Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 92 Penyatuan


__ADS_3

**Hai para reader sekalian, maaf ya kalo updatenya ga beraturan.. soalnya pke hp gantian sm paksu 😅


happy reading all 😘😘**


Setelah Wulan pamit undur diri, satu per satu orang yang berbincang di teras villa mengikuti jejak Wulan. Sampai akhirnya tersisa lima orang termasuk dirinya, memutuskan untuk membubarkan diri pada saat hampir tengah malam. Adit langsung masuk ke kamarnya bersama Pak Adi, yang memang sekamar dengannya.


"Sampean serius Mas, sama Mbak Wulan?" Tanya Pak Adi sambil berganti celana dengan sarung.


"Ya serius, Pak. Usia saya ini wes ga waktunya buat main-main" jawab Adit lugas.


"Tapi Mbak Wulan itu tipe wanita karir. Mau ta, dia sampean bawa kesana kemari ngikutin sampean kerjain proyek disana sini" cetus Pak Adi, lalu membaringkan diri pada ranjang.


Adit menautkan alisnya, bingung harus menjawab apa. Jujur Adit tak pernah berpikir sampai sejauh itu.


"Lihat nanti saja, Pak!" Tukas Adit. Kepalanya terasa pening karena perkataan Pak Adi.


Adit tak dapat memejamkan mata barang sejenak pun. Pikirannya melayang kemana-mana. Pada mimpinya yang sama tentang Anin dan gadis kecil yang digandeng oleh Anin. Sudah tiga kali mimpi itu menghampiri. Apa itu pertanda, atau justru karena ia sedang merindukan mendiang istrinya? Apa gadis kecil itu Aluna? Adit sama sekali tak bisa mengingat wajah gadis kecil itu saat terbangun. Jika memang Adit begitu merindukan Anin sampai terbawa mimpi, lalu bagaimana perasaannya untuk Wulan? Apa hanya sekedar kagum atau ia memang tulus?


Adit glundang-glandung di atas tempat tidur. Suara dengkuran Pak Adi semakin membuat Adit tak bisa melelapkan diri.


Diambilnya ponsel di atas nakas. Melihat apakah ada pesan masuk. Hanya pesan dari sang Mama yang menanyakan kemajuan hubungannya dengan Wulan. Mama Adit begitu tidak sabar agar anaknya segera moved on dari almarhumah Anin.


Doain yang terbaik aja, ya, Ma -emo nyengir- -emo tangan saling menangkup-


Lalu Adit menscroll sampai menemukan nama My Wonder Woman. Nama yang ia pilih mengingat bagaimana tegarnya Wulan dalam menjalani takdirnya yang begitu pahit.


Tertera dibawah nama itu, last seen yesterday at 22.25


Udah tidur? Nite. Sleep tight -emo kiss love-


Beberapa menit tidak ada jawaban, mungkin Wulan sudah tidur. Adit memutuskan untuk bermain game. Dua kali permainan dan selalu kalah, membuatnya merasa kesal lalu meletakkan ponselnya.


Adit berniat merokok di tepi pantai untuk melepas rasa gelisah.


Adit keluar kamar lalu menyalakan rokoknya. Menyesap dalam dan menghembuskan perlahan selama perjalanan ke pantai. Adit mulai sedikit merasa rileks.


Saat sampai di pantai, Adit mengira pantai yang merupakan private beach itu kosong. Ternyata telah ada seorang wanita yang tengah duduk di bibir pantai menghadap laut. Siluetnya sangat dikenali oleh Adit. Penerangan dari lampu yang dipasang dipinggiran pantai oleh pihak pengelola villa membuat Adit dapat mengamati Wulan dengan cukup jelas. Rambut Wulan yang terurai itu meriak terkena hembusan angin laut malam hari.


Perlahan Adit mendekati Wulan, lalu merengkuh leher gadis itu.


"Kirain udah bobo!" Cetusnya.


Adit mengecup pipi Wulan sekilas. Dan balasan dari Wulan membuatnya sungguh merasa bahagia. Selama ini dirinyalah yang selalu berinisiatif memulai cumbuan-cumbuan mesra mereka.


Langit malam cerah dan berbintang. Bulan sabit menggantung dan separuhnya tertutup awan, membuat suasana kian syahdu. Mendukung kemesraan mereka berdua.


