Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 15 Dikhianati


__ADS_3

Aku sampai di Polsek setelah tiga puluh menit berkendara. Tampak Ryo dan Lisa telah berada di ruang tunggu, menanti giliran untuk memberikan pernyataan. Tak lama kemudian menyusul Pak Broto juga duduk di ruang tunggu. Saat menunggu, aku heran pada sikap Ryo dan Lisa. Mereka tak ada yang berani menatapku atau setidaknya menanyakan kabarku. Kami menunggu dalam diam.


Pukul satu lewat, seorang polisi memanggilku dan Ryo untuk masuk ke ruang investigasi. Didalam ruangan terdapat meja panjang dan beberapa buah kursi. Ada dua orang polisi di dalamnya. Satu bertugas melakukan investigasi, sementara yang lain bertugas mencatat setiap pernyataan yang dikeluarkan. Alat perekam juga sudah dipersiapkan dan ?dalam kondisi "on".Polisi melakukan prosedur normal terhadap Ryo mulai dari menanyakan nama, usia dan lain-lain.


"Menurut saudari Wulan, dia dibawa paksa oleh para pelaku dan saudara Ryo saat itu ada di tempat kejadian. Apa benar begitu?" polisi mulai melakukan pemeriksaan silang.


"Saya rasa bukan seperti itu, Pak. Wulan naik ke mobil Deni dengan sukarela", jawab Ryo.


Bagai tersambar petir di siang bolong, aku terperanjat mendengar jawaban Ryo. Wajahku memucat karena perasaan shock. Refleks aku memekik, "Ryo, apa maksudmu?! Kau pasti sedang bercanda kan?!"


"Mohon tenang, Saudari Wulan", polisi tersebut memberi peringatan padaku. Lalu melanjutkan perkataannya pada Ryo, "Silahkan dilanjutkan, Saudara Ryo."


Ryo menceritakan kejadian malam itu dengan versinya. Tak jauh beda dengan versi yang aku ceritakan, tapi didalamnya mengesankan bahwa aku tidak diculik tapi aku masuk ke dalam mobil tanpa paksaan.


Aku tak sanggup berkata-kata selama mendengarkan pernyataan Ryo. Tubuhku lemas sekali. Hatiku berdenyut sakit dikhianati oleh orang yang aku percaya, orang yang aku cintai.


Polisi menyudahi sesi investigasi dengan Ryo, kemudian melanjutkan dengan Lisa. Saat Lisa memasuki ruangan, aku menatap Lisa penuh harap tetapi Lisa seperti sengaja tak mau melihatku. Aku mengingat sikap aneh mereka di ruang tunggu, tiba-tiba perasaanku mengatakan bahwa pernyataan Lisa tidak akan menguntungkanku. Dan benar saja, Lisa mengatakan hal serupa dengan Ryo. Lisa juga menambahi bahwa di sekolah banyak pria yang menyukaiku dan aku selalu bersikap "ramah" pada mereka semua. Kata ramah pada pernyataan Lisa mengesankan bahwa aku suka bermain dengan banyak laki-laki.


Tenggorokanku tercekat, mataku memanas. Aku tak mampu bicara.


Ya, Tuhan. Sahabatku? Kekasihku? Dalam hati aku mempertanyakan pada Tuhan, menolak percaya pada apa yang aku dengar.


Selanjutnya adalah giliran Pak Broto. "Saya menemukan mbak Wulan sedang duduk dipinggir jalan. Saat itu hujan deras. Yang saya lihat, pakaiannya saat itu sudah amburadul dan basah kuyup. Ada beberapa luka memar dipipinya. Saya pikir dia habis di rampok. Lalu mbak Wulan meminta pada saya untuk diantarkan ke rumah sakit", ujar Pak Broto menerangkan.


Tak banyak yang bisa diceritakan Pak Broto, karena memang seperti itulah kejadiaannya. Pernyataan Pak Broto tak bisa aku andalkan. Harapanku satu-satunya adalah hasil visum dan kesaksian dari saksi ahli. Tapi harapanku pupus saat terdengar ketukan di pintu.


Tok tok. Ceklek.

__ADS_1


Seorang polisi wanita memasuki ruangan. Polisi tersebut berbisik kepada polisi yang sedang melakukan pemeriksaan silang. Tak berapa lama kemudian, polisi wanita tersebut undur diri.


"Jadi begini, Saudari Wulan. Dokter yang melakukan visum terhadap Anda dipindahtugaskan ke Semarang pagi tadi. Jadi praktis beliau tidak bisa bersaksi. Lalu untuk hasil visum dipegang oleh ibu Anda. Anda dapat menyerahkannya kepada kami jika ingin memasukkannya sebagai barang bukti. Jika berkas-berkas telah lengkap dan bukti-bukti pendukung memadai, kami akan segera melakukan penangkapan dan melimpahkan kasus ke kejaksaan", polisi tersebut menjelaskan padaku. Polisi memintaku kembali besok untuk melakukan pemeriksaan silang dengan terduga pelaku. Tapi aku menolak. Aku merasa tak akan sanggup menghadapi mereka.


Apa-apan ini! batinku. Aku keluar dari ruang investigasi dengan limbung. Hanya tersisa Ryo di ruang tunggu, dia menungguku.


"Lan..", sapa Ryo padaku. Aku tak berani menatapnya. Aku takut kemarahanku akan meluap jika aku menatapnya.


"Aku minta maaf. Aku bisa menjelaskannya. Aku harap kamu mau mengerti posisiku setelah aku menjelaskan", Ryo melanjutkan bicaranya.


