Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 16 Usaha Pencegahan


__ADS_3

"Maafin aku, Lan. Aku tahu aku brengsek. Tapi aku tetap sayang kamu, Lan. Aku terima kamu apa adanya dan berjanji tak akan pernah meninggalkanmu." Ryo berkata padaku dengan penuh sesal karena tak mampu melindungiku.


Tanpa mempedulikan apa yang dikatakan Ryo, aku segera beranjak dari Kantor Polsek. Pikiranku hanya satu, aku harus mendapatkan hasil visum itu dari Ibu.


Aku melajukan motor dengan pikiran kalut. Saat aku tiba dirumah tampak matahari telah tergelincir diufuk barat. Aku segera mencari keberadaan ibu. Rupanya beliau sedang berada di kamarnya, duduk bersandar pada sandaran tempat tidur sambil mengunyah sesuatu dan mengamati ponselnya.


Alih-alih berbasa-basi, aku langsung menodong ibuku, "Bu, mana surat keterangan hasil visum dari rumah sakit?"


"Sudah ibu bakar. Kau tak perlu surat itu, yang kau perlukan hanya menikahi Deni. Tadi pagi saat kau sedang tidur Pak Darma kemari, dan bilang Deni bersedia menikahimu setelah kalian lulus", jawab ibuku santai.


Mendengar pernyataan ibu, lututku langsung lemas dan jatuh terduduk di lantai kamar ibuku. Aku hanya bisa bergumam sambil terisak, "Aku ga mau, Bu. Aku ga mau. Aku sudah membenci Deni bahkan sebelum kejadian terkutuk itu."


Ibu tak mau menyerah memaksaku untuk menikahi Deni, "Ibumu ini sudah lelah hidup miskin, Lan! Pekerjaan yang ayahmu bangga-banggakan itu tidak berguna! Sekarang ayahmu hanya tinggal nama kerena pekerjaannya itu! Lalu apa yang ia tinggalkan untuk anak dan istrinya? Hanya kemiskinan, Lan! Ayahmu bangga sekali dengan status perwiranya. Sok menjadi pahlawan negara, tapi pecundang bagi keluarganya sendiri!"

__ADS_1


Aku tak mengerti mengapa ibu mengaitkan apa yang terjadi padaku dengan mendiang ayahku. Mungkin itu adalah ungkapan hati ibu selama menanggung beban hidup sendiri selama ini. Aku berontak tak terima ayah yang aku banggakan disebut pecundang. Dengan mata nyalang aku menatap ibuku, "Jangan pernah berani-berani menghina Ayah! Sampai akhir hayatnya, ayah selalu menyayangiku!" sergahku. Aku tak sanggup lagi berhadapan dengan ibu. Aku beranjak keluar kamar beliau dan membanting pintunya menutup.


Aku masuk ke dalam kamarku dengan lemas. Energiku rasanya telah habis terkuras. Aku menangis sambil tertelungkup, menangisi keadilan yang kini terasa semakin menjauh. Ditengah ratapanku, tiba-tiba aku teringat dengan pelajaran Bu Evi terakhir kali mengenai **** bebas. Beliau pernah menyebutkan bahaya **** bebas yakni kehamilan yang tak diinginkan. Aku terhantam akan ingatan itu.


Bagaimana jika aku hamil? batinku ketakutan.


Aku mengingat kembali tentang pencegahan kehamilan yang dijelaskan oleh Bu Evi. Khusus untuk korban kekerasan *****al, korban berhak diresepkan morning after pill maksimal 72 jam setelah kejadian.


Aku terhenyak. Aku harus segera mendapatkan obat itu. Aku tak ingin kejadian yang lebih buruk dari ini menimpaku. Segera kusambar kunci motor ibuku yang tergeletak di meja televisi, tujuanku adalah rumah sakit tempat aku menjalani visum. Aku kembali pergi tanpa pamit kepada ibuku. Hari sudah gelap saat aku melajukan motor yang aku kendarai.


Seorang dokter pria paruh baya duduk di meja kerjanya. Dengan senyum ramah dokter tersebut mempersilahkan aku untuk duduk. Kemudian aku duduk di seberang mejanya.


"Ada yang bisa dibantu, Nona....Wulan?" ujarnya sambil memeriksa kartu catatan pendaftaranku.

__ADS_1


"Saya ingin diresepkan morning after pill, Dok. Saya korban perkosaan. Dini hari tadi saya sudah melakukan pemeriksaan visum", jawabku langsung pada pokok permasalahan.


Tampak dokter tersebut terkejut dengan perkataanku. Dengan lembut dokter tersebut bertanya, "Hasil visumnya ada?"


"Dibakar oleh ibu saya. Ibu saya tidak mengijinkan saya memperpanjang kasus perkosaan tersebut, dan ingin berdamai dengan cara menikahkan saya dengan pelaku", jawabku sambil menunduk.


Terdengar nada sedih saat dokter berbicara padaku, "Saya turut bersedih atas kejadian yang menimpa Nona Wulan. Hanya saja saya minta maaf tidak dapat banyak membantu. Pemberian resep morning after pill hanya jika eligibilitas terpenuhi. Hasil visum dan atau surat penetepan kasus oleh pihak kepolisian. Sekali lagi saya minta maaf".


Aku menatap dokter tersebut dengan sorot mata putus asa, "Tapi saya tidak ingin hamil, Dok? Bagaimana masa depan saya jika saya hamil?"


Dokter tersebut hanya menggeleng sedih. "Mari kita berdoa agar kemungkinan tersebut tidak terjadi. Tuhan tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya", ujar dokter menasihatiku.


Aku keluar dari ruang dokter dengan lesu. Berbagai perasaan berkecamuk dalam dadaku. Takut, sedih, khawatir, marah, kecewa. Apa yang harus aku lakukan jika aku hamil? Apa aku harus aborsi? Tapi dimana dan bagaimana?

__ADS_1


Dengan perasaan murung Wulan kembali pulang ke rumahnya. Sepanjang jalan dan setiap hari selama beberapa waktu ke depan, Wulan hanya bisa berdoa semoga apa yang dia takutkan tak akan terjadi. Akankah Tuhan mengabulkan doa Wulan?


__ADS_2