Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 73 "Kalau Aku Mantap Sama Kamu?"


__ADS_3

Deg deg deg deg. Detak jantung Adit bertalu-talu.


S h i t. Mau nyeka air mata cewek aja jantung berdebar kaya gini. Maki Adit dalam hati.


Adit hendak menyeka air mata yang telah mengalir di pipi Wulan. Dilihatnya mulut gadis itu bergumam, dan lirih terdengar suara Wulan mengigau.


"Jangan...kumohon hentikan. Jangan lakukan itu"


Wulan diam sejenak.


"Ampuunn ampuunn... Lepaskan aku. Sakiiitt"


Kemudian mata Wulan membuka. Adit yang hendak membangunkan Wulan wajahnya hanya berjarak sekitar 20 cm dari gadis itu. Wulan terbangun dengan nafas terengah-engah.


Aku terkejut setengah mati saat membuka mata dan melihat wajah Mas Adit tepat berada di depan wajahku.


Gubraaaakkk!


Mas Adit jatuh terjengkang karena aku mendorongnya dengan sekuat tenaga.


"Aawww!" Mas Adit meringis dan menggosok-gosok punggung dan pantatnya menghantam lantai.


"Ngapain sih mukanya deket banget?! Bikin kaget aja! Ck" ketusku. Tak ada rasa sesal atau simpati pada Mas Adit yang jatuh duduk di lantai.


"Bantuin kek! Minimal minta maaf" gumam Mas Adit kesal.


"Siapa suruh ngagetin!" ucapku tanpa rasa bersalah.


"Eh, udah hampir tengah malam" gumamku saat melirik jam pada ponselku.


Aku yang hendak mengemas barang-barang, menyadari ada sesuatu yang tersampir pada pundakku. Aku hendak meraihnya, tapi Mas Adit yang telah bangun dari jatuhnya telah menyambar barang itu terlebih dahulu.


Aku mengangkat sebelah alisku heran.


"Selimut?" tanyaku pura-pura polos pada Mas Adit. Senyum tipis terkembang pada bibirku tanpa aku sadari.


"Ck!" Mas Adit hanya berdecak kesal, lalu berpaling.


"Aku mau pulang. Ayo aku antar" kata Mas Adit sambil merapikan mejanya.


"Eh, ga usah Mas. Rumahku sama kontrakan Mas Adit berlawanan" tolakku.


"Sudah larut malam. Bahaya. Aku ikutin mobil kamu dari belakang"


"Ga usah, Mas. Aku ga mau ngerepotin" sekali lagi aku menolak.


"Aku antar!" ucapannya mengandung perintah mutlak.


Aku memutar bola mataku jengah. Dasar keras kepala!


Keesokan harinya, lima orang kembali untuk menagih janji.


"Maaf bapak-bapak sekalian, saat ini saya sedang melakukan kalkulasi untuk penawaran saya. Saya harap bapak bisa bersabar. Sampai setidaknya, lima hari kedepan. Jika semuanya sudah siap, kita akan merundingkannya kembali" jelasku pada mereka.


"Masalah ini sebenarnya sepele, Lan. Menikahlah dengan Nak Deni, pekerjaan proyekmu akan lancar" ucap Pak Naryo enteng.

__ADS_1


Keempat orang lainnya memandangi Pak Naryo. Heran akan pernyataan yang dikeluarkan Pak Naryo. Jangan-jangan ada udang di balik ote-ote*, pikir mereka berempat. Mereka tahu bahwa Pak Darma yang mengakomodir kegiatan demo mereka. Tapi mereka tidak tahu ada maksud terselubung dari sikap Pak Darma itu.


"Oh iya, perundingan kita lakukan di rumah Pak Darma ya? Saya ingin menegaskan pada pria tua itu, agar tidak menganggu pekerjaan saya lagi"


"Pak Naryo, tolong sampaikan pesan saya kepada keluarga Wiratmaja. Mereka memilih lawan yang salah!" ucapku dengan dingin.


"Gadis sombong!" desis Pak Naryo.


"Aku pastikan proyekmu ini akan gagal. Ayo kita pergi" kata Pak Naryo mengajak rekan-rekannya.


"Saya harap bapak-bapak ini akan menjadi juri yang netral. Saya pastikan, kesepakatan yang akan saya tawarkan akan sangat menguntungkan bagi warga Desa Karang Gayam" ucapku kalem pada keempat orang yang terlihat masih gamang akan mengambil keputusan apa.


"Kita bertemu hari Sabtu jam 10.00 di rumah Pak Darma" ujarku menginfokan saat mereka berlima beranjak pergi.


"Memangnya kesepakatan apa yang akan kamu tawarkan?" tanya Mas Adit penasaran.


"Nanti Mas Adit lihat sendiri. Tunggu sampai aku selesai membuat kalkulasi" ucapku lalu menekuni kembali laptop dan kertas-kertas yang bertebaran di mejaku.


Selama empat hari berikutnya aku selalu bekerja hingga larut malam. Mas Adit selalu menemani. Pernah suatu kali saat Mas Adit mengantarku pulang, ada mobil lain yang juga membuntuti mobilku.


