Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 27 Good Bye, My First Love


__ADS_3

Sudah dua minggu sejak kepulanganku dan Ibu dari Bangil. Ibu masih belum menerima keputusan yang telah aku ambil. Berkali-kali beliau menyuarakan ketidaksetujuan atas keputusanku itu, dan berkali-kali pula aku menyanggahnya, dan berakhir dengan perdebatan sengit. Tak jarang perdebatan diakhiri dengan salah satu dari kami yang membanting pintu kamar .


Hasil ujian akhir sudah keluar tiga hari yang lalu, dan seperti sudah kuprediksi nilaiku sangat memuaskan di semua mata pelajaran yang diujikan. Besok adalah hari pembagian ijazah. Aku enggan sekali rasanya pergi ke sekolah.


Seminggu setelah pengumuman "RUMAH DIKONTRAKKAN BESERTA PERABOT" terpasang di pagar rumah, ada orang yang mengontak ibuku dan mengambil kontrak selama dua tahun setelah melihat-lihat kondisi rumah kami. Aku dan ibu menyepakati bahwa uang hasil kontrakan setiap tahun akan masuk ke dalam rekeningku karena ibu tak merasa perlu akan uang itu.


"Persiapan ibu sudah beres untuk berangkat. Ibu dijadwalkan berangkat minggu depan ke Taiwan. Kamu kapan mulai kuliah?", kata ibuku pada suatu sesi makan siang kami.


"Kuliahnya sendiri dimulai awal Agustus nanti. Tapi pendataran ulang akan dilakukan dua minggu lagi. Minggu depan kita berangkat bersama saja ke Surabaya. Ibu langsung ke Juanda kan?" usulku pada ibu.


"Ya. Besok pagi Ibu akan mengambil tiket pesawat ke jasa penyalur. Kamu besok ambil ijazah ke sekolah kan? Bareng ibu saja."


Aku hanya mengangguk mengiyakan. Begitulah aku dan Ibu, jarang sekali bercakap basa-basi. Lebih seringnya langsung to the point pada hal apa yang ingin dibicarakan.


Keesokan paginya jam delapan pagi aku dan ibu berangkat. Setelah ibu menurunkanku di depan gerbang sekolah, ibu langsung berlalu menuju kantor jasa penyalur TKW. Begitu memasuki gerbang, di sebelah kanan akan nampak pos satpam. Saat hari biasa, beberapa anak kadang ada yang nongkrong disana sembari menunggu bel tanda masuk berbunyi. Begitupun hari ini, ada beberapa anak laki-laki yang nongkrong di pos satpam tersebut. Sialnya, diantara mereka juga ada Genk Kece. Aku yang sudah mendapatkan cap "piala bergilir" seketika menerima olokan dari mereka yang melihatku memasuki gerbang.


"Oi, Lan. Deni bilang kamu hamil?" tanya Wira anak kelas IPS sebelah, sekelas dengan Lisa. Aku tak menghiraukan mereka.


"Anak siapa, Lan? Hahaha", tanya salah satu dari mereka. Kali ini aku tak mengenali suaranya. Aku tetap acuh.

__ADS_1


"Bego! Mana dia tahu. 'Kan itu hasil iuran kita berempat. Hahaha", kata Deni terbahak.


Aku yang mendengar olok-olok Deni merasa sangat geram. Aku berbalik berjalan kembali ke arah pos satpam dan menghadapi mereka. Aku tak mau dihina lagi. Aku tak mau dianggap lemah!


"Kenapa? Kalian mau iuran juga? Sini kalau mau! Tapi aku bikin patah dulu burung kalian!" ucapku sambil memperagakan gerakan menendang.


"Huuuu takuuuuttt", seru mereka bersamaan.


Aku langsung berlalu meninggalkan mereka. Tak kuhiraukan suara tawa dan teriakan mereka yang masih mengolokku.


Rupanya kabar kehamilanku sudah tersebar ke seantero sekolah. Saat berpapasan dengan beberapa anak lain, aku sepintas melihat tatapan sinis mereka. Kadang terdengar suara mencibir. Aku memilih tak mempedulikan perilaku mereka. Aku juga berpapasan dengan Lisa. Tampak Lisa tak berani menatapku dan memilih menghindar. Aku juga tak mau berurusan lagi dengan mantan sahabatku itu. Aku langsung menuju kelasku.


"Ryo, lepas! Tanganku sakit!", ucapku sambil berusaha melepaskan genggaman Ryo pada pergelangan tanganku.


Sampai di lapangan basket, Ryo menghadapku dan mencengkeram kedua bahuku.


"Aku serius masih mencintai kamu, Lan. Kita bisa 'kan kembali seperti dulu?" kata Ryo.


"Lalu apa? Kamu bersedia menjadi bapak dari anak ini? Enggak 'kan?" tanyaku sengit. Berpacaran dengan Ryo hampir dua tahun membuatku sangat mengenal karakternya. Terlahir sebagai anak sulung dari keluarga tak mampu membuat Ryo menjadi sosok yang merasa bertanggung jawab akan masa depan adik-adiknya. Dia ingin bisa membantu kedua orangtuanya menyekolahkan keempat adiknya.

__ADS_1


"Kabar itu benar?", wajah Ryo memucat. Aku tahu Ryo tak akan pernah mempercayai gosip tentangku sebelum mendengarnya langsung dari mulutku sendiri.


Aku tak menjawab, hanya mengeraskan rahangku. Ryo melepaskan tangannya dari bahuku. Aku tahu Ryo berat menerima kenyataan itu.


"Gugurkan saja", ujarnya saat aku hendak berbalik pergi.


"Aku ga bisa. Dua minggu lalu aku diantar ibuku untuk menggugurkan kandungan, tapi aku memilih melahirkan anak ini. Dia makhluk tidak berdosa", ujarku tegas sambil memegang perutku.


"Tapi, Lan...." perkataan Ryo menggantung.


"Cukup! Kalau kamu tidak bisa melakukan sesuatu untukku, atau paling tidak mendukungku, lebih baik kamu diam!" tukasku memotong ucapan Ryo.


Aku bergegas meninggalkan Ryo. Aku tak sanggup menahan lagi air mata yang sejak tadi ingin tumpah. Sejak aku menerima olokan dari anak-anak di pos satpam, tatapan sinis dari teman-temanku, sampai terakhir aku berhadapan dengan Ryo aku sekuat tenaga menahan air mataku.


Berbicara dengan Ryo membuat pertahananku runtuh. Air mata yang sejak tadi pagi kutahan akhirnya luruh. Aku berjalan dengan menunduk dan air mata yang berlinang.


Jujur aku juga masih menyayangi Ryo. Dia adalah cinta pertamaku, dan mungkin akan menjadi cinta terakhirku. Ryo juga adalah pria pertama dan satu-satunya yang pernah menyentuhku dengan intens atas izinku. Aku yakin tak akan sanggup menjalani hubungan dengan pria manapun setelah ini. Aku masih trauma. Mimpi buruk juga tak pernah letih mendatangi tidurku, membuatku tak pernah bisa melupakan malam itu. Terbersit rasa tak rela dalam hatiku karena kami berpisah dengan perasaan seperti ini. Perasaan masih saling menyayangi namun takdir tak mengijinkan kami bersama.


Tuhan, mengapa Kau memisahkan kami dengan cara yang begitu kejam? batinku.

__ADS_1


Wulan berlalu meninggalkan Ryo yang terpaku di tempat. Dengan lirih Wulan berucap, "Selamat tinggal, Ryo Anggara. Good bye, my first love".


__ADS_2