Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 103 Malam Pertama


__ADS_3

**WML is backk!! Senin Senin, yang punya vote voucher mohon dukungannya ya 😘😘 like, komen, mawar atau kopinya juga mau dong 🤗🤗 tengkyuuu**


Setelah acara ijab kabul selesai, acara beralih mulus ke acara resepsi yang digabung dengan makan siang. Beberapa tamu undangan bahkan sudah ada yang datang saat aku dan Mas Adit sedang prosesi ijab kabul, mengingat betapa telatnya acara ijab berlangsung.


Acara makan siang menjadi ajang para keluarga besar untuk saling berkenalan dan beramah tamah. Tak banyak tamu resepsi yang kami undang, hanya orang-orang terdekat saja. Rekan-rekan kerja Mas Adit dan rekan-rekan kerjaku. Mbak Ika membawa Ryo sebagai gandengannya, sepertinya hubungan mereka menjadi lebih serius. Tersirat dari celetukan Mbak Ika yang meminta doa agar dapat segera menyusul. Mas Ronald dan Diva, beserta Renila dan seorang bayi laki-laki montok menggemaskan dalam gendongan Diva, yang berusia 4 bulan. David juga datang bersama kekasihnya. Pak Reza juga datang bersama istrinya, dan penghuni kost juga turut hadir memberi ucapan selamat. Tak banyak tamu resepsi dari pihakku karena aku memang tak pernah terlalu dekat dengan orang lain.


Sementara tamu dari pihak Mas Adit rata-rata adalah teman kerjanya. Saking merasa tegang dan kesal aku tak sempat memperhatikan kondisi Mas Adit sebelumnya. Saat Mas Adit menolak makan siang karena mengeluh perutnya tidak nyaman, aku baru menyadari bahwa Mas Adit tampak pucat.


"Mas kenapa?" Bisikku prihatin di dekat telinganya.


"Masuk angin kayaknya" balas Mas Adit berbisik.


"Diisi dikit perutnya biar ga kosong" bujukku. Aku tidak ingin orang yang kusayangi sakit.


Mas Adit mengangguk dan menerima suapan sepotong croissant dariku. Tak sampai habis setengah, Mas Adit sudah menggeleng, lalu meminta teh hangat. Aku mengambil segelas teh hangat, kemudian membantu Mas Adit meminumnya.


Pukul empat sore, akhirnya acara selesai. Sanak saudara yang rumahnya jauh pamit pulang. Mereka yang rumahnya relatif dekat, membantu membereskan rumah. Aku dan Mas Adit masuk ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian.


Mas Adit langsung membaringkan diri dan memejamkan mata begitu melihat bantal dan ranjang.


"Mandi dulu, Mas. Biar ga gerah" ujarku menasihati.


"Iya, nanti" gumam Mas Adit dengan suara lemah dan mengantuk.


"Ayo, ah!" Aku berusaha membantu melepas beskap dan jarik yang dikenakannya. Hanya kaos oblong hitam dan celana kolor bergaris dibalik setelan Mas Adit. Kaos Mas Adit terasa lembab.


"Mas, ayo ganti baju dulu. Nanti tambah masuk angin" pintaku lembut. Mas Adit hanya bergumam dan tetap memejamkan mata. Aku gemas sekali rasanya. Ingin mencubit gemas pipinya, tapi tak tega. Akhirnya aku hanya membenarkan posisi tidurnya dan menyelimutinya. Mengatur suhu pendingin ruangan agar tak terlalu dingin.


Aku menghapus make up, dan mengurai sanggul. Kesulitan menarik resleting kebayaku yang terletak di punggung.


"Aduh, piye ini? Susah banget, sih!" Aku bergumam kesal, sambil tanganku mengarah pada punggung. Mencoba meraih ujung resleting dan menariknya turun.


"Sayang!" Panggil Mas Adit lirih masih dengan mata terpejam.


"Iya, Mas?" Aku mendekatinya dan duduk. Menyeka keringat dingin dari keningnya. Untungnya Mas Adit tidak sampai demam. Tangan Mas Adit merayap ke punggungku, lalu menarik turun kebayaku.


Oh, ternyata dia mendengar gumamanku. Aku tersenyum geli saat Mas Adit meraih pengait bra dan menjetik lepas pengaitnya.


"Aku kepengen sayang, tapi lemes banget" keluhnya dengan lirih dan tangannya mulai menurunkan lengan kebayaku. Tangannya mulai meraih dadaku dan menangkupnya. Seolah, mengepaskan posisi tangannya pada dadaku, lalu mulai me-re-mas lembut.


Aku mulai merasakan gelenyar-gelenyar hasrat memenuhi dadaku. Berasal dari re-ma-san dan pilinan tangan nakal Mas Adit pada puncak dadaku, dan bermuara pada daerah intiku. Aku menggigit bibir, dan de-sah lirih lolos dari mulutku.


