
Sudah hampir pukul tiga dini hari saat aku sampai di Polsek. Sampai di kantor polisi, petugas jaga langsung mengarahkanku pada bagian pengaduan.
Didepan polisi yang bertugas, secara to the point aku melaporkan kasusku, "Pak, saya mau mengadukan kasus perkosaan yang terjadi pada diri saya. Pelakunya Deni Wiratmaja, Prastama Andrean, Aldo Dewanto, dan Angga Satria. Mereka melakukan perbuatan bejat itu di gubuk pinggir sawah. Saya sudah ke rumah sakit untuk melakukan visum. Pihak rumah sakit belum memberi tahu saya kapan hasil visum akan keluar. Saya mohon agar keempat orang tersebut dihukum seberat-beratnya!"
Polisi tersebut terperanjat mendengar pengakuanku. Apalagi nama anak dari atasannya kusebut, polisi tersebut memastikan kembali nama-nama yang kusebut. "Deni Wiratmaja, putra Pak Darma? Prastama Andrean, putra Pak Kapolsek? Angga Satria, cucu Bu Dewi? Dan Aldo Dewanto, anak Pak Beni?"
Aku hanya mengangguk mengiyakan.
Mata polisi tersebut membulat kaget. Gila, ini gila! Pikir polisi tersebut. Tanpa permisi padaku, polisi tersebut beranjak untuk menghubungi seseorang. Aku menebak dia pasti menghubungi Pak Hasto, atasannya. Bagaimana tidak, anak atasannya kulaporkan telah memperkosaku. Setelah menghubungi Pak Hasto, polisi dengan nama "Brama" yang terjahit di dada kanannya kembali menghampiriku. Prosedur formal dia jalankan saat menerima aduanku.
"Nama?" Pak Brama memulai investigasinya.
__ADS_1
"Wulan Febriana Lestari" aku menjawab singkat pertanyaan-pertanyaan dari polisi, seperlunya dan sesuai fakta. Dari yang dapat disimpulkan ada empat orang saksi untuk kasusku, antara lain Ryo, Lisa, Pak Broto, dan seorang saksi ahli yakni dokter wanita yang melakukan pemeriksaan visum terhadapku. Pasal yang dituduhkan adalah penculikan, perkosaan dan penganiayaan. Sepertinya pasal berlapis. Tak terasa senyum tipis tersungging dibibir tipisku membayangkan hukuman penjara yang akan mereka jalani.
Dua jam lebih aku diinvestigasi oleh polisi. Jam satu siang aku diminta kembali ke Polsek untuk melakukan pemeriksaan silang dengan saksi beserta pelaku jika kondisi mentalku memungkinkan untuk berhadapan dengan pelaku. Saat aku keluar dari kantor Polsek, matahari muncul dengan malu-malu di ufuk timur. Mamancarkan semburat kemerahan di langit. Aku tak tahu ibuku sudah pulang ke rumah atau masih di rumah sakit, aku hanya tahu aku butuh istirahat. Aku langsung melajukan motor menuju rumah.
Sesaat kemudian aku telah sampai di depan gerbang hitam rumahku. Aku membuka pintu rumah, tak terkunci. Rupanya ibu sudah ada di rumah. Beliau duduk di kursi ruang tamu menungguku.
"Menikahlah dengan Deni. Nanti sore akan ibu antarkan ke rumah Pak Darma. Kita akan kaya, Lan", tanpa tedeng aling-aling ibuku langsung mengatakan hal tersebut tanpa peduli perasaan, fisik dan mentalku yang terluka.
Aku tak menunggu reaksi ibuku atas sikap dan perkataan yang kurang ajar terhadap orang tua. Setelah berkata demikian aku langsung berlari menuju kamarku, membuka pintunya dan masuk ke dalam kamar. Aku membanting pintu kamar saat aku menutupnya, perasaan marah dan terluka menyeruak memenuhi dadaku. Dadaku sesak, aku menangis terisak.
Entah berapa lama aku menangis, lalu kemudian jatuh tertidur. Yang aku tahu, aku terbangun terengah-engah setelah mengalami mimpi buruk. Ya, aku memimpikan kejadian malam itu. Meski telah memperkirakan bahwa mimpi buruk akan selalu menghantui tidurku, tak urung tetap membuatku ketakutan. Aku merasa tercekik saat bangun dari tidurku.
__ADS_1
Aku melirik jam dinding, pukul sepuluh lewat. Perutku lapar, tapi aku tak berselera. Akhirnya aku menuju ke kamar mandi untuk mandi. Kembali aku menggosok tubuhku kuat-kuat, berharap membersihkan apa yang tak dapat dibersihkan.
Setelah mandi aku berniat kembali ke kamarku. Aku mengurungkan niatku karena melihat roti bakar keju terhidang di meja makan. Masih hangat. Sepertinya ibu menyiapkannya selagi aku di kamar mandi. Aku tak melihat keberadaan ibuku disekitar, sepertinya beliau ada dikamarnya. Aku membawa sepiring roti bakar tersebut dan segelas air putih ke kamar. Dikamar, aku hanya mampu memakan setangkup roti. Menggigit dan mengunyah secara perlahan selama hampir satu jam. Aku bersiap kembali ke Polsek saat melirik jam dinding menunjukkan pukul dua belas lewat. Aku pergi tanpa pamit pada ibuku.
Seperti biasa kunci motor selalu berada di meja TV yang ada di ruang tamu. Aku menyambarnya dan melajukan motor ibuku ke Polsek.
Wulan percaya, saksi-saksi yang dia sebutkan saat investigasi tadi subuh dapat membantunya menjerat empat pria yang telah menghancurkan hidupnya. Wulan selalu percaya pada kekasih dan sahabatnya. Tanpa Wulan tahu, bahkan seorang kekasih dan sahabat mampu menikammu dari belakang secara bersamaan.
**********************************
Jangan lupa jempol dan komennya ya kaka-kaka reader tercintaa.... 😘😘😘
__ADS_1