Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 37 Rezeki Tak Kemana


__ADS_3

**Hai reader-reader tercinta. Hehe ga nyangka hari ini aku sanggup up tiga bab. Biar aku semangat updatenya, mohon like dan komennya yaaa.. Kalo ada remahan vote, othor juga mau ban-geeett. Thankiss buat yang berkenan mampir. Kelanjutan perjuangan Wulan, check this one out 😘😘**


Surabaya, 27 Februari 2011


Usia kandunganku kini telah mencapai 40 minggu, dan hari ini adalah HPL hasil perhitungan oleh Dokter Ibrahim. Tapi aku belum merasakan tanda-tanda apapun yang menunjukkan bahwa aku akan segera melahirkan. Kontrol dua minggu lalu, dokter mengatakan bahwa aku dan bayiku sehat. Air ketuban, detak jantung janin, tekanan darah bagus dan tidak ada masalah. Posisi kepala bayi sudah masuk panggul, jadi tinggal menunggu waktu saja. Begitu kata Dokter Ibrahim.


Karena sudah dua minggu ini aku sedang liburan semester gasal, kegiatanku sehari-hari hanya membantu Bune dan Pakne. Tak ada yang berbeda dengan hari-hari biasanya.


Saat usia kandunganku menginjak enam bulan pada November lalu, perutku sudah menunjukkan tonjolannya. Sebagian berkasak-kusuk, sebagian tidak peduli. Satu-satunya yang berani menanyakan perihal kehamilanku hanya Diva, teman akrabku.


"Lan, sorry aku mau nanya. Kamu udah married ya?" tanyanya pada suatu siang setelah mata kuliah Evaluasi Bisnis.


"Belum" jawabku santai.


"Lalu....." dia ragu melanjutkan kalimatnya. Mungkin dia berpikir aku hamil karena pergaulan bebas.


"Kehamilanku?" alih-alih malu, aku malah mengatakan hal tersebut dengan santai.


Diva hanya mengangguk.


"Kalau aku cerita kamu pasti ga bakal percaya. Tapi kalau kamu ga percaya, aku juga ga masalah kok" tukasku dengan mengangkat bahu kiriku.


Diva hanya diam dengan wajah yang serius, menanti kelanjutan ucapanku.


"Aku ini masih perawan, Va. Kamu percaya ga kalau aku titisan Siti Maryam, Ibunda Nabi Isa?" ujarku dengan mimik serius.


Sejenak Diva mencerna kata-kataku. Kemudian mukanya ditekuk kesal.


"Serius dikit dong, Wulaaann!" tukasnya dengan nada kesal.


Hahahaha. Aku menertawakan leluconku yang tak lucu.


"Tapi beneran kalau aku cerita kamu pasti ga bakal percaya. Aku diperkosa, lalu hamil" kataku ringan.

__ADS_1


"Serius, iiihh!" tukas Diva dengan kesal yang semakin menjadi.


"Lho aku serius. Tuh 'kan, bener ga percaya" selorohku.


"Ya Tuhan, Wulan. Kenapa kamu ga minta pertanggungjawaban pria itu?"


Mungkin dalam benak Diva aku hanya diperkosa oleh satu orang. Tapi aku memilih tidak menceritakan detail kejadian itu.


"Untuk apa? Untuk menambah perasaan traumaku. Bisa-bisa aku mati berdiri dinikahi oleh pria brengsek macam itu. Sampai detik ini saja, kejadian itu selalu menghantui tidurku sebagai mimpi buruk. Tak peduli siang atau malam" jawabku sinis.


Sejak aku menceritakan hal itu, Diva menjadi orang yang pasang badan jika mendengar ada orang yang berbicara buruk di belakangku. Diva menjadi satu dari sedikit orang yang bersimpati dan memberikan dukungan kepadaku.


Rata-rata teman di kampusku tak terlalu mau tahu urusan orang lain. Apalagi aku terkenal sebagai mahasiswi kupu-kupu, alias kuliah-pulang kuliah-pulang. Jadi kabar kehamilanku tak terlalu menjadi buah bibir. Hanya bertahan selama beberapa hari lalu kembali normal.


Reaksi teman-temanku berbeda dalam menyikapi kehamilanku. Mereka yang tidak percaya, menganggap bahwa aku yang diperkosa hanya bualanku dan alasan agar tidak malu, serta memandangku sinis. Mereka yang percaya dan simpati, mengatakan bahwa aku wanita yang tegar. Dan sebagian besar lebih cenderung tak peduli.