Aku lirik dari spion, aku sangat yakin itu adalah mobil Deni. Aku merasa bersyukur ada Mas Adit yang senantiasa menemani.


Jika tidak ada Mas Adit, aku yakin Deni akan mencegatku. Dengan kehadiran Mas Adit, Deni tak akan berani berbuat macam-macam.


Tak sampai lima hari perhitunganku telah selesai. Pada hari keempat aku mengirimkan hasil kalkulasiku pada Pak Reza via email.


Aku menanti dengan cemas jawaban dari Pak Reza. Aku benar-benar berharap beliau akan menyetujui ideku. Saat ini aku sedikit merasa bersalah, karena seolah-olah aku memanfaatkan kemurahan hati dan kekayaan perusahaan untuk ambisi pribadiku.


Aku menyelipkan salah satu cita-citaku untuk membuat kesepakatan ini. Ah, pasti Pak Reza akan sepakat dengan ideku. Hampir tujuh tahun bekerja bersama beliau membuatku tahu bagaimana track record Direktur Utama tempatku bekerja.


I need somebody to heal


Somebody to have


Somebody to know


Somebody to hold


(Lewis Capaldi ~ Someone You Loved)


Nada dering ponselku berbunyi. Manampilkan nama "Pak Reza Dirut" pada layarnya.


"Selamat siang, Pak" jawabku segera. Setelah tiga jam menanti dengan cemas akhirnya Pak Reza menghubungiku.


"Saya sudah baca laporan kamu. Saya selalu suka dengan hasil pekerjaan kamu. Detail, persis seperti Pak Hermawan dulu" puji Pak Reza.


"Terima kasih, Pak" aku tersenyum simpul atas pujiannya.


"Saya setuju dengan ide kamu. Kalau perkiraan kamu ini tidak meleset, dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun kita udah bisa BEP ya?"


"Benar, Pak" jawabku yakin.


"Untuk masalah kontribusi bulanan, bisa kamu tambahkan dua kali lipat. Kita bisa kasih lebih dari itu" perintah Pak Reza.


"Bapak yakin?" tanyaku tak percaya.

__ADS_1


"Tentu saja. Toh itu juga demi kemajuan desa itu. Kalau desa itu maju, bisnis saya juga bisa lancar" ujarnya sambil terkekeh.


Aku menghembuskan nafas lega.


Setelah Pak Reza memutuskan sambungan, aku segera menghubungi Mas Ronald.


"Mas, udah?" tanyaku tanpa berbasa-basi. Aku terlalu bersemangat.


"Apanya udah? Salam dulu, kek. Tanya kabar dulu, kek. Main todong aja" gerutu Mas Ronald dari seberang sana.


"Hahaha, sorry Mas. Aku terlalu bersemangat" ujarku sambil tergelak.


"Pak Reza acc. Untuk kontribusi bulanan jadiin dua kali lipat ya! Perintah Pak Dirut langsung" lanjutku.


"Oke. Ada lagi?" nada suara Mas Ronald terdengar masih kesal.


"Oh iya, satu lagi. Salam kangen" ucapku dengan nada geli.


"Ngapain salam, orang kita lagi ngobrol gini" ujar Mas Ronald pede.


"Buat Diva sama Renila. Hahaha" aku tergelak akan leluconku sendiri.


"Kecewa aku" suara Mas Ronald terdengar geli, bertolak belakang dengan apa yang diucapkannya.


"Nota kesepakatannya aku tunggu ya, Mas"


"Siap. Cuma ganti itu 'kan? 15 menit beres"


"Oh iya, Diva ngajakin main ke Pasuruan. Kamu kapan ada waktu?" tanya Mas Ronald.


"Kalau masalah ini beres, minggu depan main sini Mas" jawabku bersemangat. Aku juga merindukan sahabatku itu.


"Oke" lalu Mas Ronald mengakhiri panggilan telepon.


"Kamu akrab banget ya, sama mas-mas itu?" celetuk Mas Adit. Rupanya dari tadi dia menyimak pembicaraanku.


"Ya akrab. Udah jadi rekan kerja selama 7 tahun. Terus dia juga suami sahabat aku" jelasku pada Mas Adit.


"Mantan juga?" tanyanya dengan nada yang tendensius.


"Emang kenapa kalau mantan?" aku balik bertanya.


"Ya siapa tahu masih ada rasa" gumamnya sambil menatapku lekat.


"Ya enggak, lah. Apalagi dia suami sahabat aku. No way, big no. Lagi prinsip aku ya, Mas. Kalau mantap, nikahilah. Kalau mantan, lupakanlah!" tolakku mentah-mentah pada kata-kata Mas Adit.


"Kalau aku mantap sama kamu?" tanya Mas Adit dengan raut serius.


Wulan terhenyak.


Mampus. Kemakan omongan sendiri kamu, Lan!


*********************************************


~Ote-ote*, merupakan bakwan dalam bahasa Surabaya. Btw, authornya orang Surabaya jadi nyebutnya ote-ote bukan bakwan 😆

__ADS_1


__ADS_2