Aku lihat Mas Adit masih memejamkan mata, dan wajahnya juga pucat.


"Mas istirahat dulu. Jangan dipaksakan. Kita masih punya banyak waktu" aku berbisik lembut. Berusaha meredakan api hasrat yang telah tersulut.

__ADS_1


"Tapi, Lan..." Mas Adit hendak memprotes, tapi aku bungkam dengan kecupan singkat dariku.


"Nanti!" De-sahku tapi dengan nada tegas dan melepaskan tangan yang masih asyik bermain didadaku. Tak tega jika harus memaksa 'bermain' saat kondisinya masih lemah seperti itu. Aku mencium dahinya, lalu berniat untuk membersihkan diri.


Setelah mandi, aku melihat dada Mas Adit bergerak naik turun berarutan. Sepertinya Mas Adit sudah tertidur. Aku mengeringkan rambut dengan handuk, lalu berganti dengan pakaian santai. Lega rasanya setelah seharian memakai make up tebal.


Aku keluar kamar saat waktu menunjukkan pukul lima sore. Beberapa keluarga tampak masih asyik bercengkerama. Papa dan Mama juga terlihat berbincang seru dengan Ibu dan Bune. Langit menikmati waktu berkumpul bersama sepupu-sepupu sebaya.


"Kok cepet?" Tanya Papa saat melihatku.


Aku menautkan alis bingung, "Maksudnya, Pa?"


"Ah, pengantin barunya pura-pura lugu" kata Papa dengan seringai jahil. Mama dan Ibu terkikik sambil menutup mulutnya, sementara Bune tersenyum penuh arti.


Aku yang mulai paham apa yang dimaksudkan Papa, merasa wajahku memanas. "Mas Adit tidur, Pa. Masuk angin katanya" gumamku.


Semua yang berada dalam radius dengar perbincangan absurd kami sontak tergelak.


"Ealah, nganten anyar (baru) kok K.O" seloroh sepupu Mas Adit yang bernama Dika.


"Ya sudah, biarin dulu. Saking tegangnya semalem ga tidur dia. Ngopi sampe empat cangkir, ngerokok entah abis berapa bungkus, puntung numpuk di asbak" tukas Mama menjelaskan.


Aku hanya bisa menggeleng dan bergumam, "Ya ampun, kalau stress ternyata larinya ke rokok sama ngopi"


Aku mengantar Langit ke kamarnya. Ibu dan Bune akan tidur dalam satu kamar.


Langit menggosok gigi dikamar mandi dan aku menyiapkan piyama untuknya tidur. Aku berniat membantunya berganti pakaian, tapi ditolak. Langit bilang dirinya sudah besar, bukan anak kecil lagi yang harus selalu dibantu. Aku terkekeh dan membaringkan diri di ranjang.


"Langit senang hari ini?" Tanyaku saat Langit beringsut membaringkan dirinya disisiku.


"Senang, Bu. Langit sekarang punya ayah. Ada yang bisa nemenin Langit main bola, bisa ambil rapor Langit, bisa Langit banggain sama teman-teman" cetusnya ceria.


Aku mendekapnya, lalu mencium dalam puncak kepalanya. Menyampaikan permintaan maaf dan terima kasih yang sebesar-besarnya, karena anak sekecil dirinya mau berbesar hati memberi pengertian untuk ibunya.


"Langit sekarang bobo, ya! Udah malem. Minggu depan kita bakal ngerasain hidup di kota baru. Langit seneng?"


Langit mengangguk. "Game bentar boleh ga, Bu?" Aku melirik jam digital di nakas, masih jam 20.12, lalu mengangguk mengizinkan.


"Inget, jam sembilan udahan ya?" Ujarku mewanti. Kemudian aku keluar dari kamar Langit. Kulihat Ibu, Bune dan Ragil masih sibuk di dapur. Ragil sedang membungkus makanan-makanan sisa dengan plastik wrap, lalu disimpan dalam kulkas. Bune dan Ibu sedang mencuci piring.


"Ngapain kemari, Mbak? Ga ditungguin Mas Adit ta?" Tanya Ragil dengan senyum jenaka.


"Masih tidur. Sini aku bantuin!" Lalu aku membantu Ragil. Setelah semua beres, kami berpamitan dan menuju kamar masing-masing. Hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan.


Aku masuk ke kamar lalu berganti dengan pakaian tidur. Daster berbahan satin berwarna merah, berenda, dan sejengkal di atas lutut. Mas Adit masih tidur, dan aku mengamatinya. Ternyata mata dan mulutnya sedikit terbuka saat tidur. Bulu matanya panjang, tapi tidak lentik. Alisnya hitam dan tebal. Hidungnya mancung, tapi sedikit lebar. Ada bintik-bintik hitam komedo di hidung dan dagunya. Aku jadi ingin membawa Mas Adit ke salon kecantikan untuk facial. Pikiran itu membuatku tersenyum geli.

