
Tak terasa sudah enam bulan aku bekerja di PT. Textile Globalindo. Selama itu pula Pak Ronald tetap gencar mendekatiku. Pak Ronald sering tiba-tiba datang ke warung bakso atau ke rumah. Membawa ini atau itu. Entah untukku, untuk Langit, atau untuk Bune.
Puncaknya, pernah Pak Ronald datang ke warung bakso bersama kedua orang tuanya. Beliau berdalih mengajak orang tuanya menikmati bakso lezat buatan pegawainya.
Pak Ronald mengenalkan aku pada papa dan mamanya. Papa beliau terlihat biasa saja, mengobrol santai dengan putranya sembari menyantap semangkuk bakso. Mamanya cenderung acuh, sibuk dengan gawainya sembari menyantap bakso.
"Ibuuuu, nanti talok ibu gajian Yangit mau boneka Poyoyo kayak ini" ucap Langit sambil menunjukkan animasi kesayangan pada layar ponsel.
"Yang mana? Hmm, boleh boleh" jawabku menyanggupi.
Dari ekor mataku, aku bisa melihat tatapan sinis mama Pak Ronald. Kenyataan aku sudah mempunyai seorang putra, rupanya tak bisa di terima olehnya.
Setelah bakso habis, mama Pak Ronald nampak ingin cepat-cepat meninggalkan warung.
"Pa, Ron. Ayo cepat pulang. Gerah disini!" sergahnya.
"Papa sama Mama tunggu di mobil bentar, ya. Ronald ada mau ngobrol sama Wulan bentar"
Orang tua Pak Ronald langsung berlalu.
"Lan, sudah tahu 'kan orang tuaku?" Pak Ronald membuka percakapan.
"Lalu?" jawabku datar.
"Kemarin bilangnya ga mau nerima perasaanku karena ga tahu orang tuaku kayak gimana. Sekarang udah tahu 'kan. Manusia biasa sama kayak kita-kita" selorohnya.
Aduh, ga peka banget. Padahal itu kan cuma alasan. Pikirku masam.
"Sepertinya ibu Pak Ronald kurang berkenan terhadap saya" ucapku jujur.
"Mama urusan belakang. Yang penting kita punya status dulu. Yang naksir kamu di pabrik banyak, lho"
Aku menghembuskan nafas lelah.
"Maaf, Pak. Saya sedang tidak berminat menjalin hubungan dengan pria manapun"
"Saya serius lho sama kamu, Lan. Tolong kamu pertimbangkan dulu" ujarnya sedikit memaksa.
"Saya kasih kamu waktu, oke? Satu minggu. Gimana?" tawarnya.
Aku hanya mengangguk. Malas berargumen. Toh, jawabanku akan tetap sama.
Pak Ronald kemudian pamit.
"Dicoba dulu, Nduk. Siapa tahu dia jodohmu" ujar Bune setelah Pak Ronald berlalu.
"Wulan cuma mau membesarkan Langit dengan baik, Bune. Wulan masih trauma" jawabku. Beberapa waktu lalu akhirnya aku menceritakan masalah psikis yang aku alami.
Aku akan sangat ketakutan akan keadaan gelap. Kejadian malam itu seketika menyergap ingatanku saat kondisi gelap gulita. Begitupun sentuhan dari lawan jenis yang akan membuatku banjir keringat dingin dan jantung berdebaran.
Beberapa kali Bune menawarkan untuk meminta bantuan ahli, tapi aku bergeming. Hanya waktu yang bisa menyembuhkan traumaku ini, itulah yang kupikirkan.
"Mungkin kehadiran seorang pria yang baik bisa membantu menyembuhkan luka hatimu, Nduk" ucap Bune lembut.
__ADS_1
Benarkah? Haruskah aku mencoba? batinku berkecamuk.
"Wulan akan coba, Bune" tukasku setelah beberapa saat berpikir.
Aku mengirimkan pesan teks pada Pak Ronald.
Saya akan coba menjalin hubungan dengan Bapak.
Sebuah panggilan telepon langsung masuk begitu pesanku berubah menjadi centang dua berwarna biru.
Pak Ronal Calling...
"Halo, Pak?" jawabku.
"Berarti kita jadian?" tanya suara di seberang sambungan dengan bersemangat.
"Ya kurang lebih begitu, Pak" ujarku datar.
"Jangan panggil, Pak lagi kalau begitu. Panggil 'mas' coba" pinta Pak Ronald.
"Aduh, ga bisa, Pak" jawabku buru-buru.
"Try it first, please! (Tolong coba dulu)" pinta Pak Ronald dengan suara memelas.
"Em..Em..Mas" ucapku lirih.
"Yesss"
"Saya tutup dulu ya, Pak. Langit sudah merengek minta ditidurkan" kilahku. Padalah Langit sedang anteng mewarnai.
Tak ada perasaan berbunga dalam hatiku. Rasanya perasaanku datar-datar saja. Ah, biarlah. Mungkin nanti akan ada perasaan yang tumbuh seiring berjalannya waktu.
Tapi harapan tinggal harapan. Bahkan setelah satu tahun lebih menjalani hubungan dengan Mas Ronald (hasil latihan setelah 3 bulan menjalani hubungan, akhirnya aku lancar menyebutnya Mas Ronald).
