Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 86 Kembalinya Ibu


__ADS_3

Bu Retno sedang menatap ragu pada rumah yang telah hampir sebelas tahun ditinggalkannya. Rumah yang dulunya cat sudah mengelupas disana-sini, sudah dicat ulang dan menjadi dua lantai.


Ada sebuah mobil sport terparkir di depan pagar, dan sebuah mobil juga terparkir di halaman rumah.


Mobil siapa? Siapa yang telah merenovasi rumah? Bermacam pertanyaan bergelayut dalam benak Bu Retno.


Saat membuka pintu pagar yang sejak dulu memang tidak pernah digembok pada siang hari, dari dalam rumah tampak seorang pria berlari terhuyung-huyung. Bu Retno mengenali pria itu. Deni.


Bu Retno sudah membuka pintu pagar dan Deni sudah keluar dari pintu ruang tamu, lalu membanting pintu menutup. Bu Retno bisa melihat wajah Deni babak belur dan sibuk memaki.


"Den!" sapa Bu Retno.


Tapi Deni tidak menggubris, justru menubruk pundak Bu Retno. Pergi begitu saja, tanpa sedikit pun permintaan maaf.


"Dasar pria tak tahu sopan santun" sungut Bu Retno.


Setelah mobil Deni tidak terlihat, Bu Retno masuk ke dalam rumah. Berpikir bahwa itu adalah rumahnya, Bu Retno melenggang melalui ruang tamu dan berniat masuk ke kamarnya yang dulu.


Saat hendak melewati kamar putrinya, Bu Retno mendengar isak tangis dari putrinya dan bisik-bisik lembut seroang pria. Saat hendak menyapa Wulan, putrinya itu mulai berkisah kejadian lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Kisah yang tak pernah diungkapkan Wulan, bahkan kepada dirinya sang Ibu kandung.


Cerita itu mengalir laksana sesuatu yang baru terjadi kemarin malam. Begitu jelas dan mendetail. Ternyata selama ini kejadian nahas itu terpatri kuat dalam benak putrinya. Bu Retno menangis karena rasa bersalah yang begitu hebat. Dirinya dulu pernah dibutakan oleh keinginan untuk menjadi anggota keluarga Wiratmaja. Berpikir bahwa penderitaannya akan sirna dengan menjadi besan dari keluarga terpandang Desa Karang Gayam.


Setelah bercerita Wulan mulai menangis tersedu. Padahal selama berkisah sama sekali tak terdengar suara tangis dari putrinya itu. Rupanya Wulan telah merasa mengeluarkan beban yang selama ini menghimpit.


Karena terlalu menghayati kisah yang dituturkan oleh Wulan, Bu Retno sampai tidak menyadari akan kedatangan orang lain.


"Anda siapa?" Tanya Bu Nimas pada seorang wanita yang tengah menangis dan bersandar pada dinding.


"Anda sendiri siapa? Dan siapa anak laki-laki ini?" Wanita itu justru balik bertanya.


Suara dari luar menyadarkan Mas Adit dan aku. Mas Adit segera keluar kamar dan menutup pintu. Memberi waktu padaku untuk berpakaian dan menenangkan diri.


"Lho, Nak Adit?" Tanya Bu Nimas curiga.


"Om Adit ngapain dari kamar Ibu?" Tanya Langit, juga dengan nada curiga.

__ADS_1


"Sulit untuk dijelaskan" gumam Adit sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Ibu ini siapa?" Tanya Adit pada Ibu-ibu asing yang ada di antara mereka.


"Saya..." Belum sempat wanita itu menjawab, pekikan tertahan Wulan terdengar sesaat setelah pintu kamarnya terbuka.


"Ibuuuu!!" Wulan lalu menghambur memeluk Bu Retno. Setelah sepuluh tahun lebih akhirnya ibuku itu tiba-tiba pulang.


Walau aku tidak begitu dekat dengan Ibu, tapi aku tetap menyayangi beliau. Terlepas apapun kesalahannya di masa lalu, fakta bahwa beliaulah yang melahirkan aku dengan taruhan nyawanya tidak bisa kutafikkan begitu saja.


Setelah melepas rindu dengan saling berpelukan beberapa waktu lamanya, Bune menggiring  kami untuk duduk di meja makan.


"Le, boleh kami orang dewasa ngobrol sebentar? Jajanannya boleh dibawa" pinta Bune lembut pada Langit


Langit mengangguk dan membawa beberapa snack yang tadi dibelinya bersama Bune ke kamarnya di lantai atas.


Bune menyiapkan beberapa gelas teh hangat. Aku, Mas Adit, dan Ibu menunggu Bune dalam diam.


Kami berempat masih diam. Tanpa dikomando, kami berempat kompak menyesap teh hangat, lalu saling pandang. Tersenyum geli, merasa sama-sama konyol.


"Ada apa...?" aku, Bune dan Ibu berbicara bersamaan.


"Sebaiknya kita berkenalan dulu, Nduk" ujar Bune diplomatis.


Akhirnya Bune, Ibu, dan Mas Adit saling berkenalan. Ibu mengucapkan beribu terima kasih pada Bune karena telah mengangkatku menjadi anak.


"Ya ampun, anak laki-laki tadi cucuku? Ya Tuhan, sudah sebesar itu!" tukas Ibu penuh haru saat mengetahui bahwa Langit cucunya.


"Inggih, Bu" jawab Bune sambil menepuk pelan lengan ibuku.


