Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 6 Congrats Darl'


__ADS_3

Selama setengah jam dari sekolah menuju pusat perbelanjaan, Ryo tak hentinya mengoceh bahwa ia sangat bahagia hari ini. Sesekali dia berkata bahwa dia merasa sedikit bersalah padaku. Aku tak paham apa yang dia maksud. Aku hanya bisa mendengarkan ocehannya sambil menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.


Sampai di area parkir mall, tempat itu sudah ramai kendaraan yang mengantri untuk parkir karena mengingat hari ini adalah weekend. Hampir 30 menit kami mengantri untuk masuk ke area parkir motor dan 15 menit untuk mencari tempat parkir yang kosong. Karena ini weekend, kami sulit mendapat tempat parkir yang memadai. Kami parkir dengan posisi agak jauh dari pintu masuk mall.


Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang lewat, tapi tak ada tanda-tanda bahwa Ryo lapar atau menghentikan ocehannya bahwa ia sedang bahagia. Lisa menjajari langkah kami, tampak sudah tak sabar dengan tingkah Ryo. Begitupun aku, juga merasa tak sabar karena masih bertanya-tanya ada apa gerangan.


"Yuk kita pesan tiket dulu abis itu makan. Aku udah laper lagi, padahal baru jam sepuluh tadi makan ayam rica. Denger kamu ngoceh menguras energi, yank", protesku padanya.


"Eleh eleh, yang udah penasaran. Hahaha", Ryo menowel hidungku karena gemas dengan aku yang mulai tak sabar karena penasaran.


"Duh, Lan. Cowokmu cerewet kalau lagi seneng. Pengeng telingaku denger dia ngoceh mulu dari tadi", Lisa ikut-ikutan memprotes tingkah laku Ryo.


Mendengar dirinya diprotes oleh dua orang wanita, Ryo tertawa terbahak.


Setelah memesan tiket bioskop, kami melanjutkan dengan makan siang di food court dekat theater bioskop. Kami tak ingin jauh-jauh mencari tempat makan karena enggan berjalan bolak-balik. Setelah mendapat pesanan yang kami inginkan kami menuju meja kosong di ujung food court. Food court tampak ramai, lagi-lagi tentu saja karena weekend. Sesuai janji, Ryo mentraktir kami makan dan nonton. Aku dan Lisa memesan japanesse food, sementara Ryo memesan ayam goreng dengan double nasi.

__ADS_1


Sampai di meja, Lisa yang sudah jengah dengan tingkah konyol Ryo langsung menyergah, "Buruan cerita, Yo. Aku getok kamu lama-lama. Dari tadi denger kamu 'aku bahagia, aku bahagia' mulu. Udah kayak dzikir aja kamu". Aku menganggukan kepala mengiyakan apa yang Lisa ucapkan.


"Hahaha. Iya sabar atuh, Neng. Ngobrolnya sambil makan. Masih banyak waktu sampai waktu tayang film kita. Masih tiga jam lagi. Aku punya waktu tiga jam buat cerita", Ryo berseloroh tak mempedulikan sikap tak sabar kami.


"Buruan!" aku dan Lisa berkata serempak, saking tak sabarnya kami.


"Jadi gini ceritanya, Neng Lisa dan pacarku yang cantik. Once upon a time...", Ryo langsung menghentikan candaannya begitu melihat tatapan tajam dari aku dan Lisa.


Ryo melanjutkan cerita, "Duh, serem. Iya iya, aku serius. Jadi gini, tadi pelajaran di kelasku kan sebelum jam istirahat kan BK. Seusai pelajaran Bu Evi bilang sama aku buat datang ke ruang BK saat jam istirahat. Aku kepikiran dong, perasaan aku ga ada bikin masalah. Aku kan murid teladan. Daripada terlalu lama mikir, begitu jam istirahat aku langsung ke ruang beliau. Sampai di ruangan aku disuruh duduk, lalu beliau menyerahkan sebuah amplop yang belum dibuka. Ada logo ITS di atasnya dan namaku juga tertulis di amplop itu. Aku deg-degan banget nerimanya. Apa ini bener seperti yang aku tunggu-tunggu. Aku membuka perlahan amplop itu, and guess what?! Aku nerima beasiswa penuh itu, Sayang!!" Ryo mengakhiri ceritanya dengan memekik.


"What???" aku reflek berteriak sambil membelalakkan mataku. Aku yang duduk disebelahnya tanpa sadar aku memeluk Ryo karena larut dalam kebahagian itu.


"Sorry, Lis. Aku reflek. Hehe", ucapku pada Lisa. "Terus yank, ketentuan dari kampus apa untuk mempertahankan beasiswa itu?", aku melanjutkan bertanya pada Ryo.


"Ketentuannya banyak dan berat banget. Universitas membayar penuh semua study selama masa tempuh study normal, alias empat tahun. Mulai dari uang gedung, uang SPP, iuran alumni, uang praktikum, uang asrama, semuuuuaaanya ditanggung pihak kampus. Termasuk ada uang 5 juta tiap semester untuk akomodasi aku selama menempuh pendidikan dan harus dibuktikan dengan nota-nota disertai laporannya. Ga boleh ada selip sepeser pun. Terus terus, aku wajib mempertahankan IP minimal 3,00 selama masa study. Kurang 0,01 beasiswa aku rasa pasti langsung di cabut. Aku juga wajib menempuh masa study normal, lebih dari itu aku harus membayar uang kelebihan masa studyku sendiri", jelas Ryo panjang lebar.

__ADS_1


"Ya Tuhan, aku seneng banget yank. Sumpah. Aku udah ngira kamu bakal nerima beasiswa itu. Nilai-nilai kamu tanpa cela sejak kelas X. Tinggal punyaku nih belum ada kejelasan", ujarku sedih sekaligus bahagia.


"Makanya itu yank, aku juga ngerasa bersalah cerita gini sama kamu", ujar Ryo dengan sedih.


"Eh, ga boleh gitu. Berita bahagia harus dirayakan", aku membelai pipi kekasihku.


Lisa hanya menyimak sisa pembicaraan itu sambil sesekali memainkan ponselnya.


Aku, Ryo dan Lisa asyik berbincang selama sisa waktu menunggu waktu tayang film kami. Tanpa kami bertiga sadari ada empat pasang mata yang memperhatikan tindak-tanduk kami dari sisi lain food court. Salah satu pasang mata itu berkilat garang.


*****************


Sedikit curhat boleh ya para reader yang baik hati. Ternyata menulis novel itu susaaaahhhh pake banget. Ide cerita dan percakapan di chapter ini udah ada sejak dua hari lalu. Aku pikir bakal mudah menuangkannya dalam tulisan karena plot dan percakapannya udah bener-bener kebayang akan seperti apa.


Tapiiiii, ternyata eh ternyata berjudi itu haram. Eh, itu "mengapa eh mengapa" dink 😂Jadi balik lagi, ternyata eh ternyata aku butuh waktu hampir dua jam untuk menulis satu bab ini.

__ADS_1


Itulah kenapa banyak kreator-kreator yang geram saat saat idenya dicuri. Aku sangat paham sekarang bagaimana rasanya jika ada orang yang menjiplak karya kita.


Mengingatkan kembali, jangan lupa jejak like dan komentarnya yaa


__ADS_2