
**Sebelum membaca minta like sama komentarnya ya para reader tersayang. Kritik dan saran juga dipersilahkan. Happy reading buat semuanya**
Aku sudah tak bisa menghindar lagi. David berlama-lama menikmati bakso dan es jeruknya. Tak mungkin aku mengusirnya saat dia disana menggunakan label sebagai seorang pelanggan.
Seperti biasa, menjelang sore kondisi warung mulai lengang. Akhirnya aku menghampiri David yang sedang memutar-mutar sedotan dalam gelas es jeruknya yang isinya tinggal seperempat.
"Aku mau bersih-bersih rumah, Vid. Ngobrol di rumah aja yuk. Ga lama kan? Aku mesti bersih-besih soalnya" tukasku.
"Heemm, tergantung" jawabnya asal.
"Tergantung gimana?" tanyaku sambil menautkan alis.
"Kalau aku pengen lama, ya lama. Kalau aku pengen cepet, ya cepet. Enak lama. Aku seneng mandangin wajah kamu lama-lama, Lan. Ga bosenin", ucapnya sambil cengiran jail.
Aku hanya memutar bola mataku menaggapinya. Kemudian berjalan menuju rombong bakso. Bune sedang di dapur, mencuci mangkok dan gelas kotor. Sementara Pakne menjaga warungnya.
"Pakne, Wulan mau bersih-bersih rumah dulu ya. Sekalian mau ngobrol sama teman Wulan di rumah sebentar" ujarku berpamitan.
"Iya, Nduk. Kalau capek ga usah bersih-bersih. Tadi pagi kan sudah bersih-bersih"
Aku hanya menjawab dengan menunjukkan tanganku dimana jari telunjuk dan ibu jariku membentuk bulatan sambil mengedipkan sebelah mata. Pakne tertawa atas tingkahku itu.
Kemudian aku dan David menyeberang jalan dengan David menuntun motornya. David memarkirkan motornya di halaman rumah.
"Duduk dulu, Vid. Kalau minum ambil aja air mineral yang di meja. Tadi juga udah minum es jeruk 'kan?" ujarku sambil menunjuk pada sofa L di ruang tamu.
David menurut dan duduk di tengah-tengah sofa, sementara aku memilih duduk di ujung sofa dekat pintu. Aku menunggunya berbicara.
"Lan, aku mau bikin pengakuan. Aku suka sama kamu. Aku rasa kalau masalah itu kamu pasti udah tahu. Kamu mau jadi cewekku ga?” tukasnya to the point.
"Sorry, aku ga bisa Vid" jawabku dengan senyum penyesalan.
"Kamu ga suka aku? Padahal aku ganteng lho, Lan!" ucapnya percaya diri dengan nada bercanda.
__ADS_1
"Aku tahu kamu tampan. Tapi maaf, aku tidak menyukai kamu. Itu salah satu alasan aku tidak bisa menerimamu" jawabku kalem.
"Emang ada alasan yang lain? Apa kamu udah punya pacar?"
Aku menggeleng.
"Punya suami mungkin?" tanyanya dengan nada ragu.
Aku kembali menggeleng.
"Jangan bilang kamu suka sesama?" tanyanya dengan wajah dikernyitkan
"Hahaha. Ngawur! Ya enggak lah" aku tertawa mendengar tebakannya yang ngawur.
"Lalu apa? Jangan bikin aku mati duduk karena penasaran, Lan. Aku udh pede sama wajah tampanku. Dipadu motor ninja yang keren, nilaiku jadi plus plus mestinya" ujarnya penuh percaya diri
"Aku udah ada yang punya, Vid" jawabku dengan sorot mata serius.
(Piye : Bagaimana)
"Yang memiliki aku ini, Vid" ucapku sambil mengelus perutku.
Arah pandangan David mengikuti gerakan tanganku. Awalnya wajahnya menunjukkan sorot bingung, sedetik kemudian matanya membulat tak percaya.
"Kamu bercanda! Kalau mau nolak pakai alasan yang logis dong, Lan. Pacar ga punya, suami ga ada. Emangnya kamu Bunda Maria? Atau kamu penganut free s**?"
"Aku bukan keduanya. Tapi mungkin kamu ga akan percaya, aku diperkosa" ucapku sambil menyilangkan tangan di depan dada serta menyilangkan kakiku. Sebenarnya hatiku tersayat kembali saat mengatakan itu. Luka di hatiku masih merah, belumlah sembuh. Tapi kini harus berdarah kembali.
