Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 88 Pengakuan Adit


__ADS_3

Setelah makan siang bersama, Mas Adit langsung pamit undur diri. Tadi Mas Adit datang ke rumah dengan berjogging. Dan memang selama menemaniku ke rumah sakit, Polsek dan makan bakso Mas Adit memakai kaos oblong dan celana pendek selutut lengkap dengan sepatu sneakers warna putih.


Aku yang baru menyadarinya saat Mas Adit pamit pulang, membuatku tersenyum geli. Mas Adit kesana kemari dengan berpakaian seperti itu, aku jadi merasa bersalah sekaligus merasa lucu.


Bune membekali Mas Adit makanan untuk Mas Adit makan malam. Saat Mas Adit menolak, Ibu dan Bune mengatakan itu adalah sebagai ucapan terima kasih kami. Dan berjanji minggu depan, kami akan ke Surabaya bersama untuk menggantikan acara hari ini yang tertunda.


Kami berempat makan malam dengan ceria. Aku memperkenalkan Ibu sebagai Utinya juga. Walaupun Langit tampak bingung, Langit tetap hormat kepada ibuku. Mencium punggu tangan Ibu, dan memilih panggilan Yangti untuk ibuku. Biar ga bingung, begitu kata Langit.


Setelah berbincang sejenak sehabis makan malam, Langit pamit tidur. Aku mendiskusikan pemikiran Mas Adit dengan kedua ibuku.


"Saran Nak Adit ada benarnya, Nduk" cetus Bune.


"Lakukan yang terbaik menurutmu, Nak" kata Ibuku.


Aku semakin gamang. Pikiranku menolak, tapi hatiku berkata iya.


"Terima kasih sarannya, Bune, Ibu. Ibu tidur di lantai atas gapapa? Kalau Ibu masih mau pakai kamar yang bawah, biar Wulan yang pindah ke atas" ujarku.


"Gapapa, Lan. Barang-barang Ibu sudah ibu letak atas" jawab Ibuku.


"Wulan pengen tidur sama Langit malam ini" pamitku pada mereka berdua.


Aku menaiki tangga dengan langkah gontai. Aku merasa malam ini ingin tidur dengan memeluk priaku. Menatap wajahnya yang telah terlelap, berharap menemukan jawab atas perasaan gamang yang mendera.


Aku masuk tanpa mengetuk pintu. Tampak Langit sedang menyusup ke balik selimut, bersiap untuk tidur.


"Eh, Ibu" sapa Langit.


"Ibu bobo bareng Langit malam ini boleh?" pintaku.


"Tumben" gumam Langit. Tapi beringsut mengangsurkan tubuhnya bergeser memberi tempat padaku agar bisa tidur disisinya.


"Ibu lagi pengen peluk Langit. Boleh 'kan?" pintaku lagi.


"Hhmmm" Langit bergumam mengiyakan.


Aku memeluk dan menepuk-nepuk punggung Langit. Lalu menggumam mendendangkan sebuah irama lagu.


"Langit udah gede, Bu. Wes ga perlu dininaboboin lagi" protesnya saat beberapa menit aku tetap berdendang.


Aku terkekeh mendengar protesnya.


"Ibu sama Om Adit pacaran?" tanya Langit tanpa basa-basi.


"Hah?? Langit tahu dari mana istilah pacaran?" tanyaku dengan mengernyitkan dahi heran. Anak zaman sekarang, umur sepuluh tahun sudah tahu istilah pacaran?! Aku miris sekaligus geli. Ada-ada saja!


"Teman-teman Langit banyak yang pacaran" cetus Langit.


"Alamaaakk...." desahku tak percaya.


"Langit jangan, ya! Belum waktunya" ujarku mewanti-wanti.

__ADS_1


"Teman Langit yang perempuan ada yang ngajak Langit pacaran. Tapi Langit ga mau, wong Langit ga mau pacar-pacaran gitu. Langit ga suka" curhatnya.