__ADS_1


Aku membaringkan diri di sebelah Mas Adit, lalu mencium kening, pipi dan bibirnya yang sedikit terbuka. Ada gelenyar aneh yang kurasa, membuatku merutuki keadaan saat ini. Pengantin baru yang ditinggal tidur suaminya, rrrhhh!! Aku tersenyum geli sekaligus getir. Mengganti lampu menjadi lebih redup, dan memejamkan mata sambil memeluk suamiku. Kata suami yang terlintas dalam benakku, kembali menerbitkan senyum tipis dibibirku. Karena lelah, akupun cepat jatuh dalam lelap.


Adit terbangun dalam keadaan bingung. Sebuah lengan kuning langsat yang berada di pinggangnya menyadarkan ia sedang berada dimana.


Oh, Sh*it! Malam pertama tapi istriku aku anggurin! Adit merutuki kebodohannya sendiri.


Kruuuuukk. Perut Adit berbunyi. Adit terbangun karena lapar.


Dengan perlahan Adit menurunkan lengan istrinya dan beranjak turun dari ranjang. Adit membuka pintu seperlahan mungkin, tak ingin membangunkan istrinya yang sedang tidur. Istri, hmm? Gelar baru untuk kekasih hatinya.


Krieeett!


"Mau kemana, Mas?" Wulan terbangun karena mendengar suara pintu yang terbuka. Adit merasa, rupanya pendengaran istrinya cukup tajam.


"Mau makan sayang. Mas laper" jawab Adit dari ambang pintu.


"Makanannya udah masuk lemari es semua. Bentar aku panasin. Eh, jam berapa ini?" Wulan meraih handphone dari atas nakas, dan bangun dari tidurnya.


"Baru jam sebelas" gumam istrinya, lalu mengambil jepit dan menggelung asal rambutnya. Selimut yang merosot kini hanya menutupi bagian kaki Wulan. Saat Wulan mengangkat tangan untuk mengikat rambut, Adit bisa melihat bahwa istrinya tidak mengenakan bra, puncak dadanya terlihat membayang. Damned, indahnya!! Itu adalah pemandangan paling seksi yang pernah dilihat Adit. Membuat tak hanya urusan perut yang menuntut, bagian bawah perutnya pun mulai menggeliat menuntut.


"Kamu seksi banget!" Cetus Adit terpaku di ambang pintu.


Istrinya tersenyum malu-malu sambil turun dari ranjang, "Apa sih, Mas!"


Seandainya perutnya tak keroncongan saat itu, Adit akan langsung menutup pintu kembali dan menyeret Wulan ke ranjang. Mengingat seharian ini dirinya hanya memakan setangkup roti dan separuh potong croissant, urusan bawah perut harus mengalah dulu.


Adit mengikuti Wulan ke dapur. Tak hentinya saat Wulan memanaskan sepiring nasi goreng seafood, semangkuk sup asparagus, dan sepiring kakap asam manis, Adit menganggu aktifitas Wulan. Mulai dari memeluk istrinya dari belakang, mengecupi pundak istrinya, menghisap leher, sampai me-re-mas dan memilin puncak dada itu dari luar dasternya.


Adit tak menghiraukan protes dan tawa geli istrinya. Bosan memprotes, Wulan hanya bisa pasrah sambil men-de-sah lirih. Entah sejak kapan, episode Wulan terhadap sentuhan pria tak pernah muncul lagi. Mungkin karena rasa nyaman dan cinta membuat gejala itu memudar dengan sendirinya.


Sedang asyik memilin, cubitan kecil mendarat di lengan kokohnya. "Makan dulu!" Perintah Wulan.


Wulan menemani Adit makan, dengan secangkir teh hangat. Menolak saat sesekali suaminya mencoba menyuapi. Selesai makan, Wulan membereskan meja dan berniat mencuci piring bekas makan suaminya.


"Besok aja, ya, plissss!" Rengek Adit sambil mengerling bagian bawah perutnya yang sudah tampak menggembung.


Tanpa menunggu persetujuan istrinya, Adit langsung membopong sang istri. "Mas!" Wulan berteriak kecil karena kaget. Tapi Adit tidak menghiraukan. Dengan kecepatan secepat mungkin Adit membawa istrinya ke peraduan mereka. Wulan hanya bisa pasrah dan bergelayut manja pada tengkuk Adit, karena takut jatuh.


"Urusan perut beres, sekarang giliran bawah perut yang minta diperhatiin!" Bisik Adit pada telinga istrinya.


Dengan menggunakan kaki, Adit menutup pintu kamar. Blam!


****************************************


~episode, istilah dalam bidang psikologi yang merujuk pada gejala aktif seseorang yang mengalami gangguan psikologi.

__ADS_1


__ADS_2