Mungkin memang beginilah jika hidup di kota besar. Orang-orangnya lebih banyak yang tidak peduli tentang kehidupan orang lain, dibanding dengan yang sibuk nyinyir dan bergosip. Jika aku masih tinggal di desa, pasti cemoohan dan sindiran akan menjadi makanan sehari-hari, terlepas dari apapun alasanku.


Bagaimana kabar David, si pemuda sipit? Tepat seperti dugaanku, dia mundur teratur. Dimulai dengan menjaga jarak, dan lama kelamaan aku nyaris tak pernah berbicara dengannya. Aku maklum dan tidak mempermasalahkannya. Aku sadar, tak mungkin ada pria yang mau menjalin hubungan dengan wanita yang sedang hamil. Jika si pria tidak keberatan, pasti keluarganyalah yang akan merasa keberatan. Bahkan sebulan lalu aku mendengar kabar bahwa David sudah berpacaran dengan gadis jurusan Akuntansi Pajak.


"Belum, Bune. Kan dokter bilang bisa maju atau mudur. Bune sudah ga sabar pengen ketemu cucu rupanya", jawabku sambil mengelus lengan kurus Bune yang sudah mulai tampak berkeriput.


Waktu sudah menunjukkan pukul 21.05 dan warung sudah lengang. Entah kenapa, warung tak begitu ramai hari ini. Dagangan masih tersisa separuh dari yang dipersiapkan tadi pagi. Jika dikonversi ke porsi, pasti masih ada 50 porsi lebih.


Melihat kondisi sisa dagangan yang masih banyak aku menghela nafas keras.


"Ya Gusti, kulo ngertos rejeki niku namung titipan. Tapi yen nitip, sing radi kathah sithik" ujarku frustasi. Karena tidak biasanya dagangan masih tersisa banyak seperti hari ini.


(Ya Gusti, saya tahu kalau rejeki itu hanya titipan. Tapi kalau nitip, yang agak banyak)


"Hush! Lha kok kamu ngatur yang ngatur bagi-bagi rejeki. Rejeki banyak atau sedikit, tetap harus disyukuri" ujar Bune menasihati.


Aku hanya nyengir mendengar teguran dari Bune.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30, dan kami memutuskan berbenah. Saat tengah asyik berbenah, sebuah mobil parkir di depan warung. Seorang pria paruh baya keturuan tionghoa turun dari pintu mobil di bagian kemudi.


"Baksonya habis, Pak?" tanya pria tersebut.


"Masih ada, Pak. Bungkus atau makan di tempat?" tanya Pakne.


"Bungkus 50 ada, Pak?"


"Oh, ada. Silahkan duduk dulu. Biar saya siapkan. Mau minum apa, Pak? Gratis minumnya" tukas Pakne.


"Teh hangat saja, Pak. Makasih sebelumnya" jawab pria tersebut lalu mengeluarkan ponselnya.


Aku membuatkan teh hangat dan Bune membantu Pakne menyiapkan pesanan. Setelah teh hangat siap, aku mengantarkan ke meja tempat pria tersebut menunggu.


"Silahkan, Pak tehnya" ucapku sambil meletakkan teh hangat di atas meja.


"Oh, makasih ya Mbak. Hamil berapa bulan, Mbak?" tanyanya berbasa-basi.


"Sembilan bulan, Pak. Ada acara apa kok sampai memborong 50 porsi?" tanyaku.


"Rumah saya digeruduk teman-teman anak saya. Biasalah, dia anak BEM jadi teman-teman satu organisasinya banyak. Dia berulang tahun hari ini. Minta dibelikan bakso barokah saja, biar ga ribet katanya" jawabnya menjelaskan.


"Oh, selamat ulang tahun buat anaknya ya Pak. Saya permisi mau bantu orang tua saya" ujarku berbasa-basi.


Sambil membantu aku berpikir, rejeki memang tak akan kemana. Baru saja aku berdoa, langsung dikabulkan. Mungkin doa wanita hamil itu mustajab.


Setelah pesanan siap, kami membantu pembeli tersebut menaikkan 5 kantong kresek ukuran sedang ke dalam mobilnya. Bapak tersebut membayar lalu mengucapkan terima kasih dan berlalu pergi.


Sudah pukul sepuluh lewat, akhirnya kami segera berbenah. Kami bertiga menutup warung dengan hati riang. Tak menyangka akan ketiban rejeki di detik-detik akhir menjelang tutup.


Rolling door warung sudah tertutup sepenuhnya dan kami bersama-sama menyeberang jalan untuk pulang dan beristirahat.


Saat Pakne membuka gerbang, tiba-tiba saja, "Aduh!" keluhku sambil meringis.

__ADS_1


Apa yang terjadi pada Wulan? Kenapa tiba-tiba Wulan mengaduh?


__ADS_2