
Aku sedang akan menuju dapur saat lamat-lamat terdengar suara Bune dari dalam kamarnya. Untuk menuju dapur memang harus melewati kamar orang tuaku itu.
"Pak, Pak! Tangio! Ojo guyon ta. Ora lucu, Pak!"
(Pak, Pak! Bangunlah! Jangan bercanda dong. Ga lucu, Pak!)
Aku menyangka Pakne sedang bercanda. Tapi samar-samar aku juga mendengar isak tangis Bune.
"Pak, tangi Pak! Ayo budhal menyang pasar. Hiks Hiks"
"Mengko kentekan daging sing apik lho, Pak! Ojo guyon ngene tho, Pakne. Hiks hiks"
(Pak, bangun Pak! Ayo berangkat ke pasar)
(Nanti kehabisan daging yang bagus, lho, Pak! Jangan bercanda begini tho, Pakne)
Aku yang khawatir mengetuk pintu pelan kamar Bune.
Tok tok tok
"Bune ada apa? Tolong buka pintunya" pintaku pada Bune.
Tak lama kemudian pintu terbuka menampilkan wajah Bune yang berlinangan air mata.
"Pakne, Nduk. Ora gelem tangi. Wes ta' gepuki pipine pancet ora gelem tangi"
(Pakne, Nduk. Tidak mau bangun. Sudah saya pukul-pukul pipinya tetap tidak mau bangun)
Deg!
Batinku berdebar menerima informasi dari Bune.
Tampak olehku Pakne yang berbaring miring membelakangi pintu.
Aku mendekati beliau perlahan, lalu mencoba membalikkan tubuh beliau secara perlahan agar telentang.
Terasa dingin dan tegang.
Kucoba melihat dadanya, mencari tanda-tanda gerakan pernafasan.
Nihil.
Kuletakkan telunjukku di depan hidungnya.
Nihil.
__ADS_1
Kuletakkan jariku dipergelangan tangan beliau yang sudah dingin. Masih berusaha menepis kenyataan.
Nihil. Tak ada denyut di nadi bapakku itu.
Aku masih menolak percaya. Kuletakkan telingaku di dada beliau. Tak ada detak jantung terdengar.
Deg deg deg deg!
Jantungku berdebar. Tak terasa air mata lolos dari kedua mataku saat perlahan otakku mulai mencerna dan tak dapat menafikkan kenyataan.
"Innalillahi wa'inna ilaihi raji'un" bisikku pelan.
Bune yang berada disebelahku, mendengar bisikan lirihku.
"Pakneeeee!! Sampean kok tego? Ojo mulih dhisik, Pak. Aku karo sapa nek sampean ninggalno aku?" tangis dan raungan Bune pecah seketika.
(Pakneeeeee!! Kamu kok tega? Jangan berpulang dulu, Pak. Aku sama siapa kalau kamu ninggalin aku?)
Aku hanya mengusap-usap pundak Bune yang menangis tersedu di dada Pakne.
Aku menuntun Bune ke kamarku agar menemani Langit, sementara pintu kamar Bune aku tutup.
Aku segera mengeluarkan motor dan menuju rumah Pak RT untuk mengabarkan perihal kematian Pakne. Tak hiraukan hawa dingin subuh yang menusuk, karena aku hanya mengenakan kaos lengan pendek dan celana training selutut.
Aku pulang ke rumah dan mendapati Bune masih bersama Langit. Langit sudah bangun dan kebingungan mendapati Utinya menangis disebelahnya.
"Uti tenapa Bu? Uti nanis tarna Yangit natal ya?" tanyanya sedih.
"Ndak, Le. Langit anak pinter, Langit ga nakal" jawab Bune dan memeluk Langit.
"Kakung sudah pergi ke surga, sayang. Doakan Kakung tenang dan bahagia di surga, ya?" imbuhku.
"Cuyga? Beyayti Tatung ada di atas cekayang? Yangit mau itut"
Aku tak mampu berkata-kata. Hanya bisa ikut merengkuh Langit dalam pelukan. Air mata kembali meleleh tak terhentikan.
"Harusnya semalam langsung ke dokter, Nduk. Semalam Pakne mengeluh ulu hati dan punggungnya terasa panas. Tapi Pakne menolak" jelas Bune padaku.
Aku hanya bisa mengelus punggung Bune mencoba menguatkan.
