
"Duduk dulu, Lan" pinta Pak Ronald sambil menunjuk pada salah satu single sofa yang ada di ruangannya.
"Mau ngeteh dulu?" tawarnya
"Makasih Pak, masih kenyang" tolakku. Aku tak berbohong, aku memang masih kenyang.
"Sebentar ya. Abis ini saya antar kamu ke ruang Pak Hermawan"
Aku hanya mengangguk.
Aku tak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Pak Ronald. Tapi aku dapat melihat dari ekor mataku, sesekali Pak Ronald memperhatikan gerikku. Membuatku menjadi salah tingkah.
"Ayo, saya antar sekarang" tukas Pak Ronald setelah hampir satu jam mengutak-atik dokumen di meja kerjanya.
Aku yang sedang berhitung dalam hati, untuk membunuh waktu, sedikit terlonjak.
"Iya Pak" jawabku sambil berdiri.
Aku mengekori Pak Ronald menuju ruang Pak Hermawan.
Tok Tok. Pak Ronald mengetuk pintu ruangan dengan label "ACCOUNTING MANAGER"
"Masuk!" terdengar suara dari dalam ruangan.
Kami berdua masuk. Ruangan Pak Hermawan memiliki desain yang tak jauh berbeda dari Pak Ronald.
"Ini nih, accounting pilihan Bos Mawan" seloroh Pak Ronald.
"Wulan, Pak" ucapku memperkenalkan diri sambil menyalaminya.
"Saya permisi dulu ya, Pak" pamit Pak Ronald.
"Silahkan, silahkan" jawab Pak Hermawan.
"Sebelumnya saya ucapkan selamat bergabung dalam keluarga besar PT. Textile Globalindo. Supervisor kamu, atasan langsung, namanya Pak Bayu. Nanti saya kenalkan"
"Pekerjaan kamu apa dan bagaimana, biar Pak Bayu yang jelaskan"
"Iya, Pak"
"Mari kita langsung menuju ruangan kerja divisi accounting" ajak Pak Hermawan padaku.
Kami turun ke lantai 9. Dan desain lantai 9 tak jauh berbeda dengan lantai 8 atau 10. Begitu keluar lift langsung belok ke kanan.
Aku membaca nama-nama divisi yang ada di lantai 8. Ada Divisi Produksi, Pemasaran, Logistik, Supply Chain, dan terakhir adalah Accounting&Finance.
Aku digiring oleh Pak Hermawan memasuki ruang Divisi Accounting&Finance. Dalam ruang tersebut terdapat bilik-bilik kecil, berjumlah 20 bilik. Dan di ujung ruang terdapat ruangan yang dikelilingi kaca, yang merupakan ruang Supervisor.
"Pagi, Pak Bayu. Kenalkan ini pegawai baru yang saya janjikan" tukas Pak Hermawan tanpa basa-basi dan tanpa mengetuk ruang kerja Pak Bayu.
Rupanya Pak Hermawan ini adalah orang yang lugas dan tegas. Terlihat dari cara pembawaan diri dan tutur katanya.
"Bayu"
"Wulan, Pak"
Kami bersalaman dan saling menyebutkan nama.
"Silahkan nanti kenalan sama teman-temannya ya. Saya permisi dulu" pamit Pak Hermawan.
"Mari langsung kita kenalan sama teman-teman" Pak Bayu mengajakku keluar dari ruangannya.
Plok Plok Plok. Pak Bayu menepukkan tangannya.
__ADS_1
"Teman-teman, kenalkan kita punya rekan kerja baru. Namanya Wulan"
Aku hanya mengangguk dan tersenyum pada mereka yang menatapku.
"Ini bilik kamu" kata Pak Bayu menunjuk bilik ke-empat di deretan sebelah kanan.
"Tugas kamu simple, mengumpulkan invoice-invoice dan tagihan PO yang mendekati jatuh tempo. Untuk selanjutnya diserahkan ke bagian Finance"
"Kalau ada yang ga paham, bisa tanya sama Ika"
"Ka, bantuin ya" Kata Pak Bayu mengetuk bilik di sebelah kiriku.
"Siap, Bos" jawab wanita berkerudung krem itu.
"Kenalin, Ika"
"Wulan"
Aku akhirnya berkenalan dengan semua orang dari divisi Accounting&Finance.
"Ini dokumennya. Kamu pilah invoice dan tagihan PO yang maksimal seminggu sebelum jatuh tempo. Kamu bikin excelnya, lalu kamu serahin sama Pak Bayu" Ika menjelaskan.
Aku hanya mengangguk-angguk.
"Kalau ada yang ga paham tanya aja ya" ujar Ika.
"Siap, Mbak" jawabku.
Banyak juga dokumen yang harus aku periksa. Aku mulai memetakan customer dan supplier-supplier ke perusahaan ini. Membuat catatan tersendiri mengenai term (aturan) pembayaran setiap vendor dan customer.
Tak terasa sudah pukul 11.30, waktunya istirahat. Mbak Ika dan Mbak Mirna mengajakku makan di kantin.
