
Dua hari sepeninggal Pakne, Bune mulai bisa sedikit "normal". Dimulai dengan menjawab pertanyaan sanak saudara yang ingin tahu kronologi kejadian sampai Pakne ditemukan sudah meninggal.
Bune sudah mulai bisa tersenyum walau senyuman getir, saat Langit bertingkah khas batitanya.
Waktu menunjukkan pukul tujuh lewat saat aku sedang menyeduh teh di dapur untuk jamuan para sanak saudara yang masih menginap.
"Lho, Nduk. Kok belum siap? Bukannya hari ini kamu mulai kerja?" Bune menegur melihatku yang masih mengenakan babydoll.
Kesibukan kemarin benar-benar membuatku melupakan penerimaanku di perusahaan baru.
"Wulan ikhlasin Bune. Disini masih repot, masih berkabung. Tak elok jika Wulan memaksa masuk kerja sekarang" jawabku dengan senyum tulus.
"Sudah, kamu berangkat sekarang! Keburu telat"
"Bune sudah tidak apa-apa. Ada banyak saudara juga disini" ujar Bune sambil mendorongku keluar dari dapur.
"Tapi, Bune..."
"Sudah, siap-siap sana!" perintah beliau padaku.
Dengan tergesa aku bersiap untuk memulai hari kerja pertamaku. Aku menimbang-nimbang untuk meminta izin saja saat tiba disana nanti. Tapi bimbang, tidak etis rasanya seorang karyawan baru yang hari pertama masuk kerja tapi sudah berniat minta izin.
"Ah sudahlah, apa kata nanti" gumamku mematut diriku di cermin. Memperhatikan penampilanku yang ala kadarnya di hari pertama kerja.
"Sayangnya Ibu, Ibu kerja dulu ya. Cikum sini dulu" pamitku pada Langit yang sedang asyik menonton YouTube dari tabletnya.
"Ibu teyja? Kalau ibu teyja Yangit sama uti sm Tatung?" tanyanya dengan muka mengernyit
"Sama uti aja, sayang. 'Kan Kakung sudah di surga"
"Hmm iya. Ibu ati-ati yaa. Semoda dapat duit yang buanaaakk" ujarnya polos sambil meraih tanganku untuk bersalim.
Bune sedang berada di dapur ditemani Bulek Har, adik perempuan Pakne yang tinggal di Probolinggo.
"Bune, Wulan pamit dulu" ujarku berpamitan, mencium punggung tangan Bune dan juga Bulek Har.
"Mau kemana?" tanya Bulek Har heran.
"Kerja" justru Bune yang menjawabnya.
"Permisi dulu, Bulek" sepintas tatapan sinis terpancar dari mata Bulek Har. Sempat-sempatnya pergi kerja padahal suasana sedang berkabung. Begitu kira-kira yang dipikirkan Bulek Har.
Aku tak ambil pusing. Segera melajukan motorku ke tempat tujuan.
Pukul delapan tepat aku sampai di gerbang PT. Textile Globalindo. Pihak security seperti biasa mengarahkanku ke parkir tamu.
Pihak resepsionis mengarahkan agar aku langsung ke lantai 10. Menuju ruang dengan pintu berlabel "MANAGER HRD".
Sampai di lantai 10, keluar dari lift aku langsung berbelok ke kanan. Suasana tampak lengang dan sepi. Sama seperti di lantai 8, begitu pintu lift dibuka maka ada deretan toilet di seberangnya. Tepat di sebelah lift terdapat tangga, lalu ruangan berukuran sedang berlabelkan "PANTRY".
Selanjutnya baru ruangan-ruangan dengan label manager per divisi. Menyusuri lorong dan membaca label yang tertempel pada tiap pintunya.
Deretan pertama pintu di kananku "MANAGER PRODUKSI", di kiriku "MANGER SUPPLY CHAIN"
Deretan kedua di kananku "MANAGER UMUM", di kiriku "MANAGER ACCOUNTING"
__ADS_1
Deretan ketiga, di kananku "MANGER LOGISTIK" dan di kiriku "MANAGER PEMASARAN"
Deretan keempat, dikananku "MANAGER WAREHOUSE" dan di kiriku "MANAGER HRD".
Aku tersenyum tipis. Akhirnya.
Aku sempat melirik pintu-pintu di deretan depanku yang belum sempat aku lalui. Ada total empat pintu, masing-masing berlabel "DEWAN DIREKSI 1", "DEWAN DIREKSI 2" "DEWAN DIREKSI 3" dan "SEKRETARIS DIREKSI".
Di bagian paling ujung, terdapat ruangan dengan pintu paling besar dan berlabel "DIREKTUR UTAMA"
Aku merapikan sebentar rambutku yang kukuncir kuda, tak lupa juga bajuku. Melirik jam tangan mungil di pergelangan tanganku, pukul 08.15. Terlambat 15 menit.
Tok tok.
Aku mengetuk pintu dengan label "MANAGER HRD".
"Masuk!" terdengar pelan suara dari dalam ruangan, teredam oleh pintu yang tertutup.
