
Bu Nimas baru saja membuatkan es teh untuk pelanggan yang baru saja memesan di warungnya. Di seberang, dia melihat gadis yang tadi makan di warungnya menggoyang-goyangkan lonceng rumah kost-nya.
"Pak, lagi ada yang cari kost kayaknya", kata Bu Nimas pada Pak Jaka, suaminya.
Pak Jaka melihat arah rumah kost-nya, dan melihat orang berdiri di depan pagarnya.
"Coba di samperin, Bu. Warung biar bapak yang tangani", kata Pak Jaka pada istrinya.
"Bisa, Pak?" tanya Bu Nimas khawatir melihat warung yang tampak ramai karena memang sedang jam makan siang.
"Tidak apa-apa, Bu. Keburu pergi calon penghuni barunya", kata Pak Jaka meyakinkan istrinya.
Akhirnya Bu Nimas menghampiri Wulan yang sedang berdiri di depan pagar rumah kost-nya.
Beberapa saat kemudian, Bu Nimas tampak kembali ke tempat usaha warung baksonya. Raut wajah sendu terpancar dari Bu Nimas saat menghampiri suaminya.
"Ono opo, Bu? Kok mukanya tampak begitu?" tanya Pak Jaka pada istrinya yang raut mukanya tampak tak biasa.
"Nanti saja ya Pak saya cerita, sekarang masih ramai", kata Bu Nimas.
Sudah mendekati pukul dua saat warung bakso yang diberi nama "Bakso Barokah" akhirnya mulai sepi. Hanya ada empat dari lima belas meja yang terisi pelanggan yang sedang menyantap bakso.
Pak Jaka dan Bu Nimas duduk bersebelahan di balik rombong bakso dagangan mereka. Bu Nimas mulai menceritakan pembicaraan dengan Wulan, yang kini sudah dia anggap sebagai anak angkatnya. Entah mengapa, hatinya hangat saat menatap mata gadis itu. Padahal itu adalah pertemuan mereka. Naluri keibuannya terusik dan terenyuh mendengar kisah pilu gadis tersebut. Seandainya itu anak perempuannya yang mendapat takdir seperti itu, tentu dia akan murka dan memperjuangkan keadilan untuknya.
"Pak, sepertinya sudah takdir kita akan segera punya cucu", tukas Bu Nimas pada suaminya.
__ADS_1
"Ibu ini ndagel apa gimana tho. Anak saja kita belum punya. Masak ujug-ujug ada cucu", kata Pak Jaka dengan nada sedih. Jujur sebenarnya Pak Jaka masih belum memupuk keinginannya untuk memiliki momongan. Walaupun saat ini usia mereka mulai mendekati lima puluhan. Tak ayal, pembicaraan mengenai kehadiran seorang anak pasti membuat Pak Jaka merasa sedih. Rasa cintanya yang begitu besar pada Bu Nimas, membuatnya memilih setia pada istrinya sekalipun Tuhan tidak mengaruniakan seorang putra dalam pernikahan mereka.
"Gadis itu sedang hamil karena diperkosa, Pak. Maaf sebelumnya kalau saya tidak berdiskusi dengan Bapak sebelum mengambil keputusan. Tapi saya susah kepincut sama gadis itu, Pak. Anaknya sopan, terlihat bahwa dia gadis baik-baik. Mungkin kalau dari dulu kita sudah dikaruniai seorang putri, mungkin anak kita sudah belia seperti gadis itu. Ibu sudah menganggap dia sebagai anak angkat, Pak. Bapak tidak keberatan kan?" terang Bu Nimas panjang lebar.
"Ya Tuhan, benar Bu? Ada buktinya kalau dia benar-benar diperkosa? Kita kan tidak bisa begitu saja langsung percaya sama orang yang baru kita temui"
"Benar Pak, tadi dia nunjukin surat dari kepolisian yang menyatakan bahwa kasusnya tidak dapat dilanjutkan proses. Dia bilang karena campur tangan orang tua para pelaku. Empat orang yang melakukannya, Pak. Ibu hampir menangis mendengar ceritanya" jawab Bu Nimas.
"Lalu orang tuanya?", tanya Pak Jaka.
"Ibunya sekarang pergi untuk menjadi TKW. Ayahnya sudah lama meninggal. Dia anak tunggal. Bapak mendukung keputusan Ibu kan? Ibu merasa melihat anak Ibu yang sudah dewasa saat melihat gadis itu. Ditambah membayangkan akan ngemong cucu, Ibu tambah seneng rasanya, Pak" papar Bu Nimas.
