
Aku bangun dengan enggan. Baru jam delapan pagi saat aku melirik jam dinding. Aku baru tidur sekitar tiga jam.
"Siapa Bune?" tanyaku dengan suara serak.
"Diva, Renila, Nak Ronald. Sama satu lagu Bune ga tahu. Laki-laki, ganteng" jelas Bune.
"Hah? Diva? Ya ampun, ga ada kasih kabar mau kemari!" pekikku terkejut.
Aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa saat kemudian keluar dari kamar mandi dan melihat Diva sedang membantu Bune memotong tiramisu patata di dapur.
"Divaaaa... Dateng ga kabar-kabar, ih!" ucapku lalu menubruk sahabatku.
"Eh, oneng! Lagi bawa pisau ini. Main tubruk aja!" Diva bersungut-sungut tapi tetap membalas pelukan dengan tangan kirinya yang bebas.
"Berapa lama kita ga ketemu? Terakhir pas ulang tahun Renila waktu umur tiga tahun. Wah, udah lima bulan, Va" ujarku sambil mencomot sepotong patata lalu melahapnya.
"Heehm" Diva hanya menyahuti dengan dehaman.
"Anak ganteng baru turun" ujar Diva yang melihat Langit menuruni tangga.
"Eh, ada tante Diva. Dek Nila mana?" tanya Langit sambil menghampiri Diva. Langit meraih tangan Diva dan menyalaminya.
"Di depan sama Om Ronald.Kenalan juga sama Om Brika. Dia sepupu Om Ronald" Diva mengerlingkan matanya ke arahku.
Aku menautkan alisku, tak paham akan kerlingan Diva.
"Sudah sarapan, Nak Diva?" tanya Bune.
"Tadi dari rumah sudah sarapan roti. Biasanya Mas Ronald suka cepet laper lagi kalau cuma sarapan roti" jawab Diva.
"Kalau gitu, sarapan lagi sama rawon mau? Bune tadi masak rawon. Baru matang" Bune menawari.
"Mau pakai banget, Bune" seloroh Diva. Sudah sejak beberapa lama Diva tertular memanggil ibuku itu dengan sebutan Bune.
"Temui tamunya dulu, sana! Ada yang mau kenalan" perintah Diva lalu mendorongku ke arah ruang tamu.
"Lho, yang bantu Bune nyiapin sarapan siapa??" tanyaku enggan karena didorong oleh Diva. Ditambah dengan kalimat 'Ada yang mau kenalan', membuatku merasa ada yang aneh.
Jauh-jauh dari Surabaya ke Pasuruan cuma mau kenalan. Memangnya di Surabaya kurang cewek? Pikirku muram.
"Pagi, Mas" Sapaku pada Mas Ronald, lalu menjabat tangannya. Langit sudah asyik bermain game Talking Angela bersama Renila. Terdengar suara Renila yang mengoceh lalu ditirukan oleh aplikasi.
"Kenalin, sepupuku, Lan" ujarnya memperkenalkan seorang pria bermata cokelat, potongan rambut layered undercut, kulit putih, tinggi rata-rata dan berkaca mata.
"Habrika. Panggil saja, Brika" ujarnya sambil mengulurkan tangan.
"Wulan" jawabku lalu tersenyum sewajarnya.
"Ngebet pengen kenalan, nih, Lan" seloroh Diva dari arah belakangku.
"Kamu duduk aja, jangan capek-capek. Lagi hamil muda. Biar aku bantu Bune" ujarku pada Diva. Sengaja memilih tak menanggapi ucapan Diva tadi.
"Eh, ya ampun. Kok ini belum ada minuman di meja? Maaf, ya, Mas-mas sekalian" aku baru menyadari meja ruang tamu masih kosong saat akan kembali ke dapur.
"Santai, Lan" jawab Mas Ronald
__ADS_1
"Mau ngeteh atau ngopi, Mas?" tanyaku.
"Atau nyusu? Ada yang udah lama ga nyusu nih!" sambar Diva, dan menyindir entah siapa.
