
Hari ini Adit merasa bahagia sekali. Setelah dua minggu menjalani fisioterapi, Adit sudah mulai bisa berdiri tanpa penyangga. Meski paling lama hanya sepuluh menit, tapi kata dokter itu sudah merupakan peningkatan yang sangat signifikan. Ditambah lagi, Adit sudah tidak perlu menggunakan kursi roda lagi, karena Adit kini cukup menggunakan kruk sebagai alat bantu jalannya.
Sebenarnya Adit ingin sekali memamerkan hasil latihannya kepada sang pujaan hati. Meski sedikit kesal pada gadis itu, Adit mencoba memahami bahwa Wulan sedang sibuk. Puncaknya hari ini. Wulan nyaris tidak bisa dihubungi. Wulan hanya mengabarkan dirinya tengah sangat sibuk, dan sudah makan siang. Ditambah lagi, nyaris pukul sebelas malam kekasihnya itu mengabarkan bahwa baru saja sampai di rumah. Biasanya sebelum jam sembilan, mereka akan asyik bercengkrama melepas rindu melalui panggilan telepon.
Ketika Adit melayangkan protes, bukannya kata maaf yang didapatkan justru wajah cengengesan yang ditunjukkan Wulan. Yang mana menurut Adit itu sungguh menyebalkan. Emosi Adit tersulut, dan membentak wanita yang sangat dikasihinya itu.
Tapi kemudian, melihat wajah lelah Wulan membuat Adit tersadar bahwa tidak seharusnya ia emosi seperti itu. Akhirnya, Adit memutuskan mengakhiri panggilan video agar sama-sama bisa mendinginkan hati yang terbakar amarah. Ini adalah pertengkaran pertamanya dengan Wulan, dan Adit menyesali hal itu.
Setelah Mas Adit mengakhiri panggilan aku merasa sangat bersalah. Rasa lelah membuat emosiku cepat tersulut. Merutuki pemikiran bodoh yang sempat terlintas untuk mempertimbangkan kembali masalah pernikahan.
"Besok aku akan meminta maaf pada Mas Adit. Sekarang bobo dulu, bumil ga boleh begadang" gumamku pada diri sendiri.
Paginya, aku segera menelepon Mas Adit.
"Hhmmm?" Suara Mas Adit terdengar mendeham.
"Masih bobo, Mas?" Tanyaku. Dijawab dengan dehaman sekali lagi.
"Ya, udah. Bobo lagi deh. Aku matiin lagi aja kalau gitu"
"Udah bangun kok sayang" jawabnya dengan suara parau.
"Bener? Aku mau ngomong nih" ujarku.
"Iya. Mas dengerin"
"Maafin aku, Mas. Ga seharusnya aku bersikap seperti semalam" ungkapku penuh penyesalan.
"Udah. Mau bilang itu aja?" Tanya Mas Adit datar.
Aku mengkerut, dalam hati sudah merasa dongkol.
"Iissshh" aku berdesis kesal.
"Hehehe, pasti udah cemberut nih. Bibirnya pasti dah manyun. Pengen Mas cium deh, tu bibir manyun" candanya.
Mau tak mau aku tersenyum dibuatnya, karena kata-kata Mas Adit memang sangat benar. Dia sudah hafal akan tabiatku. "Dih, sok tahu!"
Mas Adit terkekeh. "Iya, maafin Mas juga. Kebawa emosi semalam", suara Mas Adit juga terdengar menyesal.
"He'ehm. Tahu ga, Mas. Dari kejadian semalem, aku mikir bahwa aku beruntung. Kesibukanku kerja disaat aku pas masih single. Aku ga bisa bayangin kalau udah married terus harus ngebagi waktu antara urusan kerjaan, anak, suami, rumah tangga. Beuuuhh, ribet banget pastinya" cerocosku.
"Iya, emang selalu ada hikmah disetiap kejadian" respon Mas Adit.
"Aku tuh salut Mas, sama ibu rumah tangga yang juga merangkap sebagai wanita karir. Mereka wanita hebat. Banyak pandangan miring tentang ibu-ibu yang merangkap sebagai wanita karir. Bilangnya ga sayang anak lah, lebih mentingin urusan duniawi lah. Padaha 'kan kita ga tahu motivasi mereka tetap kerja sambil urus rumah tangga itu apa"
"Ya mungkin karena penghasilan dari suami belum bisa mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Mungkin juga suami ga keberatan istrinya bekerja. Tapi kalau menurut Mas sih, kalau pendapatan suami udah mencukupi istri cukup di rumah aja. Masak yang enak-enak buat anak-suami, merawat dan mendidik anak-anak dengan baik, dan yang pasti ngelayanin suami di kasur tiap malem. Suami pasti tentram dan ga bakal lirik kanan-kiri" jawab Mas Adit menyetujui pandanganku.
