Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 8 Duel


__ADS_3

Aku, Lisa dan Ryo telah selesai makan siang. Kami tak menyadari sedari tadi ada orang yang mengamati kami. Masih ada satu setengah jam sebelum jadwal tayang bioskop kami dimulai. Untuk mengisi waktu, aku dan Ryo sepakat untuk melihat-lihat toko buku. Sementara Lisa yang tidak hobby membaca memilih jalan-jalan sendiri di sekeliling mall. Kami bersepakat akan bertemu kembali di ruang tunggu gedung bioskop untuk pulang bersama.


Aku dan Ryo bergandengan tangan selama perjalanan ke toko buku yang terletak pada satu lantai di bawah gedung theater. Saat di eskalator, aku bermanja pada Ryo dengan meletakkan kepalaku di bahu Ryo. Tiba-tiba dari arah belakang, ada yang menepuk bahuku.


"Hai, Lan! Mau kemana?" tanya seseorang yang menepuk bahuku. Aku dan Ryo serentak menoleh. Ternyata orang itu adalah Deni, dan dibelakang Deni berdiri rekan satu genk-nya.


"Oh, kamu. Mau ke toko buku", jawabku singkat. Aku enggan beramah tamah pada Deni.


"Jutek amat, Lan", kata Deni sambil nyengir.


Aku mengerutkan keningku melihat seringaian Deni, entah kenapa perasaanku tak enak. "Perasaan kamu aja", komentarku singkat.


"Kebetulan kita juga mau ke toko buku, Lan. Aldo mau nyari buku otomotif buat referensi. Ya kan, Do?", lanjut Deni menerangkan, lalu meminta konfirmasi pada Aldo.


"Yoi!" jawab Aldo singkat.


Kehadiran Deni yang tiba-tiba juga membuat Ryo merasa tak nyaman. Ryo melingkarkan tangannya pada bahuku setelah obrolan singkat itu, Ryo tak melepaskan pelukannya sampai kami berpisah dengan Deni.


Di toko buku kami berpisah dengan rombongan Deni. Aku dan Ryo ke bagian buku soal latihan ujian masuk perguruan tinggi, sementara Genk Kece ke bagian otomotif. Setelah kurang lebih 30 menit mencari buku yang aku inginkan, kami menuju kasir. Rupanya Aldo juga telah mendapatkan buku yang dicarinya. Deni cs tampak menuju ke bagian kasir juga. Karena di kasir antri, Ryo memintaku duduk menunggunya di kursi yang terletak di luar tepat di depan pintu toko buku. Ryo berkeras mentraktir juga buku yang buku yang kubeli.

__ADS_1


>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<


Ryo meminta kekasihnya duduk menunggu di luar sementara ia mengantri di kasir. Deni mengantri di belakang Ryo. Ryo mengernyit heran, tadi Deni bilang yang berniat membeli buku adalah Aldo tapi kenapa Deni yang mengantri di kasir. Apa Deni begitu setia kawan? Pikir Ryo keheranan.


"Itu buku siapa, Yo?", Deni menanyakan buku yang sedang di pegang Ryo.


"Buku pacarku!" jawab Ryo, seolah menegaskan bahwa Wulan adalah miliknya.


"Buku Wulan ya, boleh lihat?" Deni meminta ijin pada Ryo.


Sambil menaikkan alis karena heran, Ryo menyerahkan buku yang dipegangnya.


"Hmm, masih ada 'segelnya' punya Wulan", Deni bergumam. Ryo menautkan alisnya karena memahami makna kiasan yang dilontarkan Deni.


Mendengar kata bermakna kiasan yang melecehkan kekasihnya, Ryo langsung naik pitam.


Bug! Sebuah pukulan mendarat pada pipi Deni. "Brengsek! Dasar Bajin**n!Otakmu benar-benar menjijikkan! Isinya pasti hanya t*hi! Buang jauh-jauh pikiran kotormu tentang Wulan!"


Deni terhuyung mundur dan Angga dengan cekatan memegangi Deni. Angga tak mau ada keributan di tempat umum. Buku yang dipegang Deni tadi terjatuh bersama rasa kaget Deni akibat pukulan Ryo. Deni mendelik marah, hendak membalas tapi terhalang Angga yang menahannya. Deni mengusap kasar pipi yang dipukul oleh Ryo. Sebelum Deni sempat berkata sesuatu, Ryo telah berbalik meninggalkan Deni. Ryo melemparkan selembar uang berwarna merah yang tadi dia siapkan pada bagian kasir. Pihak security toko buku juga tak sempat menangani karena Ryo telah meninggalkan tempat perkara. Tampak Wulan berlari menyongsong Ryo dengan raut muka khawatir.

__ADS_1


>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<


Dari pintu kaca toko buku aku mengamati interaksi antara Ryo dan Deni. Dari ekspresi mereka tampaknya mereka sedang bersitegang. Tiba-tiba saja Ryo melayangkan pukulan pada Deni. Aku tersentak kaget, kemudian langsung berdiri menyongsong Ryo. Aku khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


"Ada masalah apa, Yo?" tanyaku setelah Ryo berada di depanku.


Ryo menarik tanganku segera karena ingin cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Aku heran pada Ryo, tak biasanya dia berlaku kasar. Selama berpacaran denganku, Ryo nyaris tak pernah marah. Pasti ada hal besar yang membuat Ryo sampai bertingkah bar-bar.


Setelah sampai di ruang tunggu bioskop, kami berdua duduk. Ryo duduk untuk menenangkan diri, sementara aku duduk disebelahnya sambil mengusap punggungnya. "Sebenarnya ada apa, yank?" tanyaku kembali.


"Dia brengsek!" kata Ryo mengumpat untuk menjawab pertanyaanku.


"Kita berdua tahu dia memang pria yang brengsek", ucapku mendukung perkataan Ryo.


"Sudahlah, jangan kau pikirkan lagi. Jangan rusak hari bahagiamu dan acara kencan kita. Oke?" ucapkan berusaha mencairkan suasana.


Sepuluh menit kemudian, suara pengumuman pintu theater tempat kami akan nonton telah dibuka. Kami masuk kedalam gedung theater yang dimaksud. Ryo tetap resah, bahkan setelah duduk di kursi pesanan kami. Aku hanya bisa berusaha mencairkan suasana dengan melanjutkan sikap manjaku pada Ryo. Aku berharap saat film diputar Ryo sudah dapat melupakan kekesalannya.


Wulan tak tahu sebentar lagi badai besar akan menghantam dirinya. Badai yang akan memporak porandakan kehidupannya.

__ADS_1


*****************************


Author ucapkan terima kasih yang sebesar buat para reader yang menyempatkan diri membaca karya pertamaku ini. Tak lupa juga minta like dan comment-nya, dan vote jika berkenan 😚


__ADS_2