Aku membuka pintu perlahan dan melongokkan kepalaku ke dalam. Tampak Pak Ronald sedang menekuni dokumen yang terletak di atas mejanya.
"Permisi, Pak. Selamat pagi"
Pak Ronald mengangkat wajahnya dan menatapku yang masih berdiri di ambang pintu.
"Oh, Wulan ya? Masuk masuk" ujarnya dengan senyum khasnya.
"Silahkan duduk" ucap Pak Ronald begitu aku sudah menutup pintu ruangan.
Aku duduk di depan Pak Ronald.
Aku tersenyum dan mengangguk, menyambut uluran tangannya.
"Terima kasih, Pak. Saya beruntung bisa bergabung di perusahaan besar seperti ini"
"Silahkan di baca dan dipahami kontrak kerjanya. Tanyakan jika ada yang dirasa tidak jelas" ujar Pak Ronald menyodorkan dua eksemplar, yang masing-masing terdiri dari 3 lembar kertas kepadaku. Dua eksemplar isinya sama. Pasti satu adalah copy, dan satu lagi sebagai arsip.
Butuh beberapa menit untukku membaca tiap klausul yang ada. Semua peraturan, hak, dan kewajiban karyawan tertulis jelas di dalam kontrak kerja tersebut. Dilembar terakhir, sudah ada selembar materai yang ditempelkan.
"Sebelum saya menandatangani kontrak kerja ini, apa boleh saya mengajukan cuti hari ini sampai hari Jum'at?"
Aku tahu permintaanku sungguh tidak tahu malu. Tapi aku harus menyampaikannya.
"Cuti?" Pak Ronald mengerutkan alisnya heran.
"Saya tahu permintaan saya kesannya tidak tahu malu, Pak. Tapi saat ini keluarga saya sedang dalam masa berkabung. Bapak saya meninggal dunia hari Sabtu kemarin"
Pak Ronald terhenyak mendengar penuturanku.
"Saya turut berduka mendengarnya" ujarnya tulus.
"Bagaimana kalau begini. Hari permulaan kerja diganti Senin minggu depan? Jadi kamu tak perlu mengajukan cuti"
"Bisa Pak?"
"Bisa dong!" selorohnya.
__ADS_1
"Tolong kemarikan lembar pertama. Saya edit dulu tanggal pertama masuk kerjanya"
Aku menyerahkanya.
Beberapa menit kemudian, Pak Ronald menyerahkan selembar kertas yang baru saja diprint, dengan tanggal permulaan training yang sudah diubah.
Aku langsung menandatangani surat kontrak kerja tersebut.
"Sudah dicermati baik-baik?" tanya Pak Ronald saat aku menyodorkan kembali kontrak kerja tersebut.
"Sudah, Pak" jawabku mantab.
"Oke kalau begitu, salinannya kamu bawa. Yang satu sebagai arsip kami"
"Selamat bergabung, ya, Wulan" ucap Pak Ronald.
"Terima kasih, Pak"
"Ayo saya antar" ujar Pak Ronald
"Kemana?" tanyaku bingung.
"Pulang lah! Kamu mau saya antar kemana lagi? Saya siap, kalau perlu sampai pelaminan" selorohnya.
"Maksudnya, Pak?" aku tetap kebingungan, disertai wajah yang memerah karena gurauan Pak Ronald tadi.
"Saya mewakili perwakilan perusahaan hendak melayat. Sudah biasa seperti itu di perusahaan ini jika ada staff-nya yang kepaten" Pak Ronald menjelaskan.
"Sudah ada dananya juga" lanjutnya.
"Tapi saya bawa motor Pak"
"Motor biar diantar anak OB saja pas jam istirahat nanti. Kan aneh kalau kamu naik motor tapi saya naik mobil padahal satu tujuan"
"Saya ga mau merepotkan, Pak" aku mencoba menolak dengan halus.
"Sama sekali tidak repot. Sudah menjadi tugas dan kewajiban saya memberi dukungan moril pada karyawan yang tertimpa musibah"
"Ayo!" ujarnya sambil memainkan kunci mobil dengan jarinya, diputar-putar sedemikian rupa.
Di lift kami berdua berdiam diri tanpa suara.
Ting. Pintu lift terbuka.
"Tunggu di lobby ya! STNK motor kamu titipkan sama resepsionis saja. Biar nanti bisa dibawa sama OB" perintah Pak Ronald dan berlalu menuju parkiran mobil.
Aku hanya bisa manut, lalu menitipkan STNK motor pada wanita di balik meja resepsionis.
"Mbak, titip STNK motor saya. Nanti biar diambil sama OB. Begitu kata Pak Ronald tadi" ujarku menjelaskan.
Perempuan tersebut hanya mengangguk dan tersenyum.
Wulan menunggu di lobby dengan pikiran masygul. Apa maunya Pak Ronald ini? Was-was dan bingung berkecamuk dalam pikiran Wulan.
**********************************************
__ADS_1
~Kepaten adalah musibah kematian yang menimpa