"Iya, makanya aku pilih resign. Karena aku tahu Mas Adit bisa mencukupi kebutuhan kita dan anak-anak nanti. Eh, tapi ga tiap malem juga kali, Mas. Bisa kopong lututnya ntar!" ujarku mengingat tugas istri yang diungkapkan olehnya tadi. Mas Adit tergelak.
"Ih, mesum aja nih. Maksud mas itu, ya mijitin suami kalau suami capek. Suami 'kerja tiap hari, capeknya juga pasti tiap hari"
__ADS_1
"Gempor tanganku. Cari istri tukang pijit aja kalau gitu, Mas!" Kami berdua tergelak.
"I love you. I've never regret my decision to be a part of your future" cetusku.
"I love you, too. I'll do my best. You're the one and only" jawab Mas Adit dengan suara takzim.
"Dua minggu lagi, segeralah dataaangg! Aku udah ga sabar mempersunting gadis manis ini untuk menjadi istrikuuu!!" Seru Mas Adit tiba-tiba, dan sukses mengagetkanku.
"Mas, ihh! Pagi-pagi udah teriak-teriak. Papa sama Mama kebangun nanti" ujarku mengingatkan.
"Emuuuacchhh muuuuaaaaccchhh. Ga sabar pengen peluk dan ciumin kamu tiap bangun pagi" Mas Adit mendaratkan ciuman online. Aku tergelak.
"Aku emoh. Mas Adit pasti bau iler kalau bangun tidur" cibirku, dan Mas Adit terkekeh.
"Eh, Sabtu jadi 'kan ke Surabaya? Papa sama Mama mau bahas teknis D-Day"
"Iya, jadi. Ya udah, aku siap-siap ya, Mas. Aku usahain sebelum gelap nanti udah sampe rumah. Love you" janjiku padanya.
"Love you, too" lalu Mas Adit menutup panggilan telepon.
Hari Sabtu, kami berempat berangkat ke Surabaya. Bune berniat menunjukkan usahanya di Surabaya pada Ibu.
Ibu dibuat terkagum-kagum. Walaupun bukan usaha besar, tapi keuntungan dari usaha kost-kostan dan berdagang bakso sudah sangat mencukupi dan bisa dikatakan berlimpah. Sore harinya, kami berangkat ke rumah Mas Adit. Ini adalah kunjungan pertama para calon besan. Rumah Mas Adit terletak di daerah perumahan di tengah kota Surabaya.
Rumah dua lantai, di dominasi cat oleh warna emas dan kuning gading. Tanpa halaman, hanya taman mini dan kolam ikan kecil yang berisi lima ekor ikan mas. Garasi hanya bisa memuat untuk dua mobil, jadi mobilku kuparkirkan di depan pagar.
"Mari, masuk" ujar Mama membukakan pintu pagar dan kemudian memeluk hangat kami satu per satu.
Sudah ada Papa dan Mas Adit duduk di sofa ruang tamu. Aku menyalami Papa, lalu duduk di sofa yang tersedia.
"Ga usah repot-repot, jeng" Ibu berbasa-basi.
"Ga repot, kok. Sudah disiapkan, tinggal bawa keluar" jawab Mama.
"Langit mau main Nintendo atau PS? Yuk, ikut ayah" ajak Mas Adit pada Langit. Langit memang sudah dibiasakan memaggil ayah pada Mas Adit. Langit melonjak kegirangan.
Mas Adit berjalan tanpa kruk. Menggunakan sofa, lemari pajangan, dan dinding sebagai alat bantu jalan. Langit dengan sabar mengikuti langkah ayah sambungnya. Aku bangga melihat pencapaian Mas Adit.
"Bandel dia. Disuruh pake kruk ga mau. Tapi jalan masih merayap gitu. Sok-sokan!" Dengus Papa sebal.
"Adit denger, Pa!" Seru Mas Adit dari arah dalam rumah.
Papa terkekeh dan kami tersenyum geli. Mama keluar membawa senampan air sirup dan enam gelas yang telah berisi es batu, berikut tiga toples camilan. Ibu berinisiatif membantu menurunkan bawaan Mama ke meja ruang tamu.
"Monggo, sekecakaken (silahkan, dinikmati)!" Cetus Mama lalu duduk di sebelah Papa.
"Begini, Bu. Pihak keluarga besar dari kami ingin menghadiri acara lamaran dan akad. Padahal rencana saya awalnya, keluarga besar cukup hadir saat resepsi pada sore harinya saja. Agar nuansa ijab-qabul lebih sakral. Tapi keluarga besar saya dan istri memaksa. Mereka ingin melihat wanita hebat yang berhasil meruntuhkan hati anak saya yang sempat membeku sepeninggal mendiang istrinya" ujar Papa mengawali.