"Nanti kita bicara bertiga sama gadis itu ya, Bu. Siapa tadi namanya?”
"Pak, bakso campur satu, teh anget satu" pesan seorang pelanggan pria yang baru datang.
"Siap mas, silahkan duduk nanti saya antar" kata Pak Jaka.
Pak Jaka dan Bu Nimas kembali menjalankan tugasnya masing-masing di warung baksonya.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<<
Waktu menunjukkan hampir pukul satu siang saat Bu Nimas meninggalkanku di kamar yang sesaat lalu berniat kusewa. Kamar dicat warna hijau daun, memberikan kesan sejuk. Dalam lemari terdapat dua buah sprei beserta sarung guling dan sarung bantal. Aku segera memasang sprei pada kasur tanpa dipan yang terletak di bagian dalam kamar.
Selesai membenahi tempat tidur, aku segera membongkar tas yang aku bawa. Mengatur beberapa baju dalam lemari satu pintu berukuran sedang dengan tiga sekat. Setelah menata ini dan itu dalam lemari aku beranjak menuju kamar mandi, aku merasa badanku lengket. Kost tampak lengang, sepertinya para penghuni kost sedang tidak berada di tempat.
__ADS_1
Kebisaan mandi berlama-lama sudah hilang tanpa kusadari. Tepat setelah aku memutuskan untuk melahirkan anak ini. Perasaan ikhlas akan ketetapan Tuhan, membuatku lebih tegar menghadapi takdirku.
Setelah mandi, aku kembali ke kamar dan merebahkan diri. Aku merasa letih karena perjalanan dan mengurus t*t*k bengek perisapan kuliah seorang diri. Mataku sudah terasa berat hingga akhirnya aku jatuh tertidur.
Aku terbangun karena mimpi buruk. Mimpi burukku itu rupanya senantiasa betah untuk mengganggu tidurku. Pukul 16.05 saat aku melirik jam pada ponselku. Tidak ada lagi gangguan dari ponselku sejak kelulusan. Euforia kelulusan SMA tak dapat kurasakan.
Aku memutuskan bangun dan mencari peralatan bersih-bersih di bagian belakang kost. Aku menemukan seperangkat vacuum cleener dan alat pel, lengkap dengan cairan pembersih lantai. Aku mulai membersihkan kost dari bagian lantai dua, kemudian melanjutkan dengan lantai satu.
Semburat warna merah tampak menghiasi langit. Pemandangan langit sore pertamaku di Surabaya. "Indah", pikirku. Tiba-tiba terbersit, nama untuk anakku. Indah jika perempuan, Langit jika laki-laki. Aku tersenyum tatkala membayangkan nama-nama itu.
Setelah bersih-bersih aku kembali mandi. Cukup melelahkan mengingat luas bangunan rumah kost ini 30x40 meter, dan memiliki dua lantai.
Hari sudah gelap saat aku keluar dari kost-kost-an. Aku menyeberang jalan dan bermaksud memesan bakso lagi, tentu saja pada warung "Bakso Barokah". Entah mengapa, aku tak pernah bosan dengan olahan daging yang berkuah tersebut.
Sampai di warung, aku celingukan mencari Bu Nimas bermaksud hendak menyapa.
"Nak Wulan, sini!" ajak Bu Nimas melambaikan tangan dari balik rombong baksonya. Ada kursi memanjang, dan di sana telah duduk Bu Nimas dengan seorang pria paruh baya yang aku duga adalah suaminya.
Aku duduk di pinggir kursi, sementara Bu Nimas di tengah dan Bapak tersebut di ujung yang lain.
"Wulan, Pak", ujarku seraya mengulurkan tangan.
"Jaka", katanya seraya menerima uluran tanganku. "Bapak sudah dengar cerita tentang kamu dari Ibu, Nduk. Bapak ikut prihatin. Bapak mau bicara samu kamu sekarang, bisa?" tanya Pak Jaka padaku dengan sorot yang tak bisa kutebak.
Wulan merasa khawatir dengan apa yang akan ditanyakan oleh Pak Jaka? Apakah Pak Jaka mendukung keputusan istrinya, atau justru malah sebaliknya? Bagaimana kalau ternyata Pak Jaka tidak berkenan menerima penghuni yang sedang hamil, apalagi tiba-tiba telah diangkat anak oleh istrinya tanpa meminta pendapat darinya terlebih dahulu. Wulan sudah merasa pasrah jika diminta pindah oleh Pak Jaka, padahal dia sudah merasa nyaman di rumah kost tersebut.
__ADS_1