"Dan kamu memilih mengandung anak itu? Aku ga percaya. Biasanya mereka akan memilih aborsi. Yang hasil suka sama suka aja pada rame-rame aborsi. Aku ga percaya" ucapnya menyangkal.
"Aku ga memaksa kamu untuk percaya atau tidak. Yang pasti itulah faktanya. Aku diperkosa, lalu hamil. Laki-laki. Mau liat foto hasil USG supaya kamu lebih yakin kalau aku ga mengada-ada?" tukasku dengan nada ringan walau dadaku bergemuruh.
David tidak menjawab. Hanya duduk mematung dengan ekspresi yang sulit dibaca.
__ADS_1
"Kalau sudah tidak ada yang mau dibicarakan lagi, aku mau naik ke atas. Aku berterima kasih untuk perasaanmu, tapi maaf aku tidak bisa membalasnya. Sudah sore, aku mau bersih-besih. Aku permisi dulu, Vid" pamitku pada David kemudian berlalu tanpa menunggu reaksinya. Aku sudah tak mampu membendung air mataku.
Aku berjalan menaiki tangga dengan langkah tergesa karena air mata yang mulai mengalir. Aku tak ingin ada salah satu penghuni kost yang melihatku menangis. Untungnya aku tak berpapasan dengan siapapun dalam perjalanan ke lantai dua.
Dikamar aku mengunci pintunya, mengambil posisi yang selalu aku lakukan jika ingin menenangkan diri. Posisi memeluk lutut. Aku merasa tenang saat melakukannya. Merasa seolah tidak ada yang bisa menyakitiku saat aku pada posisi demikian.
Aku menangis beberapa lamanya. Aku sebenarnya tidak tahu mengapa aku menangis. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.10 saat aku mulai merasa tenang. Aku memutuskan untuk mencuci mukaku terlebih dahulu sebelum memulai bersih-bersih.
Menjelang maghrib bersih-bersihku selesai. David sudah tidak ada di ruang tamu saat aku membersihkan lantai bawah. Setelah bersih-bersih rumah, selanjutnya adalah membersihkan diriku sendiri.
Di kamar mandi aku termenung. Calon anakku laki-laki, kuketahui saat aku kontrol ke dokter Ibrahim tiga hari yang lalu. Seperti yang aku pikirkan dahulu, aku memilih nama Langit untuknya. Nama panjangnya siapa? Aku memikirkan hal tersebut sambil tersenyum-senyum.
Selesai mandi aku menuju warung bakso untuk membantu berdagang. Warung sudah tampak ramai. Waktu makan siang dan makan malam memang adalah saat-saat warung Pakne akan ramai pengunjung, seperti warung pada umumnya.
Saat aku mengambil alih pekerjaan Bune yang sedang membuat es teh, Bune bergumam padaku, "Kalau warung sudah sepi nanti cerita apa ya, Nduk"
"Cerita apa, Bune?" ujarku pura-pura bingung.
"Ya yang tadi, sama pemuda sipit tadi"
"Hahaha. Ga ada apa-apa, Bune. Seperti yang saya bilang tadi si pemuda sipit mundur teratur" jelasku pada Bune.
"Memangnya dia langsung bilang jadi ga suka lagi gitu?" tanya Bune penasaran.
"Dari ekspresinya kelihatan Bune. Ga mungkin kan dia bilang 'Ya udah, rasa sukaku ke kamu aku tarik kalau gitu'. Masa dia mau bilang gtu. Bune ini gimana sih?" kataku dan tergelak, membayangkan David berkata demikian.
"Kamu langsung nolak, Nduk? Ga dipertimbangkan dulu gitu?" tanya Bune lagi. Sepertinya Bune yang lebih menginginkan agar aku mempunyai hubungan dengan seorang pria. Bune dan Pakne tidak mengetahui kondisiku bila didekati dan berkontak fisik dengan seorang pria. Jika Bune mengetahuinya tentu Bune akan maklum dan tak mendesakku untuk memiliki hubungan dengan seorang pria.
"Ya mau gimana lagi, Bune. Daripada dia kecewa pas perut Wulan kelihatan membuncit, mending tahu sekarang. Bulan depan mungkin sudah mulai kelihatan. Kalau jodoh ga kemana, Bune" ujarku menenangkan.
"Pak, bakso campur bungkus lima ya!" ujar seorang pelanggan.
Benarkah keputusan Wulan untuk menolak David? Apakah David akan mundur mengetahui fakta bahwa gadis yang beberapa bulan ini mengisi hatinya tengah berbadan dua? Benar kata Wulan, kalau jodoh tak akan kemana.
__ADS_1