"Tega kamu, Yo! Penjelasan macam apa yang akan kau berikan padaku, hah?", sergahku tercekat.


*Flashback on*


Waktu masih menunjukkan pukul enam pagi saat ada yang mengetuk pintu rumah Ryo. Karena ibu Ryo sibuk di dapur, ayahnya masih tidur maka Ryo membuka pintu. Tampak Pak Darma berdiri di balik pintu. Ryo tak menyangka bahwa Pak Darma akan bertamu ke rumahnya, apalagi di pagi buta seperti ini.


"Ada, Pak. Silahkan duduk. Sebentar Pak, saya panggilkan", Ryo mempersilahkan tamunya untuk masuk.


Sebenarnya sesaat sebelum suara ketukan pada pintu rumahnya, Ryo berniat mandi. Ryo akan pergi ke rumah kekasihnya, sekedar mengetahui apakah semalam gadis tiba di rumahnya dengan selamat.


Semalam, Ryo sampai di rumahnya sudah lewat tengah malam. Ryo tak berdaya mengejar mobil Deni yang melarikan Wulan. Ryo dan Lisa terpaksa menuntun motor mereka sepanjang satu kilometer lebih menuju pom bensin terdekat. Setelah mendapatkan bensin, Ryo menemani Lisa pulang sampai depan gangnya karena hari sudah larut, dan tak ingin gadis itu mendapat masalah di jalan. Kemudian Ryo melanjutkan ke rumah Wulan, untuk sekedar tahu apakah kekasihnya sudah sampai di rumah.


Sampai di depan rumah Wulan, suasana rumah itu tampak lengang. Ryo sungkan jika harus menggedor pagar rumah itu di tengah malam karena takut mengganggu tetangga sekitar. Pun Ryo segan jika harus berhadapan dengan Bu Retno, karena kata-kata pedas kerap dilayangkan oleh ibu kekasihnya tatkala ia mengantarkan Wulan pulang. Mengabaikan rasa tak enak yang mengusik hatinya, Ryo melenggang pulang ke rumahnya. Berharap Wulan akan berkirim kabar melalui ponsel.


Ryo menyampaikan pada ibunya bahwa Pak Darma datang bertamu dan ingin bertemu dengan bapak.


Ibu Ryo bergegas membangunkan suaminya. Ryo ke dapur untuk membuatkan minuman. Ryo kembali ke ruang tamu untuk mengantarkan minuman untuk Pak Darma dan Bapaknya. Saat hendak meninggalkan tempat untuk mandi, Pak Darma menahan Ryo.

__ADS_1


"Aku juga ada perlu denganmu, Le. Aku mau minta bantuanmu. Sebentar lagi akan ada polisi yang datang kesini untuk meminta menjadi saksi kasus perkosaan yang dialami Wulan. Ya, anakku dan kawan-kawannya habis memperkosa Wulan semalam", Pak Darma menjelaskan tanpa basa-basi.


Bagai tersambar petir, Ryo melotot marah pada Pak Darma. Ryo juga merasa marah pada dirinya sendiri, kenapa ia mengabaikan rasa tak enak dalam hatinya malam itu dan membiarkan Wulan naik ke mobil Deni.


"Jangan marah dulu, Le. Karena itu tak berguna. Aku minta sama kamu, katakan saja apa adanya pada polisi apa yang terjadi. Tapi buat kesan bahwa Deni tidak membawa paksa gadis itu. Katakan bahwa dia secara sukarela masuk ke dalam mobil Deni. Tak ada gunanya menolak. Aku sudah mengantongi nama-nama saksi. Sebentar lagi aku akan ke rumah Lisa, ke rumah Retno, dan direktur rumah sakit tempat gadis sial itu melakukan visum. Direktur rumah sakit itu kawan lamaku. Masalah seperti ini hanya masalah sepele buatku", Pak Darma menjelaskan panjang lebar rencananya. Ryo dan Bapaknya hanya bisa diam mendengarkan. Bapak Ryo diam karena iba pada nasib yang menimpa kekasih ananknya. Ryo terdiam karena perasaan murka dan tak berdaya.


"Kau tak bisa menolak. Jika kau menolak, silahkan bapakmu mencari kerja di tempat lain. Lunasi juga hutang-hutang bapakmu saat ini juga", lanjut Pak Darma mengancam.


Ryo tak mampu menolak. Jika bapaknya tidak memiliki pekerjaan, bagaimana nasib keluarganya nanti. Dan dari mana bisa mendapatkan uang tujuh juta dalam waktu singkat?


Pak Darma menyesap sedikit teh yang dihidangkan untuknya, kemudian pamit untuk melanjutkan rencananya.


Ryo dilema. Keluarga atau kekasih? Dalam kekalutannya, Ryo memilih keluarganya. Dalam hati Ryo berjanji, akan menerima Wulan seutuhnya dan tak akan meninggalkannya.


*Flashback off*


Setelah mendengar penuturan Ryo, aku terduduk lemas di bangku ruang tunggu.


Pak Darma! Semua ini rencana Pak Darma! Ayah dan anak itu benar-benar pria brengsek! jeritku dalam hati.


Hasil visum. Hanya itu yang mampu membuktikan semua. Aku bergegas berdiri dan meninggalkan Ryo. Ryo hanya bisa diam menatap kepergianku.


Bagaimana bisa hasil visum sampai ke tangan Bu Retno? Mampukah Wulan mendapatkan keadilan?


**********************************


mohon like dan komennya ya reader-reader kesayangan. Like dan komenmu begitu berarti untukku 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2