Tak berselang lama, orang-orang dari kepengurusan Rukat datang dan mulai memasang tenda dan kursi-kursi plastik di pelataran rumah. Pintu gerbang dibuka selebar-lebarnya, memberi akses bagi para pelayat yang ingin datang takziah.
Bune tak sanggup melakukan apapun. Hanya duduk di pojok ruang tamu yang telah dikeluarkan sofa dan mejanya, lalu dipasangkan karpet. Menyambut para pelayan yang mulai berdatangan.
Sanak saudara Pakne dan Bune sudah aku hubungi. Mereka yang rumahnya dekat, sudah hadir pada pukul tujuh pagi dan membantu menyiapkan ini dan itu.
__ADS_1
Para penghuni kost yang awalnya kebingungan dengan kegaduhan pagi hari, akhirnya mengucapkan turut berbela sungkawa. Sebagian bahkan mengatakan akan mengikuti acara doa bersama sekalipun berbeda agama.
Aku berinisiatif menyewa jasa catering untuk acara doa bersama selama tujuh hari dan menyiapkan jamuan untuk para pelayat. Pihak saudara Bune dan Pakne langsung menyetujuinya.
Pukul 08.00 jenazah Pakne sudah dimandikan dan disholatkan. Bune mengecupi seluruh wajah Pakne yang sudah berkafan saat akan dimasukkan ke dalam keranda. Siap untuk diberangkatkan ke rumah peristirahatan terakhir.
Sampai di pemakaman, barisan terdepan di depan liang lahat adalah aku, Bune dan Langit, bersama sanak saudara yang sudah hadir.
Saat jenazah Pakne dimasukkan ke dalam liang lahat, Langit berkata "Bu, Tatung tok dimacuktan te tanah? Nanti Yangit ga bica tetemu Tatung lagi dong"
Aku dan Bune hanya bisa menangis sesenggukan mendengar ucapan polos Langit.
Saat tanah mulai menutupi jenazah Pakne, Langit mulai menangis.
"Tatung janan ditutup tanah. Nanti ciapa yang dendong Yangit talau Tatung di dalam tanah"
"Uti, Tatung ditutup" rengeknya pada Bune.
Bune langsung meraih Langit dalam gendongan. Air mataku dari tadi sudah menganak sungai, banjir seperti bendungan yang jebol.
Pukul 20.15 para peserta doa bersama sudah pulang. Aku mengantarkan kepergian Diva di depan pagar, yang datang melayat. Pagar tidak ditutup karena ada beberapa orang bapak-bapak yang "melekan", tradisi begadang di acara kematian selama 7 malam.
Aku menemani Bune tidur dikamarnya, sementara kamarku ditempati oleh saudara Pakne yang menginap. Sebagian saudara menggelar kasur busa di ruang tamu untuk beristirahat
Aku mengetuk pintu kamar dan masuk tanpa menunggu jawaban dari Bune. Tampak Langit sudah tertidur di sebelah utinya. Bune bersandar melamun pada headboard.
"Belum tidur Bune?" tanyaku berbasa-basi sembari berbaring di sebelah kanan Langit.
Beliau menggeleng lemah.
Tak ada yang bicara selanjutnya. Masing-masing tenggelam dalam kesedihan dan memori tentang Pakne yang berkelebat terus menerus dalam ingatan.
Beberapa saat kemudian Bune beringsut berdiri dan menuju lemari. Berjongkok membuka laci paling bawah.
Dibawanya sebuah kotak tipis lebar berbalut beludru warna merah. Beliau duduk di bibir ranjang dan membuka kotak tersebut.
Kulihat sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk hati yang bisa dibuka. Beliau membuka liontin tersebut.
Tampak olehku sebuah foto lama yang diedit sedemikian rupa sehingga bisa terpasang dengan pas di dalam liontin.
"Foto pernikahan kami, Nduk" suara Bune terdengar tercekat.
"Foto ini selalu ada di dompet Pakne. Bune benar-benar tak menyangka Mas Jaka pergi secepat ini"
Wulan dan Bu Nimas kembali menangis berpelukan. Berusaha menguatkan satu sama lain. Wulan memang belum lama mengenal bapak angkatnya itu. Tak sampai empat tahun. Tapi sosok Pak Jaka benar-benar sudah seperti ayah kandungnya sendiri. Kini, dua kali sudah Wulan merasakan kehilangan sosok seorang ayah.
__ADS_1