"Bu, kenapa selama ini tidak ada kabar?" tanyaku.


"Sebelumnya, Ibu minta maaf tidak bisa mengabarimu sesampainya di Taiwan. Itu karena begitu Ibu sampai pihak penyalur menyita hp, paspor, dan visa kami semua. Mereka berdalih agar kami bisa fokus dalam bekerja" Ibu mulai menceritakan kisahnya selama menjadi TKW.


"Tapi ternyata itu hanya alasan mereka. Dari bandara Ibu dan rekan-rekan dibawa naik mobil ke pelabuhan, dan dari sana tim penyalur bilang bahwa kami akan dibawa ke pulau Beika*. Disanalah kami akan bekerja nanti"

__ADS_1


" Sampai disana, kami dipekerjakan sebagai pengolah ikan kalengan. Banyak kan yang digunakan sudah dalam kondisi tidak baik. Beberapa hari disana Ibu baru menyadari, bahwa disana kami adalah korban praktik human traficking. Disana kami dilakukan dengan sangat tidak layak. Kami tidak dibayar, dan hanya mendapat makan dua kali per hari"


"Saat target produksi tidak terpenuhi, mereka tidak akan segan mengurangi jatah makan kami para pekerja. Tak jarang siksaan fisik akan dialami kami yang tidak mau menurut atau mencoba kabur" Ibu menceritakan pengalamannya sambil sesekali berurai air mata.


"Akhirnya setelah sepuluh tahun lebih praktik human traficking itu terungkap. Pihak berwenang menggerebek dan menangkap petinggi pabrik pengalengan ikan itu. Kami para TKI dan TKW dideportasi ke negara asal"


"Maafkan Ibu, Nak. Tidak seharusnya Ibu berbuat seperti itu dulu, memaksamu menikah dengan Deni. Tidak mendukung upayamu menjebloskan mereka ke penjara. Selama di Beika, Ibu benar-benar merenungi perbuatan Ibu padamu. Mungkin apa yang terjadi pada Ibu adalah buah dari perbuatan Ibu sendiri. Ibu menerima karma atas dosa Ibu padamu" ucap Ibu penuh sesal dan berlinang air mata.


Aku memeluk Ibu. Aku sudah memaafkan beliau jauh sebelum Ibu meminta maaf sekarang. Setelah beberapa saat saling berpelukan, Ibu melepaskan pelukan kami.


"Bu Nimas, saya ucapkan terima kasih banyak. Tapi rasanya terima kasih sebanyak apapun tidak akan cukup untuk jasa Anda selama sepuluh tahun ini untuk anak saya. Saya juga merasa malu kepada Bu Nimas" tukas Ibu sambil menatap dalam Bune.


"Inggih, Bu, Inggih. Semua yang terjadi ini adalah takdir dari Yang Maha Kuasa. Selama kita ikhlas menjalani takdir-Nya dan tak putus dalam berdoa, Tuhan akan selalu mengirimkan bala bantuan-Nya dalam bentuk yang tidak kita sangka-sangka" jawab Bune penuh kelembutan.


"Ibu tadi melihat Deni keluar dari rumah ini. Dan kenapa sudut bibirmu berdarah. Pipimu juga memerah?" tanya Ibu.


Aku dan Mas Adit menceritakan kronologi kejadian yang menimpaku tadi.


"Saya tadi mau mengajak Wulan sekeluarga ke Surabaya saat Deni mencoba melakukan aksi bejatnya. Beruntung saya datang tepat waktu" ujad Mas Adit geram.


"Dasar Deni kurang ajar! Dia tak berubah sedikitpun!" maki Ibuku kesal.


Ibu lalu membuka dan merogoh tasnya. Dikeluarkan buku notes sebesar buku tulis, dan beliau menyerahkan selembar kertas terlipat kepadaku.


"Maafkan Ibu sekali lagi. Hasil visummu dulu sebenarnya Ibu tidak membakarnya. Ibu menyimpan dan membawanya ke Beika. Ibu selalu menjaga hasil visum ini selama Ibu disana. Ibu juga tidak mengerti alasan dibalik tindakan Ibu ini. Tapi mungkin inilah saatnya. Laporkan Deni! Mungkin kasusmu masih bisa dilanjutkan. Sertakan juga kejadian yang baru saja menimpamu. Deni dan teman-temannya harus merasakan hukuman yang setimpal!" kata Ibuku mantap.


Aku menangis haru. Apa kasusku masih bisa dilanjutkan? Jujur aku masih berharap mereka semua bisa mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatan mereka padaku.


Dengan ditemani Mas Adit aku melakukan visum untuk membuktikan percobaan perkosaan dan kekerasan yang dilakukan Deni terhadapku. Dari rumah sakit, aku dan Mas Adit langsung ke Polsek.


(Backsong : Naomi Scott~Speechless)


Dan disinilah Wulan sekarang. Di Polsek yang sama sepuluh tahun yang lalu, Wulan pernah melaporkan kasus perkosaan yang dialaminya. Dulu, ketidakadialan yang ia dapatkan. Akankah ketidakadilan yang sama akan terulang?


**************************************************

__ADS_1


~ *Beika, merupakan kota fiktif dalam serial anime Detective Conan karangan Aoyama Gosho


~Deportasi, berdasarkan KBBI Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, merupakan tindakan pembuangan, pengasingan, atau pengusiran seseorang ke luar suatu negeri sebagai hukuman, atau karena orang itu tidak berhak tinggal di situ*.


__ADS_2