disebuah meja kosong sambil menikmati martabak telur.


"Bune ingat pembicaraan kita tiga bulan lalu? Tentang kemungkinan Wulan akan diberi tanggung jawab pembangunan pabrik baru?" tanyaku membuka pembicaraan.


Bune hanya mengangguk, begitu pula Dendi dan Ragil.


"Semua persiapan sudah rampung digodok. Saat ini tim legal perusahaan sedang mengurus akuisisi lahan disana. Wulan juga ditunjuk sebagai manager operasional untuk pabrik di Pasuruan"


"Bune bersedia ikut pindah sama Wulan ke Pasuruan? Atau mau tetap disini?" tanyaku pada ibuku itu.


"Bune ikut, Nduk. Bune ga bisa jauh dari anak dan cucu. Kost-kost-an dan warung bakso biar ditangani sama Dendi dan Ragil" jawab Bune mantap.


"Dendi dan Ragil sanggup?" tanyaku pada adik sepupuku dan sepupu iparku itu.


"Sanggup, Mbak" jawab Dendi dan anggukan mantap dari Ragil.


Tujuh tahun mengenal Dendi membuatku yakin bahwa Dendi adalah orang yang bisa dipercaya. Dendi juga pernah aku ajari mengelola dan membuat laporan keuangan sederhana. Niat awalku agar memudahkan kepengurusan warung dan pembagian keuntungan. Aku juga tak menyangka bahwa kost-kost-an juga akan kami serahkan pada Dendi.


"Kalau begitu hari Minggu nanti biar Wulan ngobrol sama Langit. Pasti berat bagi Langit meninggalkan sekolah lama dan teman-temannya" ujarku.


"Sekitar tiga bulan lagi. Rumah Wulan yang di Pasuruan juga sudah dikosongkan dan dalam tahap renovasi. Rencananya mau dibikin tingkat. Lantai dua dibikin dua kamar, nanti Langit bisa pakai salah satu kamar di lantai atas" jelasku pada Bune.


Mereka bertiga hanya manggut-manggut mendengar penjelasanku.


Jam 22.15 warung sudah sepenuhnya tutup. Kami kembali ke rumah dan masuk ke dalam kamar masing-masing.


Sebelum masuk kamarku sendiri, kutengok kamar Langit. Priaku itu sudah lelap. Aku mengecup keningnya dan mengganti lampu kamar menjadi temaram. Sejak memiliki kamar sendiri Langit memang sudah bisa mandiri. Bisa tidur tanpa dininabobokan lagi.


Di kamar, aku menatap langgit-langit kamarku yang berwarna putih gading. Aku memikirkan kembali perjalanan hidupku selama sepuluh tahun ini. Jujur aku tak menyangka akan menjadi sejauh ini.


Cita-citaku dulu membangunkan sebuah usaha untuk ibuku, entah itu usaha catering atau sejenisnya. Lalu aku juga akan bekerja, menabung sedikit demi sedikit dari penghasilanku. Dan jika sudah cukup banyak akan mencoba membuka usaha koperasi simpan pinjam. Dengan bunga dan cicilan ringan. Agar warga desa Karang Gayam bisa terbebas dari cengkraman rentenir Darma Wiratmaja.


Aku tak pernah membayangkan bisa menjadi bagian dari pembangunan sebuah pabrik besar yang notabenenya akan menjadi saingan pabrik keluarga Wiratmaja. Tak pernah membayangkan akan bisa membuka sebuah lapangan pekerjaan besar untuk warga desaku.


Aku melamun sampai akhirnya jatuh tertidur. Mimpi buruk mengenai malam nahas itu, kini hanya sesekali menghampiri tidurku.


Hari Minggunya, aku mengajak Langit dan Bune makan malam di sebuah resto spesial seafood. Langit paling suka makan seafood, terutama ikan bakar dan udang.


Sambil makan kami berbincang mengenai pindahan ke Pasuruan. Tak disangka Langit tak terlalu sulit dibujuk untuk pindah sekolah. Langit bilang, dimanapun Ibu dan Utinya berada dia akan betah tinggal dimana saja.

__ADS_1


Tiga bulan kemudian semua persiapan pindahan sudah siap. Tak banyak barang bawaan kami, hanya beberapa koper baju, buku-buku Langit, dan sepeda BMX kesayangan Langit. Sementaa perabotan di rumahku disana masih lengkap dan terawat. Satu bulan sebelum pindahan aku membayar orang untuk melengkapi dan merawat rumah agar siap kami tempati.


Dengan mengendari mobil Erempatku, kami bertiga membelah jalan dari Surabaya ke Pasuruan dengan lancar. Cukup 1,5 jam perjalanan. Pukul tujuh pagi kami berangkat, pukul 8.30 kami sudah sampai.


Orang yang aku bayar sudah menanti di depan pintu rumah saat aku sampai di rumahku. Kupandangi sekeliling, sudah banyak yang berubah. Jalanan sepanjang menuju rumahku kini bukan hanya dipaving, tapi sudah beraspal.


Pagar rumah yang dulunya cat sudah banyak mengelupas telah diperbarui catnya, kini berwarna coklat tua. Rumahku kini menjadi dua lantai. Aku memarkirkan mobil di halaman rumah, tak cukup kalau hendak dibangun sebuah garasi.


Setelah ramah tamah sejenak, Pak Rojak pamit undur diri. Kami bertiga segera mengemas barang-barang kami.


Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Akhirnya aku memanaskan bekal yang kami bawa dari Surabaya untuk makan siang.


"Bune abis makan ini Wulan mau meninjau lokasi sebentar. Bune mau ikut? Langit?" tanyaku pada ibu dan anakku.


"Bune dirumah saja. Mau istirahat"


"Langit pengen sepedaan aja disekitar sini. Boleh, Bu?" izin Langit padaku.


"Eemm, boleh. Tapi jangan jauh-jauh, ya" jawabku.


Pukul dua aku mengeluarkan mobilku dari halaman, dan mengendarainya ke daerah pinggiran desa. Sawah sudah tak terlalu banyak, justru sudah mulai dibangun rumah dan perumahan mini.


Aku bergidik saat melalui jalur yang membuatku trauma. Di sepanjang jalur ini aku dibawa (paksa) oleh Deni cs dengan mobilnya.


20 menit perjalanan, tampak olehku pekerja yang mulai menguruk tanah bekas sawah. Dipinggirnya sudah dibangun bangunan semi permanen yang terbuat dari galvalum. Aku memarkirkan mobilku disebelah bangunan tersebut.


Tok tok. Aku mengetuk bangunan berbentuk kubus itu.


Seorang pria tinggi, atletis, (cukup) tampan membuka pintu.


"Silahkan masuk" suaranya berat dan serak. Sepintas aku merasa pernah mendengar suara ini.


"Saya Wulan, penanggung jawab dari PT. Textile Globalindo" ucapku memperkenalkan diri.


"Aditya Perdana, arsitek penanggung jawab proyek ini" jawabnya dan mengulurkan tangan.


Aku menyambut uluran tangan itu. Saat hendak melepaskannya, pria tersebut menahannya.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya pria itu.


Wulan mengernyitkan dahi. Antara tidak suka akan sikap pria itu dan mengingat-ingat. Apakah ia pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2