"Uhukk...uhukk" pria bernama Brika terbatuk-batuk canggung.
Diva dan Mas Ronald terdengar terkikik-kikik. Sementara Brika mengalihkan pandangan menyapu ruangan tamu yang hanya berukuran 3x4 meter ini.
"Apa aja deh, Lan" tukas Mas Ronald akhirnya setelah puas menggoda sepupunya.
"Oke. Saya tinggal dulu, ya" pamitku.
"Aku ikut" Diva mengikutiku ke dapur.
Sambil menata makanan di meja makan aku berbincang dengan Diva. Bune di dapur sedang menggoreng kerupuk udang.
"Ngapain ngajak orang lain kemari, Va?" tanyaku.
"Panjang ceritanya. Dia adik sepupu Mas Ronald. Seusia kita lah. Duda anak satu. Anaknya dibawa mantan istrinya ke Perancis. Ibunya desainer" jelas Diva.
"Terus apa hubungannya sama di ajakin kemari?" tanyaku bingung tak paham korelasi cerita Diva dengan kedatangan Brika kemari.
"Jadi dia itu cerai sama mantan istrinya karena istrinya ga mau LDR-an terus. Istrinya ga mau ngelepas kerjaan yang di Perancis, dan Brika ga mau ngelepas kerjaan dia di Dirjen Pajak"
"Terus sekitar dua minggu yang lalu Brika main ke rumah. Minta koleksi film Mas Ronald, daripada bengong sendiri katanya. Disuruh lah Brika liat-liat sendiri di laptopnya Mas Ronald" jelas Diva sambil mengaduk teh hangat.
Sementara aku duduk di kursi sambil mendengarkan cerita Diva. Sebenarnya siapa yang tamu, siapa yang tuan rumah. Tamunya bikin-bikin minum sendiri. Hahaha bodo deh ah, pikirku geli.
"Terus?" tanyaku penasaran.
"Ish, nanggung, ah. Lanjut dulu" pintaku.
"Anter dulu, Nduk" timpal Bune. Rupanya beliau menyimak pembicaraan kami dari dapur.
Dengan perasaan terpaksa aku mengantarkan dua cangkir teh hangat dan setoples camilan ke ruang tamu.
"Diminum dulu, Mas" ujarku berbasa-basi.
"Dek Nila mau susu kotak ga. Ada coklat, straberry, vanilla. Mau yang mana?" tanyaku pada Renila.
"Nila mahu cucu cotat" ujarnya girang di depan ponsel Langit yang dipegangnya.
"Nila mahu cucu cotat" suara karakter Angela menirukan perkataan Renila.
Renila terkikik mendengar suaranya digaungkan, dan aku mengacak rambut Renila gemas.
"Langit, tolong Ibu. Ambilkan Dek Nilanya susu di lemari es" pintaku.
Langit langsung bediri dan menuju dapur. Aku pamit kembali dengan alasan ingin membantu di dapur. Padahal sebenarnya penasaran dengan cerita Diva.
"Lanjut, Va" todongku saat sudah sampai di meja makan. Diva sedang membelah telur asin.
"Penasaran sama ceritaku apa sama Brika nih?" tanya Diva menggodaku.
Aku mendelik sebal. Aku tak menjawab pertanyaan Diva.
__ADS_1
"Nah, dia liat-liat deh laptop Mas Ronald. Disana dia nemuin foto kamu waktu masih jalan sama Mas Ronald. Sempet perang Baratayudha tuh aku sama Mas Ronald. Istri mana yang ga cemburu lakinya masih nyimpan foto mantan" Diva tergelak.
Ekspresiku langsung muram, aku tak menyangka Mas Ronald masih menyimpan foto saat kami dekat dulu.
"Ga usah gitu mukanya. Mas Ronald udah jelasin, kok. Benar-benar lupa katanya. Mas Ronald tunjukkin, yang di HP dia udah di hapus semua. Setelah dijelasin mulutku masih manyun-manyun tuh. Kita berakhir dengan ngasih pupuk buat calon adik Renila" Diva kembali tergelak mengakhiri ceritanya.