Dalam sekejap saja pakaian yang melekat telah berhasil diperetelinya. Ini adalah kali pertama Adit melihat tubuh polos Wulan tanpa sehelai benangpun. Membuat gairahnya menggelegak tak terkendali.


Adit menatap dalam manik mata Wulan, dan dengan suara parau karena menahan gairah ia meminta izin kepada Wulan. Jika Wulan menolaknya, entah bagaimana Adit akan meredakan gejolaknya yang terlanjur naik ke ubun-ubun.


Aku tidak menjawab permintaan izin Mas Adit, tapi justru menyembunyikan wajah di antara tulang selangka Mas Adit. Lalu secara perlahan salah satu betisku menaiki bokong Mas Adit dan mengungkungnya. Memberikan izin tanpa kata.


Aku bisa mendengar Mas Adit yang terkesiap senang. Lalu secara perlahan Mas Adit mengarahkan pusakanya pada gerbang milikku. Aku menggigit bibir saat milik Mas Adit mulai menyeruak masuk.

__ADS_1


Aku menahan nafas, detik demi detik terasa begitu lama. Aku tak tahu apakah memang rasanya semenyenangkan ini. Aku tak punya pengalaman dalam urusan ber-cin-ta sebelumnya. Aku merasa sedikit ngilu dan penuh saat Mas Adit sedikit menghentak, dan terbenamlah sudah pusaka Mas Adit sepenuhnya. Menyatukan tubuh kami berdua, dan membuat desisan nikmat keluar dari mulutku.


"Sakit?" Bisik Mas Adit di telingaku. Mas Adit belum bergerak. Mungkin memberi waktu padaku untuk terbiasa pada hal baru. Desisanku rupanya disalahartikan oleh Mas Adit.


Adit khawatir dirinya menyakiti Wulan. Bagaimanapun ini adalah pengalaman 'pertama' yang sesungguhnya bagi Wulan. Adit tak ingin trauma Wulan semakin menjadi-jadi karenanya.


Adit bisa merasakan Wulan menggeleng pelan di ceruk lehernya. Lalu dengan suara yang sama paraunya, didengarnya Wulan berbisik lirih.


"Do it (lakukan), Mas!"


(Back song : Dusk Till Dawn~Sia ft. Zayn, cover by Madilyn Bailey)


'Cause I wanna touch you baby


I wanna feel you too


I wanna see the sunrise


On your sins just me and you


Light it up, on the run


Let's make love, tonight


You'll never be alone


I'll be with you from dusk till dawn


I'll be with you from dusk till dawn


Baby, I'm right here


I'll be with you from dusk till dawn


I'll be with you from dusk till dawn


Baby, I'm right here


Tanpa dikomando dua kali, Mas Adit lalu mengayunkan pinggulnya dengan tempo perlahan dan kemudian semakin lama semakin cepat. Kami berdua men-de-sah dibuatnya.


Aku merasa benar-benar seperti di awang-awang. Rasa sesak dibawah sana, terasa begitu nikmat. Mas Adit membuatku serasa terbang. Saat Mas Adit mengayun semakin cepat, rasa nikmat dibawah sana semakin terkumpul. Aku merasa seperti ingin meledak. Aku membenamkan kukuku di punggung Mas Adit dan menekan bokong Mas Adit sehingga ia tidak bisa bergerak lagi. Aku mengerang panjang sambil mendongakkan kepalaku.


Adit merasa heboh sendiri. De-sa-han dan rintihan nikmat Wulan menjadi penyemangat baginya untuk bergerak semakin cepat. Dirinya tak tahu, bahwa Wulan bisa terasa begitu nikmat dan 'menggigit'. Membuatnya kewalahan. Ini adalah 'come back' nya setelah sebelas tahun vacuum. Dan benar saja, saat Wulan mengungkung bokongnya dan membuatnya tak mampu bergerak, milik Wulan terasa berdenyut dan memijit lembut pusakanya. Membuat Adit tak dapat mengontrol diri dan meledaklah ia bersamaan dengan Wulan.


Adit dan Wulan mengerang bersamaan.


Beberapa saat lamanya nafas mereka sama-sama memburu. Adit menatap manik mata Wulan yang menatapnya sayu, dan mulut yang setengah terbuka. Lalu perlahan nafas mereka kembali mulai teratur. Adit merapikan anak rambut yang menutupi wajah Wulan.


"Love you" bisik Mas Adit sambil mengelus lembut pipiku.