"Ya ampuuunn..." aku kembali mengernyit sambil tersenyum geli. Anakku sudah punya penggemar, batinku


"Iya, jangan ya, Nak" kataku sambil mengusal rambutnya.


"Ibu belum jawab" todong Langit.


"Langit mau Ibu punya pacar?" tanyaku sambil menatap matanya.


"Kalau Ibu suka gapapa" jawab Langit lirih.


"Kalau ibu pacaran dengan Om Adit, nanti Ibu bisa menikah sama Om Adit. Terus Om Adit bisa jadi ayah Langit. Langit suka sama Om Adit. Om Adit orangnya baik sama Ibu, sama Langit, sama Uti juga" lanjutnya menjelaskan alasan pertanyaannya.


"Udah ah, ayo bobo udah malam" ujarku mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Jawab dulu, dong Bu" pinta Langit.


"Maybe" jawabku asal.


"Hhmmm?" gumam Langit mendesakku.


"Maybe yes, maybe no" jawabku sekenanya.


Langit cemberut, dan aku tergelak.


"Sudah malam, ayo tidur. Besok Langit harus sekolah" perintahku, lalu memeluk dan menepuk-nepuk punggungnya kembali.


Aku menelusuri garis wajah Langit. Kuikuti bentuk bibir, alis, mata, hidung, dagu dengan telunjukku yang melayang satu senti dari wajahnya. Langit benar-benar mirip denganku.


Tidak bolehkah aku egois? Aku ingin bersikap egois. Langit tak perlu tahu siapa ayahnya. Tapi Langit berhak tahu jika nanti dia dewasa. Suara hati dan pikiranku saling bertarung.


Tak lama akupun ikut tertidur.


Pukul empat pagi aku bangun. Seperti biasa, aku minum segelas air putih lalu ke kamar mandi. Sebelum keluar dari kamar Langit, aku merapikan selimut yang dikenakan oleh Langit.


Aku bersih-bersih lantai atas terlebih dahulu. Saat aku turun, Bune sudah bangun dan sedang sibuk memilah baju untuk dicuci dengan mesin.


"Selamat pagi, Bune" sapaku kepada beliau.


"Pagi, Nduk. Hari ini mau masak apa?" tanya Bune padaku.


"Apa ya... ikut Bune saja" jawabku akhirnya.


Setelah bersih-bersih aku melihat Ibu telah sibuk di dapur membantu Bune memasak. Aku diusir oleh mereka saat berniat ikut memasak. Aku terkekeh lalu bersiap untuk pergi bekerja.


Setelah siap, kami berempat sarapan bersama. Pukul 6.30 Langit pamit berangkat ke sekolah. Aku membereskan meja meja makan, dan kedua ibuku memilih duduk bersama di ruang tamu sambil menyaksikan siaran berita di televisi.


Pukul 08.00 aku telah siap, kemudian pamit kepada Ibu dan Bune untuk berangkat bekerja.


Dalam perjalanan aku menerima sebuah pesan singkat dari pihak kepolisian. Nanti siang kepolisian meminta kehadiranku di kantor Polres untuk dimintai keterangan lebih lanjut, untuk melengkapi BAP (Berita Acara Pemeriksaan).

__ADS_1


Sementara di dua tempat berdeda, yakni rumah Deni dan Tama masing-masing dua orang polisi berpakaian preman menyambangi rumah mereka.


Di rumah Deni, Deni memberontak saat digelandang ke Polres oleh dua orang polisi tersebut. Deni berteriak-teriak meminta bantuan ayahnya yang hanya bisa memaki-maki kepada dua orang polisi dengan mengacungkan tongkat penuntunnya ke sembarang arah.


Sementara di rumah Tama, Bu Ani dan Tama tampak pasrah dan kooperatif. Tama menjadi tahanan rumah karena kondisi sirosis hatinya yang tidak memungkinkan untuk di gelandang ke penjara.


Aldo yang sudah menjadi almarhum tentu sudah tidak dapat dimintai pertanggungjawabannya. Polres Pasuruan bekerja sama dengan Polres Surabaya untuk memburu Angga.


