Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 32 Rutinitas Baru


__ADS_3

Perbincangan kami bertiga berakhir bersamaan dengan selesainya sarapan. Aku membereskan meja makan, sementara Pakne dan Bune kembali ke warung bakso untuk mempersiapkan membuka warung.


Setelah mencuci piring, aku kembali ke kamarku. Merapikan sebentar, lalu menguncinya karena akan kutinggalkan untuk membantu di warung.


Saat perjalanan turun, aku memperhatikan tata ruang rumah kost ini. Saat menaiki tangga, tampak tata letak ruangan yang berbentuk "U". Rumah kost ini menghadap ke barat. Dibagian sisi timur yg berseberangan dengan tangga ada tiga kamar mandi, dapur, dan sebuah ruangan kecil tanpa pintu untuk menyimpan perkakas dan alat untuk bersih-bersih. Separuh dari sisi utara dibiarkan kosong dan tanpa atap, hanya berupa cor-coran semen dan dilengkapi dengan tali jemuran yang memanjang sepanjang hampir 10 meter sebanyak lima gelaran. Disebelah tempat menjemur, ada 4 buah kamar kost. Lalu di deretan sisi selatan terdapat kamar kost sebanyak 8 kamar yang dengar ukuran kamar 4x5 meter. Kamarku adalah disisi selatan, yang paling dekat dengan tangga.


Di lantai bawah, begitu masuk dari pintu depan, terdapat sofa berbentuk L dengan meja lingkaran berukuran sedang. Antara ruang tamu dan kamar-kamar kost-an disekat tembok dengan pintu geser dibagian ujungnya. Jika tidak ada tamu, seringnya pintu geser dibiarkan terbuka. Begitu melewati pintu geser, terdapat kamar-kamar kost yang memanjang berhadap-hadapan di sisi utara dan selatan, masing-masing sebanyak 7 kamar. Satu kamar yang terletak di ujung di deretan sisi utara adalah kamar induk semang, alias Pakne dan Bune. Di ujung timur lantai satu terdapat dapur, langsung dengan meja makannya. Di sebelah dapur terdapat kamar mandi, lalu ruang mencuci pakaian. Ruang mencuci pakaian tidak terdapat tembok dan pintu di bagian depannya, dilengkapi dengan mesin cuci dan jemuran portable berukuran besar dan kecil masing-masing satu buah.


Setelah mengamati sejenak desain rumah kost ini aku kagum, banyak sekali ruangannya. Dan memang kost-kost-an ini besar sekali, lebih cocok disebut penginapan jika tidak ada induk semangnya. Otak akuntingku berpikir, berapa pemasukan perbulan dari kamar yang disewakan. Pakne dan Bune sepertinya berasal dari keluarga berada, tapi penampilan mereka terlihat sangat sederhana dan tidak neko-neko. Aku tertawa sendiri memikirkan pendapatan Pakne dari sewa kamar kost.


Aku menuju warung bakso untuk membantu berjualan di warung. Warung buka pukul 10.00 tepat dan akan tutup pukul 22.00 atau di bawahnya jika ternyata habis sebelum waktu tersebut.


Bune sedang mengelap mangkok-mangkok bakso saat aku tiba di warung. Sementara harum kuah bakso tercium dari arah dapur. Kulihat Pakne sedang meracik sesuatu di dapur.


"Bune, saya yang lanjutkan ya? Bune bisa membantu Pakne di dapur. Biar saya yang beres-beres" tawarku pada Bune dari belakang tubuhnya.


Bune sedikit terlonjak. "Aduh, kaget Bune, Nduk! Kowe iki, ngageti ae. Untung mangkok-e ora ceblok. Bune lagi nglamun, makane ga weruh nek awakmu mlebu" kata Bune bersungut-sungut. Rupanya Bune dan Pakne akan refleks menggunakan Bahasa Jawa saat kesal atau bercanda.


(Aduh, kaget Bune, Nduk! Kamu ini, mengagetkan saja. Untung mangkoknya tidak jatuh. Bune lagi melamun, makanya tidak tahu saat kamu masuk)

__ADS_1


"Hahaha. Maaf Bune. Melamun apa sih, Bune? Sampai tidak sadar kalau ada orang yang masuk. Untung bukan maling yang masuk. Jangan dibiasakan ya, Bune" ujarku menasihati.


"Nglamunin bentar lagi mau nimang cucu, Nduk. Bune senang sekali rasanya" jawab Bune berbunga-bunga.


"Nanti habis maghrib saya mau ke dokter kandungan ya, Bune. Maaf nanti tidak bisa membantu, biasanya jam segitu 'kan lumayan ramai warungnya"


"Iya tidak apa-apa, Nduk. Kamu juga jangan terlalu capek. Kehamilan kamu masih sangat muda. Takut nanti terjadi apa-apa" ujar Bune, gilirannya menasihatiku.