"Kira-kira berapa orang?" Tanyaku tampak khawatir. Mas Adit kembali ikut duduk bersama kami.
"Sekitar 200 orang. Karena saudara-saudra jauh juga akan ikut datang, termasuk saudara yang ada di Swiss dan Vietnam. Yang di Swiss adik saya, dan Vietnam kakak istri saya. Adik perempuan saya mendapat jodoh orang Swiss dan diboyong suaminya kesana. Sementara kakak ipar saya, dalam rangka dinas kerja di Vietnam" terang Papa.
__ADS_1
Aku tak bisa tidak membelalak. Aku cukup terkejut mendengarnya. Sementara keluarga Ibu dan Bune, hanya keluarga inti yang diundang, tak lebih dari 70 orang.
"Waduh, apa tidak bisa cukup dihadiri keluarga inti saja? Saya takut kapasitas rumah kami yang tidak memadai akan mengurangi kesakralan acara ini" Bune mengungkapkan keberatannya.
"Kalau masalah tempat yang dikhawatirkan, kita bisa sewa gedung. Untuk biaya sewa, kami pihak pria tidak keberatan menanggungnya. Termasuk biaya katering juga, kami siap menanggungnya" tukas Papa dengan lembut.
"Saya sama sekali tidak pernah mengkhawatirkan masalah biaya. Tapi Pak Wisnu, dimana-mana orang lamaran itu mendatangi rumah calon mempelai wanita, bukan di gedung sewaan. Lagipula bukankah ini pernikahan kedua Nak Adit?" Aku bisa mengendus nada tersinggung dari ucapan Bune, walaupun diucapkan dengan lembut.
"Apa ada masalah karena ini pernikahan kedua anak kami?" Tanya Mama, yang kali ini juga terdengar tersinggung.
"Bukan, bukan seperti itu. Waduh, gimana ya enaknya" bune tampak bingung.
"Begini saja, Bu. Kita bicarakan lagi dengan keluarga besar masing-masing. Setelah ada keputusan, kita bisa menyampaikan kepada Wulan dan Adit" cetus Ibu menengahi.
Kamipun sepakat. Acara dilanjutkan dengan makan malam bersama yang sudah disiapkan oleh Mama. Mama yang asli Makassar menyiapkan makanan khas daerahnya, yakni Coto Makassar lengkap dengan buras.
Kami pulang saat mendekati pukul sembilan malam.
Hari Minggu-nya, aku ada janji kencan dengan Mas Adit. Kami akan nonton belanja di salah satu pusat perbelanjaan tengah kota Surabaya. Setelah memesan tiket bioskop, kami memutuskan makan siang dulu di foodcourt.
"Mas mau makan apa?" Tanyaku melihat sekeliling gerai makanan yang tersedia.
"Nasi timbel aja. Maaf ya, jadi mesti kamu yang jalan" Tukas mas Adit.
"Santai sayang" ujarku sembari tersenyum sangat manis.
Aku menuju gerai nasi timbel dan memesan. Pesananku selesai dan aku membawa nampan ke gerai di sebelahnya yang menyediakan aneka dimsum. Aku sedang tidak ingin makanan berat. Aku memesan tiga porsi dimsum dengan tiga varian berbeda.
Saat menunggu pesananku selesai, tiba-tiba ada seseorang memanggil namaku dari belakang tubuhku.
"Wulan 'kan?" Ya ampun, udah lama ga ketemu. Kangen aku" tiba-tiba pria itu memelukku.
"Vid!" Aku memprotes dan melepaskan pelukan David. Pria itu adalah David. Teman kuliah yang dulu sempat naksir padaku. Dalam hati rasanya ingin menghampar pria yang ujug-ujug main peluk ini.
"Eh, sorry sorry. Masih judes aja, Lan" selorohnya.
"Sama siapa?" Ujarku berbasa-basi.
"Sama cewekku" tunjuknya pada meja dimana terlihat perempuan seksi sedang duduk menunggu.
Dih, ada ceweknya main peluk wanita lain. Apa ga khawatir ceweknya marah? Rutukku dalam hati
"Aku sama calon suamiku" ujarku sambil menunjuk Mas Adit yang tampak menatap kami.
"Eh, mau married? Siapa pria ketiban sial yang ngedapetin kamu?" Cibirnya bercanda.
"Enak aja!" Aku terkekeh.
"Eh, duluan ya. Pesananku udah datang" aku menata dimsum dalam satu nampan dan berlalu meninggalkan David.
Aku sudah sampai di depan Mas Adit. Aku bisa melihat wajah keruh dan tatapan tajam Mas Adit ke arah David.
__ADS_1
"Siapa itu?" Ketusnya.
Haiyaaa, masalah satu belum selesai timbul masalah balu aaaa (logat Cina). Ada yang cembokur nih yeee