"Kantin ramai sekali, kita harus cepet-cepet biar ga antri" ucap Mbak Mirna.
Ada puluhan stand di sana dengan berbagai variasi pilihan menu. Aku memilih gado-gado karena antriannya tak terlalu mengular.
Tampak Mbak Mirna dan Mbak Ika masih mengantri di stand soto ayam. Antrian cukup panjang, sepertinya stand paling laris.
Aku berinisitif mencarikan tempat duduk untuk mereka. Setelah menemukan, aku menghampiri mereka yang sedang antri.
"Mbak, duduk sana ya" tunjukku pada sebuah meja kosong.
Mbak Mirna dan Mbak Ika hanya mengacungkan jempol tanda setuju.
Beberapa menit kemudian Mbak Mirna dan Mbak Ika sudah duduk di depanku.
"Ini menu paling ramah di kantong, Lan. Enak, banyak, murah, kenyang" seloroh Mbak Mirna.
"Tebak, satu porsi ini plus es teh berapa?" tanya Mbak Ika padaku
Aku memperhatikan semangkok soto yang masih mengepulkan asap, dengan setumpuk nasi yang menggunung.
"15-20 ribu mungkin" tebakku asal.
"Tetoott. Only ten thousand rupiahs (Hanya sepuluh ribu rupiah)" jawab Mbak Ika.
"Murah ya" gumamku.
"Ya udah, yuk makan. Laper berat ini" tukas Mbak Mirna tak sabar.
"Eh, Lan. Kamu ada hubungan apa sama Pak Ronald?" tanya Mbak Ika di tengah acara makan siang kami.
"Hubungan maksudnya?" tanyaku balik karena bingung.
__ADS_1
"Aku lihat tadi kamu keluar dari mobilnya Pak Ronald" Mbak Ika menjelaskan.
"Oohh itu. Panjang ceritanya" jawabku datar.
"Waktu istirahat juga masih panjang" Mbak Mirna menimpali, tampak bahwa dia juga penasaran.
Akhirnya sambil makan aku menceritakan kronologi singkat bagaimana aku bisa berangkat bersama Pak Ronald pagi tadi.
"Tumben Pak Ronald pergi sendiri ke rumah duka. Biasanya mentok staff HRD satu atau dua orang yang pergi" ujar Mbak Ika.
Ya karena Pak Ronaldnya ada hati sama aku. Ternyata modus aja kemarin itu. Bilang kalau itu jadi tugas dia. Batinku bersungut-sungut.
"Tapi, by the way kita turut berduka ya" kata Mbak Mirna.
"Iya, makasi" jawabku singkat.
"Pak Ronald itu jomblo paling most wanted lho. Paduan sempurna, tampan, mapan dan kaya. Orang tuanya salah satu pemilik saham terbesar di perusahaan ini" ujar Mbak Ika menjelaskan.
"Aku dukung, Lan. Kali-kali aja ada teman Pak Ronald yang sama kecenya dan jomblo" seloroh Mbak Mirna.
"Enggak ah, bukan tipeku" jawabku sekenanya.
"Bukan tipe kamu ya, ternyata. Lalu tipe kamu seperti apa, say?" terdengar suara dibelakangku yang nyaris membuatku tersedak.
"Ehem, say!" goda Mbak Ika.
Aku mendelik padanya, sementara Mbak Mirna hanya terkikik geli.
"Boleh saya duduk bareng disini?" tanya Pak Ronald.
"Boleh, Pak. Boleh banget" jawab Mbak Mirna cepat.
"Suatu kehormatan bisa satu meja dengan seorang HRD Manager" seloroh Mbak Ika.
"Udah pada bayar? Kalau belum saya yang traktir" kata Pak Ronald.
"Aduh, Bapak datangya telat" jawab Mbak Mirna.
"Hahaha. Maybe next time (Mungkin lain waktu). Saya pesan makanan dulu ya" Pak Ronald terbahak mendengar jawaban tersebut.
"Diem aja, Lan" celetuk Mbak Mirna.
"Terus mau ngomong apa. Kan udah diwakilin sama kalian" jawabku asal.
"Ehem, say!" Mbak Ika mengulangi godaannya.
"Ga bangga aku dipanggil say sama orang lain" tukasku.
"Lah, kenapa? Apalagi orang itu Pak Ronald" Mbak Ika keheranan.
"Karena bisa jadi kepanjangannya, saythonirrojim" jawabku iseng.
"Anjiiiirr" maki Mbak Ika dan Mbak Mirna bersamaan.
Lalu kami bertiga terbahak.
Wulan senang, hari pertamanya bekerja dia mendapatkan teman-teman yang baik. Selangkah demi selangkah, Wulan semakin mendekat pada mimpinya.
*********************************************
~*Invoice adalah surat tagihan yang diterbitkan oleh penjual untuk diserahkan kepada pelanggan setelah melakukan transaksi.
~PO merupakan singkatan Purchase Order, adalah dokumen yang dibuat oleh pembeli untuk menunjukkan barang yang ingin mereka beli dari pihak penjual*.
__ADS_1