"Ga capek kok, Bune. Wulan tahan banting, sudah terlatih sejak kecil" ujarku sembari mengangkat satu lengan, berpose layaknya Popeye si Pelaut.


"Kalau gitu, tolong ya. Bune bantu Pakne dulu di dapur"


Aku melanjutkan pekerjaan Bune. Setelah mengelap mangkok, gelas, garpu dan sendok aku lanjut membersihkan meja-meja dan kursi lalu menata sambal-saus-kecap-cuka di masing-masing meja. Lalu menyapu dan mengepel lantainya.


Jam sepuluh tepat warung sudah buka. Tak berselang lama pelanggan datang satu per satu. Mendekati waktu makan siang, warung semakin ramai. Aku berpikir, pantas saja Pakne Bune berniat mencari pegawai. Sebenarnya Pakne pernah mempunyai pegawai, tapi seminggu yang lalu berhenti. Alasan berhenti karena malu. Aku heran saat Bune bercerita tadi.


"Malu kenapa, Bune? Malu karena pekerjaannya hanya sebagai tukang bantu-bantu di warung?" tanyaku


"Bukan, Nduk. Malu karena kedapatan mencuri. Saat Pakne sibuk di dapur, Bune sedang ada perlu di rumah. Praktis warung hanya dia yang jaga. Sebenarnya Pakne tidak memecat pegawai tersebut, dan memberi kesempatan kedua. Dengan janji bahwa dia tidak akan mengulangi perbuatan tersebut. Tapi tiga hari setelah kejadian itu, tiba-tiba dia meminta ijin mengundurkan diri. Malu katanya, Pakne dan Bune tetap memperlakukan dia dengan baik meski dia telah melakukan kesalahan besar" terang Bune padaku.

__ADS_1


Aku terkagum sekaligus heran mendengar penuturan Bune. Kagum bahwa masih ada orang yang begitu baik seperti mereka dijaman seperti ini. Heran karena saking baiknya, Pakne dan Bune bisa dikategorikan sebagai orang yang naif. Percaya bahwa hakikatnya semua orang itu baik. Aku berdoa semoga kebaikan Pakne dan Bune tidak akan disalahgunakan oleh orang lain.


Membantu di warung "Bakso Barokah" sangat menyenangkan untukku. Membuatku tidak merasa bosan dan lupa akan kesedihanku. Menjelang pukul tiga sore aku pamit untuk pulang ke rumah karena ingin bersih-bersih kemudian akan ke dokter kandungan.


Kumandang adzan maghrib terdengar saat aku keluar dari kamar mandi. Aku masuk kamar dan mematut diriku di depan cermin kecil di dalam kamar. Aku menggunakan celana bahan ukuran ⅞ berwarna coklat susu dan sepasang flat shoes coklat tua polos. Sementara atasannya aku hanya mengenakan kaos berkerah tinggi lengan panjang warna abu-abu. Aku menguncir kuda rambut sepinggangku, dandanan rambutku sehari-hari.


Aku mengeluarkan motor dari garasi rumah. Garasi yang luas, cukup untuk 15 motor atau 5 mobil. Masih kosong, karena penghuninya sebagian besar masih di kampung halaman masing-masing untuk menikmati liburan. Aku mampir ke warung untuk berpamitan. Tampak di warung suasana cukup ramai, meja sudah nyaris terisi semua.


Aku sungkan meninggalkan warung dalam kondisi ramai dan berniat menunda kunjungan ke dokter kandungan, tapi Bune memaksa agar aku tetap pergi.


"Nama praktek dokternya 'Dr. Ibrahim Hadiningrat, SPoG'. Tanya-tanya kalau ragu ya, Nduk" ujar Bune berpesan padaku.


"Iya, Bune. Pakne saya pamit sebentar, ya"


Pakne hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban. Aku melajukan motorku dengan perlahan, takut terlewat. Perasaanku tak karuan. Senang dan khawatir. Senang karena akan memeriksakan kondisi calon bayiku. Khawatir karena ini adalah kali pertama aku pergi ke dokter kandungan.


Kamu sehatkah di dalam sini, Nak? batinku sambil memegang perutku.


Belum apa-apa Wulan sudah merasa sayang akan bayi yang dikandungnya. Bayi yang sebelumnya dia anggap sebagai musibah dan tak diinginkannya. Naluri keibuan sudah mengambil alih perasaan Wulan sepenuhnya saat dia memutuskan untuk melahirkan anak dalam kandungannya.

__ADS_1


__ADS_2