Aku dan Mas Adit sedang sama-sama menekuni pekerjaan kami saat sebuah ketukan terdengar pada pintu kantor. Aku tak terkejut saat mendapati Lisa berdiri di depanku saat aku membuka pintu.


"Masuk, Lis" gumamku padanya.


Aku mengangsurkan sebuah kursi plastik untuk diduduki oleh Lisa. Mas Adit mengangguk sopan pada Lisa dan Lisa juga membalas sebaliknya.


"Ada keperluan apa?" Tanyaku sambil meletakkan sekotak teh kemasan di depannya.


"Tadi polisi ke rumah. Mas Tama sudah mengakui segalanya. Status Mas Tama kini menjadi tahanan rumah. Aku juga akan bersaksi" cetus Lisa.


Aku diam mendengarkan dan menanti Lisa mengatakan tujuan utamanya kemari.


"Lan, aku mohon. Aku sudah mencari donor kesana kemari tapi tak kunjung menemukan donor yang cocok. Harapan kami satu-satunya adalah Langit. Kumohon izinkan anakmu melakukan tes DNA" Lisa meratap padaku.


Aku melirik Mas Adit, tampak Mas Adit bertopang dagu. Tak sungkan untuk ikut menyimak pembicaraan kami.


"Aku memang berniat untuk melakukan tes itu, tapi bukan untuk Tama. Dan hasil tes tidak akan terungkap sampai Langit bertanya mengenai siapa ayahnya" ujarku pada Lisa.


"Tapi, Lan..." Lisa sudah hendak mendebatku.


"Aku bersedia menjalani serangkaian tes uji donor lever. Jika aku bisa mendonorkan leverku, aku bersedia. Tak ada alasan apapun dibaliknya, murni karena rasa kemanusiaan"


"Tapi jangan pernah sekalipun mencoba mengusik Langit!" Ucapku tegas.


"Aku juga bersedia mendonorkan leverku jika terbukti cocok" timpal Mas Adit.


Lisa menatap kami berdua haru. Lalu mengucapkan terima kasih tak henti-henti sampai pamit pulang.


"That's my girl" cetus Mas Adit sambil mengusal lembut rambutku.


"My girl?" Aku menautkan alisku dan mendongak menatapnya yang saat itu posisinya sedang berdiri di sebelahku, sementara masih duduk. Tangannya masih berada di atas kepalaku saat Mas Adit membuat pengakuan padaku.


"Maukah kamu menjadi kekasihku?" Tanya Mas Adit tiba-tiba. Aku terperangah mendengar pertanyaannya. Bingung harus menjawab apa.


"Jujur, akhir-akhir ini aku sering memikirkanmu. Bahkan semalam sebelum tidur aku sempat memikirkanmu. Dan tahukah kamu apa yang impikan semalam?" Tanya Mas Adit padaku.


Mas Adit menunggu responku. Aku hanya diam menanti kelanjutan ceritanya.


"Aku memimpikan mendiang istriku yang sedang menggandeng anak perempuan kecil, wajah anak kecil itu tidak dapat kuingat jelas saat aku terbangun. Anin tersenyum sangat manis padaku. Hanya tersenyum"


"Aku tak tahu apa arti mimpi itu. Selama ini aku dihantui rasa bersalah pada mendiang istri dan putriku. Tapi semenjak mimpi semalam, perasaan itu bukan hilang, tapi seperti bermetamorfosa menjadi perasaan mantap untuk menjalani hubungan dengan orang baru dan berjanji untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. Bolehkah aku mengartikan senyum Anin sebagai izin darinya untukku memulai hubungan baru? Entahlah, aku sendiripun tak tahu. Tapi satu yang aku tahu, orang baru itu adalah kamu, Lan" aku Mas Adit panjang lebar.


Wulan mendengar pengakuan Adit dengan hati bergetar. Rasa haru dan berbunga bersamaan Wulan rasakan. Jawaban apa yang akan diberikan oleh Wulan?

__ADS_1


__ADS_2