Hubunganku dengan Mas Ronald bisa dibilang stagnan. Satu tahun lebih, nyaris tidak ada sentuhan fisik. Hanya pelukan atau kecupan ringan. Itupun sering aku menolaknya dengan halus dan berbagai alasan sekaligus berbagai jurus berkelit kukeluarkan untuk menghindari sentuhan yang lebih intim.
Seringnya aku mengajak Langit pada saat-saat kencan kami. Entah itu makan malam, jalan-jalan ke Mall, atau nonton bioskop. Aku beralasan tak tega meninggalkan Langit, sementara aku bersenang-senang bersamanya.
Mas Ronald mencoba maklum walaupun sering menampilkan mimik tidak rela. Sampai suatu saat Mas Ronald berkata ingin menonton film dengan rating dewasa. Aku tahu itu hanya alasan, karena Mas Ronald ingin pergi berdua saja denganku.
Februari 2017, sebuah film romantis dewasa yang booming di 2015 lalu menayangkan sequelnya. Film yang diperankan oleh Dakota Johnson dan Jamie Dorman.
Mas Ronald : Sayang, hari ini sibuk?
Aku : Ga terlalu. Pengen leyeh-leyeh aja di rumah.
(leyeh-leyeh : baring-baring)
Mas Ronald : Nanti kamu ndut, lho. Daripada gitu, temenin mas nonton yuk. Tapi jangan bawa Langit. Mas pengen nonton film xxxxx (menyebut sebuah judul film)
Aku menggigit bibirku. Aku enggan sekali rasanya menonton film dengan genre romantis-dewasa seperti itu. Lama aku tidak menjawab pesan Mas Ronald, sampai akhirnya dia menelepon. Dan dengan terpaksa aku menyanggupi permintaannya.
Di dalam bioskop aku sama sekali tak menikmati film sama sekali. Adegan e r o t i s dalam film membuat kelebatan kejadian malam itu muncul dalam kepalaku. Sontak jantung berdebar kencang. Keringat dingin bercucuran.
__ADS_1
Mas Ronald yang tak memahami kondisiku malah meraih tanganku dan mengecupnya. Membuatku merinding tak karuan.
"Basah banget" selorohnya, berbisik di telingaku. Lalu menggosokkan telapak tanganku yang basah ke pahanya yang tertutup celana chinos abu-abu.
Aku tahu Mas Ronald pria normal, pasti mengingikan lebih dari sekedar peluk dan ciuman ringan. Tapi aku tidak bisa. Aku belum bisa.
"Mas aku ke toilet dulu"
Tanpa menunggu persetujuannya aku langsung bangkit dan keluar.
Aku yang tak kunjung kembali memasuki gedung theater membuat Mas Ronald terpaksa mengikuti keluar.
"Kamu pucat, sayang. Kamu gapapa?" tanyanya, yang mendapatiku tengah duduk di ruang tunggu.
"Maaf, Mas. Kita pulang saja ya? Aku merasa kurang enak badan" ujarku.
Mas Ronald menuruti keinginanku. Tapi sepertinya adegan e r o t i s pada film tadi sudah cukup merasuk dalam benak Mas Ronald. Saat kami sudah memasuki mobil, Mas Ronald membantuku memasang seat bealt.
Entah setan apa yang mendorong Mas Ronald, tiba-tiba dia menangkup wajahku dan ******* bibirku. Aku yang tak menyangka akan serangan dadakan itu benar-benar terkejut dan sontak menegang. Aku mencoba mendorong dada Mas Ronald, tapi dia bergeming.
"Balas, please!" erangnya di sela-sela lumatannya pada bibirku karena responku yang pasif.
Bukan ciuman panas yang didapatnya, justru lelehan air mata di pipiku yang Mas Ronald dapatkan. Kedua tangannya yang masih menangkup kedua pipiku merasakan basah air mataku, membuat Mas Ronald tersadar lalu menghentikan aksinya.
"Sayang, maaf. Maaf. Ssshhh jangan nangis" ucapnya mencoba menenangkan dan memelukku.
Diperhatikannya diriku. Lampu dashboard yang menyala membuat Mas Ronald dapat melihatku dengan cukup jelas.
Disibakkannya rambutku disekitar leher. Leherku sudah basah oleh keringat dingin. Dia nampak terkesiap menyaksikan leherku yang basah, padahal AC mobil telah menyala.
"Ini kenapa?" tanyanya tercekat. Otak psikolognya mulai mencerna segala tanda-tanda yang ada padaku.
Apa mungkin punya trauma berat? Pikir Ronald.
Perlahan Mas Ronald mundur teratur, memberi jarak pada Wulan. Agar Wulan bisa menenangkan diri.
"Kita pulang" ucap Mas Ronald singkat.
Hening. Tak ada satupun di antara kami yang berniat untuk berbicara. Tanpa meminta persetujuanku Mas Ronald menyalakan stereo.
Caci maki saja diriku
bila itu bisa membuatmu
kembali bersinar dan berpijar seperti
dulu kala
(Dan~Sheila on 7)
Sebuah lagu mengalun mengiringi perjalanan kami. Setelah dua puluh menit kami sampai di rumahku.
"Terima kasih, Mas. Saya langsung pamit, ya" ucapku membuka seat belt lalu pintu mobil.
__ADS_1
Mas Ronald hanya mengangguk. Ekspresinya benar-benar tak bisa kutebak.
Sepertinya Wulan belum menemukan pria tepat yang bisa menyembuhkan luka hati dan traumanya. Kapankah pria itu akan datang? Adakah?