"Eh, kagak nyambung ndul!" aku mendelik sebal.
"Sabar..sabar. Abis liat foto kamu, Brika nanyain terus tentang kamu. Ya ke aku, ke Mas Ronald. Sampai-sampai bikin kita kesel. Akhirnya kami ajak deh Brika kemari. Biar kenalan sendiri, gitu kata Mas Ronald"
Bune yang saat itu meletakkan sepanci rawon bertatapan dengan Diva. Mereka saling tersenyum penuh arti. Sementara aku memandang skeptis mereka berdua.
"Cuma kenalan ga ada salahnya, Nduk" tukas Bune.
"Hhmmm" jawabku malas.
Setelah semua siap, Diva memanggil semua orang untuk brunch, alias breakfast-lunch. Sudah pukul 09.50 saat itu. Terlalu siang untuk dikatakan sarapan, tapi terlalu awal untuk disebut makan siang.
Kami berbincang ringan sambil makan. Setelah bertanya basa-basi padaku, Brika mengalihkan pertanyaan basa-basinya pada Langit. Langit hanya menjawab singkat pertanyaan-pertanyaan dari Brika.
"Abis ini mau kemana?" tanya Bune.
"Ke Taman Dayu, yuk? Renang, terus cari makan disana" usul Diva.
"Renang? Mauuu" jawab Langit bersemangat.
"Mampir ke proyek dulu, Lan. Pengen lihat proyek baru" pinta Mas Ronald.
"Aku juga mau mampir ke rumah seseorang sebelum ke proyek Mas" aku berniat mampir ke rumah keluarga Wiratmaja untuk mengabarkan masalah yang menimpa Deni.
Karena mobil Mas Ronald type BMW, tak cukup memuat kami berenam. Renila tak dihitung karena pasti dipangku oleh Diva. Kami menggunakan mobilku untuk pergi ke Taman Dayu.
Sampai di rumah Deni, aku turun sendiri dan mengabarkan kepada ART mereka bahwa Deni saat ini tengah dirawat di rumah sakit.
Saat di proyek, ternyata pekerja sedang lembur. Tampak di kejauhan Pak Adi dan Mas Adit sedang mendiskusikan sesuatu. Tak ingin berjalan jauh, aku memutuskan menelepon Mas Adit.
"Liat ke belakang, Mas" pintaku saat panggilan di angkat.
Mas Adit langsung memutuskan panggilan saat melihat ke arah kami yang berdiri di samping mobil.
"Wah, rame-rame, nih" Mas Adit berkata sambil melakukan tos dengan Langit.
Brika memperhatikan interaksi antara Langit dan pria yang menghampiri mereka. Perasaannya seketika menjadi muram. Tapi Brika tak ingin menyerah sebelum berjuang.
"Iya, Mas. Mas Adit ini arsitek penanggung jawab proyek ini. Kenalin, Mas Ronald. HRD Manager PT. Textile Globalindo. Ini Diva, istri Mas Ronald. Ini Brika, sepupu Mas Ronald" aku menunjuk mereka satu per satu.
Mas Adit menyalami mereka satu per satu, dan saling menyebut nama.
"Brika" ucap Brika mantap.
"Adit" jawab Mas Adit. Saat Mas Adit hendak melepas jabatan tangan, Brika tampak menahan tangan Mas Adit.
Mata Brika berkilat memandang Adit. Adit merasa tertantang, dan tak mau kalah. Adit meremas tangan yang sedang digenggamnya itu. Sekali lihat, Adit bisa tahu ada masalah apa sehingga membuat pria asing ini memandangnya sedemikian rupa.
Seandainya ini adalah film anime, mungkin sudah ada kilat yang keluar dari kedua mata mereka dan saling menghubungkan tatapan tajam mereka.
__ADS_1
Ahhaaaii!!