"Love you, too" balasku lalu meraih tangan yang mengelus pipiku itu, lalu mengecupnya mesra.


"Maaf" cetus Mas Adit.

__ADS_1


"Untuk?" Tanyaku heran.


"Aku....keluar di dalam" lirih Mas Adit.


"Hhmmm..." Aku hanya bergumam menanggapinya, lalu tersenyum menenangkan. Aku sedang tak ingin memikirkan dampak dari 'keluar di dalam'.


Aku merasa sangat lelah. Lelah yang menyenangkan.


Mas Adit mencium dan me-lu-mat lembut bibirku beberapa lamanya. Lalu Mas Adit turun dari atas tubuhku, memakai kaos dan boxernya kembali. Aku diam memperhatikan Mas Adit berpakaian kembali.


Mas Adit lalu meraih kaos lengan panjangku, dan memasukkan leher kaos itu melalui kepalaku.


"Pakai baju, nanti masuk angin" gumam Mas Adit sembari membantuku berpakaian. Aku menolak saat Mas Adit hendak membantuku memakai celana. Entah mengapa, aku merasa malu.


Akhirnya kami berbaring bersisian di atas kain bali yang sempit. Mas Adit menepuk lengannya, memintaku tidur di atas lengan kokoh itu.


Mas Adit menepuk-nepuk pahaku yang tertutup kaos sejengkal dari pangkal paha. Aku merasa mengantuk. Aku jatuh lelap, dengan tepukan ringan dari Mas Adit.


Lalu mimpi itu datang lagi. Aku tahu itu adalah mimpi yang sama yang membuatku tadi terbangun, tapi melupakannya.


Rasanya baru saja aku terlelap, tapi tepukan pelan terasa di pipiku. Aku refleks berusaha menyingkirkan gangguan itu.


"Lan, bangun! Ada yang datang!" Bisik Mas Adit panik.


Kalimat 'ada yang datang' sontak menyadarkanku sedang berada dimana aku, dan bagaimana kondisiku. Aku membuka mata seketika, lalu bergegas bangun dari bantal lengan kokoh Mas Adit.


Hari masih gelap, dan aku memang mendengar sayup-sayup suara orang yang datang mendekat. Aku gelagapan memakai CD dan celana trainingku. Begitupun Mas Adit. Tidak lucu kalau kami sampai tertangkap basah habis melakukan tindakan tak senonoh di pantai.


Setelah selesai berpakaian, aku dan Mas Adit bergegas meninggalkan pantai. Sambil bergandengan, kami tertawa bersamaan demi mengingat betapa tergopoh-gopohnya kami tadi.


Mas Adit mengantarkanku sampai ke depan kamar. Mengecup sekilas dahiku, lalu kembali ke kamarnya sendiri.


Di kamar aku memikirkan mimpi yang kali ini dapat kuingat dengan jelas.


Latarnya adalah saat aku memeriksakan kandunganku pertama kali di dokter kandungan. Disanalah aku bertemu dengan Mas Adit dan mendiang istrinya.


Dalam mimpi itu, kejadiannya sama seperti kenyataan saat dulu. Aku memperhatikan mereka yang baru keluar dari ruang Dr. Ibrahim, dan sedang memperhatikan secarik kertas kecil dan berbincang dengan bahagia.


Yang berbeda adalah, saat Mas Adit pamit padaku dan berlalu pergi, istri Mas Adit menjatuhkan foto hasil USG-nya. Aku seketika memanggil wanita itu untuk memberitahunya.


"Mbak, barangnya jatuh" cetusku dalam mimpi itu. Aku menunduk dan mengambil kertas itu.


Mas Adit dan mendiang istrinya menoleh. Aku mengangsurkan foto itu, dan diterima oleh istri Mas Adit.


"Thanks" senyum wanita itu, membuatnya terlihat begitu cantik.


Lalu wanita itu meraih tanganku, dan menautkannya dengan tangan Mas Adit.


"Titip, ya" pinta wanita itu dengan suara yang begitu syahdu.


Tepat saat aku akan bertanya maksud dari wanita itu, tepukan Mas Adit pada pipiku membangunkanku.


Kini, setelah Wulan dapat mengingat mimpi itu Wulan merasa resah. Pertanda apakah mimpi itu? 

__ADS_1


************************************************


~Glundang-glandung, membolak-balikkan diri di atas tempat tidur


__ADS_2